Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab - 1

Hanya lima hari. Namun menjadi lima hari yang sangat gila, sangat panas, mendebarkan, tak terduga dan menjadi mudik yang tak masuk akal dalam sepanjang hidupku.

^*^

Mudik Lebaran tahun ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bukan semata karena untuk pertama kalinya aku harus mengendarai mobil sendiri dalam perjalanan sejauh ini.

Bukan juga karena Ayah tidak bisa ikut bersama kami. Justru yang membuatnya terasa lain adalah tujuan mudik kami kali ini: kampung halaman Ayah di Sukabumi. Tempat yang sebenarnya jarang sekali kami kunjungi bersama sebagai keluarga.

Ayah, yang biasanya paling bersemangat setiap kali mendengar kata mudik, tahun ini justru harus tinggal di Jakarta., di kantornya. Sebagai pejabat di salah satu BUMN, kebetulan jadwal piket Lebaran kali ini jatuh kepadanya sebagai koordinator guna memastikan semuanya berjalan lancar.

Akhirnya, hanya aku dan Mama yang berangkat mudik ke kampung halaman ayahku.

Namaku Heldy Suntara. Usia dua puluh satu tahun, mahasiswa semester dua di salah satu Universitas Negeri di Depok. Sejak kecil, kalau urusan mudik, aku selalu lebih akrab dengan kampung halaman Nenek Imas, Nenek dari Mama di Bandung.

“Ah, biasa saja, Hel,” kata Mama beberapa hari sebelum keberangkatan, ketika aku sempat mengeluh soal rencana mudik ke Sukabumi ini.

“Toh mereka itu kan kakek dan nenekmu juga, Hel,” lanjutnya lembut. “Mama malah lebih senang kalau Lebaran atau liburan di sana, padahal bukan kampung halaman Mama.”

Aku menatap Mama sambil bersandar di kusen pintu kamar, “Kenapa bisa begitu, Ma?”

Mama tersenyum, matanya berbinar seperti menyimpan kenangan yang menyenangkan.

“Di tempat Kakek Darsa enak. Kebun teh hijau luas, udaranya sejuk. Orang-orang juga tidak terlalu banyak yang kenal kita,” katanya sambil terkekeh pelan.

“Beda kalau ke rumah nenek di Bandung. Baru turun dari mobil saja sudah ada yang teriak, ‘Eh, anak dan cucunya Bu Imas pulang!’ Lalu satu kampung langsung tahu semua, hihihi.”

Aku ikut tertawa kecil mendengarnya.

Memang benar juga. Di Bandung, Mama seperti selebritas lokal. Semua orang kenal beliau, dari pedagang sayur sampai ibu-ibu pengajian, wajar karena memang sejak kecil dia tinggal di sana.

Akhirnya, sekitar pukul empat sore hari terkahir puasa, kami sampai di depan rumah Kakek Darsa Sukabumi. Rumah kayu besar bergaya lama, dengan halaman luas yang ditumbuhi pohon mangga dan jambu. Di sekitarnya langsung terlihat kebun teh yang membentang hijau.

Begitu mobil berhenti, pintu rumah langsung terbuka. Kakek Darsa dan Nenek muncul dengan senyum lebar dan tangan melambai-lambai.

“Wah, Cucu nenek yang paling ganteng datang! Mana Papa Yuda? Kok nggak ikut?” tanya Nenek sambil mendekat.

Mama turun dari mobil, langsung dipeluk Nenek dan Kekek bergantian, setelah itu aku.

“Mas Yuda piket di kantor, Nek. Tapi kami bawa cerita seru buat lebaran kali ini,” jawab Mama sambil tertawa ringan.

Aku ikut turun, membawa tas-tas dari bagasi. Kakek langsung memelukku erat. “Heldy! Sudah makin tinggi sekarang. Masuk, masuk! Nenek udah siapin opor sama rendang tuh.”

Nenek menarik tangan Mama masuk ke dalam rumah. “Ayo, istirahat dulu. Capek kan nyetir jauh. Nanti malam kita ngobrol panjang-panjang.”

Rumah terasa hangat, bau masakan langsung menyambut. Di ruang tamu ada tikar anyaman besar, meja kayu rendah, dan foto-foto keluarga lama tergantung di dinding. Semuanya terasa akrab meski aku jarang ke sini. Mama langsung melepas sepatunya, duduk di tikar, dan menghela napas lega sambil tersenyum ke arahku.

“Alhamdulillah sampai dengan selamat,” katanya pelan.

Aku duduk di sebelahnya, merasa capek tapi senang. Lebaran tahun ini terasa sederhana, tapi hangat. Hanya aku, Mama, Kakek, dan Nenek, tanpa keramaian besar, tanpa hiruk-pikuk kota. Dan entah kenapa, suasana ini terasa pas sekali.

Kakek Darsa, meskipun usianya sudah mencapai tujuh puluh tahun, masih terlihat bugar dan tegap. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tetapi berdiri kokoh dengan bahu yang masih bidang. Kulitnya kecokelatan, terbakar matahari dari puluhan tahun bekerja di tengah Kebun Teh. Garis-garis keriput di wajahnya justru membuatnya tampak semakin berwibawa, seperti seseorang yang telah melewati banyak hal dalam hidup.

Dulu, di masa mudanya, Kakek dikenal sebagai satu-satunya putra daerah yang berhasil menembus posisi tinggi di perusahaan perkebunan milik negara. Pada masa itu, jabatan-jabatan penting biasanya diisi oleh orang-orang dari luar daerah, mereka yang datang dengan latar pendidikan tinggi atau koneksi kuat. Sementara Kakek hanya lulusan SMA.

Namun rupanya pendidikan formal bukan segalanya. Melalui kerja keras, kedisiplinan, dan kemampuannya mengelola orang-orang di lapangan, Kakek perlahan naik pangkat. Ia dikenal tegas, tetapi adil. Para pekerja menghormatinya karena ia tidak pernah segan turun langsung ke kebun, memeriksa tanaman, berbicara dengan para mandor, bahkan ikut merasakan kerasnya pekerjaan di bawah matahari.

Dari situlah kariernya menanjak sampai pada posisi yang cukup disegani di lingkungan perkebunan itu. Dan anehnya, setelah pensiun, hampir tidak ada yang berubah dari cara hidupnya.

Kakek tetap sederhana seperti dulu. Tidak ada rumah megah berlapis marmer, tidak ada mobil mewah berderet di garasi. Ia tetap bangun pagi, berjalan mengelilingi halaman rumah, lalu mengurus lahan kecil di belakang rumah yang ditanami berbagai sayuran dan tanaman buah. Kadang ia memegang cangkul sendiri, kadang hanya mengawasi sambil memberi arahan pada orang-orang yang membantunya.

Seolah-olah masa pensiun itu hanya berarti satu hal baginya: lebih banyak waktu untuk berada di tanah yang selama ini menjadi bagian hidupnya.

Ayahku, anak sulung Kakek, sekarang berusia empat puluh delapan tahun. Jika mereka berdiri berdampingan, anehnya Ayah justru terlihat lebih tua dibandingkan Kakek. Mungkin karena ekspresi wajahnya yang selalu serius, atau sikapnya yang cenderung kaku dan tertutup.

Ayah bukan tipe orang yang mudah menunjukkan perasaan. Ia jarang tertawa lepas, jarang juga bercerita panjang. Berbeda sekali dengan Kakek yang hangat dan mudah akrab dengan siapa saja. Di teras rumah saja, Kakek bisa duduk berjam-jam ngobrol dengan tetangga atau pekerja kebun tanpa terlihat bosan.

Keluarga Kakek Darsa sebenarnya cukup besar. Beliau memiliki tujuh orang anak, meskipun dua di antaranya meninggal ketika masih kecil. Lima anak yang tersisa kini semuanya telah berkeluarga dan empat diantara tinggal di luar pulau Jawa. Menariknya, hampir semuanya tetap berkarir dalam dunia perkebunan.

Kondisi itu cukup berbeda dengan keluarga dari pihak Mama.

Almarhum kakek dari Mama dulu adalah pejabat di Pemerintah Daerah Kota Bandung. Lingkungan keluarga Mama terbiasa dengan suasana yang lebih formal, lebih dekat dengan kalangan pejabat dan orang-orang berpendidikan tinggi.

Ketika aku masih SMP, Mama sempat bergabung dengan sebuah partai politik berbasis Islam. Sejak masa itu pula penampilannya berubah cukup drastis. Beliau mulai mengenakan gamis longgar, jilbab yang selalu rapi menutup dada, dan sikapnya semakin santun serta terjaga. Di hadapan orang lain, Mama selalu terlihat sangat religius.

Namun sebenarnya, keluarga besar Nenek Imas tidak seketat itu dalam menjalankan aturan agama ataupun adat. Mereka lebih santai, lebih terbuka, bahkan cenderung liberal dalam banyak hal. Ada yang tidak berjilbab, ada yang suka bercanda keras, bahkan beberapa sepupu Mama dikenal cukup bebas dalam gaya hidupnya.

Perbedaan latar belakang dua keluarga itu selalu terasa unik bagiku. Di satu sisi ada keluarga perkebunan yang sederhana dan membumi. Di sisi lain ada keluarga kota yang lebih modern dan terbuka.

Di belakang rumah Kakek Darsa, sekitar tiga puluh meter dari bangunan utama, berdiri sebuah rumah panggung yang langsung menarik perhatian siapa saja yang melihatnya.

Rumah itu bergaya joglo. Atapnya berbentuk limas bertingkat khas arsitektur Jawa, dengan rangka kayu besar yang kokoh. Dindingnya terbuat dari kayu jati yang sudah mengilap karena perawatan bertahun-tahun.

Dibandingkan rumah utama Kakek yang lebih sederhana dan bernuansa rumah kampung, bangunan joglo ini terlihat jauh lebih representatif. Bahkan bisa dibilang cukup mewah untuk ukuran rumah di daerah perkebunan teh seperti ini.

Orang-orang di sekitar sini biasa menyebutnya ‘Villa Yuda’. Nama itu diambil dari nama Ayahku, Yuda, karena memang Ayah yang membangunnya beberapa tahun lalu. Jadi sebenarnya aku dan Mama pun tidak menumpang di rumah kakek, tapi di villa keluargaku, Villa Yuda.

^*^

Hari pertama Lebaran dimulai sangat pagi. Langit masih gelap ketika aku dan Kakek Darsa sudah bersiap berangkat ke lapangan perkebunan untuk melaksanakan shalat Id. Udara pegunungan terasa dingin menusuk kulit, membuat napas yang keluar dari mulut tampak seperti uap tipis di udara.

Kami berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke lapangan. Embun menempel di daun-daun teh yang mengelilingi area itu, membuat kebun tampak berkilau samar terkena cahaya lampu jalan yang masih menyala. Biasanya lapangan itu kosong, hanya dipakai anak-anak bermain bola atau pekerja berkumpul sebentar. Tapi pagi itu suasananya benar-benar berbeda.

Lapangan luas itu sudah dipenuhi hamparan sajadah dan tikar anyaman yang dibentangkan rapi.

Orang-orang datang dari berbagai arah, berjalan berkelompok bersama keluarga mereka. Sebagian besar adalah warga perkebunan dengan pakaian sederhana—baju koko putih, sarung kotak-kotak, atau peci hitam yang sudah agak pudar warnanya. Tapi di antara mereka juga terlihat banyak wajah yang jelas bukan penduduk tetap.

Para perantau yang pulang kampung.

Mudah sekali mengenali mereka. Penampilan mereka lebih “kota”: baju koko model terbaru, jilbab stylish dengan warna-warna cerah, tas kecil bermerek, dan sepatu yang tampak terlalu bersih untuk tanah lapangan yang masih lembap oleh embun.

Aku sempat tersenyum kecil dalam hati. Kalau dipikir-pikir, mungkin aku sendiri terlihat seperti mereka di mata warga sini—baju koko rapi, celana kain, dan sandal kulit yang masih kinclong karena baru dipakai sekali.

Meski kami berangkat sangat pagi, tetap saja kami mendapat tempat di barisan yang entah sudah ke berapa puluh dari depan. Barisan pria memanjang jauh ke belakang, hampir menyentuh tepi kebun teh yang mengelilingi lapangan. Sementara itu Mama berada di barisan perempuan bersama Nenek.

^*^

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel