Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab - 3

Mama sudah melepas jilbab. Rambut panjangnya terurai bebas, jatuh di bahu dan punggung. Ia duduk berdua dengan seorang lelaki yang terlalu dekat, terlalu intim untuk ukuran menantu dan mertua.

Ya lelaki itu adalah Kakek Darsa.

Tubuh mereka hampir saling menempel. Tangan Kakek melingkar di pinggang Mama dengan cara yang terasa begitu intim, terlalu akrab untuk sekadar pelukan keluarga.

Sekujur tubuhku terasa meembeku di tempat. Dada terasa kosong, seolah udara tiba-tiba menghilang dari paru-paruku.

Mama tampak menundukkan kepala sedikit sambil tertawa pelan, seolah menanggapi sesuatu yang baru saja dikatakan Kakek. Tangannya sendiri berada di atas lengan Kakek, tidak menolak, tidak juga terlihat kaku. Dari posisiku mengintip segalanya tampak jelas, bahkan bisikan mereka pun hampir terdengar, jarak kami hanya sekitar tiga meteran.

Gerakan dan gesstur mereka terlihat nyaman, seolah itu gerakan memang sudah lama biasa mereka lakukan.

Aku menatap pemandangan itu tanpa berkedip, otakku seperti menolak memproses apa yang sedang kulihat. Rasanya seperti melihat dua potongan dunia yang tidak mungkin berada di tempat yang sama. Mustahil untuk bisa seperti ini.

Mama yang selama ini kukenal selalu bangun sebelum subuh untuk tahajud, yang suaranya lembut saat mengaji di ruang tengah, yang selalu menjaga sikap di depan siapa pun, terasa sangat paradoks dengan sosok yang sekarang duduk di ruang keluarga itu, dengan rambut terurai duduk mesra bersama ayah dari suaminya sendiri.

Aku ingin percaya bahwa ada penjelasan yang masuk akal. Bahwa mungkin ini hanya salah paham. Bahwa mungkin aku belum benar-benar sadar dari tidur. Namun semakin lama aku mengintip dari balik ventilasi itu, semakin jelas satu hal terasa di dalam dada. Karena apapun yang sedang terjadi di depan mataku, tidak seharusnya kulihat.

Di ruang keluarga, cahaya biru dari televisi memantul lembut di wajah Mama dan Kakek. Layar itu menayangkan sesuatu yang tidak benar-benar mereka tonton. Suaranya nyaris dimatikan, karena perhatian mereka pun sepenuhnya tertuju satu sama lain.

Kakek memeluk pinggang Mama. Tangan tuanya yang kasar, yang selama ini kukenal sebagai tangan pekerja kebun, bergerak pelan mengusap sisi tubuh Mama dengan keakraban yang membuat dadaku semakin terasa sesak.

Mama tidak menyingkir. Beliau justru bersandar sedikit ke arah Kakek, kepalanya miring seolah menikmati kedekatan itu.

“Lin…” suara Kakek terdengar pelan memanggil nama mamaku, Herlina.

Nama itu keluar dari mulut Kakek dengan nada yang berbeda, terlalu mesra. Bukan seperti seorang mertua memanggil menantunya. Ada sesuatu yang lebih lembut, lebih dalam… hampir seperti bisikan seseorang yang sedang memanggil kekasih lamanya.

Mama tertawa kecil. “Pelan-pelan dong, sayang. Nanti kedengaran sama Heldy,” bisiknya.

‘Sayang?’ Jantungku seperti dipukul dari dalam. Jadi… Mama memanggil sayang sebegitu mesranya sama mertuanya saat sedang berdua?

Tanganku mencengkeram sandaran kursi lebih erat. Telapak tanganku basah oleh keringat.

“Heldy tidak akan bangun cepet-cepet. Tadi Bapak masukin obat tidur punya neneknya ke dalam minumannya, makanya dia tadi pulang duluan, hehehe…” jawab Kakek dengan suara rendah, santai dan terkekeh.

“Paling bangunnya besok pagi, itu pun kalau dibangunin, kan dia juga capek udah open haouse. Makanya obat tidur itu mudah sekali bereaksi.”

Aku terbelalak, tak bisa lagi berkata-kata.

Mama tidak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas pelan. “Udah disiapin banget ya, Pak…” ucapnya sambil terkekeh. Tak tahu kalau yang sedang mereka obrolin justru dengan jelas bisa mendengar dan melihat semuanya.

Beberapa detik mereka terdiam. Lalu tangan Mama bergerak naik, menyentuh pipi Kakek dengan gerakan lembut yang terasa begitu… intim. “Makin seger aja, beda banget dengan Mas Yuda yang makin tua….”

Aku hampir saja kehilangan kesabaran dan keseimbangan di atas kursi. Ingin rasanya meloncat ke tengah ruangan dan memaki mereka berdua, karena telah mengkhianati ayahku. Pemandangan dan pendengaran ini semakin terasa begitu tidak nyata, kabur dan tak masuk akal, hingga isi kepalaku seakan menolak menerima kenyataan ini.

“Sudah lama sekali… kita tidak bermesraan, semalam sebenarnya….” suara Mama terdengar lagi, nyaris seperti bisikan dan tak jelas selanjutnya.

Kakek tersenyum kecil. Dalam cahaya redup itu, wajah tuanya terlihat berbeda. Bukan lagi sosok kakek yang sepanjang hari duduk menerima tamu bersamaku dengan wibawa tenang. Sekarang ekspresinya lebih lembut, bahkan sedikit nakal dan super mesum.

“Sejak kamu jarang ke sini, Bapak sempet khawatir…” katanya pelan dan tak jelas apalagi yang diucapkannya.

Mama menunduk, lalu tertawa kecil lagi. Tawa yang sama seperti tadi, ringan, lepas, manja dan genit, seperti tawa abg yang sedang jatuh cinta.

“Kalau Mas Yuda tahu, Bapak mau apa? heheheh..” Mama berbisik lagi seperti mengejek.

Kakek mengangkat bahu santai. “Yuda selalu sibuk,” jawabnya. “Sejak dulu juga begitu. Kurang peduli, kurang peka sama istrinya, kecuali sama anaknya, hehehe….”

Aku menutup mulutku dengan tangan agar tidak mengeluarkan suara.

Nama Ayah disebut begitu saja di tengah percakapan intim itu, seperti sesuatu yang jauh dan tidak penting. Dadaku terasa semakin berat.

Mama menggeser tubuhnya sedikit di sofa, sekarang duduk hampir menghadap Kakek. Rambut panjangnya jatuh ke bahu, beberapa helai menutupi pipinya.

“Kadang aku kangen juga suasana di sini, apalagi saat sensasi alam terbuka itu, waktu Bapak memuaskan kamu di pinggir kolam,” kata Kakek pelan. “Saat itu semuanya terasa… lebih hidup. Bapak serasa tiga puluh tahun lebih muda, hehehe.”

“Sama Pak, aku juga gak pernah lupa sensasi-sensasi itu,” balas Mama pelan.

“Beneran Heldy tadi udah dikasih obat tidur?” kembali Mama memastikan.

Kakek menjawab dengan anggukan. “Hanya bom atom yang akan membangunkannya, kecuali besok pagi, hehehe.”

Lalu kakek mengangkat tangannya pelan, menyentuh sisi wajah Mama, tepat di dekat telinganya. Gerakannya begitu hati-hati, hampir seperti orang yang menyentuh sesuatu yang rapuh.

“Kamu masih sama seperti saat pertama ketemu Bapak…” gumam Kakek pelan.

Mama tersenyum kecil. “Apanya?” tanyanya setengah berbisik.

“Menggairahkan,” jawab Kakek singkat.

Mama menunduk sebentar, lalu tertawa kecil lagi. Kali ini tawanya terdengar lebih pelan, hampir seperti seseorang yang sedang mencoba menahan perasaan yang terlalu lama disimpan.

“Kamu masih setia, padahal Bapak sudah tua sekarang,” lanjut kakek.

“Tidak di mataku, Pak. Justru semakin gagah dan perkasa, hehehe,” balas Mama.

Kalimat itu diucapkan begitu sederhana, tapi nadanya membuat dadaku terasa semakin sempit semakin ingin meledak.

Untuk beberapa detik mereka hanya saling memandang, tanpa kata, tanpa gerakan lain. Seolah waktu di ruang keluarga itu berjalan jauh lebih lambat daripada di tempat lain.

Mama mengangkat tangan, menyentuh pipi Kakek pelan, jari-jarinya membelai seperti sedang menghafal setiap garis wajah mertuanya.

Kakek membalas dengan menarik Mama lebih dekat, bibirnya bergerak pelan di pipi Mama lalu ke lehernya, membuat Mama menghela napas kecil yang hampir tak terdengar tapi cukup untuk membuat bulu kudukku berdiri.

Televisi terus menyala, cahayanya berkedip-kedip di wajah mereka, membuat bayangan bergoyang pelan di dinding kayu. Aku makin membeku di atas kursi. Napas tercekat, dunia terasa sempit dan gelap di sekitar penglihatanku yang hanya tertuju pada sofa itu.

Jantungku berdegup begitu kencang sampai sakit, telinga berdengung, tangan dingin seperti es. Ini tidak mungkin. Ini tidak masuk akal.

Aku turun dari kursi pelan sekali, hampir jatuh karena lutut gemetar. Kakiku mundur tanpa suara, kembali ke tempat tidur tanpa suara. Lantas duduk di lantai, punggung menempel dinding, tangan menutup mulut supaya tidak ada suara yang keluar.

Dunia berputar, kepala pusing, dada sesak. Apa yang baru kulihat? Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

Aku duduk di lantai kamar gelap selama beberapa menit yang terasa seperti jam. Napas masih tersengal, jantung berdegup kencang sampai telinga berdengung, tapi rasa penasaran itu mulai mengalahkan perasaan terkejutku.

Aku harus melihat lagi. Harus yakin bahwa apa yang kulihat tadi bukan khayalan atau mimpi buruk yang terlalu nyata.

Dengan tangan masih gemetar, aku bangun pelan, mengambil napas dalam-dalam beberapa kali sampai dada tidak lagi sesak. Kursi plastik itu kuangkatt lagi tanpa suara, kakiku naik ke atasnya, tubuh condong sedikit ke depan supaya bisa mengintip lebih jelas ke ruang keluarga.

Cahaya televisi masih menyala redup, biru keunguan berkedip-kedip di dinding kayu dan sofa panjang. Suara bisik-bisik mereka sudah berubah menjadi desahan pelan yang terputus-putus, diselingi napas berat dan suara kecil yang basah.

Aku menahan napas, mata melebar.

Kakek Darsa sudah berdiri di depan sofa. Kemeja koko putihnya masih terpasang rapi di bagian atas, tapi bawahannya sudah terbuka lebar. Sarung dan celana dalamnya lenyap entah ke mana, meninggalkan tubuh bagian bawah yang telanjang.

Kontolnya yang sudah tua tapi masih tegap dan berurat, berdiri tegak di depan wajah Mama yang berlutut di lantai karpet, bersimpuh tepat di depan selangkangan Kakek. Kedua tangan Mama memegang pangkal paha Kakek, rambut panjangnya yang biasanya tersembunyi rapi kini terurai bebas, bergoyang pelan setiap kali kepalanya bergerak maju-mundur.

Mulut Mama bergerak lincah, bibirnya melingkari kepala kontol Kakek, lidahnya pasti berputar-putar di ujungnya, lalu turun perlahan menelan lebih dalam sampai pipinya terlihat menggembung. Suara kecil “slurp… slurp…” basah terdengar jelas di antara desahan mereka.

“Linaaaaa…” Kakek menghela napas panjang, tangannya menyisir rambut Mama, pelan. Tidak memaksa, tapi penuh kelembutan yang anehnya terasa mesra.

“Ahh… Lina… pelan-pelan… Sayaaang, enak sekali…” lenguh Kakek, suaranya serak dan rendah, hampir seperti erangan yang tertahan.

^*^

Agar bisa leluasa dengan segala fantasi super gilanya, silakan lanjutkan membaca cerita ini di aplikasi Victie, platform novel digital terbaik di Indonesia.

Cari nama pena Fajar Merona, atau cari novel “KETIKA MAMA MUDIK” maka akan ditemukan novel paling panas, paling liar dan paling eksplisit yang pernah ada. Di Victie cerita ini ssudah tamat.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel