EMPAT
Kevin berdiri di teras rumah saat Isabelle dan Jennifer kembali setelah menghabiskan limit kartu kreditnya tanpa ragu. Bukan berarti ia keberatan-bagaimanapun, ia sangat kaya setelah hidup selama hampir seribu tahun.
"Sebenarnya, dari mana saja kalian berdua?" Kevin bertanya sambil menyilangkan tangan.
"Belanja," jawab Jennifer santai.
"Jangan khawatir, Kevin. Aku bersamanya sepanjang waktu," kata Isabelle.
"Dia vampir baru, Belle," Kevin menegurnya. "Dia bisa saja menyerang manusia di tempat terbuka."
"Hei!" seru Jennifer. "Aku yang meminta Isabelle menemaniku berbelanja karena kau terlalu sibuk mengurus klan penyihir itu sejak minggu lalu. Lagipula, aku ini wanita mandiri. Aku bisa pergi ke mana pun yang aku mau. Memang kau pasangan vampirku yang aneh, tapi itu bukan berarti kau bisa mengaturku sesuka hati."
Jennifer menjatuhkan tas belanjaannya di atas karpet, lalu matanya tertuju pada sebuah benda di atas meja.
"Lihat, sebuah mainan busur silang!" serunya kegirangan. Ia mengambilnya dan dengan main-main mengarahkannya ke Kevin.
"Jennifer... itu bukan-"
Sebelum Isabelle sempat memperingatkannya, Jennifer sudah menekan tombol otomatis. Seketika, anak panah logam melesat lurus dan menancap tepat di perut Kevin.
Kevin mengerang kesakitan. Jennifer langsung bergerak cepat ke sisinya.
"AKU BENAR-BENAR MINTA MAAF!" serunya panik, berusaha menarik anak panah itu keluar.
"I-It's... okay..." Kevin mencoba menyingkirkan tangan Jennifer agar dia bisa mencabutnya sendiri.
"Tidak, biar aku saja!" Jennifer bersikeras. Namun, saat dia melangkah mendekat, kakinya tersangkut pada tas belanja yang baru saja dia jatuhkan.
Jennifer berusaha menjaga keseimbangannya, tapi malah tergelincir dan tanpa sengaja mendorong Kevin ke belakang-tepat ke meja kaca di belakangnya.
Kevin kembali mengerang saat pecahan kaca menghujam telapak tangannya.
"Aku benar-benar minta maaf, Sayang," Jennifer berkata panik, berusaha membantu lagi-namun sebelum itu, dia tanpa sengaja menjatuhkan lampu ke kepala Kevin.
"Berhenti sebelum kau membunuhnya," kata Isabelle, menatap Jennifer yang kembali mencoba membantu setelah meminta maaf atas insiden lampu tadi.
"Untung saja dia vampir dengan penyembuhan instan," Sela David sambil tertawa.
Isabelle membantu Kevin berdiri, sementara Jennifer menatapnya penuh rasa bersalah.
"Aku benar-benar minta maaf," katanya, menekankan setiap suku kata untuk menunjukkan betapa menyesalnya dia.
"I-It's okay, Belle," ujar Kevin, masih meringis saat Isabelle akhirnya mencabut anak panah dari tubuhnya.
Mata Jennifer mulai berkaca-kaca saat melihat mate nya kesakitan. Dia bisa merasakan rasa sakitnya juga. Itulah yang terjadi dengan ikatan vampir-kau bisa merasakan penderitaan pasanganmu, merasakan kehadiran mereka di dekatmu, dan tahu ketika mereka dalam bahaya.
"Tidak apa-apa, Sayang," ujar Kevin sambil menunjukkan luka-lukanya yang hampir sembuh sepenuhnya. "Lihat? Aku sudah baik-baik saja sekarang."
"Aku mate yang sangat buruk," gumam Jennifer sebelum memeluknya erat.
"Hei, hei," Kevin membisikkan dengan lembut, menenangkannya.
Isabelle memperhatikan bagaimana kakaknya menghibur pasangannya. Ia tersenyum melihat mereka. Dalam hitungan detik, Kevin berhasil membuat Jennifer tersenyum lagi.
*****
Mereka duduk di meja makan sementara Jennifer sibuk menyajikan makan malam. Seperti biasa, mereka kembali membahas rencana pernikahan.
"Aku ingin gaun pengantin terbaik...," Jennifer mengoceh dengan penuh semangat. "Aku ingin saat aku masuk, semua orang langsung terpana."
"Kita bisa cek di White Blossom," saran Isabelle. "Mereka punya koleksi gaun pengantin terbaik! Oh! Kita juga bisa lihat di Golden-"
"Isabelle!" Kevin memperingatkan dengan nada tajam.
"Oh," Isabelle langsung menunduk, merasa bersalah. "Aku benar-benar minta maaf. Aku lupa... Mereka sudah berpihak pada Nocturn."
Jennifer menatap Kevin, yang masih melotot ke arah Isabelle.
"Ya, mereka memang berpihak ke Nocturn," Kevin mengkonfirmasi. "Jadi sebaiknya kalian berdua menjauh dari daerah itu."
"Aku mengerti," jawab Isabelle patuh.
Jennifer tidak suka ketika Kevin berbicara dengan Isabelle dengan nada seperti itu. Memang, dia tahu Kevin sangat menyayangi adiknya-David dan Kevin bahkan rela mati demi mereka jika perlu. Tapi tetap saja, Jennifer benci melihat mereka memperlakukan Isabelle seperti anak kecil.
Dan dia tidak akan berbohong-Isabelle dan Rhea selalu mengikuti perintah kakak-kakaknya tanpa ragu. Mereka begitu setia, begitu patuh. Mungkin itulah salah satu alasan Jennifer tertarik pada keluarga ini. Mereka rela mati demi satu sama lain.
*****
"Jennie, Kevin sudah dengan jelas mengatakan bahwa kita tidak diizinkan menginjakkan kaki di wilayah mereka," kata Isabelle dengan tegas, menolak mentah-mentah ketika Jennifer mengusulkan untuk melihat-lihat gaun pengantin di Golden Veil Boutique, yang kini berada di wilayah para The Nocturn.
"Belle, Kevin tidak akan tahu, para Nocturn juga tidak akan pernah mengetahui bahwa kita adalah vampir dari pihak Dravein. Sejauh yang mereka tahu, kita hanyalah turis manusia biasa yang sedang berbelanja."
"Jennifer!" seru Isabelle. "Melewati batas berarti mati. Itu adalah risiko yang tidak akan pernah aku ambil. Apa kau tidak mendengarkan cerita-cerita mengerikan Kevin tentang para vampir di sisi lain perbatasan? Serius, ada apa denganmu?"
"Oke," ujar Jennifer sambil menghela napas. "Baiklah. Hanya saja... aku ingin menjadi pengantin tercantik di Raven Brook."
"Kau pasti akan menjadi yang tercantik," jawab Isabelle.
*****
Isabelle mengaitkan lengannya pada Darren saat mereka berjalan perlahan menuju apartemennya. Pria itu menawarkan diri untuk mengantarnya pulang ke apartemen miliknya sendiri. Ia telah pindah dari rumah orang tuanya setahun yang lalu, meskipun keluarganya sangat menentang keputusannya. Namun, Kevin berada di pihaknya dan percaya bahwa Isabelle sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan sendiri.
Bagaimanapun, ia adalah anak bungsu dalam keluarga, dan semua orang memperlakukannya seperti itu. Ibunya datang bagai cahaya dalam kehidupan Ayahnya setelah tujuh puluh tahun hidup dalam kesepian. Meskipun Kevin, David, dan Rhea membenci ibunya, mereka tidak pernah membenci Isabelle. Kelahiran Isabelle sendiri adalah sebuah keajaiban. Itulah sebabnya ia sangat dimanjakan oleh kakak-kakaknya.
"Laura sangat ingin bertemu denganmu," ujar Darren saat mereka tiba di apartemennya. "Sudah lama sejak terakhir kali aku tertarik pada seorang wanita tertentu, dan dia sangat ingin melihat siapa wanita muda cantik yang selama ini sering kubicarakan."
Isabelle tersenyum.
"Laura adalah adik perempuanmu?" tanya Isabelle.
"Ya."
"Dia juga vampir baru?"
"Yah... bisa dibilang begitu," jawab Darren, lalu menambahkan dengan bangga, "Usianya baru dua ratus tiga puluh tuju tahun."
Isabelle tertawa.
"Apa yang lucu?"
"Lalu berapa usiamu?" tanya Isabelle di sela tawanya.
"Oke, aku mengerti," ujar Daren sambil menyipitkan mata. "Kau mengolok-olok usiaku. Aku masih dua ratus tiga puluh tahun lebih muda daripada kakakmu."
Isabelle tertawa. Darren sempat menyipitkan mata, tetapi kemudian tersenyum.
"Kau tahu, Kevin sangat protektif terhadapmu," kata Darren.
"Bukankah setiap kakak laki-laki begitu?" jawabnya.
"Tapi dia mengizinkanku membawamu ke Iron Reach Sabtu depan, dan itu pun tanpa pengawal," lanjut Darren, membuat Isabelle hampir berseru kegirangan.
"Dia benar-benar memberi izin!" seru Isabelle dengan gembira sambil memeluk Darren. "Oh! Terima kasih... Terima kasih!"
Ia merasakan lengan Darren melingkar di sekelilingnya. Seketika tubuhnya menegang. Ia segera menarik diri.
Vampir wanita tidak boleh terlalu akrab dengan vampir pria yang bukan pasangan atau keluarga mereka. Terutama wanita dari klannya. Hal seperti itu bisa menimbulkan masalah.
"Umm... Aku akan meneleponmu," kata Darren.
Isabelle mengangguk lalu berbalik pergi, dan masuk ke dalam gedung apartemennya.
