BAB 5
Malam itu berakhir tanpa keputusan besar, tanpa pelukan, tanpa kata kembali. Hanya kesepakatan diam yang terasa menggantung di udara. Gladysa menutup pintu setelah Damian pergi, lalu bersandar sejenak dengan mata terpejam. Ada banyak hal yang ingin ia pikirkan, tapi untuk pertama kalinya ia memilih tidak memaksakan diri. Terlalu lama ia hidup dalam pusaran emosi yang melelahkan. Kali ini, ia ingin bernapas.
Keesokan harinya, Gladysa bangun lebih pagi dari biasanya. Udara masih segar, dan rumah terasa tenang. Ia duduk di depan meja rias, menatap bayangannya sendiri cukup lama. Wajahnya masih menyimpan sisa lelah, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Lebih tegas. Lebih sadar.
“Aku nggak bisa terus seperti ini,” gumamnya pelan.
Ia berdiri, merapikan rambutnya, lalu mengambil ponsel. Tanpa banyak pikir, ia mulai membuka beberapa situs lowongan kerja. Jarinya bergerak pelan di layar, membaca satu per satu, mencoba menemukan sesuatu yang cocok.
Sejujurnya, Gladysa tidak pernah benar benar bekerja serius sejak menikah. Damian selalu bilang ia tidak perlu repot, semua sudah ia siapkan. Dulu itu terdengar seperti perhatian. Sekarang, rasanya seperti ia pernah kehilangan sebagian dari dirinya sendiri.
“Harus mulai dari nol ya,” bisiknya, sedikit tersenyum tipis.
Ia tidak takut.
Hanya sedikit canggung.
Beberapa posisi menarik perhatiannya. Ia menyimpan beberapa lowongan, lalu membuka laptop dan mulai menyusun CV. Jarinya sempat berhenti di bagian pengalaman kerja.
Kosong.
Gladysa menghela napas, lalu mulai menuliskan apa yang ia punya. Pendidikan, keahlian, beberapa pengalaman kecil yang dulu ia anggap tidak penting. Sekarang, semuanya berarti.
Saat ia sedang fokus mengetik, pintu kamar diketuk pelan.
“Masuk aja, Ma,” ucapnya tanpa menoleh.
Mamanya masuk sambil membawa segelas jus.
“Kamu sudah bangun dari tadi?”
Gladysa mengangguk, matanya masih tertuju pada layar.
“Iya. Lagi nyari kerja.”
Langkah mamanya langsung terhenti.
“Kerja?”
Gladysa akhirnya menoleh.
“Iya, Ma. Aku nggak mau terus bergantung.”
Wanita itu menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum lembut.
“Itu keputusan yang bagus.”
Gladysa tersenyum kecil, merasa sedikit lega karena tidak mendapat penolakan.
“Mama nggak keberatan?”
“Kenapa harus keberatan? Kamu justru harus punya dunia kamu sendiri.”
Kata kata itu sederhana, tapi terasa menguatkan.
Gladysa mengangguk pelan. “Aku juga mikir begitu.”
Mamanya duduk di tepi tempat tidur.
“Kamu sudah siap?”
Pertanyaan itu membuat Gladysa terdiam sejenak.
Siap untuk apa?
Untuk menghadapi dunia luar lagi.
Untuk berdiri sendiri.
Untuk benar benar melepaskan masa lalunya.
Ia menarik napas panjang.
“Aku harus siap.”
Mamanya mengangguk, lalu mengusap bahu Gladysa dengan lembut.
“Pelan pelan saja. Nggak perlu buru buru.”
“Iya, Ma.”
Setelah mamanya keluar, Gladysa kembali fokus. Ia menyelesaikan CV, lalu mulai mengirim lamaran ke beberapa perusahaan. Setiap klik terasa seperti langkah kecil menuju hidup barunya.
Hari hari berikutnya diisi dengan rutinitas baru. Bangun pagi, mencari lowongan, mengirim lamaran, dan sesekali membantu mamanya di rumah. Tidak banyak yang berubah di luar, tapi di dalam dirinya, semuanya mulai tertata ulang.
Beberapa hari kemudian, sebuah email masuk.
Undangan interview.
Gladysa membaca email itu berulang kali, memastikan ia tidak salah baca.
“Serius?” bisiknya.
Jantungnya berdegup lebih cepat. Antara senang dan gugup.
Ia langsung berdiri, berjalan keluar kamar dengan langkah cepat.
“Ma!” panggilnya.
Mamanya yang sedang di dapur menoleh.
“Ada apa?”
“Aku dapat panggilan interview.”
Wajah mamanya langsung bersinar.
“Wah, bagus sekali. Di mana?”
Gladysa menyebut nama perusahaan itu, lalu tertawa kecil.
“Aku deg degan.”
“Itu wajar.”
Gladysa mengangguk, tapi tangannya masih terasa dingin.
“Kalau aku gagal?”
Mamanya tersenyum.
“Kalau gagal, coba lagi. Hidup bukan tentang sekali berhasil.”
Gladysa menatapnya, lalu mengangguk pelan.
“Iya... aku akan coba.”
Hari interview datang lebih cepat dari yang ia bayangkan. Gladysa berdiri di depan cermin, mengenakan pakaian formal sederhana. Ia merapikan rambutnya, lalu menatap dirinya sendiri sekali lagi.
“Kamu bisa,” ucapnya pelan.
Ini bukan tentang pekerjaan saja.
Ini tentang membuktikan bahwa ia bisa berdiri tanpa siapa pun.
Bahwa ia tidak lagi bergantung pada masa lalu.
Dan bahwa hidupnya tidak berhenti hanya karena satu hubungan berakhir.
Di luar sana, dunia menunggunya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Gladysa melangkah maju tanpa menoleh ke belakang.
Siang hari datang dengan terik yang cukup menyengat. Matahari tepat berada di atas kepala ketika Gladysa berdiri di depan gedung perkantoran yang tinggi dan modern. Kaca-kaca besar memantulkan cahaya hingga membuatnya sedikit menyipitkan mata. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantungnya yang sejak tadi tidak juga stabil.
Tangannya menggenggam map berisi CV dan berkas lainnya sedikit lebih erat.
“Ayo, kamu bisa,” gumamnya pelan.
Ia melangkah masuk ke dalam gedung. Suasana di lobby terasa sejuk dan rapi. Orang-orang berlalu lalang dengan pakaian formal, sebagian terlihat sibuk, sebagian lagi berbicara lewat ponsel. Dunia yang dulu terasa asing baginya, kini harus ia hadapi.
Gladysa mendekati meja resepsionis.
“Selamat siang, Mbak. Saya Gladysa Aurora. Ada jadwal interview jam satu,” ucapnya sopan.
Resepsionis itu tersenyum ramah.
“Selamat siang, Mbak Gladysa. Silakan duduk dulu di ruang tunggu, nanti akan dipanggil.”
“Terima kasih.”
Gladysa berjalan ke arah kursi tunggu. Ia duduk dengan punggung tegak, mencoba terlihat tenang meski di dalam dirinya penuh kegugupan. Beberapa kandidat lain juga sudah ada di sana. Mereka terlihat percaya diri, beberapa sibuk membaca catatan, ada juga yang bermain ponsel.
Gladysa sempat merasa kecil.
Namun ia cepat menggeleng pelan.
“Fokus,” bisiknya pada diri sendiri.
Beberapa menit terasa sangat lama. Ia mencoba mengalihkan pikiran dengan memperhatikan sekeliling. Dinding putih bersih, tanaman hias di sudut ruangan, dan jam dinding yang seolah bergerak lebih lambat dari biasanya.
“Gladysa Aurora?”
Suaranya membuat ia langsung tersadar.
“Iya,” jawabnya cepat sambil berdiri.
“Silakan ikut saya.”
Gladysa mengangguk lalu mengikuti staf tersebut menuju ruang interview. Setiap langkah terasa berat, tapi ia tidak berhenti.
Pintu dibuka.
Di dalam, dua orang sudah menunggu. Seorang wanita dan seorang pria dengan ekspresi profesional.
“Silakan duduk, Mbak Gladysa.”
“Terima kasih.”
Gladysa duduk, meletakkan map di pangkuannya, lalu mencoba tersenyum.
Interview dimulai dengan pertanyaan ringan. Perkenalan diri, latar belakang pendidikan, dan alasan melamar.
Awalnya suaranya sedikit kaku, namun perlahan mulai mengalir.
“Saya memang belum memiliki banyak pengalaman kerja formal,” ucapnya jujur. “Tapi saya terbiasa belajar cepat dan bertanggung jawab dengan apa yang saya kerjakan.”
Wanita di depannya mengangguk.
“Kenapa baru memutuskan bekerja sekarang?”
Pertanyaan itu sempat membuat Gladysa terdiam satu detik.
Namun ia tidak ingin berbohong.
“Saya sebelumnya fokus pada kehidupan pribadi,” jawabnya tenang. “Tapi sekarang saya ingin membangun karier saya sendiri dan menjadi lebih mandiri.”
Jawaban itu terdengar sederhana, tapi jujur.
Pria di sebelah pewawancara itu menatapnya cukup lama, seolah menilai sesuatu.
“Kalau nanti Anda dihadapkan pada tekanan kerja, bagaimana Anda menghadapinya?”
Gladysa menarik napas sebentar.
“Saya belajar dari pengalaman bahwa tekanan tidak selalu bisa dihindari,” jawabnya. “Tapi saya percaya, selama kita tetap tenang dan fokus pada solusi, semuanya bisa dilalui.”
Jawaban itu keluar lebih mantap dari yang ia kira.
Interview berlangsung sekitar tiga puluh menit. Tidak terasa, tapi cukup menguras energi.
Saat akhirnya selesai, Gladysa berdiri dan membungkuk sopan.
“Terima kasih atas kesempatannya.”
“Terima kasih juga, Mbak Gladysa. Kami akan menghubungi Anda.”
Ia mengangguk, lalu keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup, Gladysa langsung mengembuskan napas panjang.
Tangannya sedikit gemetar.
“Lumayan...” gumamnya pelan.
Ia berjalan keluar gedung dengan langkah lebih ringan. Matahari masih terik, tapi kali ini terasa berbeda.
Bukan lagi menekan.
Justru seperti memberi semangat.
Saat ia berdiri di pinggir jalan menunggu kendaraan, ponselnya bergetar.
Nama yang muncul di layar membuat langkahnya terhenti.
Damian.
Jantungnya langsung berdetak lebih cepat.
Untuk beberapa detik, ia hanya menatap layar itu.
Ragu.
Namun akhirnya ia menarik napas dan mengangkat panggilan tersebut.
“Halo...”
Suara di seberang sana terdengar jelas.
“Kamu lagi di mana?”
Gladysa menatap jalanan di depannya.
“Di luar.”
“Di luar mana?”
Ia terdiam sejenak, lalu menjawab jujur.
“Aku habis interview kerja.”
Hening beberapa detik.
Seolah Damian tidak menyangka.
“Kamu... kerja?”
Nada suaranya berubah lebih pelan.
Lebih... sulit dijelaskan.
“Iya,” jawab Gladysa singkat.
“Kamu nggak perlu—”
“Aku mau,” potong Gladysa cepat.
Nada suaranya tegas.
Damian langsung diam.
“Aku mau hidup aku punya arah sendiri,” lanjut Gladysa. “Jadi tolong jangan mulai lagi.”
Hening lagi.
Kali ini lebih lama.
“Aku nggak bermaksud melarang,” ucap Damian akhirnya. “Aku cuma...”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Gladysa menunggu, tapi tidak ada lanjutan.
“Kalau cuma itu, aku tutup ya,” katanya pelan.
“Cia, tunggu.”
Gladysa memejamkan mata sebentar.
“Iya?”
“Aku cuma mau tahu... kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan sederhana itu entah kenapa terasa berbeda.
Gladysa membuka mata, menatap langit siang yang cerah.
“Belum sepenuhnya,” jawabnya jujur. “Tapi aku lagi belajar.”
Di seberang sana, Damian terdiam.
Dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa Gladysa mulai berjalan tanpa dirinya.
