Bab 8
Siang ini, sesuai jadwal, Cinta menjalani sesi photoshoot di sebuah studio untuk endorsement sebuah produk parfum ternama dari seorang artis lawas asal negeri Jiran yang beralih profesi sebagai produsen wewangian.
Produsen parfum itu menjatuhkan pilihan pada Cinta sebagai icon-nya karena menganggap kepribadian Cinta mewakili karakteristik produknya yang menyasar kalangan level menengah ke atas yang menjunjung kemewahan dan keanggunan.
Dan seperti yang terlihat saat ini, produsen parfum itu memang tak salah pilih. Cinta tampak sangat anggun dan glamour setelah penata busana dan penata rias mendandani dirinya bak bidadari.
Gadis kurus semampai itu tampak kian memikat dalam balutan maxidress off shoulder warna red elektrik dengan long tail sepanjang dua meter. Menampilkan bahu dan setengah bagian dadanya yang begitu mulus dengan rona kemerahan. Ditambah lagi kaki jenjang beralas stilleto berheel sepuluh senti itu sesekali mengintip nakal di balik belahan dress setinggi setengah pahanya.
Make up dengan nuansa Glam Nude yang terpulas di wajah Cinta begitu serasi dengan rambut sepanjang punggungnya yang sengaja ditata ikal bergelombang. Hingga saat kipas angin besar yang menyorot tepat ke arahnya memberikan efek yang sangat dramatis dan sangat ... sexy.
Dari tempatnya berdiri, Pram memperhatikan bagaimana Cinta berpose di atas stage berkarpet biru dan berlatar tirai putih dengan berbagai gaya sesuai dengan arahan sang penata gaya dan seorang photografer. Bola matanya nyaris mengering karena tak berkedip mengamati Cinta yang begitu luwesnya menggerakkan tubuh untuk mendapatkan angle yang sempurna untuk photoshoot-nya.
Pram kagum, tentu saja. Pria normal mana yang tak terpesona dengan kecantikan Aura Cinta Anastasia. Memiliki wajah berbentuk hati, dengan sepasang mata bulat berpupil coklat, di bingkai kelopak mata berbulu lentik, hidung tegak dan tajam di ujungnya dan di pastikan itu asli, bukan hasil operasi, karena bentuk hidungnya warisan dari sang papa yang berdarah Belanda. Ditambah lagi bibir tipis bergelombang di bagian atas. Semua itu menjadi salah satu modalnya meniti karir keartisannya dan menjadikannya artis wanita khayalan para pria saat ini.
Akan tetapi bagi Pram, cukup mengagumi lahiriahnya saja. Karena satu minggu menjadi pengawal pribadi Cinta, beberapa sifat yang berbanding terbalik dengan tampilan fisiknya terpampang begitu nyata di mata Pram. Sombong, iya. Angkuh, iya. Egois, pasti. Judes, apalagi. Dan kebiasaannya, suka membanting pintu dengan keras ketika emosi meninggi.
Memory Pram merekam kejadian menjelang siang tadi, saat dia menumpang mandi di unit apartement Cinta, yang mana kamar mandi itu hanya satu dan berada di dalam kamar tidur Cinta.
Tanpa perasaan, Cinta menggedor-gedor pintu kamar mandi dimana saat itu tubuh Pram masih tertutup busa sampo dan sabun. Alasannya, hajat besarnya sudah meronta dan tak sanggup lagi dia tahan lebih lama. Panggilan disertai sumpah serapah dari lambe Cinta terdengar dari balik pintu. Dan kalimat-kalimat panas yang mampir di telinganya itu selekasnya Pram dinginkan dengan bilasan air dari shower.
Namun apa yang terjadi setelah Pram keluar dari kamar mandi?
Justru pekikan yang memekakkan telinga dan satu cubitan pedas mendarat di dada Pram yang terbuka dan masih basah.
“Jangan pake handuk gue, Pramuka gendeng!” Cinta memekik sambil menarik handuk pink bermotif Hello Kitty yang membalut pinggang sampai batas lutut Pram.
Tentu saja Pram bingung sambil meringis menatap dada kirinya yang memerah seperti kissmark. Sementara tangannya yang bebas menahan tarikan tangan Cinta yang akan membongkar handuk yang membelit pinggangnya. Bisa bahaya jika sesuatu di baliknya terpampang angkuh di hadapan gadis itu.
‘Apa salah dan dosaku, Bu Cin?’ Ingin juga rasanya Pram memekik di hadapan Cinta, tapi tak bisa demi melihat bola mata Cinta yang nyaris keluar melotot padanya.
“Saya nggak sempet pake baju, abis disuruh buru-buru. Ya saya samber aja handuk yang ada di dalam,” tangkis Pram dengan mimik wajah tanpa dosa.
“Buruan buka!”
Pram terbelalak saat Cinta menunjuk handuk yang membelit bagian bawah tubuhnya.
“Sekarang?”
“Ya sekarang!” desak Cinta lagi.
“Yakin?”
“Yakin. Emang kenapa? Lo pikir gue bakalan nafsu liat ‘adek kecil’ lo?” Bola mata Cinta mengarah ke sektor bawah Pram. Dan itu bikin Pram ... bergidik.
“Saya yang gak yakin, Bu.”
Pram melewati tubuh Cinta dan meletakkan pakaiannya yang dia tenteng sedari tadi ke atas ranjang. Lalu menoleh kembali pada Cinta yang masih melotot geram padanya.
“Bu Cin masuk ke kamar mandi aja dulu, nanti saya taro handuk ini di depan pintunya,” katanya kemudian.
“Lo nyuruh gue pake handuk bekas lo? Sorry ya, ntar badan gue gatel-gatel. Langsung masukin ke keranjang laundry!” Telunjuk Cinta mengarah pada keranjang rotan warna coklat yang berisi pakaian kotor di samping walk in closet.
“Oke, abis saya berpakaian ya,” ujar Pram disertai anggukan.
Dan ...
BAAMM!
Kembali pintu kamar mandi yang sedari tadi menjadi saksi kebiadaban mulut Cinta terkena hukuman. Di banting dengan sangat kasar setelah gadis itu masuk ke dalam.
Pram menghembuskan nafasnya lega walaupun jantungnya masih kembang kempis nyaris meledak.
“Aaaaaww! Mataku ternodai!”
Baru saja Pram berhasil mengenakan boxer hitamnya, tiba-tiba saja pria cantik berlabel Sabrina alias Kang Sobri nyelonong masuk kamar dan spontan menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
Pram terperanjat. “Balik badan!” perintahnya lekas.
Sabrina pun menurut, namun kepalanya masih berputar menoleh pada Pram dan menyaksikan punggung dan bahu berotot Pram dengan menyeringai nakal dan liur yang nyaris meleleh di sudut bibirnya.
“Mami denger Cinta maki-maki kamu, ya? Ada apaan sih? Ribut mulu kalian berdua kayak rumah tangga yang nggak harmonis, tau nggak,” tanya Sabrina heran setelah Pram selesai mengenakan pakaiannya lengkap, seraya meletakkan bokong besarnya di tepi ranjang.
“Gara-gara ini.” Pram mengangkat handuk Hello Kitty yang akan dia lempar ke dalam keranjang baju kotor.
Siapa sangka penyebab kehebohan kecil itu membuat Sabrina tergelak. “Lagian kamu pake sih? Itu handuk favoritenya Cinta, Pram. Pacarnya yang beliin waktu mereka liburan ke Disneyland Tokyo.”
“Ooo, begitu. Saya nggak tahu dimana stok handuknya disimpan, jadi saya samber aja handuk yang ada di kamar mandi,” pungkas Pram setelah meletakkan handuk yang menjadi sumber masalah itu ke keranjang baju kotor dan bersiap keluar dari kamar itu.
Dan setelah keributan kecil itu, Cinta konsisten menunjukkan sikap perang pada Pram, hingga saat ini.
Lihat saja, bagaimana Cinta mendelik geram pada Pram ketika tanpa sadar senyuman kecil terbit di sudut bibir Pram setelah Cinta berlalu dari stage dan menghampiri Sabrina yang berdiri tepat di samping pria itu.
“Pram, kita pulang. Kamu bawa mobil ke lobi ya, aku bantuin Cinta ganti baju dulu,”
Pram mengangguk patuh mendapat perintah dari Sabrina, lalu melirik sekilas pada Cinta yang justru menatapnya tajam.
“Jangan judes-judes ah sama Pramudya. Kasian tuh anak bisa tifus kamu omelin terus, Cin,” Sabrina beralih pada Cinta yang masih mengiringi punggung Pram yang menghilang di balik pintu studio.
“Mami nih belain Pram mulu deh, jangan-jangan Mami naksir ya? Ngaku!” tuding Cinta seraya menunjuk hidung Sabrina yang seluas samudra itu.
Sabrina mengangguk dan mesem-mesem penuh arti. “Kalo dia doyan batangan juga, ya Mami juga mau. Yang penting kan kasih sayang. Ya kan, Cin?”
Aseeeem ....
*****
“Baru pulang, Gantengnya Ibu?”
Kebiasaan Bu Ocha, memanggil Pram dengan sebutan seenak jidatnya. Pram yang baru saja menapakkan kaki di teras kontrakannya seketika menoleh pada wanita setengah baya yang kini mengenakan daster panjang dengan handuk yang tersampir di bahu dan tengah berdiri bersandar di samping pintu kontrakan miliknya itu.
“Baru selesai mandi basah, Bu?” Alih-alih menjawab sapaan Bu Ocha, Pram justru balik tanya demi melihat rambut Bu Ocha yang tergerai basah.
“Dimana-mana mandi itu basah kali, Pram. Kalo yang nggak basah itu mandi bola,” ujar Bu Ocha dengan senyum lima jarinya. Pram pun memecahkan tawanya.
“Eh, kamu nggak pulang ya semalam? Di ajak dugem ya sama artismu itu?” tuduh Bu Ocha dengan rasa ingin tahu yang menggelora. Saking penasarannya dia mendekat dan berdiri di seberang Pram dengan tembok setinggi satu meter sebagai pembatas mereka.
Memang media infotainment tak diragukan lagi kekuatannya. Terbukti rumor tentang seorang Aura Cinta Anastasia mempunyai hobby mengunjungi night club sampai mendapat julukan Ratu Clubbing tersebar begitu luas. Hingga masyarakat menengah ke bawah seperti Bu Ocha pun ikut berkomentar.
Untuk menjawab pertanyaan Bu Ocha itu Pram hanya tersenyum simpul. Ingin mengangguk membenarkan bahwa dia tak pulang kemarin karena menginap di unit apartement Cinta. Tapi di saat yang sama dia ingin menggeleng karena pertanyaan terakhir Bu Ocha itu tidak benar adanya. Justru dia yang menggagalkan rencana Cinta pergi ke tempat hiburan malam.
“Aku nggak pulang karena terpaksa lembur, Bu.” Pram menjawab hanya singkat untuk mengusir rasa penasaran Bu Ocha.
“Kasian tuh, yayang kamu bolak-balik ke sini dari kemarin malam. Resah gelisah nungguin kamu di teras,” beritahu Bu Ocha dengan memelankan suara. Berbisik seraya menunjuk pintu kontrakan Pram dengan dagunya.
“Iya, harusnya aku malam mingguan sama Hani kemarin. Nanti habis mandi aku mau ke rumahnya,”
“Eh, nggak usah. Dia udah di dalam kok dari tadi sore,” Bisikan Bu Ocha membuat Pram terkesiap. Spontan menoleh ke arah pintu kontrakannya yang tertutup.
“Hani di sini?”
Bu Ocha mengangguk mantap dengan ekspresi yang sama dengan yang ditampilkan raut Pram. Terperangah dan serius.
“Dia punya kunci kontrakan kamu, katanya,”
Pram mengangguk. “Iya, Bu. Aku yang kasih cadangannya,”
Tak peduli pada Bu Ocha yang membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, Pram bergegas memasuki kontrakannya untuk membuktikan kebenaran informasi yang dikatakan Bu Ocha tadi.
Ternyata benar, Gadis manis dengan rambut dikuncir kuda dan mengenakan celana jeans beserta blouse kuning tengah meringkuk di atas karpet dengan memeluk bantal dan mata yang terpejam.
Pram melepaskan sepatu dengan hati-hati. Meminimalisir suara. Lalu menjatuhkan diri perlahan, bertumpu pada lututnya dan menunduk di samping tubuh gadis itu.
“Hani?” bisik Pram di telinga gadis kemayu yang tampak terlelap.
Hani pun menggeliat saat rungunya menangkap suara kekasih hati mengumandangkan namanya lirih.
Kelopak matanya terbuka, memicing menyesuaikan cahaya. Dan kian terbuka saat meyakini wajah Pram yang terpampang di hadapannya.
“Mas? Baru pulang? Jam berapa sekarang?” Hani tak ingin lebih lama bergeming. Dia bergerak membetulkan posisinya dan kini terlentang berhadapan dengan Pram seraya mengangkat tangannya hendak melirik arloji di tangannya.
“Jam tujuh, Yang.” Belum sempat bola mata Hani menjangkau penanda waktu di pergelangan tangannya, Pram menjawab masih dengan berdesis.
Sejenak Hani merapatkan kelopak matanya lagi, lalu menarik nafasnya perlahan. Berusaha meraih kepingan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul.
“Berarti udah tiga jam aku ketiduran,” simpulnya kemudian. Lalu membuka matanya, menatap wajah Pram, dan menghadiahi pria itu senyuman kecil.
Pram menghela nafasnya yang terasa hangat di pipi gadis itu, kemudian menegakkan duduknya lalu meraih tangan kanan Hani untuk membantunya beranjak dari rebahannya.
Tangan Pram terangkat menjangkau wajah Hani, dan merapikan helai demi helai rambut yang menutupi sebagian wajah gadisnya itu. Dengan lembut dia selipkan ke belakang telinga Hani. Lalu dengan punggung jemari, dia usap pipi gadis yang kini tengah menatapnya dengan bola mata sayu.
Perlakuan Pram yang manis itu sebenarnya bukan baru pertama Hani terima. Namun Hani tak mengerti kenapa untuk kali ini desiran yang dia rasakan sangat berbeda. Seperti dua orang yang baru saja bertemu setelah berpisah berabad-abad lamanya.
Itulah yang dinamakan Rindu.
Padahal baru satu minggu mereka tak bertemu, ditambah satu hari kemarin lantaran Pram terpaksa menginap di apartement Cinta.
“Maaf ya, kamu kelamaan nunggu aku.”
Hani mengangguk setelah menggenapi nyawa dengan menguap lebar. “Mas kemana kemarin? Kenapa nggak pulang dan handphone di matikan?”
Sejenak Pram menyugar rambutnya dan menghembuskan sekali lagi nafasnya yang bercampur rasa lelah. Kemudian menatap Hani dalam-dalam. Sementara benaknya tengah mengatur kata-kata untuk menjawab pertanyaan Hani barusan.
“Mas nginap dimana?” Rasanya tak sabar menunggu Pram menjawab, Hani bertanya lagi. Kali ini dengan tatapan menyelidik.
“Di ... apartement Bu Cinta. Kebetulan ada sedikit masalah yang bikin aku terpaksa nggak pulang, Han,” jawab Pram jujur sambil tersenyum samar.
Gadis itu sebenarnya bukan tipe pencemburu. Bahkan selama dua tahun menjalin hubungan dengan Pram, dia memberikan keleluasaan Pram untuk berteman dengan siapapun, termasuk wanita. Karena dia sangat percaya, Pram benar-benar menjunjung tinggi arti kesetiaan dan sangat membenci pengkhianatan. Akan tetapi ketika mendengar jawaban jujur Pram, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Entah apa namanya. Yang pasti sangat tak nyaman di dalam dada.
Sepanjang menjalin hubungan dengan Pram, Hani tahu, Pram sekalipun tak pernah menginap dirumah orang. Apapun alasannya, sesibuk apapun dia dan selama apapun jam lembur yang harus dia jalankan, Pram pasti pulang.
Namun kali ini, Hani merasa pekerjaan Pram benar-benar harus memprioritaskan sang majikan. Hingga terpaksa mengorbankan waktu kencan dengannya kemarin malam dan menginap di unit apartement majikan Pram itu yang ... seorang artis wanita. Cantik pula.
Bahkan tak satu kali pun Pram mengabarinya. Jika alasan karena ponsel kehabisan daya, rasanya tak mungkin. Memangnya tak bisa pinjam charger ponsel pada majikannya itu atau yang lain.
“Maaf, Hani Sayang. Aku nggak sempat ngabarin kamu. Pas pagi aku mau WA ternyata ponselku lowbat. Lupa nge-charge.”
Sepertinya Pram bisa membaca pikiran Hani. Atau bisa jadi karena dia menyadari kesalahannya yang satu itu, tidak sekali pun mengabari sang kekasih. Tapi memang benar itu yang terjadi.
Hani mencebik. “Alasan klise,”
Benar kan? Alasan yang sejujurnya dari Pram namun tetap tak berkenan di pikiran Hani.
Sebenarnya Pram sudah menduga reaksi Hani akan seperti ini. Karena itu dia beringsut lebih mendekat, dan kini membawa tangannya menyentuh bahu Hani dengan lembut.
“Maaf. Besok aku bawa powerbank ya, supaya bateray Hp-ku tetap terisi dimanapun.” Pram membelai lembut bahu gadisnya seraya meloloskan senyum yang dia cetak semanis mungkin di bibirnya.
“Bukan masalah bateray HP sebenernya, tapi Mas memang nggak niat hubungin aku,” tuduh Hani mulai merajuk. Dan jika nada suaranya sedikit meninggi seperti itu, alarm kepekaan di kepala Pram menunjukkan siaga satu. Ngambek. Sama halnya yang dirasakan gadis lain ketika menjadi korban PHP.
“Nggak gitu, Hani. Jadi gini ... “ Pram meraih jemari gadis itu lebih dahulu dan membawa ke pangkuannya sebelum melanjutkan ceritanya. “Kemarin malam itu aku udah mau pulang abis antar Bu Cinta dan manajernya ke apartementnya. Tapi aku denger mereka mau ke night club. Ya, aku balik lagi dong. Walaupun ada sedikit drama. Aku di omel-omelin Bu Cinta. Tapi akhirnya mereka nurut juga. Untuk jagain mereka supaya nggak keluyuran, aku terpaksa nginap, Yang. Daripada Pak Abraham dengar kerjaanku nggak beres, terus aku dipecat, gimana?”
Mendengar paparan Pram justru tak serta merta membuat Hani percaya begitu saja. Dia mengernyitkan kening dengan raut wajah datar menatap lurus wajah Pram. Mencari kejujuran di sana.
“Harus nginap, gitu ya? Terus, Mas tidur dimana di apartement dia? Jangan bilang, di kamar dia juga ya, Mas!” Nada suara Hani semakin meninggi dan bergejolak. Spontan Pram menggeleng berulang kali.
“Ya nggaklah, Sayang. Aku tidur di ruang tamu, bareng Sabrina.”
“Sabrina?”
Kali ini Pram mengangguk dengan mimik wajah polos. Namun dia tahu Hani terkejut lantaran mendengar kalimat terakhirnya.
“Sabrina itu manajernya Bu Cinta, Sayang. Dia itu cewek kawe. Perempuan imitasi. Ngerti kan maksud aku?”
Pram kira penjelasannya bisa menenangkan kegundahan Hani. Tapi nyatanya tidak. Wajah Hani justru kian menegang dan tatapannya begitu horor pada Pram.
“Banci?”
Pram mengangguk dengan raut wajah setenang mungkin. Bibirnya tersenyum tipis.
“Tapi tetep aja nalurinya kewanitaan, Mas. Dan nafsunya sama dengan cewek kalo ngeliat cowok. Apalagi tidur bareng begitu,” tukas Hani kemudian, masih mencebik.
Dan ujaran Hani itu membawa ingatan Pram kembali pada malam kemarin ketika Sabrina terbaring di samping tubuhnya. Dan apa yang dikatakan Hani memang dia rasakan sendiri. Bagaimana manjanya Sabrina meletakkan tangannya ke atas dada Pram. Bahkan sesekali disertai belaian.
Brrrr ....
Seketika angin neraka menggerayangi tengkuk Pram.
Benar juga, gimana kalau malam itu Sabrina bernafsu padanya? Dan menggagahi dirinya? secara tubuh Sabrina lebih gagah dari tubuhnya. Bisa saja kan, Pram yang berbobot 70 kg itu di buat sesak napas ditindih oleh Sabrina alias Kang Sobri yang berbobot 100-an kg itu. Dan memperkos-kos-annya. Hingga membuat dirinya tak perjaka lagi, karena seorang ... banci.
Iyuuuhh ... merinding disko, pemirsa.
“Sekali lagi aku minta maaf, Hani Bunny Ciki Bunny. Besok-besok kalo aku terpaksa nginap atau nggak pulang aku akan segera kabarin kamu. Janji.” Pram mengangkat jari tengah dan telunjuknya membentuk huruf ‘V’ di samping kepala.
Sesaat Hani menarik nafasnya yang serasa mengganjal di tenggorokan. Bukan karena baru saja terbangun dari lelap tiga jamnya, tapi karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya mengenai pekerjaan Pram yang baru dijalani delapan hari ini.
Benar kata orang, wanita itu selalu mengedepankan perasaan. Dan pastinya Hani pun demikian. Sejak Pram berganti tugas menjadi pengawal pribadi seorang artis terkenal. Ada rasa tak nyaman yang selalu membayangi pikiran Hani. Dan itu bukan tanpa alasan.
Yang pasti, Pram jarang menghubunginya serutin sebelumnya. Biasanya minimal tiga kali dalam sehari, seperti dosis minum obat. Kini cuma satu kali pun bisa dibilang prestasi untuk Pram.
Sewaktu masih menjadi Satpam di Hotel Swastika, Pram selalu pulang tepat waktu jam lima sore hari. Atau selambat-lambatnya jam enam. Tapi kini, selalu pulang di atas waktu tersebut. Bahkan menurut info yang Hani dengar dari Bu Ocha, beberapa hari ini Pram selalu pulang di atas jam sepuluh malam. Dan kemarin, Pram justru tak pulang. Menginap di apartement sang majikan.
Terlebih lagi kemarin malam itu adalah jadwalnya kencan dengan Pram. Dan Pria itu tega mengabaikan demi alasan pekerjaan. Padahal, waktu kencan mereka yang sekali dalam seminggu itulah yang selalu dia tunggu-tunggu. Walaupun hanya menghabiskan malam dengan bertukar cerita tentang kesibukan masing-masing sambil duduk di warung bakso ataupun di taman kota.
Dan pada akhirnya Hani pun harus menyuarakan kegalauannya itu pada Pram saat ini. Dia cemburu. Pada pekerjaan Pram yang menyita waktu itu. Dan juga pada Cinta yang dia rasa sudah memonopoli Pram.
“Mas, apa nggak bisa kamu balik lagi ke pekerjaan lama?”
Pram mengangkat wajah dan menatap manik Hani yang mulai tampak kegusaran di sana.
Namun bukannya langsung menjawab, Pram justru balik bertanya, “Kenapa, Han?”
Rada asing juga sih di telinga Pram ketika mendengar pertanyaan Hani menyangkut pekerjaannya. Biasanya Hani tak pernah se-posesif ini.
“Aku ngerasa Mas jadi beda aja sejak bekerja sama artis itu. Aku nggak perlu ya jabarin satu per satu perubahan sikap Mas sekarang. Mas pasti tau. Dan itu bikin aku nggak nyaman, Mas. Aku merasa ... diabaikan.”
Pram masih menatap lembut wajah manis Hani dan dia tak butuh alat pendeteksi wajah bahwa saat ini Hani sedang galau tingkat dewa. Cemburu. Itu yang tergambar jelas di sana. Walaupun Pram sama sekali tak tahu apa yang Hani cemburui.
Pada pekerjaannya? Menurut Pram tak ada yang salah dengan pekerjaannya, selama itu halal dan bisa menghasilkan uang yang cukup untuk melangkah ke fase masa depan bersama Hani.
Mungkin pada Cinta, si nona muda, yang nyaris dua puluh empat jam waktunya dihabiskan untuk mengawalnya? Tapi lagi-lagi menurut Pram, itu sangat tidak masuk logika. Cinta bukan wanita yang masuk kategory untuk di cemburui Hani. Andai saja Hani melihat bagaimana perlakuan Cinta terhadap Pram, mungkin saat ini Hani tertawa malu karena telah cemburu pada artis itu.
Walaupun Pram tak menemukan jawaban mengapa Hani menyimpan cemburu. Tapi satu hal yang Pram sadari, mereka kini nyaris tak punya waktu bertemu. Dan itu artinya masalah.
Lalu Pram tersenyum sambil mengerjapkan mata menatap gadisnya. Sementara di dalam sana, dirinya mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan satu keputusan yang seharusnya sudah lama dia utarakan pada Hani.
Hingga pada akhirnya Pram mengangkat tangannya menggapai dagu Hani dan mengarahkan wajah sendu itu menatap wajahnya.
“Kita nikah yuk, Han.” Ajakan yang mengandung keputusan final tersampaikan juga dari lisan Pram. Dan seperti kebanyakan wanita ketika di tembak dengan proposal masa depan, sudah pasti reaksi Hani ... tercengang, tapi bahagia.
“Nikah?” ulangnya seakan tak mempercayai rungunya.
“Iya, kita nikah. Aku akan temuin orang tua kamu, ngelamar kamu secara resmi,” tegas Pram. “Aku nggak mau pacaran lama-lama sama kamu. Usia kita juga udah cukup, kan. Malah udah ngelewatin ambang batas kejombloan,”
Pram tidak bermaksud bergurau, tapi Hani tersenyum lebar disertai kekehan kecilnya. Lalu mengangguk. “Aku mau, Mas. Tapi ....” Hani menggantung jawabannya ketika bayangan wajah kedua orang tuanya melintasi benaknya.
Wajah semringah Hani seketika berubah, senyum itu berganti dengan bibir yang terkatup dan wajah tertunduk.
Memory-nya berputar kembali saat orang tua Hani mengatakan sesuatu yang membuat Hani akhirnya mengambil keputusan untuk berbohong pada mereka bahwa Pram hanya sekedar teman, tak lebih.
“Kamu itu sarjana pendidikan lho, Han. Dan kamu juga punya pekerjaan bagus sebagai guru. Masa kamu pacaran sama cowok yang pekerjaannya cuma sebagai Satpam. Berapa sih gaji Satpam? Apa bisa nanti menafkahi hidup kamu dan keluarga nantinya? Apalagi sama Pram yang asal usulnya aja nggak jelas. Cuma tinggal di kontrakan yang ... yaaa ... memperihatinkan begitu keadaannya. Ibu sama bapak nggak akan pernah restuin kamu pacaran sama dia, Han.”
Begitu rentetan kalimat Ibunya yang sangat tajam ketika Hani mencoba mengikrarkan status hubungannya dengan Pram di hadapan Ibu dan Bapaknya saat itu.
“Iya, Hani. Ibu kamu itu benar. Kami ini sebagai orang tua pengin anak-anaknya bahagia. Berumah tangga dengan laki-laki yang mapan. Lihat tuh mbak-mbakmu, Hanaya yang bersuamikan seorang arsitek. Dan Hesti yang suaminya seorang advokat. Hidup mereka bahagia banget, kan. Punya rumah mewah, mobil, anak-anak mereka sekolah di sekolah mahal, dan setiap tahun baru mereka liburan ke luar negeri. Harusnya kamu contoh mbak-mbakmu itu. Mereka pintar cari suami kaya.”
“Ini kok malah pacaran sama satpam. Aduuuh, Hani. Kamu tuh cantik begini lho. Harusnya kamu dapat suami yang lebih kaya lagi dari suaminya Hanaya dan Hesti. Minimal ya sejajar dengan merekalah. Tapi dengan satpam? Nggak banget deh. Cari cowok jangan cuma liat tampang ganteng, Han. Tapi yang utama itu materinya. Realistis dong sedikit.”
Ultimatum dari Ibu dan Ayah Hani itulah yang kini mengacaukan kebahagiaan yang hati Hani rasakan. Lamaran spontan dari Pram seolah kalah sakral dari kata-kata kedua orang tuanya itu. Dapat menantu kaya raya, harga mutlak bagi mereka.
Sementara Pramudya ... Hanya seorang satpam yang kini naik level satu tingkat sebagai seorang pengawal pribadi seorang artis terkenal. Tentu saja materinya tidak sebanding dengan kedua kakak iparnya.
“Aku tahu, kamu masih ragu karena Ibu dan ayahmu ....” Pram tak melanjutkan kalimatnya saat melihat anggukan lemah kepala Hani. Walaupun Hani tak melisankan alasan kemurungannya itu, namun Pram sangat tahu pasti apa penyebabnya.
Lalu Pram tersenyum lagi, seraya berkata, “Aku akan tetap ngelamar kamu dalam waktu dekat ini, Han,” teguhnya.
“Tapi gimana nanti cara kamu ngeyakinin Ibu sama ayah, Mas? Mas kan tau sendiri kriteria suami yang sesuai di mata mereka. Sementara Mas Pram ....”
“Aku melamar kamu nggak main-main atau karena nafsu sesaat, Hani. Aku udah pertimbangkan ini sampe mateng, malah nyaris gosong. Karena aku yakin aku bisa bahagiain kamu. Aku pasti bisa bertanggung jawab sebagai suami. Menafkahi kamu lahir dan bathin. Menafkahi anak-anak kita nanti.”
Barisan kalimat Pram yang mengandung tekad dan keyakinan penuh itu sepertinya tak membuat Hani berlega hati. Tentu saja karena rasa pesimis yang masih memenuhi ruang diri. Secara pribadi Hani tak meragukan tekad Pram itu, namun kedua orang tuanya tak cukup di yakinkan hanya dengan tekad, tapi juga kenyataan yang ada di depan mata saat ini.
Telapak tangan besar Pram kini berpindah ke dalam genggaman tangan mungil Hani. Dengan segenap perasaan cinta, Hani meremasnya lembut. Seakan ingin menyalurkan kekuatan bagi pria dambaannya itu.
Dan pada akhirnya Hani berkata lirih, “Kita coba dulu ya, Mas. Mudah-mudahan ibu sama ayah melunak. Dan merestui kita,”
Walaupun Pram melihat sorot mata yang mengandung keraguan, namun kata-kata Hani seakan menjadi pendorong kepercayaandirinya dan ingin secepatnya menemui orang tua Hani untuk melamarnya secara resmi.
