Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 1

Suara hujan yang jatuh di kaca jendela apartemen terdengar samar di tengah keheningan malam. Kota masih hidup dengan lampu-lampu yang berkelip, tetapi di dalam ruangan itu suasananya terasa berat.

Gladysa Aurora berdiri di dekat meja makan dengan kedua tangan mengepal. Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi berusaha ia tahan.

Di hadapannya berdiri seorang pria tinggi dengan jas hitam yang masih melekat di tubuhnya. Wajahnya tampan, rahangnya tegas, namun sorot matanya dingin.

Damian Algerion Maverick.

Suaminya.

Pria yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi Gladysa.

Namun malam ini justru menjadi orang yang paling menyakitinya.

"Aku tanya sekali lagi, Cia," suara Damian rendah namun penuh tekanan. "Sejak kapan kamu menjalin hubungan dengan pria itu?"

Gladysa menatapnya tidak percaya.

"Apa?" suaranya bergetar.

Damian melemparkan sebuah ponsel ke atas meja dengan kasar.

"Jangan pura-pura tidak tahu."

Layar ponsel itu masih menyala. Sebuah foto terpampang jelas di sana.

Foto Gladysa sedang duduk di sebuah kafe dengan seorang pria. Sudut pengambilan gambarnya terlihat seperti diambil diam-diam dari jauh, namun cukup jelas untuk membuat siapa pun berpikir buruk.

Gladysa memandangi foto itu dengan mata melebar.

"Damian... ini—"

"Jawab pertanyaanku."

Nada suaranya lebih tajam sekarang.

Gladysa mengangkat kepala, menatap suaminya dengan ekspresi terluka.

"Itu rekan kerja aku."

"Rekan kerja?" Damian tertawa pendek, sinis. "Menarik. Sejak kapan rekan kerja bisa duduk berdua di kafe sambil tertawa seperti pasangan kekasih?"

Gladysa merasakan tenggorokannya tercekat.

"Kami hanya membicarakan proyek kantor."

Damian menyilangkan tangan di dada.

"Jam sembilan malam?"

"Itu karena—"

"Cukup."

Satu kata itu memotong penjelasannya.

Gladysa menggigit bibirnya.

"Kenapa kamu langsung menuduh aku seperti ini?" tanyanya pelan, tetapi suaranya jelas menyimpan luka.

Damian menatapnya lama.

"Aku tidak menuduh tanpa alasan."

Pria itu mengambil kembali ponselnya lalu membuka sesuatu. Dalam beberapa detik, ia melemparkan ponsel itu lagi ke meja.

"Kamu mau lihat yang lain?"

Gladysa menoleh.

Beberapa foto lain muncul.

Foto dirinya keluar dari gedung kantor bersama pria yang sama.

Foto mereka berjalan di trotoar.

Foto ketika pria itu membukakan pintu mobil.

Gladysa menggeleng cepat.

"Ini semua disalahartikan."

Damian mendekat satu langkah.

"Tidak ada yang perlu disalahartikan."

"Tentu ada!"

Gladysa akhirnya meninggikan suara. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Kamu bahkan tidak memberi aku kesempatan untuk menjelaskan!"

"Apa yang harus dijelaskan?"

"Aku tidak selingkuh!"

Ruangan itu mendadak sunyi.

Hanya suara hujan yang masih jatuh di luar.

Gladysa menatap suaminya dengan penuh harap, berharap pria itu setidaknya mau percaya.

Namun yang ia lihat justru tatapan dingin.

Tatapan penuh kecurigaan.

Hati Gladysa terasa seperti diremas.

"Damian..." suaranya melemah. "Kita sudah menikah dua tahun."

"Ya."

"Selama itu... kamu benar-benar tidak mengenal aku?"

Damian tidak langsung menjawab.

"Aku mengenalmu cukup baik," katanya akhirnya.

"Lalu kenapa kamu berpikir aku bisa melakukan hal seperti itu?"

Damian menatapnya tanpa ekspresi.

"Karena bukti ada di depan mata."

Jawaban itu terasa seperti pisau yang menancap di dada Gladysa.

Wanita itu menghela napas panjang, mencoba menahan tangis.

"Kamu lebih percaya foto-foto itu daripada aku?"

"Foto tidak berbohong."

"Tapi bisa disalahartikan!"

Damian menggeleng.

"Kamu selalu punya alasan."

Gladysa terdiam.

Selama beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Kemudian wanita itu tertawa kecil.

Bukan tawa bahagia.

Tawa pahit.

"Aku tidak menyangka," katanya lirih.

Damian mengerutkan kening.

"Menyangka apa?"

Gladysa menatapnya dengan mata yang mulai memerah.

"Aku tidak menyangka suamiku sendiri lebih percaya orang lain daripada istrinya."

"Aku percaya fakta."

"Aku adalah faktanya!" bentak Gladysa.

Damian terdiam sesaat.

Namun ekspresinya tetap keras.

"Kamu bisa berkata apa saja untuk membela diri."

Kata-kata itu membuat Gladysa merasa seolah seluruh tubuhnya kehilangan tenaga.

"Apa kamu benar-benar berpikir aku mengkhianatimu?" tanyanya pelan.

Damian tidak menjawab.

Namun keheningan itu sudah menjadi jawaban.

Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata.

Air mata akhirnya jatuh dari sudut mata Gladysa.

Ia cepat-cepat menghapusnya.

"Aku tidak selingkuh."

"Sulit dipercaya."

Dadanya terasa sesak.

"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya?"

Damian menatapnya dingin.

"Kebenaran akan terlihat dengan sendirinya."

Gladysa tersenyum pahit.

"Kamu tahu masalahnya?"

Damian tidak menjawab.

"Kamu sudah memutuskan bahwa aku bersalah sebelum mendengar penjelasanku."

Damian menghela napas.

"Cia—"

"Tidak."

Gladysa mengangkat tangan, menghentikannya.

"Jangan panggil aku begitu."

Pria itu mengerutkan kening.

"Kamu marah?"

Gladysa menatapnya dengan mata yang penuh luka.

"Aku tidak marah."

"Lalu?"

"Aku kecewa."

Kata itu keluar begitu pelan, namun terasa berat.

"Sangat kecewa."

Damian mengatupkan rahangnya.

"Kamu yang membuat semua ini terjadi."

Gladysa tertawa lagi, kali ini dengan air mata yang terus mengalir.

"Menarik sekali."

"Apa?"

"Kamu menuduh aku selingkuh tanpa bukti yang jelas, tidak mau mendengar penjelasan, lalu sekarang kamu bilang aku yang membuat semua ini terjadi."

Damian tidak menjawab.

Gladysa menghela napas panjang.

Beberapa detik kemudian, wanita itu berjalan menuju kamar.

Damian memandangnya.

"Kamu mau ke mana?"

Gladysa berhenti di tengah langkahnya.

Ia tidak menoleh.

"Kalau suami sendiri tidak percaya pada istrinya," katanya pelan, "lalu untuk apa pernikahan ini dipertahankan?"

Kalimat itu membuat Damian mengernyit.

"Apa maksudmu?"

Gladysa akhirnya menoleh.

Matanya merah, tetapi sorotnya kini berbeda.

Lebih dingin.

Lebih tegas.

"Kita bercerai saja."

Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih sunyi.

Damian menatapnya tajam.

"Kamu serius?"

Gladysa mengangguk pelan.

"Aku tidak ingin hidup dengan seseorang yang menganggapku pengkhianat."

"Kamu menyerah begitu saja?"

Gladysa tersenyum pahit.

"Aku sudah berusaha menjelaskan."

Damian tidak menjawab.

"Aku juga sudah memohon agar kamu percaya padaku."

Wanita itu menatap lurus ke matanya.

"Tapi kamu tidak pernah mau mendengar."

Hening.

Hanya hujan yang masih turun di luar.

Gladysa menarik napas panjang.

"Kalau suatu hari nanti kamu menemukan kebenaran," katanya lirih, "semoga saat itu kamu tidak menyesal."

Setelah itu ia berbalik dan berjalan menuju kamar tanpa menunggu jawaban.

Sementara Damian tetap berdiri di tempatnya.

Tatapannya jatuh pada ponsel di meja.

Pada foto-foto yang sejak tadi menjadi alasan pertengkaran mereka.

Untuk pertama kalinya malam itu, pria itu terlihat ragu.

Namun semuanya sudah terlambat.

Di dalam kamar, Gladysa menutup pintu dengan pelan.

Lalu akhirnya membiarkan dirinya menangis.

Gladysa duduk di tepi tempat tidur dengan kedua tangan gemetar. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah begitu saja. Ruangan kamar itu terasa begitu luas dan dingin, seolah seluruh kehangatan yang pernah ada telah hilang malam ini.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Dadanya terasa sakit.

Bukan karena Damian marah.

Bukan karena pria itu menuduhnya.

Melainkan karena Damian tidak percaya padanya.

Padahal pria itu adalah orang yang paling ia harapkan untuk mempercayainya.

Beberapa menit berlalu.

Tangis Gladysa mulai mereda, meski sesekali masih tersisa isakan kecil. Ia bangkit lalu berjalan menuju lemari. Tangannya membuka pintu lemari dengan pelan.

Matanya menatap deretan pakaian di dalam sana.

Semua ini adalah kehidupan yang ia bangun bersama Damian.

Dua tahun pernikahan.

Dua tahun mencoba menjadi istri yang baik.

Dua tahun mencintai pria itu tanpa setengah hati.

Namun semua itu terasa runtuh hanya dalam satu malam.

Gladysa menarik koper kecil dari sudut lemari.

Suara roda koper yang bergeser di lantai membuat hatinya kembali terasa sesak.

Ia membuka koper itu dan mulai memasukkan beberapa pakaian.

Tidak banyak.

Hanya yang benar-benar ia butuhkan.

Tangannya sempat berhenti ketika melihat sebuah gaun putih yang tergantung rapi.

Gaun yang ia pakai saat makan malam ulang tahun pernikahan mereka tahun lalu.

Saat itu Damian menatapnya lama lalu berkata, "Kamu terlihat sangat cantik."

Gladysa memejamkan mata sejenak.

Kenangan itu terasa begitu jauh sekarang.

Ia memasukkan beberapa pakaian lagi lalu menutup koper.

Ketika Gladysa keluar dari kamar sambil menarik kopernya, Damian masih berdiri di ruang tengah.

Pria itu menoleh begitu melihatnya.

Keningnya langsung berkerut.

"Kamu mau ke mana?"

Gladysa berhenti beberapa langkah darinya.

"Pulang."

"Pulang?" Damian mengulang.

"Ke rumah Mama."

Damian menatap koper di tangannya.

"Kamu serius?"

Gladysa tersenyum tipis.

"Kita sudah sepakat bercerai, bukan?"

"Aku tidak bilang setuju."

"Tapi kamu juga tidak menyangkalnya."

Damian terdiam.

Gladysa menatapnya beberapa detik, seolah ingin mengingat wajah pria itu untuk terakhir kali.

"Aku tidak ingin tinggal di rumah yang penuh kecurigaan," katanya pelan.

Damian berjalan mendekat satu langkah.

"Kamu kabur karena merasa bersalah?"

Kata-kata itu membuat langkah Gladysa berhenti.

Ia menatap Damian dengan mata yang perlahan berubah dingin.

"Kamu benar-benar tidak belajar apa pun dari pembicaraan kita tadi."

"Aku hanya mengatakan apa yang terlihat."

Gladysa menghela napas.

"Lupakan saja."

Ia kembali menarik koper.

Namun sebelum sempat melangkah jauh, Damian tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.

"Cia."

Sentuhan itu membuat tubuh Gladysa menegang.

Ia menoleh.

"Apa?"

Tatapan Damian terlihat tajam.

"Kamu pergi sekarang, orang-orang akan berpikir kamu memang bersalah."

Gladysa menatap tangan pria itu yang masih menggenggam pergelangannya.

Lalu perlahan ia melepaskannya.

"Aku tidak hidup untuk membuktikan sesuatu pada orang lain."

Damian menatapnya dalam-dalam.

"Lalu untuk siapa?"

Gladysa tersenyum tipis.

"Untuk diriku sendiri."

Ia mengambil kembali koper itu.

"Aku sudah mencoba mempertahankan pernikahan ini."

Tatapannya kembali bertemu dengan mata Damian.

"Tapi cinta tidak akan bertahan tanpa kepercayaan."

Suasana kembali sunyi.

Untuk pertama kalinya, Damian terlihat kehilangan kata-kata.

Gladysa berbalik dan berjalan menuju pintu.

Tangannya meraih gagang pintu.

Namun sebelum membukanya, ia berhenti sejenak.

Tanpa menoleh, ia berkata pelan,

"Suatu hari nanti, ketika kamu tahu kebenarannya..."

Damian menatap punggungnya.

"...semoga saat itu kamu masih sanggup menerima kenyataan."

Pintu terbuka.

Lalu tertutup kembali dengan suara pelan.

Damian berdiri terpaku di ruang tengah.

Apartemen itu tiba-tiba terasa jauh lebih kosong.

Ia menghela napas panjang lalu duduk di sofa.

Tatapannya kembali jatuh pada ponsel di meja.

Foto itu masih ada. Foto yang memperlihatkan Gladysa bersama pria lain.

Damian mengusap wajahnya dengan kasar.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan.

Kemudian ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuat alis Damian sedikit terangkat.

Rafael.

Damian mengangkat panggilan itu.

"Ada apa?"

Suara Rafael terdengar dari seberang telepon.

"Bos, aku baru dapat sesuatu yang aneh."

Damian menyandarkan tubuhnya di sofa.

"Apa?"

"Ada seseorang yang sengaja menyewa fotografer untuk mengikuti Nyonya Gladysa beberapa minggu terakhir."

Damian langsung duduk tegak.

"Maksudmu?"

"Foto-foto yang sampai ke tangan Anda..." Rafael berhenti sejenak.

"...kemungkinan besar memang sengaja dibuat."

Tatapan Damian berubah tajam.

"Jelaskan."

"Ada pihak yang membayar seseorang untuk mengambil foto Nyonya Gladysa dari sudut tertentu agar terlihat seperti sedang berkencan."

Ruangan itu mendadak terasa semakin sunyi.

Damian merasakan sesuatu di dadanya mulai berdenyut keras.

"Siapa yang melakukannya?"

"Itu yang sedang saya selidiki."

Damian menggenggam ponselnya lebih erat.

Bayangan wajah Gladysa saat menangis tadi malam tiba-tiba muncul di kepalanya.

"Aku tidak selingkuh."

Untuk pertama kalinya, sebuah perasaan tidak nyaman mulai muncul di dada Damian.

Penyesalan.

Namun di luar sana, hujan masih turun.

Dan Gladysa Aurora sudah pergi dari hidupnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel