Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6

Setelah nyaris satu jam membelah jalan raya di tengah atmosfere malam, Pram mengarahkan kemudi Range Rover putih itu memasuki basement gedung apartement berlogo FX Sudirman. Jarum panjang di arloji Pram tepat berada di angka sepuluh sewaktu Pram meliriknya.

Duduk di kursi penumpang, ada Cinta dan sang manajer, Sabrina, yang sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Sesekali suara cekikian terdengar dari bibir Sabrina kala mengirimkan pesan untuk Cinta. Di selingi suara decakan sebal dari bibir Cinta saat membalas pesan Sabrina.

Kadang kelakuan absurb mereka sangat menggelikan. Masih dalam ruang yang sama, bahkan bahu mereka juga bersentuhan, tapi mereka saling membalas ujaran di ruang chat aplikasi.

Biasanya, jika ada dua orang yang merahasiakan obrolan, kemungkinan sedang menggibahi satu orang lain yang tengah bersama mereka. Kemungkinan itu memang benar. Sang artis dan manajernya sedang menggibahi sang driver yang kini duduk di balik kemudi. Karena sesekali pandangan Sabrina terarah pada bahu Pram. Demikian juga bola mata Cinta yang sesekali tertuju pada kaca spion di atas depan yang memantulkan sepasang mata tipis Pram berbingkai alis tebalnya.

‘Jadi inget filmnya Whitney Houston. Artis yang punya bodyguard kece, si kakang Kevin Costner. Dan akhirnya si artis jatuh cinta sama bodyguardnya. Jangan-jangan ntar kamu kayak Mbak Whitney, Cin.’ Text yang dikirimkan dari Sabrina untuk Cinta diakhiri emoji bertabur tanda hati.

Cinta mendelik sebal dengan decakan yang terdengar lebih nyaring dari sebelumnya saat membacanya. Lalu dengan cepat mengetikkan text balasan pesan itu.

‘Sorry la yaw. Yang sanggup mendobrak hati gue bukan se-level pengawal pribadi. Minimal sesama artis lah.’ Di akhiri dengan emoji marah beberapa buah.

Namun reaksi Sabrina justru berbeda. Kekehan kecilnya terdengar kembali seraya menyibukkan jemarinya lagi pada layar gawainya.

‘Eetapi, bodyguard kamu ini lumayan cakep, lho, Mak. Badannya juga oke punya. Hati-hati khilaf hati.’

“NEVER!” Kali ini bukan berupa ketikan. Tapi suara Cinta yang melayangkan umpatan pada Sabrina yang semakin terkekeh geli sembari melirik ke bahu Pram.

Pram mendengar tapi tidak peduli, dan tak mau tahu juga apa yang tengah mereka celotehkan. Yang Pram tahu, kini saatnya dia harus keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk nona mudanya karena mobil itu sudah terparkir dengan sempurna di tempatnya.

Dengan menenteng koper kecil di tangan kiri dan tas tangan milik Cinta di tangan kanan, Pram melangkah di belakang dua orang yang masih melanjutkan keasikan mereka dengan kepala tertunduk memekuri layar ponsel di genggaman. Hingga tanpa sadar si artis dan si manajer itu melangkah terus melewati unit mereka.

Sejenak Pram hanya menggeleng kepala ketika dia sudah tegak di depan pintu unit Cinta. ‘Ponsel pintar ternyata bisa bikin orang jadi kesasar,’ pikirnya sebelum memanggil keduanya yang tanpa sadar sudah melangkah cukup jauh.

“Ini Pram, passcode-nya. Kamu harus hapal ya dan rahasiakan. Yang tau passcode unit ini cuma Tuhan dan kita bertiga. Oke.” Jemari Sabrina menekan beberapa angka pada keybox di samping pintu dan Pram memperhatikan sambil merekam angka-angka itu di memory otaknya.

Pintu unit terbuka, lalu bertiga masuk didahului oleh Cinta yang sudah tak sabar ingin segera menghempaskan diri ke atas sofa.

“Semua barang sudah masuk. Kalo gak ada yang Bu Cinta butuhkan lagi, saya pamit,” ucap Pram setelah meletakkan koper di depan pintu kamar Cinta dan Tas tangan Cinta di atas meja minibar.

“Iya, buruan deh sana. Gue mau istirahat,” ketus Cinta seraya melambaikan tangan kasar, kode untuk Pram agar segera keluar.

“Oke, Pram. Thank you yah. Besok kamu ke sini agak siang juga gak apa-apa, Pram. Jadwal Cinta besok cuma pemotretan endorsement, jam satu.” Sabrina menyahut manja dari balik meja minibar sambil menyesap minuman cola-nya. 

“Saya tetap datang jam tujuh, siapa tau Bu Cinta butuh saya pagi-pagi,” Pram bersikeras.

Tidak salah memang Hotel Swastika memberinya penghargaan sebagai Petugas Keamanan Teladan. Masuk kerja selalu on time dan sangat bertanggung jawab dengan deskripsi kerjanya. Hal itu tetap diterapkan pada pekerjaannya kali ini.

“Biarin aja dia datang pagi-pagi, Mami. Sekalian bebenah.” Cinta yang tengah menumpangkan kedua kaki di atas meja menyahut dengan entengnya.

Pram menoleh ke arahnya dan tersenyum samar. Pengawal merangkap driver sekaligus housemaid. Sekalian aja jadi babysitter. Paket All in one.

Sabrina yang juga tercenung mendengar celetukan Cinta melirik Pram yang menarik ujung bibirnya sekilas. Lalu mendekati Pram dan berbisik, “Jangan masukin hati, Pram. Maklum rada ... “ seraya menyilangkan telunjuk di tengah kening dan bergidik ngeri.

Pram menggeleng dengan tersenyum sedikit lebar dan tampak setengah barisan giginya yang cukup rapi.

“Saya pamit. Permisi,” pamitnya, kemudian di balas dengan anggukan Sabrina. Lalu dia berbalik dan melangkah menuju pintu.

Namun baru saja satu kakinya melangkah melewati pintu, dia menghentikan geraknya saat rungunya menangkap sorakan gembira yang tertahan dari kedua wanita (eh, yang satunya setengah wanita deh) yang dia tinggalkan di ruang tengah tadi.

“Yuk, Mam. Kita siap-siap. Let’s get party, baby. Yeaah!”

“Yes! Oooh, can’t wait to see you, my lovely DJ Amu. Ajep – ajep –ajep – ajep ....”

“Kita balik pagi aja, Mam. Biar puas ajojing!”

“Tapi jangan sampe jam lima, Cin. Takutnya si Pram datang lebih pagi lagi. Kalo ketauan, terus dia ngadu sama bapakmu bisa berabe kita, nih.”

“Tenang, Mam. Sebelum jam lima kita udah pulang, Oke.”

“Ok... ke ....”

Spontan keduanya terdiam dengan mulut yang masih menganga dan mata terbelalak ketika mendengar suara dehaman seseorang dari arah samping mereka. Dan Pram berdiri tegak di sana dengan tatapan curiga.

“Eh ... Ehm ... Kok belum balik? Gue kirain ....”

Pram tak menjawab pertanyaan Cinta. Yang dia lakukan justru melangkah mendekati keduanya lalu membuka jaketnya dan menyampirkannya di punggung sofa. Tak sampai disitu. Pram membuka sepatunya dan menggulung lengan kemeja putihnya hingga siku, lalu menghenyakkan diri di sofa tepat di hadapan Cinta dan Sabrina.

Dan semua yang dilakukan Pram tak luput dari tatapan bingung dari keduanya yang kini saling merapatkan bahu dan menggamitkan lengan.

“Saya nginap. Boleh, kan?” Barulah Pram menjawab setelah merentangkan salah satu lengannya di sandaran sofa.

“Nginap?”

“Di ... sini?”

Gagap Cinta dan Sabrina nyaris berbarengan. Pram mengangguk mantap dengan raut wajah datar sedatar-datarnya seperti jalan tol yang baru saja di resmikan.

Cinta melepas gamitannya pada lengan Sabrina, lalu meneguk salivanya berat karena rasa gugup yang menyergap dirinya lantaran melihat keseriusan pada raut si muka HVS yang masih bergeming dengan kaki yang saling menyilang.

Sementara, si muka HVS itu duduk nyantai, serasa sedang di pantai Hawaii.

Alarm emosi di benak Cinta menjerit seketika. Status siaga satu sudah menyala di sana. Membuyarkan bayangan kenikmatan Om Vodka, Jeng Martini, dan Babang Tequilla yang mengelus batang tenggorokannya. Dan juga meng-ambyar-kan naluri bodynya yang sudah gatal ingin berjingkrak-jingkrak ria mengikuti hentakan racikan musik Techno DJ Amu yang cukup ngetop di kalangan para aktivis dunia malam.

Sialan memang si Pram. Kalo ada dia kan Cinta dan Sabrina nggak bisa keluar malam ini.

Dua minggu sudah Cinta tak mengunjungi night club sejak Pram diutus papanya untuk mengawasinya. Rasanya seperti ada satu kenikmatan yang tercerabut dari dalam dirinya. Seperti ditinggal pacar pas lagi sayang-sayangnya. Tersiksa, menurut Cinta yang sudah masuk kategori pecandu clubbing.

Hei, Cin. Malam ini DJ favoritmu perform loh! Sayang banget kalo dilewatkan begitu aja. Feel the crowd, Cinta.

Usir cowok ini, Cin!

Usir si Pramuka ini!

Usir si Pengganggu ini!

Setan alas tengah menghasut dirinya seraya melingkarkan ekor panjangnya di bahu Cinta.

“Lo pulang aja deh, Pram. Gue ... nggak bisa tidur kalo ada cowok disini,” pinta Cinta dengan suara yang nyaris tak terdengar di ujung kalimatnya.

Pram mengernyitkan dahi. “Lah, Sabrina kan tinggal di sini. Dia bukannya cowok?” tunjuk Pram lekas pada Sabrina yang melongo menatap Pram dan Cinta bergantian.

Disambar telak seperti itu, Cinta jelas mati kutu.

“Iya, tapi kan dia tidurnya di sofa,” dusta Cinta sambil melirik Sabrina yang berekspresi sama dengannya. Kebingungan dengan otaknya yang berputar-putar mencari alasan.

Padahal sudah satu tahun, sejak Cinta menempati apartemen ini, pria bergender fifty-fifty itu tidur di kamar dan juga di ranjang yang sama dengan cinta.

“Saya bisa tidur di lantai. Nggak masalah,” sahut Pram masih mempertahankan nada suaranya. Datar dan tanpa ekspresi.

Dan kini dia malah menarik bantal sofa lalu dijatuhkan ke lantai berkarpet tebal kemudian mulai merebahkan dirinya di sana.

Melihat gelagat Pram yang tampaknya benar-benar akan menjadi kuncen di unit apartementnya itu, Cinta mendengkus kesal. Tatapannya berubah nyalang dengan bibir yang terlipat gemas. “Sumpah, lo ngeselin banget, Pram!”

“Lo tuh dibayar cuma untuk jadi supir dan pengawal gue. Lo nggak berhak ngelarang gue mau ngapain atau pergi kemana aja. Lo ngerti nggak sih?” lanjut Cinta lagi dengan kadar emosi yang mulai meninggi.

“Enggak.” Pram menyahut secuil saja. Lengannya terlipat di depan dada, membalikkan tubuhnya memunggungi Cinta yang kini berkacak pinggang menatap geram padanya.

“Beneran deh, Mam. Papa emang mau nyiksa gue lewat orang ini. Gue sebel sama papa. Apalagi sama si Pramuka gendeng ini!” Cinta berbicara pada Sabrina namun telunjuknya menunjuk kasar pada Pram.

‘Nyerocos aja terus kayak petasan banting. Emang gue pikirin,’ kekeh Pram dalam hati.

Pram diam tak menanggapi. Dia pejamkan matanya, menulikan telinganya dan senyum samar terbetik dari sudut bibirnya.

Menggagalkan rencana nona mudanya untuk pergi clubbing malam ini benar-benar butuh pengorbanan. Mengorbankan janjinya untuk kencan malam mingguan dengan Hani. Mengorbankan tubuhnya tidur di lantai dengan suhu 20 derajat yang berhembus dari penyejuk ruangan. Dan mengorbankan telinganya yang terus menerus mendengar kalimat-kalimat pedas dari lambe nyinyir si nona muda.

Tapi menurut Pram itu lebih baik daripada kena semprot Pak Abraham yang sudah mempercayakan tugas ini padanya. Jika hasil kerjanya mengecewakan, bukan itu saja risiko yang bakal dia terima, tapi bisa jadi berupa pemutusan hubungan kerja.

Bahaya deh pokoknya.

“Udah, udah, jangan ribut. Biarin Pram nginap, Cin. Kamu masuk kamar sana. Istirahat ya, Sayang.” Dan pada akhirnya Sabrina menengahi keributan kecil itu dengan bijak. Dia yang sedari tadi juga gatal ingin berajojing di night club favorit akhirnya mengalah saja.

Masih ada hari lain dan dengan rencana lain, pikirnya. Daripada papanya Cinta melabraknya bahkan menghentikan karir Cinta sebagai artisnya, bisa-bisa dia kehilangan mata air pencariannya dan kembali lagi menjadi kapster di salon Rudi Hadisutopo.

Setelah menyentakkan kaki dengan kesal, bahkan terdengar bunyi dari lantai yang beradu dengan heelnya, akhirnya Cinta terpaksa mengalah juga dan menuruti apa kata Sabrina. Dia masuk ke kamarnya dengan wajah tertekuk sedemikian jeleknya, lalu ...  

BAAMM!

Bantingan pintu kamar berdentam kencang. Menandakan si pemilik kamar menumpahkan emosi jiwanya pada pintu yang tak bersalah itu.

Sabrina terlonjak kaget. “Jakun gue melorot, Ciiinnn!” Disertai pekikan latahnya, lalu spontan mengelus batang leher, memastikan jakunnya aman di tempatnya.

Namun tidak bagi Pram. Pria itu hanya bergeming dan tersenyum, walaupun kecut.

“Pram ....” panggil Sabrina seraya mendekati tubuh Pram yang tergolek nyaman di lantai. Dia ambil satu bantal sofa lalu meletakkannya persis di samping Pram, kemudian merebahkan tubuh gempalnya di sana.

“Hmm ... “ Pram tahu pria berpenampilan wanita itu kini berada persis di belakang punggungnya. Namun dia hanya menggumam singkat tanpa membalikkan badannya.

“Lo punya nyawa tiga belas biji kan?”

Kali ini, kedua ujung alis Pram bertautan. Tak mengerti apa yang di tanyakan Sabrina alias Sobri di belakangnya itu.

“Kalo nggak punya cadangan nyawa, mending lo lambaikan tangan ke kamera deh, Pram.” Kata Sabrina lagi.

“Menyerah maksudnya?”

Sabrina mengangguk, walaupun Pram tak melihat. “Ngadepin Cinta harus punya nyawa banyak, Pram. Tempramentnya itu loh ... Hadeeeehhh! Aku aja sampe kurus kering begini dampingin dia, liat deh.”

What? Kurus kering? Body dengan beban 100 kilogram ngakunya kurus kering?

“Sekarang sudah nyawa yang ke berapa yang masih nyangkut di badan Mami?” Pram bersuara disertai senyum geli di bibirnya. Untung saja Sabrina tidak melihat. Kalo sempat melihat senyuman yang dikullum itu, bisa-bisa bukan jakunnya lagi yang melorot, tapi celana kulot yang kini dipakainya.

“Wah, mami gak sempet ngitung, Pram. Mungkin sisa satu cadangan lagi.”

“Berarti sebentar lagi game over, dong?”

Sabrina menepuk punggung kokoh Pram di hadapannya, lalu merajuk manja, “Lo kira video game, kali ah?”

Terdengar kekehan kecil dari bibir Pram, bahunya sedikit berguncang.

“Udah ah. Bobok yuk, Sayang,” ucap Sabrina seraya menempelkan tubuhnya pada punggung Pram lalu melingkarkan lengannya ke atas bahu pria itu, menjadikan tubuh Pram sebagai guling hidupnya.

Sebagai pria normal seratus persen yang hanya terkoneksi dengan wanita asli, tentu saja Pram risih dipeluk erat oleh wanita imitasi ini.

Perlahan dan sopan, Pram membebaskan diri dari dekapan Sabrina, lalu menggeser tubuhnya sedikit menjauh. Matanya terpejam tapi tetap dalam mode waspada jika tiba-tiba Cinta mengendap-endap keluar dari kamarnya dan bersama Sabrina menjalankan rencananya semula, party all night long.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel