Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 3

Pagi datang dengan cahaya yang masuk perlahan melalui celah tirai kamar.

Gladysa sudah terbangun sejak lama.

Namun ia tidak benar-benar tidur semalaman.

Matanya terasa berat, sembab, dan kering. Ia hanya berbaring diam, menatap langit-langit kamar yang begitu familiar, tetapi kini terasa asing.

Suara ketukan pelan terdengar di pintu.

“Cia, sudah bangun?” suara mamanya lembut dari luar.

Gladysa menarik napas pelan sebelum menjawab, “Sudah, Ma.”

Pintu terbuka perlahan.

Mamanya masuk sambil membawa nampan berisi segelas teh hangat dan roti.

“Kamu harus makan,” ucapnya sambil meletakkan nampan di meja samping tempat tidur.

Gladysa bangkit perlahan, lalu bersandar di kepala ranjang.

“Aku nggak lapar, Ma.”

“Kamu harus tetap makan, walaupun sedikit.”

Gladysa tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap teh hangat itu.

Uapnya masih mengepul.

Sama seperti hatinya yang belum tenang sejak semalam.

“Mama...” suaranya pelan.

“Iya, Sayang?”

“Kalau aku benar-benar bercerai... Mama kecewa nggak?”

Pertanyaan itu membuat wanita paruh baya itu terdiam sejenak.

Lalu ia duduk di samping Gladysa dan menggenggam tangannya.

“Mama tidak pernah kecewa dengan keputusan kamu, selama itu untuk kebaikan kamu.”

Gladysa menatapnya.

“Pernikahan itu bukan tentang bertahan mati-matian,” lanjutnya lembut. “Tapi tentang saling menjaga. Kalau hanya satu yang berjuang, itu bukan pernikahan.”

Kalimat itu menancap dalam di hati Gladysa.

Ia menunduk.

Air matanya kembali menggenang, meski kali ini tidak jatuh.

“Aku masih sayang sama dia, Ma...” bisiknya lirih.

Mamanya mengusap rambutnya.

“Mama tahu.”

“Itu yang bikin sakit.”

Keheningan sejenak memenuhi ruangan.

“Kalau dia kembali nanti...” Gladysa ragu. “Aku harus bagaimana?”

Mamanya tersenyum tipis.

“Kamu tidak perlu menjawab sekarang.”

Gladysa menatapnya.

“Biarkan waktu yang menjawab. Dan yang paling penting... lihat apakah dia benar-benar berubah, atau hanya menyesal karena kehilangan.”

Gladysa terdiam.

Kata-kata itu masuk akal.

Namun tetap saja...

hatinya belum siap menghadapi kemungkinan itu.

---

Di tempat lain—

Damian berdiri di ruang kerjanya dengan wajah tegang.

Laptop terbuka di depannya.

Video yang dikirim Rafael diputar ulang.

Untuk ketiga kalinya.

Ia memperlambat bagian tertentu.

Memperbesar gambar.

Dan di sana—

wajah itu semakin jelas.

Seorang wanita.

Seseorang yang sangat ia kenal.

Damian mengembuskan napas kasar.

“Brengsek...”

Ia meraih ponselnya dan langsung menghubungi Rafael.

“Datang ke kantor sekarang. Bawa semua data yang kamu punya.”

“Baik, Bos.”

Panggilan terputus.

Damian berdiri diam beberapa detik.

Rahangnya mengeras.

Jika semua ini benar—

maka ia bukan hanya salah.

Ia sudah menghancurkan wanita yang tidak bersalah.

Dan pikiran itu...

membuat dadanya terasa jauh lebih berat.

---

Siang hari—

Gladysa duduk di taman belakang rumah dengan secangkir teh yang sudah dingin.

Ia tidak benar-benar meminumnya.

Hanya memegangnya.

Pikirannya kosong.

Atau mungkin terlalu penuh.

Langkah kaki mendekat.

“Cia?”

Gladysa menoleh.

Seorang pria berdiri di sana.

Wajahnya terlihat terkejut sekaligus khawatir.

“Raka...” gumam Gladysa.

Pria itu mendekat.

“Kamu benar-benar di sini... Tante bilang kamu pulang, tapi aku nggak nyangka...”

Ia berhenti di depan Gladysa, menatapnya lekat.

“Kamu kenapa?”

Gladysa tersenyum tipis.

“Sesuai yang kamu lihat.”

Raka mengernyit.

“Kamu nangis?”

“Udah biasa.”

“Biasa?” Raka langsung duduk di kursi depannya. “Siapa yang bikin kamu seperti ini?”

Gladysa terdiam sejenak.

Lalu menjawab pelan,

“Suamiku.”

Raka membeku.

“Apa?”

“Kami... bercerai.”

Raka menatapnya tidak percaya.

“Cia, ini bukan hal kecil.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa?”

Gladysa menarik napas panjang.

“Dia menuduh aku selingkuh.”

Ekspresi Raka langsung berubah.

“Apa?!”

“Aku sudah jelasin,” lanjut Gladysa. “Tapi dia tidak percaya.”

Raka mengepalkan tangannya.

“Dia gila.”

Gladysa tersenyum pahit.

“Mungkin.”

“Bukan mungkin. Itu jelas.”

Raka menatapnya dengan serius.

“Kamu tahu kan, kamu nggak pernah melakukan hal itu?”

Gladysa mengangguk pelan.

“Tentu.”

“Lalu kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tidak melawan?”

Gladysa menatapnya.

“Aku sudah melawan.”

“Dan?”

“Dia tetap tidak percaya.”

Raka terdiam.

Ia menghela napas panjang.

“Kalau begitu... dia yang akan menyesal.”

Gladysa tidak menjawab.

Hanya menatap kosong ke arah taman.

Sementara jauh di pusat kota—

Damian baru saja mengetahui satu hal yang akan mengubah segalanya.

Dan untuk pertama kalinya—

ia benar-benar takut kehilangan Gladysa selamanya.

Gladysa masih duduk diam di kursi taman.

Cangkir teh di tangannya sudah benar-benar dingin, namun ia tidak menyadarinya.

Tatapannya kosong.

Pikirannya kembali berputar ke satu hal yang sama—

Damian.

Ucapan pria itu semalam terus terngiang tanpa henti.

“Sulit dipercaya.”

“Jangan pura-pura tidak tahu.”

“Bukti ada di depan mata.”

Gladysa menutup mata perlahan.

Dadanya kembali terasa sesak.

Tanpa sadar, air matanya jatuh lagi.

“Kenapa harus aku...” bisiknya lirih.

Raka yang masih duduk di depannya langsung menyadari perubahan itu.

“Cia...” suaranya melembut.

Namun Gladysa menggeleng pelan.

“Aku nggak apa-apa.”

Itu bohong.

Sangat jelas.

“Kalau kamu nggak apa-apa, kamu nggak akan menangis seperti ini,” balas Raka tegas.

Gladysa tersenyum tipis, tapi senyum itu rapuh.

“Aku cuma... masih nggak percaya semua ini terjadi.”

Ia menunduk.

“Semalam... dia menatap aku seperti aku orang asing.”

Suaranya bergetar.

“Seperti aku ini... benar-benar perempuan yang mengkhianatinya.”

Raka mengepalkan tangannya di atas meja.

“Itu karena dia buta.”

Gladysa menggeleng.

“Bukan...”

“Lalu apa?”

Gladysa menarik napas panjang.

“Karena dia memilih untuk tidak percaya.”

Kalimat itu keluar pelan, tapi penuh luka.

Ia mengusap air matanya.

“Aku sudah jelasin semuanya, Ka... dari awal sampai akhir.”

Flashback semalam kembali terputar jelas di kepalanya.

Bagaimana ia mencoba berbicara dengan tenang.

Bagaimana ia memohon agar didengar.

Namun semua itu sia-sia.

“Dia bahkan nggak mau dengar aku sampai selesai...” suaranya semakin pelan.

Raka menatapnya lekat.

“Dan kamu masih memikirkan dia?”

Gladysa terdiam.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menjawab—

“Dia suamiku.”

Jawaban sederhana itu sudah cukup menjelaskan segalanya.

Raka menghela napas kasar.

“Tapi dia juga orang yang menyakiti kamu.”

“Iya... aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu masih bertahan di perasaan itu?”

Gladysa tersenyum pahit.

“Karena perasaan nggak bisa dimatikan secepat itu.”

Keheningan jatuh di antara mereka.

Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun di taman.

Gladysa menatap jauh ke depan.

“Aku kira... selama aku setia, selama aku jujur... semuanya akan baik-baik saja.”

Ia tertawa kecil, hambar.

“Ternyata nggak sesederhana itu.”

Raka tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Gladysa dengan ekspresi sulit dijelaskan.

“Cia...” panggilnya pelan.

Gladysa menoleh.

“Kalau dia datang lagi...”

Kalimat itu menggantung.

Gladysa menatapnya, menunggu kelanjutannya.

“Apa kamu akan kembali?”

Pertanyaan itu membuat waktu seolah berhenti sejenak.

Gladysa tidak langsung menjawab.

Ia kembali menatap ke depan.

Pikirannya kacau.

Hatinya... lebih kacau lagi.

“Aku nggak tahu...” akhirnya ia berkata jujur.

Raka mengernyit.

“Kamu masih ragu?”

Gladysa mengangguk pelan.

“Aku takut.”

“Takut apa?”

Gladysa menelan ludah.

“Takut dia akan menyakiti aku lagi.”

Suasana kembali sunyi.

Kali ini lebih berat.

Raka mengangguk perlahan.

“Itu wajar.”

Gladysa menatapnya.

“Kalau aku kembali... dan dia mengulang hal yang sama... aku mungkin nggak akan sekuat sekarang.”

Suaranya nyaris tidak terdengar.

Raka menatapnya dalam.

“Kalau begitu, jangan kembali.”

Gladysa terdiam.

“Tapi...” lanjut Raka, “kalau dia benar-benar berubah...”

Gladysa mengangkat pandangannya.

“...pastikan kamu tidak kembali sebagai wanita yang sama.”

Mata Gladysa sedikit membesar.

“Maksudmu?”

Raka tersenyum tipis.

“Kamu harus jadi lebih kuat. Lebih berani. Dan nggak lagi membiarkan siapa pun—termasuk dia—meremehkan kamu.”

Kata-kata itu perlahan masuk ke dalam hati Gladysa.

Ia terdiam cukup lama.

Kemudian menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya sejak tadi—

dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Namun di dalam hatinya nama Damian masih ada.

Dan luka itu blum benar-benar sembuh.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel