Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 2

Udara malam terasa lebih dingin saat Gladysa keluar dari lobi apartemen. Hujan masih turun, meski tidak sederas tadi. Ia berdiri beberapa detik di bawah kanopi, menatap kosong ke arah jalanan yang basah.

Tangannya menggenggam erat gagang koper.

Semua ini terasa seperti mimpi buruk.

Namun rasa sesak di dadanya terlalu nyata untuk disebut mimpi.

Sebuah taksi berhenti di depannya. Sopir itu menurunkan kaca jendela.

"Mau ke mana, Mbak?"

Gladysa tersadar dari lamunannya.

"Ke Jalan Anggrek, Pak."

Sopir itu mengangguk.

Gladysa masuk ke dalam mobil, lalu duduk diam sambil memeluk tasnya.

Sepanjang perjalanan, ia hanya menatap keluar jendela.

Lampu-lampu kota yang memantul di jalan basah terlihat kabur di matanya.

Bukan karena hujan.

Melainkan karena air mata yang kembali menggenang.

Ia menggigit bibir, berusaha menahan tangis.

Namun bayangan wajah Damian terus muncul di kepalanya.

Tatapan dingin pria itu.

Nada suaranya yang penuh tuduhan.

Dan yang paling menyakitkan—

ketidakpercayaannya.

Gladysa menutup mata.

Satu air mata jatuh lagi.

“Kenapa harus seperti ini...” gumamnya pelan.

---

Sementara itu, di apartemen—

Damian berdiri di depan jendela dengan satu tangan bertumpu di pinggang. Hujan yang turun di luar kini terasa seperti irama yang mengganggu pikirannya.

Ponselnya masih berada di tangan.

Panggilan dengan Rafael sudah berakhir beberapa menit lalu.

Namun kata-kata pria itu terus terngiang di kepalanya.

“Foto-foto itu kemungkinan besar sengaja dibuat.”

Damian mengepalkan rahangnya.

Ia menoleh ke arah meja.

Ke arah tempat ponsel itu sempat dilemparkan.

Ke arah foto yang menjadi awal dari semua kekacauan ini.

Tiba-tiba semuanya terasa... tidak masuk akal.

Jika memang itu rekayasa—

maka selama ini...

Tatapannya mengeras.

“Apa aku benar-benar salah?” gumamnya pelan.

Namun egonya masih berusaha menyangkal.

Gladysa memang terlihat dekat dengan pria itu.

Ia melihatnya sendiri di foto-foto itu.

Ia bahkan sempat menerima laporan bahwa mereka sering bertemu.

Namun...

kenapa hatinya sekarang justru terasa tidak tenang?

Damian mengusap wajahnya dengan kasar.

“Brengsek.”

Ia mengambil ponselnya lalu menekan nomor Rafael lagi.

Panggilan langsung terhubung.

“Cari tahu siapa di balik ini,” perintah Damian tanpa basa-basi. “Aku mau semuanya jelas. Secepatnya.”

“Baik, Bos.”

Damian menutup telepon.

Lalu untuk beberapa detik, ia hanya berdiri diam.

Pikirannya melayang pada satu hal—

Gladysa.

Wanita itu pergi.

Benar-benar pergi.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertengkar tadi, Damian merasakan sesuatu yang asing di dalam dirinya.

Kosong.

---

Mobil taksi berhenti di depan sebuah rumah besar dengan pagar putih.

Gladysa menatap rumah itu cukup lama sebelum turun.

Rumah yang dulu selalu terasa hangat.

Rumah tempat ia tumbuh.

Namun malam ini, langkahnya terasa berat.

Ia menarik napas panjang lalu turun dari mobil.

“Terima kasih, Pak,” ucapnya pelan.

Setelah membayar, Gladysa berdiri di depan gerbang.

Tangannya sedikit gemetar saat menekan bel.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.

Seorang wanita paruh baya muncul dengan wajah terkejut.

“Cia?”

Gladysa tersenyum tipis.

“Mama...”

Wanita itu langsung membuka gerbang lebih lebar.

“Kamu kenapa datang malam-malam begini? Sendirian lagi?” tanyanya khawatir.

Namun saat melihat koper di tangan Gladysa—

ekspresi wajahnya berubah.

“Cia... ini...”

Gladysa menunduk sebentar.

Suaranya hampir tak terdengar saat berkata,

“Aku pulang, Ma.”

Keheningan sejenak terjadi.

Lalu—

“Ya Tuhan...”

Sang mama langsung menarik Gladysa ke dalam pelukannya.

“Kenapa, Sayang? Ada apa?”

Pertanyaan itu yang sejak tadi berusaha Gladysa hindari.

Namun pelukan hangat itu justru membuat pertahanannya runtuh.

Air matanya jatuh lagi.

“Aku... aku bercerai, Ma...” suaranya pecah.

Tubuh wanita paruh baya itu langsung menegang.

“Apa?”

Gladysa menggeleng pelan sambil menangis.

“Damian... dia nggak percaya sama aku...”

Tangisnya semakin menjadi.

“Ia nuduh aku selingkuh...”

Sang mama mengusap punggungnya dengan lembut.

“Sudah... sudah, Sayang... masuk dulu.”

Mereka berjalan masuk ke dalam rumah.

Begitu duduk di sofa, mama Gladysa menatap wajah putrinya dengan penuh khawatir.

“Kamu nggak selingkuh, kan?”

Pertanyaan itu membuat Gladysa menatap ibunya dengan mata penuh luka.

“Bahkan Mama juga ragu sama aku?”

Wanita itu langsung menggeleng cepat.

“Bukan begitu, Sayang. Mama cuma—”

“Aku nggak melakukan apa-apa,” potong Gladysa pelan.

Suaranya lelah.

“Sama sekali nggak.”

Mama Gladysa menghela napas panjang.

“Kalau begitu, kenapa Damian bisa berpikir seperti itu?”

Gladysa mengusap air matanya.

“Ada yang menjebak aku.”

“Kamu yakin?”

Gladysa mengangguk.

“Tapi dia nggak mau dengar penjelasanku.”

Keheningan kembali menyelimuti ruang tamu itu.

Mama Gladysa menggenggam tangan putrinya.

“Kalau memang begitu, biarkan waktu yang membuktikan.”

Gladysa tersenyum pahit.

“Masalahnya, Ma...”

Ia menunduk.

“Saat kebenaran itu datang... mungkin semuanya sudah terlambat.”

Sementara di tempat lain—

Damian berdiri di balkon apartemennya, menatap hujan yang belum juga berhenti.

Pikirannya kacau namun satu hal yang mulai jelas, ia harus mencari kebenaran.

Sebelum semuanya benar-benar tidak bisa diperbaiki lagi.

Mama Gladysa tidak berkata apa-apa lagi.

Ia hanya menarik putrinya kembali ke dalam pelukan.

Pelukan itu hangat. Tenang. Seolah ingin meredam semua luka yang sejak tadi dipendam Gladysa sendirian.

“Sudah... kamu nggak sendiri,” bisiknya lembut sambil mengusap rambut Gladysa.

Dan kalimat sederhana itu—

justru membuat tangis Gladysa pecah lebih dalam.

Tangannya mencengkeram baju sang mama.

“Aku capek, Ma...” suaranya bergetar. “Aku bener-bener capek...”

Mama Gladysa memejamkan mata, ikut merasakan sakit yang dirasakan putrinya.

“Iya... Mama tahu.”

“Mama nggak tahu rasanya...” Gladysa menggeleng lemah. “Orang yang paling aku percaya... justru yang paling nggak percaya sama aku...”

Dadanya naik turun menahan sesak.

“Aku nggak masalah kalau orang lain nuduh aku... tapi dia, Ma... Damian...”

Namanya keluar dengan suara yang patah.

“Itu suami aku...”

Pelukan itu semakin erat.

“Dan dia malah yang pertama menjatuhkan aku...”

Mama Gladysa mengusap punggungnya perlahan.

“Kadang... orang yang kita cintai memang bisa jadi yang paling menyakiti,” ucapnya pelan.

Gladysa terdiam, hanya tersisa isakan kecil.

“Mama pernah bilang apa waktu kamu menikah dulu?” lanjutnya lembut.

Gladysa tidak menjawab.

Namun ia masih ingat.

Bahwa pernikahan bukan hanya soal cinta—

tapi juga soal kepercayaan.

Dan malam ini...

kepercayaan itu hancur.

“Kalau satu sisi sudah tidak percaya,” kata mama Gladysa lagi, “hubungan itu akan goyah, sekuat apa pun cintanya.”

Gladysa memejamkan mata.

Air matanya kembali jatuh.

“Aku sudah berusaha mempertahankan, Ma...”

“Iya, Mama tahu.”

“Aku jelasin... aku mohon... tapi dia tetap pilih percaya sama hal lain...”

Suaranya semakin pelan.

“Jadi untuk apa aku bertahan?”

Mama Gladysa tidak langsung menjawab.

Ia hanya menarik wajah Gladysa agar menatapnya.

Kedua matanya penuh kasih.

“Kamu tidak salah karena memilih pergi.”

Gladysa menatapnya.

“Kamu justru menyelamatkan dirimu sendiri.”

Kalimat itu membuat napas Gladysa sedikit tertahan.

Selama ini ia merasa seperti gagal.

Gagal mempertahankan rumah tangganya.

Namun kata-kata itu—

memberinya sedikit ruang untuk bernapas.

“Tapi tetap sakit, Ma...” lirihnya.

“Tentu saja sakit,” jawab sang mama lembut. “Karena kamu mencintainya.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

Beberapa saat kemudian, mama Gladysa mengusap sisa air mata di pipi putrinya.

“Sekarang kamu istirahat dulu.”

Gladysa menggeleng pelan.

“Aku nggak bisa tidur.”

“Kamu harus coba.”

Mama Gladysa berdiri lalu menarik tangan Gladysa.

“Ayo. Mama temani.”

Mereka berjalan menuju kamar Gladysa yang sudah lama tidak ia tempati.

Begitu pintu dibuka, aroma familiar langsung menyambut.

Segalanya masih sama.

Tidak berubah.

Seolah waktu berhenti di ruangan itu.

Gladysa berdiri di ambang pintu, menatap kamar lamanya.

“Aku nggak nyangka bakal balik ke sini lagi...” gumamnya.

Mama Gladysa tersenyum tipis.

“Rumah ini selalu jadi tempat kamu pulang.”

Kalimat itu terasa hangat.

Namun juga menyakitkan.

Karena ia pulang dalam keadaan hancur.

Gladysa masuk ke dalam kamar.

Ia duduk di tepi tempat tidur, lalu menunduk.

Mama Gladysa duduk di sampingnya.

“Kamu mau makan sesuatu?”

Gladysa menggeleng.

“Nggak lapar.”

“Minum?”

“Nggak.”

Mama Gladysa menghela napas pelan.

“Kalau begitu kamu istirahat saja.”

Ia membelai rambut Gladysa dengan lembut.

“Besok kita pikirkan semuanya.”

Gladysa hanya mengangguk lemah.

Beberapa menit kemudian, lampu kamar dimatikan.

Namun mata Gladysa tetap terbuka.

Menatap langit-langit kamar.

Pikirannya kembali dipenuhi wajah Damian.

Suara pria itu.

Tatapannya.

Dan kata-kata yang terus berulang di kepalanya—

"Sulit dipercaya."

Air matanya kembali mengalir tanpa suara.

Sementara di sisi lain kota—

Damian masih belum beranjak dari balkon.

Hujan akhirnya mulai reda.

Namun hatinya justru semakin kacau.

Ia mengeluarkan ponselnya lagi.

Membuka galeri.

Menatap foto-foto itu sekali lagi.

Namun kali ini—

ia tidak lagi melihatnya dengan keyakinan yang sama.

Ada sesuatu yang terasa janggal.

“Apa aku terlalu cepat mengambil keputusan...” gumamnya.

Tiba-tiba—

sebuah pesan masuk dari Rafael.

“Bos, saya menemukan sesuatu.”

Tatapan Damian langsung berubah fokus.

Ia membuka pesan itu.

Sebuah file dikirim.

Berupa rekaman video.

Tanpa berpikir panjang, Damian langsung memutarnya.

Di layar—

terlihat seorang pria yang selama ini muncul di foto bersama Gladysa.

Namun yang membuat Damian membeku—

bukan pria it melainkan—

seseorang yang berdiri di kejauhan.

Mengawasi dan wajah itu...

sangat ia kenal.

Damian menyipitkan mata, rahangnya mengeras.

“Jadi... ini semua permainanmu?” gumamnya dingin.

Di saat yang sama—

Gladysa akhirnya memejamkan mata, meski air matanya belum benar-benar berhenti.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel