Bab 8. Keluarga Hesti
"Jangan kasar terhadap wanita, Bung!"ujar seorang lelaki yang berhasil menangkap pergelangan tangan Agus.
"Siapa kamu, jangan ikut campur urusan keluargaku!" bentak Agus kasar,lalu kaki kanannya menendang lelaki itu dengan keras, dengan sigap lelaki itu menangkis dan menangkap kaki Agus dengan kedua belah tangannya, kemudian mendorongnya dengan sekuat tenaga hingga menyebabkan Agus terjengkang jatuh ke belakang.
"Ayo bangun Bung, lawan saya,jangan hanya berani dengan perempuan," ujar lelaki itu menantang Agus.
"Hei, saya nggak ada urusan dengan kamu, silakan pergi dari sini!" Agus menghardik lelaki itu, sambil menepuk-nepuk celananya yang kotor karena debu yang menempel akibat jatuh tadi.
"Saya memang nggak ada urusan dengan anda, tapi saya benci melihat lelaki yang suka menyakiti wanita," ujar lelaki yang berperawakan tinggi dan berkulit putih itu.
"Ingat Bung, tindakan anda melakukan kekerasan tadi banyak yang mengambil gambar atau video, itu bisa dijadikan bukti untuk memenjarakan anda!" lelaki itu menyambung ucapannya sambil menunjuk ke beberapa orang yang sedang memegang gawai, mereka mengabadikan kejadian yang baru saja terjadi.
Netra Agus terbeliak dan wajahnya berubah pias ketika melihat beberapa orang yang sedang memegang gawai, bergegas dia lari menghampiri mereka sambil berteriak marah, semua perkataan kotor dan kasar keluar dari mulutnya. Melihat Agus mengamuk, mereka lari tunggang langgang menyelamatkan diri dari amukan Agus.
Hesti merasa lega dan tenang, Agus ternyata tak lagi menemuinya setelah mengejar beberapa orang tadi. Mungkin dia langsung pulang ke rumah atau nongkrong
di rumah temannya seperti kebiasaannya yang dilakukan setiap hari.
"Mbak nggak apa-apa?" tanya lelaki itu kepada Hesti yang duduk di sebuah kursi.
" Saya nggak apa-apa Mas, terima kasih sudah menolong saya," jawab Hesti .
" Saya Guntur Mbak," ujar lelaki itu mengenalkan dirinya.
"Saya Hesti," sahut Hesti singkat.
" Maaf kalau boleh tahu, lelaki itu tadi siapa? Mbak kenal dengannya?" tanya Guntur pelan.
"Dia suami saya Mas," jawab Hesti pelan, tanpa ekspresi, tatapannya lurus ke depan.
"Apakah dia sering menyakiti Mbak, maksud saya apa dia sering melakukan kekerasan terhadap Mbak?" tanya Guntur lagi.
"Maaf, Mas Guntur ini siapa, kenapa ingin tahu dan peduli dengan saya?" tanpa menjawab pertanyaan Guntur, Hesti justru balik bertanya.
" Saya bukan siapa-siapa Mbak, tapi saya paling benci melihat siapa saja melakukan kekerasan di depan saya," jawab Guntur tegas, netranya seperti menyimpan dendam.
"Suami saya cepat naik darah, kalau keinginannya tak dipenuhi dia akan marah-marah, siapa pun yang ada di dekatnya pasti menjadi sasaran kemarahannya," tutur Hesti,raut mukanya tampak sedih dan muram.
"Kenapa nggak dilaporkan saja Mbak?" tanya Guntur, dia merasa geram mendengar penuturan Hesti.
"Saya nggak berani Mas, ibu saya jadi jaminannya. Dia selalu mengancam akan menyakiti ibu saya kalau saya berani berbuat macam-macam," ujar Hesti, tampak titik embun keluar dari sudut netranya.
"Oh, begini ya kelakuan istri tercinta bapakku, katanya sakit tapi malah asyik pacaran dengan lelaki lain," seorang wanita tiba-tiba datang dan langsung duduk di tengah-tengah antara Guntur dan Hesti.
Guntur dan Hesti terkejut,dengan refleks mereka berdiri dan menjauh dari perempuan itu. Guntur menatap perempuan dengan tajam, dan ketika perempuan itu tersenyum, dengan cepat Guntur membuang muka.
"Jangan asal bicara Mar, dan tolong jaga sikapmu, sangat nggak sopan!" ucap Hesti ketus, bukan hanya Agus yang membuatnya selalu tertekan, tapi Marwiyah anak tirinya juga selalu membuat dirinya tak bisa menahan emosi.
"Siapa dia Mbak, sungguh tak tahu adab dan sopan santun," ujar Guntur sinis.
"Dia Marwiyah, anak Agus satu-satunya," sahut Hesti, mukanya tampak masam setelah anak tirinya datang.
"Bukankah Agus suamimu Mbak, jadi dia...?"
"Anak tiri saya," sahut Hesti dengan cepat.
"Anak sebesar itu belum disekolahkan,apa mungkin nggak ada biaya?" tanya Guntur dengan nada yang sinis menyindir Marwiyah.
"Kamu berani menghinaku? Kamu nggak tahu siapa aku?" Marwiyah yang mendengar perkataan Guntur langsung bangun menghampiri Guntur,wanita itu berkata dengan keras dan kasar sambil berkacak pinggang.
"Aku ini orang kaya, sebentar lagi jadi sarjana!" kata Marwiyah lagi dengan angkuh dan sombong.
"Ha ha ha," mendengar kalimat Marwiyah Guntur tertawa. Kemarahan Marwiyah semakin bertambah melihat tingkah Guntur yang seolah mengejeknya.
"Mengaku kaya tapi miskin akhlak, mengaku calon sarjana tapi nggak punya sopan!" kata Guntur sinis.
Hesti tersenyum tipis menyaksikan perdebatan antara Guntur dan Marwiyah, dalam hatinya dia berterima kasih atas ucapan-ucapan pedas Guntur yang ditujukan kepada Marwiyah. Walau sering sakit hati karena ulah anak tirinya itu, Hesti masih terus berusaha untuk membimbingnya agar menjadi lebih baik.
"Sebaiknya kamu pulang Mar, ibu nggak apa-apa, setelah selesai urusan di sini ibu langsung pulang," saran Hesti lembut, Marwiyah mendengus kasar mendengar ucapan ibu tirinya.
"Nggak usah ngatur-ngatur kamu, yang harus pergi itu kamu, ingat kamu itu istri bapakku, dasar nggak tahu malu, punya suami masih suka goda lelaki yang masih muda," cecar Marwiyah beruntun tanpa jeda. Kata-kata pedasnya membuat Guntur terperangah, namun bagi Hesti itu adalah hal biasa.
"Dan ingat, kamu memang istri bapakku, tapi kamu bukan ibuku, camkam itu!" bentak Marwiyah sambil menunjuk-nunjuk wajah tirus Hesti.
"Ibu Hesti Wardani, silakan masuk ke ruangan ya, ada kunjungan dokter," seorang suster datang menghampiri Hesti.
"Baik Sus, terima kasih," sahut Hesti tersenyum lalu beranjak pergi setelah berpamitan dengan Guntur dan mengucapkan terima kasih sekali lagi.
"Ayo saya antarkan Mbak," kata Guntur menawarkan diri, tanpa menunggu jawaban dari Hesti pria itu mengikuti langkah wanita yang diam-diam menarik perhatiannya.
"Hei, mau ke mana kamu, dia itu istri bapakku, wanita kampungan, buat apa kamu ikuti dia, kamu lebih cocok sama aku," seru Marwiyah, dia menghalangi langkah Guntur dengan merentangkan tangannya.
"Maaf, saya nggak ada waktu meladenimu mbak Marwiyah!" ucap Guntur santai,dia menepis tangan kanan Marwiyah yang menghalangi jalannya.
"Awas kamu, saya akan panggil bapakku, biar kamu tahu siapa bapakku, setelah itu kamu pasti akan berlutut memohon-mohon padaku!" pekik Marwiyah, dia marah karena usahanya menahan Guntur gagal. Dia juga tahu bahwa bapaknya baru saja babak belur karena dihajar Guntur.
"Silakan panggil bapakmu Mbak, saya tunggu!" seru Guntur tanpa menoleh ke belakang. Marwiyah menghentak-hentakkan kakinya di lantai,dia sangat kesal karena Guntur mengabaikannya.
Marwiyah mengambil gawainya yang berada di dalam tas, wanita itu ingin menghubungi Agus, bapaknya.
Saat itu juga Marwiyah baru sadar apa tujuannya datang ke rumah sakit menyusul ibu tirinya.
Seharian dia mencari keberadaan ibu tirinya untuk meminta uang buat membeli kuota internet, dan kebetulan tadi ada seseorang menelefon dirinya, penelefon itu mengabarkan bahwa ibu tirinya pingsan dan dibawa ke rumah sakit.
"Mana dompetmu?" tanya Marwiyah kasar, wanita itu tiba-tiba masuk ke ruangan. Hesti yang baru bersiap-siap mau pulang terkejut ketika Marwiyah merampas tas kecil yang dibawanya.
"Aw, lepaskan!" seru Marwiyah, dia meringis kesakitan karena pergelangan tangannya di pengang dengan kuat oleh Guntur.
"Jangan ikut campur!" bentak Marwiyah keras, dia tak peduli dengan keadaan di sekelilingnya.
"Saya harus ikut campur jika melihat kedzoliman di hadapan saya!" ucap Guntur pelan tapi tegas.
"Saya nggak dzolim!" tukas Marwiyah membela diri.
"Nggak dzolim tapi kejam!" sahut Guntur, dia sengaja mempermainkan Marwiyah dengan kata-katanya.
"Kamu istri bapakku, aku minta hakku, mana uangku, aku mau beli kuota!" kata Marwiyah keras, kali ini ditujukan kepada Hesti yang masih duduk di tempat tidur.
Hesti hanya tersenyum sinis mendengar kata- kata Marwiyah. Sejak bertemu Guntur tadi, Hesti seperti mendapat kekuatan baru untuk menghadapi keluarga suami keduanya.
"Maaf, yang dimaksud hak, itu hak yang mana Mar, tolong jelaskan!" ujar Hesti pelan sambil menatap Marwiyah dengan tajam.
"Nggak usah banyak tanya, sini uangnya!" hardik Marwiyah, sambil menggerakkan tangannya mau merebut tas yang berada dalam dekapan Hesti.
"Eit, katanya calon sarjana kok nggak tahu adab dan sopan?" lagi-lagi Guntur mencekal tangan Marwiyah.
"Ini bukan urusanmu, aku mau minta hak, minta uangku!" hardik Marwiyah lagi semakin keras, dia merasa sangat marah karena kemauannya tak dituruti oleh Hesti. Tak seperti biasanya, sekali meminta Hesti langsung memberinya, karena kalau telat sedikit saja, tanpa rasa kasihan Agus akan marah dan menghajar Hesti.
"Maaf Mbak, berikan saja uangnya kalau memang itu hak dia, daripada dia bikin rusuh dan ribut di sini, kasihan ini lho anak saya terganggu tidurnya," tiba- tiba seseibu yang bersuara, anak ibu itu menempati ruang yang sama dengan Hesti. Setiap ruangan memang diperuntukkan buat dua pasien.
"Saya mohon maaf Bu kalau kejadian ini mengganggu dan membuat tak nyaman," kata Hesti dengan penuh hormat kepada seseibu tadi. Marwiyah tersenyum sinis ke arah Hesti, dia merasa senang atas ucapan seseibu itu.
"Baik saya jelaskan di sini,saya menikah dengan Agus enam tahun yang lalu. Dan Marwiyah ini anak yang dibawa oleh Agus, suami saya. Selama enam tahun berumah tangga, hanya dua bulan pertama saya menerima nafkah materi dari suami saya, sebesar lima ratus ribu sebulan, itu buat kebutuhan kami semua." Hesti berhenti dan menghela nafas pelan, lalu melanjutkan kalimatnya lagi.
"Kami tinggal di rumah pemberian almarhum suami pertama saya. Ibu mertua dan seorang adik ipar saya juga ikut tinggal bersama kami. Selama ini, semua kebutuhan hidup saya yang membiayai, biaya sekolah dan kuliah Marwiyah juga dari saya. Karena Agus tak mau bekerja, adik ipar juga tak bekerja, jadi semua mutlak dari uang saya. Saya mempunyai dua butik dan beberapa rumah kontrakan, itu semua pemberian almarhum suami saya,semua hasilnya untuk membiayai keluarga suami saya yang sekarang."
"Sebenarnya nggak apa-apa saya menanggung hidup mereka, tapi saya kecewa, selama ini mereka tak pernah menghargai, saya hanya dijadikan sapi perah dan pembantu mereka," tutur Hesti menjelaskan kepada semua yang berada di ruangan itu.
"Benar-benar keluarga benalu!" kecam seseibu tadi setelah mendengar penjelasan Hesti.
"Hhhhhhhhh!" entah apa yang ada dalam benak Guntur, tangannya mengepal , wajahnya berubah merah padam.
Hesti menghela nafas pelan, lalu tatapannya beralih ke arah anak tirinya, Marwiyah membalas tatapan Hesti dengan tatapan tajam seolah menantang.
"Sekarang coba jelaskan Mar, hak yang mana yang kamu minta dari saya?" tanya Hesti datar.
"Pokoknya aku nggak mau tahu, berikan uangku, cepat!" bentak Marwiyah kasar, netranya membulat sempurna.
"Mulai detik ini saya nggak akan memberi apa pun yang kamu minta, camkan!" bentak Hesti dengan berani, Marwiah terkesiap, ini pertama kali ibu tirinya berani membentaknya.
Guntur tersenyum ketika melihat wajah Marwiyah yang berubah pias, sementara seseibu itu mengacungkan kedua jempol tangannya melihat Hesti membentak Marwiyah.
"Awas saja kamu perempuan nggak tahu diri, aku adukan ke bapak ,biar nanti dicerai baru tahu rasa!"ancam Marwiyah sambil membalikkan badannya, lalu melangkah keluar. Sebelum keluar dia sempat mencibirkan bibirnya ke arah seseibu tadi.
"Ha ha, lucunya," seseibu tadi malah tertawa melihat tingkah Marwiyah.
"Tunggu mbak Mar," suara Guntur menghentikan langkah Marwiyah. Wanita itu membalikkan badannya lagi dan berjalan menghampiri Guntur, hatinya berdebar, dia menyangka Guntur mulai tertarik melihat kecantikan dan keseksian tubuhnya.
"Ada apa Mas?" tanya Marwiyah dengan manja. Hesti dan seseibu itu mengerutkan dahinya, bertanya dalam hati apa tujuan Guntur memanggil Marwiyah kembali.
"Lihat itu, itu dan itu, ada tiga orang yang merekam kejadian ini, sebentar lagi mbak Mar akan jadi artis dan pasti viral," tutur Guntur sambil menunjuk tiga orang yang berada di depan pintu sedang merekam dengan gawainya.
"Aarrrgghh," Marwiyah menjerit, dan berlari mendatangi mereka.
