Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 4

Sore mulai bergeser ke malam.

Langit yang tadi cerah perlahan berubah jingga, lalu gelap. Lampu taman menyala satu per satu, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan perasaan Gladysa yang masih berantakan.

Ia masih duduk di kursi yang sama.

Raka sempat masuk ke dalam mengambil minum, tapi Gladysa bahkan tidak sadar kapan pria itu pergi dan kembali lagi.

Pikirannya terlalu penuh.

Terlalu ramai oleh kenangan.

“Tiap sudut hidup aku itu dia...” gumamnya pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri.

Raka yang baru saja kembali mendekat, mendengar itu.

Ia tidak langsung duduk.

Hanya berdiri beberapa langkah dari Gladysa, memperhatikan wajah wanita itu yang terlihat jauh.

“Kamu masih mikirin dia, ya?” tanyanya akhirnya.

Gladysa tersenyum tipis tanpa menoleh.

“Kayaknya aku nggak punya pilihan lain selain mikirin dia.”

Raka berjalan mendekat, lalu duduk di kursi sebelahnya.

“Kamu punya pilihan, Cia. Kamu cuma belum mau ambil.”

Gladysa menoleh, menatapnya sebentar.

“Maksud kamu?”

“Berhenti.”

Satu kata.

Sederhana.

Tapi terasa berat.

Gladysa menggeleng pelan.

“Nggak segampang itu.”

“Memang nggak gampang. Tapi bukan berarti nggak bisa.”

Gladysa terdiam.

Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.

“Aku nikah sama dia bukan karena main-main, Ka...” suaranya mulai melemah lagi. “Aku beneran serius. Aku pikir... dia juga sama.”

Raka menatapnya lekat.

“Terus sekarang?”

Gladysa menunduk.

“Sekarang aku ngerasa kayak orang bodoh.”

“Kamu nggak bodoh.”

“Aku percaya sama dia sepenuhnya,” lanjut Gladysa, seolah tidak mendengar. “Aku bahkan nggak pernah kepikiran dia bakal nuduh aku kayak gitu.”

Suaranya mulai bergetar.

“Selama ini aku jaga diri aku... aku jaga pernikahan aku... tapi semua itu kayak nggak ada artinya di mata dia.”

Raka menghela napas panjang.

Ia sedikit memiringkan tubuhnya, mencoba menangkap tatapan Gladysa.

“Cia, dengerin aku.”

Gladysa akhirnya menoleh.

“Kesalahan terbesar kamu bukan karena kamu percaya sama dia.”

“Lalu?”

“Karena kamu lupa... kalau kepercayaan itu harus dua arah.”

Gladysa terdiam.

Kata-kata itu seperti menamparnya pelan.

“Iya...” gumamnya. “Aku terlalu fokus jadi istri yang baik... sampai lupa nanya, dia juga jadi suami yang baik atau nggak.”

Raka tersenyum tipis.

“Nah, itu.”

Hening sebentar.

Angin malam berhembus lebih dingin.

Gladysa merapatkan tangannya ke tubuh, seolah mencoba menghangatkan diri.

“Ka...” panggilnya pelan.

“Iya?”

“Menurut kamu... dia bakal nyari aku?”

Raka mengangkat alis.

“Kamu berharap dia nyari kamu?”

Gladysa tidak langsung menjawab.

Ia menatap ke depan lagi.

“Aku nggak tahu...”

Jawaban yang sama.

Ragu.

Campur aduk.

“Sebagian dari aku pengen dia datang,” lanjutnya pelan. “Pengen dia minta maaf... jelasin semuanya...”

Raka diam, mendengarkan.

“Tapi sebagian lagi...” Gladysa menggigit bibirnya. “Takut kalau dia datang cuma karena merasa bersalah, bukan karena benar-benar percaya sama aku.”

Raka mengangguk pelan.

“Itu kemungkinan yang nyata.”

Gladysa menghela napas. "Aku capek kalau harus berjuang sendirian lagi.”

“Kamu nggak perlu.”

Gladysa menoleh.

“Kalau dia datang lagi, itu bukan waktunya kamu yang berjuang,” lanjut Raka tegas. “Itu waktunya dia yang harus buktiin.”

Kata-kata itu membuat Gladysa sedikit terdiam lebih lama.

Ia mencerna.

Perlahan.

“Dan kalau dia nggak datang?” tanyanya.

Raka menatapnya tanpa ragu.

“Berarti dia memang nggak pantas kamu tunggu.”

Jawaban itu tegas.

Tanpa celah.

Gladysa tersenyum tipis, meski matanya kembali berkaca-kaca.

“Kadang aku berharap kamu salah, Ka.”

Raka terkekeh pelan.

“Sayangnya aku jarang salah.”

Gladysa memutar mata, tapi ada sedikit kehangatan yang muncul di wajahnya.

Untuk pertama kalinya sejak tadi—

ia terlihat sedikit lebih hidup.

Namun itu tidak berlangsung lama.

Karena tiba-tiba—

ponsel di tangan Raka bergetar.

Raka melirik layar.

Ekspresinya berubah.

Serius.

Gladysa langsung menyadarinya.

“Kenapa?” tanyanya.

Raka tidak langsung menjawab.

Ia menatap layar beberapa detik, lalu menghela napas pelan.

“Ada yang mau ketemu kamu.”

Kening Gladysa berkerut.

“Siapa?”

Raka menatapnya.

Dalam.

Seolah memastikan Gladysa siap mendengar.

“Damian.”

Dunia Gladysa seakan berhenti sesaat.

Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.

“Dia... di mana?” suaranya pelan, nyaris tidak terdengar.

“Di depan rumah.”

Satu kalimat itu—

langsung membuat napas Gladysa tercekat.

Tangannya yang tadi menggenggam cangkir perlahan melemas.

Pikirannya kosong.

Perasaannya campur aduk.

Takut.

Marah.

Rindu.

Semua jadi satu.

“Dia bilang... dia mau jelasin semuanya,” lanjut Raka.

Gladysa menutup mata sebentar.

Seolah mencoba menguatkan diri.

Kemudian perlahan—

ia berdiri.

“Kamu mau temuin dia?” tanya Raka.

Gladysa tidak langsung menjawab.

Beberapa detik ia hanya diam.

Lalu membuka mata.

Tatapannya berbeda sekarang.

Masih ada luka.

Tapi juga ada ketegasan.

“Aku akan temuin dia.”

Raka mengangguk pelan.

“Kalau dia macam-macam, bilang sama aku.”

Gladysa tersenyum tipis.

“Iya.”

Ia melangkah pelan keluar dari taman.

Setiap langkah terasa berat.Namun ia tidak berhenti.

Karena di depan sana—

ada seseorang yang pernah ia cintai sepenuh hati.

Dan mungkin—

yang juga menghancurkan hatinya paling dalam.

Langkah Gladysa terasa berat saat ia berjalan menyusuri koridor rumah menuju pintu depan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, seolah tahu bahwa pertemuan ini tidak akan mudah. Setiap langkah membawa kembali potongan kenangan yang belum sempat ia kubur. Tawa mereka dulu, percakapan kecil yang hangat, dan juga pertengkaran terakhir yang menghancurkan segalanya. Tangannya sempat berhenti di gagang pintu, napasnya tertahan beberapa detik. Ia menutup mata, mencoba menguatkan diri sebelum akhirnya membuka pintu itu perlahan.

Di luar, Damian berdiri tegak di bawah cahaya lampu teras. Pria itu masih sama seperti yang ia ingat, rapi, tenang, dan penuh wibawa. Namun ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya tidak lagi dingin seperti semalam. Ada kelelahan di sana, juga sesuatu yang tidak bisa langsung Gladysa artikan. Mungkin penyesalan. Mungkin juga kegelisahan. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap tanpa suara. Jarak di antara mereka terasa jauh meski hanya beberapa langkah.

“Aku ganggu?” suara Damian akhirnya memecah keheningan. Tidak setajam biasanya, justru terdengar lebih rendah dan hati-hati.

Gladysa menahan napas sejenak sebelum menjawab. “Kamu sudah di sini. Jadi pertanyaan itu nggak penting lagi.”

Nada suaranya datar, tapi tidak dingin. Damian menangkap itu dan mengangguk pelan. Ia tidak langsung mendekat, seolah memberi ruang yang memang sedang dibutuhkan Gladysa.

“Aku cuma mau bicara,” katanya lagi. “Sebentar saja.”

Gladysa menatapnya dalam. Ia bisa melihat jelas bahwa pria itu sedang menahan banyak hal. Namun luka yang ia rasakan belum hilang begitu saja hanya karena perubahan ekspresi itu.

“Kamu sudah bicara semalam,” balasnya pelan. “Dan kamu nggak mau dengar aku.”

Damian terdiam. Kalimat itu seperti menamparnya tanpa suara. Ia menurunkan pandangan sejenak, lalu kembali menatap Gladysa.

“Aku tahu,” ucapnya. “Dan itu kesalahan aku.”

Gladysa sedikit terkejut, tapi tidak menunjukkannya terlalu jelas. Ia tidak menyangka Damian akan mengakui itu secepat ini. Namun hatinya belum cukup lunak untuk langsung percaya.

“Aku datang ke sini bukan buat ulang kesalahan yang sama,” lanjut Damian. “Aku datang karena aku sudah tahu semuanya.”

Kening Gladysa berkerut. “Tahu apa?”

Damian menghela napas pelan, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia membuka sesuatu dan menunjukkan layar itu ke arah Gladysa. “Semua yang kamu bilang semalam itu benar. Kamu nggak selingkuh.”

Kalimat itu membuat waktu seolah berhenti. Gladysa menatap layar ponsel itu tanpa benar-benar fokus pada isinya. Yang ia dengar hanya satu hal, pengakuan itu. Pengakuan yang seharusnya ia dapatkan semalam, bukan sekarang.

“Dan kamu baru percaya sekarang?” tanyanya pelan.

Nada suaranya tidak tinggi, tapi justru itu yang membuatnya terasa lebih dalam.

Damian menelan ludah. “Aku salah menilai. Ada orang yang sengaja menjebak kamu. Foto itu diatur supaya terlihat seperti itu.”

Gladysa tertawa kecil, pahit. Ia mengalihkan pandangan sejenak, mencoba menahan sesuatu yang kembali naik di dadanya.

“Aku sudah bilang itu semalam,” katanya lirih. “Tapi kamu pilih untuk nggak percaya.”

Damian tidak membantah. Ia tahu tidak ada alasan yang cukup kuat untuk membela dirinya di titik ini.

“Aku menyesal,” ucapnya akhirnya. “Dan aku tahu kata itu nggak cukup.”

Gladysa kembali menatapnya. Matanya mulai berkaca kaca, tapi kali ini bukan karena lemah. Lebih karena lelah.

“Kamu benar. Nggak cukup.”

Hening kembali turun di antara mereka. Angin malam berhembus pelan, membawa suasana yang semakin berat.

“Aku nggak datang cuma buat minta maaf,” lanjut Damian dengan suara lebih serius. “Aku datang karena aku mau memperbaiki semuanya. Aku mau kamu pulang.”

Gladysa langsung menggeleng. Reaksinya cepat, hampir refleks.

“Nggak semudah itu, Damian.”

“Aku tahu,” balas pria itu cepat. “Aku nggak minta kamu langsung percaya lagi. Tapi kasih aku kesempatan.”

Gladysa menghela napas panjang. Ia menatap Damian cukup lama, mencoba mencari sesuatu di wajah pria itu. Ketulusan, mungkin. Atau sekadar memastikan ini bukan permainan baru.

“Kamu tahu bagian paling sakit dari semua ini apa?” tanyanya tiba tiba.

Damian terdiam, menunggu.

“Bukan tuduhan kamu,” lanjut Gladysa. “Tapi cara kamu lihat aku. Seolah aku ini benar benar orang yang kamu pikirkan semalam.”

Damian menunduk. Kata kata itu menancap lebih dalam dari apa pun yang bisa Gladysa ucapkan.

“Aku nggak bisa hapus itu dari kepala aku,” tambah Gladysa pelan. “Dan aku nggak tahu kapan aku bisa percaya kamu lagi.”

Damian mengangkat kepala, menatapnya lagi. Kali ini lebih serius.

“Kalau butuh waktu, aku tunggu.”

Gladysa menggeleng lagi, tapi lebih pelan. “Masalahnya bukan cuma waktu.”

“Lalu apa?”

Gladysa terdiam sejenak. Ia mencoba menyusun kata kata yang sejak tadi berputar di kepalanya.

“Aku takut,” akhirnya ia jujur. “Takut kalau suatu hari nanti, kamu akan melakukan hal yang sama lagi. Dan aku harus mengulang rasa sakit yang sama.”

Damian langsung menjawab, “Aku nggak akan.”

“Tapi kamu sudah pernah,” potong Gladysa cepat.

Dan itu cukup untuk membuat Damian terdiam.

Tidak ada yang bisa ia bantah dari kalimat itu.

“Aku nggak bisa janji kamu nggak akan kecewa lagi,” katanya akhirnya. “Tapi aku bisa janji aku akan belajar dari kesalahan ini.”

Gladysa menatapnya dalam. Ia ingin percaya. Sebagian dari dirinya masih ingin percaya. Tapi luka itu belum sembuh.

“Aku butuh waktu,” ucapnya pelan.

Damian mengangguk tanpa ragu. “Ambil waktu sebanyak yang kamu mau.”

“Aku juga butuh jarak.”

“Kalau itu yang kamu butuhkan, aku kasih.”

Jawaban itu membuat Gladysa sedikit terdiam. Ia tidak menyangka Damian akan setenang ini menerima semua batasan yang ia buat.

Namun justru itu membuat hatinya semakin tidak tenang.

Karena di balik semua ini, ia tahu satu hal yang tidak bisa ia abaikan.

Ia masih mencintai pria itu.

Dan itu yang membuat semuanya jadi jauh lebih rumit.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel