Bab 7
Kata Cinta, papanya sedang menyiksanya melalui Pram yang dipekerjakan sebagai pengawal dan driver pribadinya. Tampaknya itu benar. Lihatlah bagaimana Cinta di jam dua pagi ini masih gagal juga memejamkan kelopak mata. Rasa kantuk sama sekali belum menghampiri dirinya. Padahal tubuhnya itu sudah meronta minta diistirahatkan karena nyaris seharian kemarin dia menjalani padatnya agenda aktifitas keartisannya.
Di mulai pagi hari, dia sudah hinggap di lokasi syuting untuk satu acara bersama seorang youtuber ternama, Acca Halilincar. Di siang harinya harus menjalani syuting sinetron strippingnya. Dan di sore hari mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan untuk menghadiri nonton bareng premiere film terbarunya berjudul Alat-Alat Bercinta, dimana dia berperan sebagai seorang mahasiswi yang menjalin hubungan dengan seorang CEO terkaya di dunia yang mengidap kelainan seksual Masokisme.
Namun, tetap saja keinginan untuk mengunjungi hiburan malam ke night club begitu menggebu di hatinya. Cinta sendiri tak mengerti bagaimana awalnya dia bisa tertarik dengan dunia gemerlap malam seperti itu. Bahkan kini sudah menjadi candu.
Sayangnya, aktivitas dunia malam yang dia lakukan itu tak mampu dia pisahkan dengan kesukaannya menenggak minuman keras. Seperti sebuah kolaborasi yang harmonis bagi Cinta.
Dan kini, kolaborasi harmonis itu di patahkan oleh kehadiran Pramudya. Walaupun Pram hanya menjalankan tugas dari papanya, namun itu sangat menjengkelkan Cinta. Saking kesalnya, sampai-sampai dia berpikiran ingin melipat tubuh jangkung Pram itu dan di masukkan ke dalam kardus lalu dikirim ke kandang singa di Afrika.
Seperti saat ini, Pram dengan sikap polos namun tegas menghalanginya mengunjungi satu night club favoritenya. Dan terpaksa dia membatalkan janji temu dengan teman-teman selebritisnya untuk hang out di sana.
Dan ketika Cinta keluar kamar untuk mengambil beberapa cemilan di kulkas, Pram menghalangi langkahnya dengan tidur terlentang di lantai tepat di depan pintu kamarnya. Masih dengan pakaian yang sejak pagi kemarin dia kenakan, kemeja putih dan celana panjang hitam, Pram tampak begitu lelap hingga tak menyadari lengan Sabrina melingkar manja di atas dadanya.
Cinta mendengkus kesal, lalu menjulurkan kaki lebar-lebar untuk melangkahi tubuh Pram dan Sabrina yang saling merapat.
Ingin rasanya menyepak kaki Pram, karena kesal. Namun ayunan kaki kanannya tertahan saat bola matanya terarah pada wajah Pram yang begitu tenang dengan mata terpejam dan bibir tipisnya yang terkatup rapat.
“Ganteng juga, lo. Tapi nyebelin,” gumam Cinta sesaat, lalu kembali menarik diri menuju kitchen set dan membuka pintu kulkas lalu mengambil makanan ringan untuk menjinakkan rasa lapar yang mencubit perutnya di pagi buta ini.
Satu kaleng kecil kripik kentang dan sepotong besar rainbow cake beserta sebotol air mineral Cinta hamparkan di atas meja mini bar. Lalu mulai menyantapnya satu per satu untuk mengganjal perutnya. Dia berharap setelah menghabiskan ini semua, rasa kantuk segera menghampirinya.
Dan apa yang dilakukan Cinta ternyata tak lepas dari pantauan bola mata Pram. Dari rebahannya Pram membuka kelopak matanya sedikit, nyaris hanya segaris. Dan menyaksikan Cinta dengan mengenakan piyama tidurnya duduk termenung sambil menyantap cemilannya. Lalu sebetik senyum kecil tampak di sudut bibir Pram.
Sebenarnya sejak merebahkan tubuhnya di lantai itu, Pram tidak benar-benar tertidur sampai detik ini. Walaupun matanya terpejam dengan tubuh tetap bergeming, tapi dia tetap waspada mengawasi pergerakan Cinta yang dia curigai akan mengendap-endap keluar dari unit apartement ini untuk memenuhi hasrat dugemnya. Tapi ternyata tidak.
Apalagi saat melirik Sabrina yang mendengkur di sampingnya dan lengan besarnya terkulai di atas dadanya, Pram yakin Cinta tidak akan berani keluar seorang diri. Karena itu dia kembali memejamkan mata dan mulai melelapkan diri ke alam tidur yang sesungguhnya, karena kantuk hebat yang sudah menyergap.
*****
Jam lima pagi, saat alarm yang terpasang di ponsel Pram berbunyi. Sebagai pengingatnya untuk bangun dan menjalankan ibadah sholat Subuh saat ini. Dia menggeliat dan perlahan membuka kelopak matanya. Lemah dia bangkit dari tidurnya setelah memindahkan lengan besar Sabrina yang melingkar di dadanya dan kaki Sabrina yang menumpang di pahanya.
Setelah berdiri tegak dan melawan rasa kantuk yang masih mendera, Pram mengedarkan bola matanya. Bingung. Dimana dia harus ber-wudhu. Sementara kamar mandi cuma ada satu di unit itu. Di dalam kamar Cinta.
Tak ingin tergilas waktu, Pram membangunkan Sabrina yang masih terdengar dengkurannya.
“Mam ... Mami. Bangun.” Sambil menggoyangkan bahu Sabrina.
Berhasil, Sabrina membuka matanya dan sejenak menghapus lelehan air liur di sudut bibir dengan lengannya. Lalu menoleh pada Pram.
“Kenapa, Pram?” Sabrina mengeluarkan suaranya yang serak dan berat. Di saat inilah suara aslinya terdengar. Suara laki-laki dengan jenis Bass. Kodrat memang tak berbohong.
“Mam, saya mau wudhu, tolong anterin ke kamar.”
Sabrina tak langsung menjawab, dia hanya mendesah malas lalu kembali bergumam, “Masuk aja sana, Pram. Cinta gak pernah kunci pintu, kok.”
“Mam ...”
Alih-alih menuruti permintaan Pram, Sabrina justru menelungkupkan tubuhnya dan membenamkan kepalanya di bantal. Tak sampai hitungan detik, suara dengkurannya kembali terdengar.
Dia ngorok lagi melanjutkan mimpi.
Kini Pram bingung harus bagaimana. Tapi daripada waktu Shubuhnya terlewat, akhirnya dia putuskan untuk mengikuti perkataan Sabrina.
Sesaat dia berdiri ragu di ambang pintu kamar Cinta, dengan tangan yang sudah menempel di gagangnya. Tapi setelah menarik nafas satu kali, dia membuka pintu itu perlahan dan melangkah memasuki kamar nona mudanya.
Seketika jantung Pram berdenyut hebat saat kakinya sudah menapaki lantai kamar itu. Pandangannya langsung beredar mencari-cari sebuah pintu yang dia pastikan itu kamar mandi.
Kamar itu sangat besar menurut Pram. Bahkan lebih besar dari ukuran kontrakannya. Di dalamnya terdapat walk in closet dengan deretan lemari kaca yang menampung koleksi pakaian Cinta, juga beberapa rak yang bertingkat-tingkat untuk menyimpan koleksi sepatu dan tas.
Di tengah dinding terdapat pintu kaca yang menghubungkan kamar itu dengan teras balkon. Jika berdiri di luar sana, kita dapat memandangi suasana lalu lintas Jakarta. Di samping pintu balkon itu berdiri satu set meja kerja dan sebuah laptop teronggok di atasnya.
Sementara, ranjang besar berukuran king membentang tepat di tengah ruangan. Dan bola mata Pram otomatis terpaku pada sesosok gadis yang terlentang miring di atas ranjang itu. Cinta tertidur di sana tanpa selimut. Hanya mengenakan baju tidur babydoll dengan lengan terbuka dan sebatas paha, juga menampakan sebagian dadanya.
Pram meneguk salivanya berat demi melihat pemandangan yang sangat menyejukkan matanya yang sepat di pagi ini. Ingin berpaling tapi mubazir. Ingin dipandangi terus, tapi takut nanti ada setan yang berbisik.
Namun untung saja alarm di kepalanya berbunyi nyaring. Seolah menampar keras keningnya. Segera dia palingkan wajahnya ke arah lain dan melangkah ke kamar mandi di pojok ruangan, tepat di samping walk in closet, lalu menuntaskan wudhunya.
Cinta menggeliat, dan berusaha membuka matanya yang masih lekat, lantaran mendengar bunyi gemericik air yang berasal dari dalam kamar mandi.
Baru jam lima lewat lima menit, ketika dia menoleh ke arah jam digital di atas meja nakas. Berarti baru sekitar dua jam dia tertidur setelah menghabiskan cemilannya dini hari tadi. Tentu saja dia merasa terganggu dengan suara kucuran air itu.
‘Sabrina berisik banget.‘ umpatnya kesal dalam hati. Dan berusaha memejamkan mata kembali.
Tapi kelopak mata berbulu lentik itu tiba-tiba terkuak lebar, saat melihat seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi dan berdiri tegak di depan pintunya sambil menengadahkan kedua tangan dan menggumamkan kalimat suci.
“Heh, ngapain lo masuk sini?”
Pram nyaris terlonjak dari tempatnya berdiri ketika mendengar teguran keras dari Cinta yang seketika menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
“Maaf, saya masuk tanpa ijin. Saya cuma numpang wudhu,” ucap Pram menoleh sekilas pada Cinta yang kini menatap nyalang dirinya.
“Permisi,”
Tak ingin menghabiskan waktu untuk berdebat dengan Cinta, Pram menyugar rambutnya yang basah kemudian bergegas meninggalkan kamar itu untuk segera melaksanakan ibadah shubuhnya di ruang tamu.
***
“Lo bikin apa?”
Cinta sudah berdiri menyandarkan pinggulnya pada kitchen isle, memperhatikan punggung bertype sandarable milik Pram yang tegak di depan standing stove.
Pria itu menoleh sejenak dan melanjutkan kegiatannya. “Maaf, saya minta kopinya,” ijinnya seraya memperlihatkan secangkir kopi di tangannya, lalu dia letakkan di atas meja minibar.
“Mau?” tawarnya pada Cinta yang masih berdiri dengan posisi dekat dengannya sambil melipat lengan di depan dada.
Cinta melirik sejenak cangkir kopi Pram, lalu mengangguk, “Bikinin ya. Tapi gulanya dikit aja.”
Dia pikir, mungkin secangkir kopi hitam mampu menjinakkan rasa pusing yang meremas isi kepalanya setelah terbangun setengah jam yang lalu karena suara Pram sewaktu berwudhu di kamar mandinya tadi.
Pram berputar arah lagi menuju kompor dan segera membuatkan secangkir kopi yang sama untuk Cinta yang kini sudah menempatkan diri di sofa.
Cinta merapatkan piyama outernya lalu meraih cangkir kopi yang Pram letakkan di atas meja di hadapannya. Kemudian menyeruputnya beberapa saat. Dari ekor matanya, Cinta memperhatikan Pram yang tertunduk memekuri secangkir kopi hitam bersama ponsel di genggaman.
Dalam hati, Cinta mengakui wajah pagi Pram ternyata mampu menyejukkan indera penglihatannya. Ditambah rambut ikal hitamnya yang berkilau karena basah, menambah nilai plus ketampanannya.
Namun bukan Cinta namanya yang mudah tertarik dengan seorang pria. Apalagi pria itu tidak selevel dengannya. Bahkan hanya seorang pengawalnya. Karenanya, Cinta melengos membuang pandangan ke arah Sabrina yang masih tergolek lelap di lantai.
“Hmm, Pramuka ... “
“Pram saja, Bu,” selak Pram ketika Cinta sengaja salah memanggil namanya.
“Oke, Pram saja ...”
“Pram.” Kembali Pram merevisi. Kali ini bola matanya menatap lurus dan lekat pada Cinta.
Cinta berdecak seraya memutar bola matanya, “Yaaah, Whatever-lah. Gue mau ngomong sama lo. Duduk situ.”
Cinta menunjuk sofa puff di seberangnya. Dan Pram mengerti. Lalu melangkah mendekati dan menempatkan diri di tempat yang ditunjuk Cinta.
Pram serasa tak nyaman ketika Cinta menatapnya begitu intens dengan bola mata menyorot dingin. Seolah sedang mengintimidasi dirinya.
“Lo dikasih gaji berapa sama papa untuk ngawasin gue?” tanya Cinta datar namun mengandung kesinisan yang hakiki.
Pram mengernyitkan dahi sejenak lalu menarik salah satu sudut bibirnya.
“Rahasia,” katanya.
Jawaban seupil semut itu tentu saja membuat Cinta makin menarik bibirnya, menahan gemas yang datang tiba-tiba. Pram tahu itu, namun sama sekali tak peduli.
“Gue punya penawaran bagus buat lo. Gue yakin lo gak bakal nolak.” Akhirnya Cinta bisa menguasai emosinya dan mengatur nada suaranya lebih tenang.
Pram tak serta merta menanggapi. Sesaat dia sesap kopi yang berada di tangkupan tangannya, lalu kembali menatap lurus ke arah lawan bicaranya dan menunggu kalimat selanjutnya.
“Berapapun gaji yang papa kasih buat lo, gue bayar dobel. Asal ....”
Semisterius apapun kalimat Cinta, tampaknya tak juga membuat Pram antusias ingin tahu. Namun dia masih setia menunggu dengan ekspresi yang datar saja, seakan kata ‘gue bayar dobel’ itu sama sekali tak menarik untuknya.
“Gue bayar dobel gaji lo tiap bulan, asal lo bebasin gue clubbing kapan aja gue mau. Dan jangan bilang sama papa.” Meluncur juga satu syarat dari mulut Cinta.
Setelah menyelesaikan kata-katanya, saatnya gadis itu menunggu jawaban dari Pram.
Kelopak matanya memicing tajam saat menatap Pram tersenyum kecil. Namun Cinta sama sekali tak mengerti apa arti senyuman itu.
Pram menggeleng mantap, lalu menyesap kopinya sekali lagi.
“Artinya?” Cinta tak sabar melihat gerak gerik Pram yang tak jelas untuknya.
“Terima kasih atas tawarannya. Tapi maaf, saya nggak bisa mengkhianati Pak Abraham,” putus Pram tegas akhirnya. Dan jawaban itu jelas membuat Cinta kian menguatkan niatnya untuk membungkus tubuh Pram ke dalam kotak kardus besar dan dia kirim lebih jauh lagi, ke sungai Amazon, sarangnya para Anaconda.
Tapi, setan alas yang sedari tadi mendampingi tubuh Cinta mulai bekerja, menghembuskan hasutannya ke dalam benak Cinta dan memberikan saran pada Cinta untuk merubah strateginya.
“Pram, please. Gue janji nggak macem-macem. Swear. Clubbing itu udah jadi satu kebutuhan buat gue, Pram.”
Benar saja, Cinta merubah strateginya. Kali ini nada suaranya melemah dan setengah memelas pada Pram. Berharap hati Pram akan luluh dan menerima tawarannya.
“Bu Cin, bukannya saya sok tau. Tapi apa yang dilarang Pak Abraham itu ada benarnya. Tempat seperti itu banyak mudhorotnya, Bu. Gak bermanfaat, menurut saya. Minuman keras ada di sana, mungkin juga narkotika dan sex bebas. Dan itu dampaknya bukan Ibu sendiri yang ngerasain. Orang lain juga ikut kena. Contohnya, efek mabuk pulang clubbing nabrak warung orang, nabrak toko orang, atau bisa juga selanjutnya nabrak orang. Akhirnya pas sadar gimana? Nyesel kan?” tutur Pram dengan bahasa dan nada suara setenang suasana pagi buta.
“Lo nyindir gue? Mentang-mentang gue pernah nabrak warung sama toko orang.”
Pram tersenyum lagi, memperlihatkan segaris lesung pipit samar di pipi kiri. Manis, sih. Dalam hati Cinta pun mengakui. Tapi suasana saat ini lagi nggak mendukung untuk memuji senyum seseorang, pikir Cinta begitu.
“Saya nggak nyindir, Bu. Karena yang saya tahu banyak kejadian kayak begitu. Pulang clubbing, teler, nyetir mobil, terus nabrak.”
Cinta membenahi posisi duduknya sejenak, lalu sedikit menyorongkan tubuhnya lebih mendekat pada Pram.
“Lo harus tahu, Pram. Gue sebagai seleb, ke club itu gak cuma untuk ajojing apalagi teler. Tapi untuk membangun relasi bisnis juga. Kadang untuk entertaint produser atau sutradara yang akan kerjasama ama gue. Jadi kalo pengetahuan lo cuma sebatas yang lo sebut tadi, lo tuh salah besar.”
Pram justru mengernyitkan dahi karena ada kejanggalan tersirat dari argumen Cinta yang tak dia mengerti. “Untuk membangun relasi bisnis kenapa nggak di tempat yang lebih tenang ya? Terus, apa perlu pake minuman keras? Bukannya malah jadi ngaco bicaranya kalo nanti akhinya mabuk?”
Cinta mendesah kesal, dia tak menyangka begitu sulitnya membujuk Pram untuk menuruti kemauannya. Bahkan pria itu mau beradu pendapat dengannya yang membuatnya bingung mencari kata-kata untuk menembus benteng pendirian Pram yang sekokoh benteng Takeshi.
“Susah ngomong sama lo, ya. Kuota otak lo terbatas. Denger ya, dunia gemerlap malam itu nggak melulu terkait soal minuman keras atau narkotika, Pram. Banyak tujuan untuk orang datang ke sana. Misalnya kayak gue nih. Untuk mencari ketenangan, untuk melepas kepenatan dan stress karena tuntutan pekerjaan. Dan yaaa ... untuk cari hiburan. Ketemu orang ramai bikin gue happy, you know. Semacam Moodbuster gitu lah.”
Pram menggedik sekilas sebelum berkata, “Aneh aja sih menurut aku, Bu. Masa cari ketenangan di tempat hingar bingar. Melepas kepenatan kok ke tempat yang justru bikin kita cape bergoyang-goyang dan begadang?” Pram menggeleng sambil tertawa kecil, “yang pasti di sana nggak jual minuman tradisional kayak bajigur, bandrek atau jamu kan, Bu?”
Sumpah mi apah, argumen Pram membuat Cinta mati kutu. Ibarat main catur, posisi Cinta kini di skak mat. Mati langkah. Sepertinya usaha Cinta menggoyahkan kesetiaan Pram pada perintah papanya gagal total. Padahal uang yang ditawarkan Cinta bukan main jumlahnya. Tapi Pram tetap pada pendiriannya. Dia tetap mematuhi perintah Pak Abraham untuk mencegah Cinta keluyuran di dunia gemerlap malam. Bagaimanapun caranya.
Dan itu membuat Cinta tak lagi mampu menahan emosi. Dia beranjak dengan menatap horor pada Pram, lalu menyentakkan kaki kesal, kemudian melangkah lekas menuju kamar.
Dan ...
BAAAM!
Bantingan keras di pintu mengagetkan Sabrina yang terlelap tepat di depannya, hingga dia pun terbangun dan mengedarkan pandangan nanar ke sekililingnya. Bingung.
“Gempa ya, Pram?”
Pram menggeleng. “Gempa lokal,” katanya enteng sambil tersenyum kecil. Lalu kembali menyesap kopinya hingga tandas.
