Bab - 2
Shalat Id berlangsung khidmat di bawah langit pagi yang perlahan mulai terang. Ketika imam selesai menyampaikan khutbah dan orang-orang mulai saling bersalaman, suasana berubah menjadi riuh oleh ucapan selamat dan pelukan hangat antarwarga.
Aku mengikuti Kakek kembali ke rumah dengan langkah santai di tengah kerumunan yang perlahan bubar.
Begitu sampai di rumah utama, suasana langsung terasa berbeda lagi. Dari dapur sudah tercium aroma opor ayam, rendang, ketupat, dan sambal goreng hati yang sejak subuh dimasak oleh para bibi dan tetangga yang membantu.
Kami makan bersama di ruang tengah yang cukup luas. Tikar digelar panjang, piring-piring disusun berderet, dan orang-orang duduk melingkar sambil menikmati hidangan Lebaran.
Obrolan mengalir santai.
Ada yang memuji opor buatan Bibi Sari, ada yang bercerita tentang anaknya yang sekarang kerja di kota, ada juga yang sekadar tertawa mengenang masa-masa lama di perkebunan.
Semuanya terasa seperti Lebaran pada umumnya—hangat, sederhana, dan penuh cerita keluarga.
Namun acara yang paling aku segani justru dimulai setelah makan selesai.
Tradisi open house Kakek Darsa.
Tidak butuh waktu lama sebelum rumah utama dan halaman depan mulai dipenuhi tamu. Tetangga dari berbagai blok perkebunan berdatangan, disusul mantan bawahan Kakek dari masa-masa beliau masih aktif bekerja, bahkan beberapa orang dari kampung sebelah ikut hadir.
Sebagian membawa kue kering atau buah tangan, sebagian lagi datang hanya dengan senyum lebar dan salam hangat.
Kakek duduk di kursi utama di teras rumah, menyambut tamu satu per satu dengan sikap yang tetap hangat seperti biasa. Di sebelahnya, tanpa banyak pilihan, aku duduk mendampingi sebagai satu-satunya cucu yang hadir di sana.
Setiap ada tamu baru, Kakek hampir selalu melakukan hal yang sama.
“Ini Heldy,” katanya sambil menepuk bahuku. “Anak tunggalnya Yuda.”
Lalu ia tertawa kecil sebelum melanjutkan, “Sekarang sudah jadi mahasiswa. Tapi bukan di perkebunan atau pertanian. Malah pilih komputer.”
Para tamu biasanya ikut tertawa mendengarnya. Aku hanya bisa tersenyum sopan sambil mengangguk dan menjabat tangan mereka satu per satu.
Tamu datang dan pergi tanpa jeda. Sebagian besar membawa cerita lama tentang masa kerja Kakek di perkebunan, tentang ketegasannya dulu, tentang proyek-proyek yang pernah ia pimpin, atau tentang betapa dihormatinya beliau oleh para pekerja.
Beberapa orang juga menepuk pundakku sambil berkata dengan nada setengah bercanda, “Jangan lupa kampung halaman ya, Nak.”
Suasana semakin ramai dengan suara tawa, salam-salaman, dan aroma kopi hitam yang terus diseduh dari dapur.
Di tengah keramaian itu, aku mulai melihat Mama dalam sisi yang sedikit berbeda dari biasanya.
Beliau bergerak lincah dari satu kelompok tamu ke kelompok lain, menyapa orang-orang dengan ramah. Sesekali ia tertawa kecil menanggapi lelucon ringan, atau mencondongkan tubuh sedikit saat berbicara dengan seseorang yang dikenalnya.
Gerak-geriknya terasa lebih lepas.
Ada sesuatu dalam cara Mama tersenyum, dalam tatapan matanya, bahkan dalam kebiasaannya memainkan ujung jilbab saat mendengarkan cerita orang lain—semacam sentuhan genit yang halus, khas seseorang yang terbiasa berada di lingkungan sosial yang ramai.
Sejenak aku teringat cerita lama tentang masa Mama dulu ketika masih aktif di lingkungan partai di Bandung. Mungkin suasana seperti ini mengingatkannya pada masa-masa itu.
Di sini Mama tidak hanya terlihat sebagai ibu rumah tangga yang lembut seperti yang biasa kulihat di rumah.
Ada sisi lain yang muncul perlahan—lebih hidup, lebih terbuka, dan tampak menikmati perhatian orang-orang di sekitarnya.
Aku memperhatikan semua itu dari kejauhan sambil tetap duduk di samping Kakek.
Namun tidak ada yang terasa aneh atau mencurigakan. Mama hanya terlihat sedang menikmati suasana silaturahmi Lebaran dengan caranya sendiri.
Hari itu berlalu dengan sangat ramai.
Tamu terus berdatangan hingga sore hari. Makanan berganti dari kue kering ke gorengan, lalu ke hidangan makan siang. Cerita-cerita lama terus muncul dari berbagai sudut teras.
Lebaran pertama di Sukabumi ternyata jauh lebih hidup dari yang kubayangkan.
Sayangnya, juga jauh lebih melelahkan.
Setelah berjam-jam duduk di samping Kakek, tubuhku mulai terasa berat. Senyum yang sejak tadi kupaksakan terasa kaku di wajah. Pertanyaan yang sama terus berulang: kuliah di mana, jurusan apa, rencana setelah lulus, kenapa tidak mengikuti jejak keluarga di dunia perkebunan.
Semuanya harus kujawab dengan sopan.
Sikap harus dijaga, bahasa harus halus, tangan tidak boleh sembarangan bergerak, dan senyum harus tetap ada di wajah.
Jujur saja, itu bukan diriku banget.
Akhirnya aku menyerah.
Aku mendekati Kakek yang masih duduk di kursi utama, lalu menyalaminya dengan hormat.
“Kek, Heldy istirahat dulu ya. Lumayan capek dari kemarin perjalanan,” kataku pelan.
Kakek mengangguk mengerti. Ia menepuk pundakku sambil tersenyum.
“Istirahat saja dulu. Nanti malam juga masih ramai.”
Aku berpamitan pada beberapa tamu yang masih berada di sekitar teras, lalu berjalan menuju Villa Yuda di belakang rumah.
Entah kenapa, sore itu jalan setapak menuju villa terasa lebih panjang dari biasanya.
Lampu-lampu kecil mulai menyala, menerangi batu pijakan yang mulai basah oleh embun. Angin dari kebun teh bertiup pelan membawa hawa dingin yang menyusup melalui baju koko yang sudah kusut seharian.
Begitu sampai di teras joglo, aku langsung melepas sandal dan masuk ke kamar tanpa banyak berpikir.
Tubuh rasanya seperti habis diperas.
Sejujurnya, inilah salah satu alasan kenapa aku selalu lebih menikmati Lebaran di kampung Nenek Imas di Bandung.
Di sana suasananya jauh lebih bebas.
Memang semua orang mengenal keluarga kami, tapi justru karena itu tidak ada tekanan untuk menjaga image berlebihan. Setelah shalat Id selesai, biasanya aku langsung pergi ke bukit bersama anak-anak muda setempat.
Kami duduk-duduk sambil main gitar, ngobrol ngalor-ngidul sampai malam, atau nongkrong di warung sambil makan gorengan panas.
Kalau aku pakai kaos oblong robek atau tertawa terbahak-bahak tanpa menutup mulut, tidak ada yang mempermasalahkan. Semua terasa mengalir apa adanya.
Berbeda dengan Mama. Beliau justru tampak sangat menikmati suasana di rumah Kakek Darsa ini.
Di tengah keramaian open house tadi, Mama seperti menjadi pusat perhatian kecil. Banyak orang menyapanya, memuji penampilannya yang rapi dan anggun, atau menanyakan kabar keluarganya di Jakarta.
Sebagai menantu dari anak sulung Kakek, Mama memang cukup dikenal oleh warga sekitar.
Ia bergerak dengan lincah, menyapa satu orang ke orang lain, tertawa ketika ada yang melontarkan lelucon ringan. Wajahnya terlihat benar-benar hidup.
Mungkin karena Ayah tidak ada di sampingnya. Biasanya, jika Ayah hadir, Mama cenderung lebih tenang dan terjaga sikapnya. Sekarang, entah kenapa, Mama tampak lebih bebas.
Suara air kolam mengalir pelan, angin malam bergerak lembut di antara pepohonan, dan aku tertidur lelap tanpa mengetahui bahwa keramaian di rumah Kakek Darsa terus berlanjut hingga larut.
^*^
Entah sudah jam berapa malam itu ketika aku terbangun. Bukan karena mimpi buruk atau suara keras yang mengagetkan, melainkan hanya karena tubuhku memang sudah cukup beristirahat setelah seharian lelah. Mataku terbuka pelan dalam kegelapan kamar.
Beberapa detik aku hanya berbaring diam, mencoba menyesuaikan diri dengan suasana. Villa Yuda terasa sangat sunyi. Dari jendela yang sedikit terbuka, angin malam masuk perlahan membawa hawa dingin khas pegunungan.
Lalu telingaku menangkap sesuatu. Suara samar dari ruang tengah.
Bukan keributan. Hanya dengung pelan televisi yang menyala dengan volume sangat rendah. Di sela-selanya terdengar suara dua orang yang sedang berbicara lirih, seperti sengaja merendahkan suara agar tidak terlalu terdengar.
Awalnya aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Kupikir mungkin Mama sudah kembali dari rumah Kakek Darsa dan sedang menonton acara televisi sambil bersantai sebelum tidur. Atau mungkin nenek dan kakek datang sebentar menemani Mama untuk sekedar menengok.
Aku hampir memejamkan mata lagi.
Namun beberapa detik kemudian, suara itu terdengar lebih jelas.
Ada tawa kecil Mama. Tawa yang lembut, tetapi entah kenapa terasa berbeda dari biasanya. Lebih ringan. Lebih bebas. Seolah-olah beliau sedang sangat menikmati percakapan itu.
Lalu terdengar suara lelaki yang menimpali. Suaranya rendah, hangat, dan terdengar akrab. Begitu akrab sampai membuat dadaku mendadak terasa sesak.
Dalam sekejap jantungku mulai berdegup lebih cepat. Ada perasaan aneh yang muncul tanpa bisa kujelaskan. Seperti firasat buruk yang datang tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.
Aku perlahan bangun dari tempat tidur. Napasku tertahan, berusaha tetap tenang meskipun jantungku mulai berdetak tidak teratur.
Suara tawa Mama terdengar lagi.
Kali ini disusul bisikan lelaki itu. Pelan, dekat, seolah mereka duduk sangat berdekatan. Nada percakapannya terasa terlalu akrab, terlalu intim. Bukan seperti dua orang yang sekadar berbincang santai di ruang keluarga. Tapi sedang bermesraan.
Aku menelan ludah. Telapak tanganku mulai terasa dingin dan berkeringat.
‘Siapa lelaki itu?’ tanyaku dalam hati.
Dengan sangat hati-hati aku menurunkan kaki dari kasur. Lantai kayu terasa dingin ketika kakiku menyentuhnya. Aku tidak menyalakan lampu—memang dari tadi kamar sudah gelap, dan mataku sudah cukup terbiasa dengan kondisi itu.
Langkahku pelan menuju pintu kamar. Di sudut kamar ada kursi plastik kecil. Tanpa berpikir panjang aku mengangkatnya perlahan, berusaha agar tidak menimbulkan suara sedikit pun. Kursi itu kubawa mendekati pintu.
Aku naik ke atasnya, cukup tinggi untuk bisa melihat sebagian ruang keluarga melalui celah pintu.
Dan saat itu juga jantungku berdetak keras sekali. Begitu keras sampai rasanya seperti berdentum di tenggorokan. Tanganku gemetar berpegangan pada sandaran kursi.
Di ruang keluarga villa, sofa panjang yang menghadap televisi terlihat diterangi cahaya kebiruan dari layar yang masih menyala tanpa suara, aku melihat Mama.
Ya… Mama.
Beliau sudah melepas jilbab. Rambut panjangnya terurai bebas, jatuh di bahu dan punggung. Mama duduk berdua dengan seorang lelaki di sampingnya.
Terlalu dekat dan orang itu ternyata….
^*^
Agar bisa leluasa dengan segala fantasi super gilanya, cerita ini juga bisa dibaca di platform Victie. Platform novel digital terbaik di Indonesia, karya anak bangsa.
Cari nama pena Fajar Merona, atau cari novel “KETIKA MAMA MUDIK” maka akan ditemukan novel paling panas, paling liar dan paling eksplisit yang pernah ada.
