Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9

“Gak mau! Gak mau! Gue bisa jalan sendiri!”

Cinta menepis kasar tangan Pram sewaktu kedua lengan kokoh itu sudah terjulur siap meraih tubuh gadis itu.

Pram yang sudah memposisikan diri untuk mengangkat tubuhnya, menarik diri kembali dan hanya tegak di samping pintu bagian penumpang yang terbuka.

“Gak bisa, Cinta. Kamu tuh harus di bopong, lho. Mana bisa kamu jalan sendiri dengan keadaan kaki pincang begitu. Yang ada nanti malah tambah sakit, Cin.” Sabrina ikut membujuk Cinta yang kadar keras kepalanya memang di atas rata-rata.

Melihat pergelangan kaki kiri Cinta yang membengkak dan ada warna kebiruan, membuat Sabrina meringis ngilu. Rasa iba terbit di hatinya saat Cinta bersusah payah mengeluarkan tubuhnya sendiri dari dalam mobil sambil mengerang menahan sakit.

Tapi sepertinya tidak bagi Pram. Wajahnya datar saja mengamati pergerakan majikannya yang manja itu sambil menelan senyum geli yang nyaris tergambar di sudut bibir.

“Gara-gara lo, nih!” umpat Cinta dan tak lupa dia layangkan kepalan tangannya di dada Pram.

Walaupun serasa angin, namun pukulan itu cukup menyentakkan Pram. “Kok gara-gara saya?” protesnya lekas bersama kedua ujung alis yang bertautan.

“Iya, kenapa gak lo kejar motor yang nyerempet gue tadi. Biar dia tanggung jawab.”

“Gimana mau ngejar motor yang lagi ngebut begitu.”

‘Dia kira aku The Flash kali ya?’ pikir Pram gemes-gemes kesal.

“Iya, Cin. Untung Pram sigap narik kamu, kalo nggak ada Pram tadi mungkin kamu udah ketabrak sama motor itu.” Sabrina menempatkan diri sebagai pembela Pram. Karena dia tahu Pram memang tak bersalah, justru menyelamatkan Cinta dari akibat yang lebih fatal lagi.

Setengah jam yang lalu, Pram melangkah di belakang Cinta dan Sabrina setelah ketiganya menikmati santap siang di restoran tradisional ala Sunda di bilangan Jakarta Selatan. Range Rovernya sengaja terparkir di lokasi sebuah minimarket tepat di seberang restorant karena sebelumnya Cinta dan Sabrina belanja barang kebutuhan mereka di situ.  

Baru dua langkah Cinta menapakkan kaki di badan jalan lebih dulu dari Pram dan Sabrina, tiba-tiba saja dari arah samping kiri sebuah motor matic melaju dengan kecepatan yang cukup kencang. Dan nyaris menabrak tubuh Cinta.

Beruntung Pram sigap menarik lengan Cinta, hingga terhindar dari insiden yang membahayakan. Walaupun akhirnya Cinta terjengkang di atas tubuh Pram di trotoar. Namun menyebabkan pergelangan kaki kirinya memar dan membengkak karena terkilir. 

Wal hasil Pram membopong tubuh Cinta ala bridal style sampai ke seberang jalan menuju mobilnya. Kebayang gimana susah payahnya Pram membopong tubuh kutilangdara (kurus tinggi langsing dada rata) itu disertai berondongan hujatan dan makian yang Cinta lontarkan untuknya. Bukan itu saja, bertubi-tubi Cinta melayangkan jepitan jemarinya yang ekstra panas itu ke dada Pram. Membuat Pria itu meringis dan menggeram.

Kalau nggak ingat siapa yang menggajinya, mungkin Pram sudah membaringkan gadis itu di tengah jalan. Dan dibiarkan saja teriak-teriak nggak jelas.

Belum lagi, selama perjalanan Pram harus berkonsentrasi di balik kemudi di bawah hujanan makian Cinta sampai tiba di parkiran Basement apartementnya saat ini.

Kalau saja dia punya keterampilan menjahit, pasti akan dia praktekan untuk merapatkan bibir Cinta. Dan telinganya aman dari kalimat-kalimat sakti mandraguna yang membuat kepala Pram nyaris meledak.

“Bu Cin, sini saya gendong lagi, yuk.” Dengan menahan rasa gemasnya, Pram akhirnya menawarkan diri dengan gaya kebapakan seakan tengah membujuk bocah cilik yang ngambek karena nggak di belikan baju lebaran.

“Aaaak! Dasar Pramuka gila! Ya udah gendong gue, cepetan! Awas tangan lo jangan nyasar kemana-mana!”

Emaknya Cinta dulu ngidam apa sih? Pedes banget mulutnya.

Sabar .... Sabar. 

Pram mengelus dada sebentar, lalu merentangkan kedua lengan kokohnya dan menyelipkan di belakang punggung dan paha Cinta. Kemudian membopongnya lagi ala bridal style menuju unit apartementnya di lantai dua puluh.

Di belakang mereka, Sabrina dengan menenteng dua kantong belanjaan hanya menggeleng-geleng kepala. Dua penyebabnya. Mulut Cinta yang sangat keterlaluan pada Pram. Dan Pram yang kelewat sabar menghadapi Cinta.

Setibanya mereka di dalam unit apartement, Pram lekas membawa tubuh Cinta ke dalam kamar dan membantingnya di atas ranjang. Karena sudah tak tahan mendengar gerutuan Cinta yang tak sudah-sudah.

“Sakiiiiit, Praaaam! Tanggung jawab! Pijitin!” pekik Cinta sambil menatap nyalang pada Pram yang berdiri tegak di samping ranjang.

“Lebih baik Bu Cin panggil tukang urut yang lebih ahli aja. Itu keseleo namanya. Kalo nggak cepat di urut, urat-uratnya bisa makin bengkak, terus membusuk dan terpaksa di amputasi supaya nggak menjalar ke bagian kaki yang lain,” Pram merapalkan saran itu hanya untuk menakut-nakuti Cinta. Padahal dia sendiri tak mengerti tentang dunia per-keseleo-an.

Dan itu berhasil, Cinta tergugu ngeri. Sorot matanya berubah takut dan bibirnya yang ternganga tampak bergetar. Benaknya membayangkan kaki kirinya di amputasi, dan nggak bisa clubbing lagi. Masa iya ajojing pake tongkat penyangga?

“Huaaaaaa! Mamiiiii!” Pekikannya membahana, hingga mampir ke telinga Sabrina yang tengah mengatur barang belanjaan di dapur.

“Kenapa, Cintaku? Sayangku? Manisku?” Sabrina yang tergopoh-gopoh masuk ke kamar lekas meletakkan bokong besarnya di bibir ranjang dan meraih tangan Cinta dan mengusapnya lembut.

“Panggilin tukang urut, Mam. Kata si Pramuka ini, kakiku bisa di amputasi kalo nggak segera di urut. Cepetan, Mam. Panggilin tukang urut. Atau tanya sama resepsionis di lobby, mungkin mereka ada yang kenal tukang urut yang ahli,”

Pram yang mengulum senyum geli lantaran melihat kepanikan tingkat kecamatan yang tergambar di wajah Cinta langsung membuang arah pandangan dengan memutar tubuh menghadap pintu balkon.

“Iya, iya. Coba sebentar Mami tanya si Cindy ya, dia pasti tahu. Dia kan suka manggil tukang pijat tuh,” ucap Sabrina berusaha menenangkan sambil merogoh ponsel dari balik saku celana kulotnya.

“Aduh mami, Cindy mah langganannya tukang pijat plus-plus, Mam. Yang mijatnya tuh cowok pake boxer doang. No, Mam. Aku butuh yang beneran bisa sembuhin kakiku ini.”

“Aaaaaw! Yang bener, Cin. Kayaknya Mami butuh deh tukang pijat yang kayak gitu,” sambut Sabrina lalu menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan mata dramatis. Gairahnya otomatis terkoneksi mendengar dua kata kunci, ‘cowok’ dan ‘boxer’.

“Pram, lo kan tinggal di daerah perkampungan. Ada tukang pijat nggak di sana?” todong Cinta beralih pada Pram yang berdiri memunggunginya. Cowok itu tengah menyembunyikan senyum gelinya yang tak tertahankan lagi.

Pram menoleh, lalu tak lantas menjawab. Sejenak dia berpikir, tampak kedua alisnya bertautan. Sekian detik tak juga bersuara. Memancing Cinta kembali memekik padanya.

“Praaam!”

Bu Ocha. Tiba-tiba saja nama wanita setengah baya itu terlintas dalam memory Pram.

Tapi dia tukang pijat bayi. Apa bisa pijat orang keseleo begini? Pram tak yakin.

“Ada sih, tapi.... Coba saya kontek dulu ya.” Akhirnya Pram buka suara. Kemudian merogoh ponselnya dari balik saku celana, dan lekas menghubungi wanita si pemijat bayi yang kesohor sekampung Rawa Bocor, Ibu Ocha Van Houten.

Pram membawa dirinya keluar dari kamar itu, agar lebih leluasa berbicara.

“Ibu kan tukang pijat bayi, Pram. Tulang bayi kan beda sama tulang dewasa,” suara Bu Ocha setelah Pram mengutarakan maksudnya.

“Tapi si nona ini juga kayak bayi, kok Bu. Tulangnya lunak kayak bandeng presto. Kulitnya halus, sehalus mahluk halus yang mangkal di belakang kamar mandi Ibu. Anggap aja Ibu lagi pijitin bayi kecengklak.” Pram berusaha membujuk Bu Ocha agar mau memenuhi permintaannya.

“Ibu belum pernah pegang kulit artis, kan? Nah sekarang rejeki ibu, nih. Bisa megang-megang artis terkenal.” Lanjut Pram lagi saat terdengar decakan Bu Ocha seperti hendak menolak.

“Bener juga, ya. Oke deh. Ibu mau.”

Rayuan Pram memang jitu, akhirnya Bu Ocha setuju. Lalu meminta alamat lengkap tujuannya setelah dia menolak niat Pram untuk menjemputnya.

***** 

“Pramudya itu anaknya baik, Non. Ibu udah anggap dia kayak anak sendiri. Kalo nggak ada Pram, Ibu kesepian. Soalnya satu-satunya temen ibu ya si Pram itu. Orangnya sabar, perhatian, sayang sama orang lain, selalu melindungi dan bertanggung jawab sama kewajibannya. Apalagi sama pacarnya. Cintaaaa banget. Aaah ... pokoknya pacarnya itu nggak nyesel deh dapetin Pram. Calon suami dunia akhirat.” Sambil memijat pergelangan kaki Cinta, Bu Ocha cuap-cuap panjang lebar.

Seperti tukang obat yang mempromosikan produknya, begitu juga Bu Ocha memuji Pramudya di hadapan Cinta. Seakan sosok Pram adalah obat kuat nomor satu yang tak terkalahkan oleh brand obat kuat manapun di dunia, yang membuat 'milik' konsumennya akan berdiri tegak menantang langit. 

Anehnya, Cinta yang duduk berselonjor di atas ranjang dengan bantal besar sebagai penyanggah punggungnya menyimak dengan seksama, bahkan terbawa suasana. Terlihat beberapa kali senyumnya mengembang di wajahnya. Hingga dalam hati, menyepakati perkataan Bu Ocha tentang pengawal pribadinya yang sudah hampir satu bulan ini mendampinginya.

Begitu pun Sabrina yang duduk di seberang Bu Ocha tampak mengangguk-angguk mengamini apa yang dibicarakan Bu Ocha tentang Pram. Karena Sabrina pun merasakan bagaimana cara bekerja Pram yang profesional dan benar-benar mengutamakan kepentingan Cinta sebagai majikannya.

Tak hanya Cinta, Sabrina pun tak lepas dari perhatian Pram. Dan selalu menghargai Sabrina apa adanya. Tidak seperti orang-orang kebanyakan yang memandang asing atau jijik karena keadaannya yang menurut orang dia manusia dengan genre tak jelas. Hingga hadirnya Pram ditengah-tengah mereka sedikit banyaknya telah menghangatkan suasana.

“Pacarnya Pram siapa, Bu? Cantik, nggak?” Sabrina dan Bu Ocha mengangkat wajah ketika pertanyaan itu terlontar dari bibir Cinta. Entah angin apa yang mendorongnya untuk menanyakan itu. Namun rasa ingin tahu seolah tengah menggelitik benaknya.

“Cantik, Non. Banget, malah. Kalo Ibu nggak salah denger ya, Pram pernah cerita namanya Hani, dia guru SD sekolah yang mahal gitu, Non. Wuiiih! Pokoknya serasi banget sama Pram. Ganteng sama cantik. Ntar anaknya pasti cakep-cakep,” seru Bu Ocha menggebu.

Cinta hanya mengangguk, namun seakan ada desiran asing yang tak nyaman mencubit ulu hatinya ketika mendengar penuturan Bu Ocha barusan.

Dan Seperti matahari yang tiba-tiba tertutup awan mendung, wajah Cinta yang semula semringah seketika berubah muram. Walaupun dia berusaha menutupinya dengan menerbitkan senyum samar di sudut bibir, namun Sabrina kadung melihat perubahan itu.

“Eh, Cin. Kenapa kamu? Kok murung denger Pram punya pacar cantik,”

“Ehm, nggak papa. Cuma ... yaaaa ... baguslah kalo ada cewek yang khilaf pacaran sama si Pramuka yang kaku kayak kanebo kering begitu,” kilahnya.

Sabrina mencibir lalu mengadu bahunya dengan bahu Cinta. “Jealous? Ngomong.”

“Idiiih, sorry la ya! Bukan selera gue.” Cinta menampik seraya memalingkan wajah ke arah lain. 

Sementara itu, Pram duduk menunduk di sofa depan televisi dengan memekuri gawainya sambil berbalas chat dengan sang pacar, Hani. Baginya bermesraan di aplikasi percakapan dengan si pacar jauh lebih menyenangkan daripada mendengar Bu Ocha yang tengah sibuk mempromosikan dirinya di dalam sana.

Baginya tak pengaruh juga di puji sedemikian lebay di depan perempuan lain, toh dia tidak dalam misi mencari pasangan. Karena sudah ada Hani yang akan segera dia jadikan istri. Tapi jika Hani yang memujinya barulah dia serasa terbang ke angkasa.

Satu jam berlalu, Bu Ocha keluar dari kamar Cinta bersama Sabrina. Sedangkan si pemilik kamar masih pada posisi semula. Berselonjor di atas ranjang sambil memegangi kakinya yang tampaknya sudah membaik setelah mendapat sentuhan tangan dari pemijat bayi, Bu Ocha.

“Sudah, Bu? Gimana kakinya Bu Cin?” Pram berdiri dan membenahi kemeja hitamnya, lalu menggulung lengannya hingga sebatas siku.

“Sudah. Cuma terkilir, kok. Sudah Ibu balur pake parem. Mudah-mudahan sebentar lagi sembuh,” sambut Bu Ocha sambil membenahi perkakasnya ke dalam tas kecil.

“Oke, Ibu pulang bareng aku ya. Sebentar aku cek Bu Cin dulu.”

Pram bergegas masuk ke dalam kamar dan melangkah mendekati Cinta di atas ranjang.

“Sudah baikan?” Suara Pram datar seraya menunjuk ke arah kaki Cinta dengan bola matanya.

Cinta mendongak, dan mendapati Pram berdiri di sampingnya. Cinta melihat ada senyum di wajah Pram, walaupun samar. Namun cukup membuat isi di dalam dada Cinta serasa ada yang bergetar.

“Saya pulang dulu, bareng Bu Ocha. Kalo kaki Bu Cin masih sakit dan mau ke dokter, langsung kabarin saya. Jam berapapun saya pasti antar,”

Cinta mengangguk pelan dan menoleh ke arah Pram sejenak. Lalu membuang pandangan ke arah kaki kirinya yang sudah terbalur cairan obat gosok.  

Sejenak saja. Cinta tak ingin berlama-lama memaku pandangannya pada sosok Pram yang tiba-tiba saja menarik di matanya. Padahal penampilan Pram seperti biasa, kemeja berwarna gelap yang selalu di gulung sampai siku dan celana slimfit yang mencetak kaki panjangnya. Rambutnya ikalnya sudah tak lagi klimis seperti pagi tadi, namun wajahnya masih terlihat segar dalam balutan kulitnya yang kecoklatan. 

Namun tampaknya Pram enggan bergerak dari tempatnya. Bola matanya masih betah terarah pada Cinta. Ada rasa tak tega meninggalkan gadis itu dalam keadaan yang belum sepenuhnya membaik. Karena dia menganggap apa yang terjadi pada Cinta adalah satu kelalaian dirinya yang tak sigap melindungi Cinta saat menyeberang jalan tadi.

“Udah, pulang sana. Kaki gue udah mendingan, kok. Ntar lo dicariin sama pacar lo kalo lama-lama disini,” ketus Cinta seraya mengibaskan tangan dengan maksud mengusir Pram untuk segera keluar. 

Apakah ada bau-bau cemburu di nada suara Cinta? Sepertinya begitu.

Namun Pram tak ingin ke-GR-an, walaupun tak dapat dia hindari jantungnya seketika berdenyut hebat saat mendengar kata-kata Cinta yang sinis dan mengandung rasa tak rela.

Dan pada akhirnya Pram hanya mengangguk hormat seraya melemparkan senyum, lalu melangkah gegas keluar dari kamar itu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel