Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9. Perjodohan

     "Nenek ndak mau dengar alasan apa pun,Wilma harus menikah dengan Bagas, anaknya pak Saiful," titah bu Lasmini yang ditujukan kepada Wilma.

    " Maaf Bu, jangan memaksakan kehendak, biarkan Wilma menentukan pilihannya sendiri," tukas Raisa mewakili Wilma menanggapi permintaan bu Lasmini.

     "Dari dulu memang kamu itu susah diatur, selalu menentang keinginanku,"kata bu Lasmini ketus,dia mendengus kasar lalu mengalihkan pandangannya ke arah Wilma.

     "Dan kamu Wilma, sekarang saatnya menunjukkan baktimu pada nenek," ujar bu Lasmini,Wilma diam tak bergeming, kepalanya tertunduk.

     " Wilma!" seru bu Lasmini, dia  kesal karena merasa diabaikan.

     "Ya, Nekkk," sahut Wilma singkat. Dia sangat malas kalau harus berhadapan dengan neneknya. Di usia lanjutnya bu Lasmini tak pernah mau berbaik-baik dengan keluarganya. Dia merasa bisa hidup sendiri dan tak membutuhkan orang lain. Setiap kata dan kemauannya tak boleh ada yang membantahnya.

     "Apa kurangnya si Bagas itu, dia dari keluarga baik-baik,dan kehidupannya sudah mapan,"ujar bu Lasmini membujuk Wilma.

     "Tapi Nek...,"

     "Tapi apa? Pikirkan usiamu semakin bertambah!" kata bu Lasmini memotong kalimat Wilma.

     "Wilma nggak cinta Bagas Nek, dan bukankah Bagas sudah punya calon istri?"tutur Wilma memberanikan diri memberi alasan.

     "Ndak usah cinta-cintaan, nikah dulu,dan punya anak laki-laki,nanti lama-lama juga jadi cinta," ujar bu Lasmini ketus.

     "Calon istri Bagas itu ya kamu!" tambah bu Lasmini lagi tanpa memikirkan perasaan cucunya.

     "Maaf Nek, Wilma nggak mau menikah dengan Bagas," tolak Wilma dengan berani.

     "Kamu ndak bisa menentang keputusanku, kamu harus menikah dengan Bagas!"ujar bu Lasmini penuh penekanan.

     "Maaf Bu, yang mau menikah dan menjalani kan Wilma, ibu nggak berhak menentukan hidupnya!" tukas Raisa sedikit emosi melihat keegoisan ibu mertuanya.

     "Wilma cucuku, sebagai nenek aku berhak mengatur hidupnya,toh kalian hidup juga dari harta anakku,"ujar bu Lasmini mulai menyinggung masalah harta.

     "Kalau ibu sebagai nenek merasa berhak, saya sebagai ibunya lebih berhak, saya yang mengandung dan melahirkan serta merawatnya, tapi saya tak mau menyalah gunakan hak saya, saya serahkan hak saya padanya untuk menentukan pilihannya sendiri," tutur Raisa dengan bijak, Wilma yang mendengarnya merasa terharu, sedangkan bu Lasmini justru sangat marah mendengar penuturan mrnantunya.

     Brakk!

     Bu Lasmini menggebrak meja, Raisa dan Wilma terkejut, mereka beradu pandang. Raisa memberi isyarat kepada Wilma untuk pergi dari hadapan neneknya.

     "Maaf Nek, Wilma mau ke belakang," ujar Wilma, walau menurutnya bu Lasmini menyebalkan, tapi Wilma tetap menghormatinya.

     " Dasar cucu ndak tahu sopan, diajak bicara malah pergi," bu Lasmini menggerutu, padahal Wilma sudah berpamitan sebelum pergi.

      Tok tok tok.

     "Permisi, ada paket," Raisa bergegas berdiri dan keluar setelah mendengar suara ketukan pintu dan suara seorang lelaki.

     "Maaf Bu, apa benar ini rumahnya bu Wilma Anjani?" tanya seorang lelaki yang ternyata kurir salah satu ekspedisi, kurir itu mengantarkan sebuah paket untuk Wilma.

     "Ya,saya ibunya," jawab Raisa singkat, lalu atas kesepakatan Raisa mewakili Wilma untuk menerima paket tersebut. Sebuah bingkisan kecil yang bertuliskan nama Jefri sebagai pengirimnya. Raisa mengerutkan keningnya,tanpa membuang waktu Raisa menyalin nomor telefon Jefri yang tercantum di bagian kolom pengirim tersebut.

     "Ibu mau ke mana?" tanya Raisa ketika melihat ibu mertuanya melangkah keluar.

     "Mau pulang, ndak ada gunanya aku berlama-lama di sini, menantu dan cucu sama saja," sahut bu Lasmini ketus, Raisa hanyamenghela nafas pelan mendengar kata-kata ibu mertuanya.

     "Tunggu sebentar Bu, saya antar ibu pulang," kata Raisa lembut, walaupun sering mendapat perlakuan buruk dari bu Lasmini, Raisa tak pernah menyimpan dendam dan tetap menghormati ibu mertuanya.

     "Ndak usah repot-repot, urus saja urusanmu sendiri," tukas bu Lasmini ketus, wanita lanjut usia itu terus melangkah keluar pintu pagar tanpa menoleh lagi. Raisa hanya bisa bersabar menghadapi ibu mertuanya yang susah diajak kompromi.

     Bu Lasmini masih berdiri di depan pintu pagar rumah Raisa, dari tadi memesan ojek online belum juga ada yang menerima pesanannya. Dalam hati Raisa merasa trenyuh melihat ibu mertuanya, di usianya yang lanjut dia harus mengurus dirinya sendiri.

      Tapi itu semua kemauan bu Lasmini sendiri, beberapa kali Salina mengajaknya untuk tinggal bersama, tapi selalu ditolaknya. Raisa pun pernah mengajaknya untuk tinggal di rumahnya, tapi niat baik Raisa juga ditolaknya.

     Pernah juga Salina tinggal di rumah ibunya, niatnya ingin merawat dan menjaga ibunya, tapi hanya beberapa hari Salina bertahan tinggal di rumah ibunya sendiri. Niat baik Salina juga disalah artikan oleh bu Lasmini. Dia beranggapan Salina akan merebut semua hartanya, bu Lasmini lebih rela membayar ART untuk merawat dirinya.

     "Mari Bu, saya antarkan," lamunan bu Lasmini buyar ketika tiba-tiba Raisa sudah berdiri di dekatnya.

     Dari tadi bu Lasmini membayangkan kalau Wilma menikah dengan Bagas pasti hartanya akan bertambah. Bu Lasmini tergiur janji pak Saiful yang katanya akan memberi dua hektar kebun sawit kalau berhasil menikahkan Bagas dengan Wilma. Itu sebabnya bu Lasmini memaksa Wilma untuk menikah dengan Bagas.

     "Mari Buuu,sebentar lagi hujan, ini jam makan siang, abang-abang ojek sedang istirahat, harus nunggu lama untuk dapat ojeknya," bujuk Raisa lembut.

     Bu Lasmini mendongakkan kepalanya, gumpalan awan hitam bergulung-gulung tanda akan turun hujan. Bergegas bu Lasmini berjalan menuju ke mobil Raisa.

     "Mau beli makanan dulu nggak Bu?" tanya Raisa, dia tahu ibu mertuanya belum makan.

     "Ndak," jawab bu Lasmini singkat.

     "Ya sudah, kita langsung pulang saja," ujar Raisa, dia paham kalau sudah begini keadaannya bu Lasmini susah diajak bicara.

     Di dalam kamarnya, Wilma membolak balikkan bungkusan paket dari Jefri. Dari tadi Wilma bingung karena paket tersebut, antara mau menerima atau menolaknya. Sejak kedatangan Jefri dua hari yang lalu, hati Wilma terusik lagi. Tapi mengingat kejadian satu tahun yang lalu, Wilma berusaha menyingkirkan desiran-desiran yang timbul di hatinya.

     Wilma menatap bungkusan itu sekali lagi, dengan netra terpejam, dia merobek kertas yang dijadikan pembungkus paket tersebut.

     Netra Wilma terbuka pelan, diintipnya apa isi paket tersebut. Sebatang coklat kesukaannya. Tanpa sadar Wilma merobek kertas pembungkus coklat tersebut dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya.

     Tok tok tok.

     Daun pintu kamarnya terkuak sebelum Wilma membukanya. Raisa yang baru pulang dari rumah ibu mertuanya langsung masuk kamar Wilma.

     "Sejak kapan kamu berhubungan lagi dengan Jefri," tanpa basa-basi Raisa langsung menanyakan perihal Jefri.

     "Kemarin lusa dia datang ke minimarket Bu,"jawab Wilma.

     "Kenapa nggak bilang ibu? Ada yang ingin ibu bicarakan dengannya," ujar Raisa, netranya menatap Wilma dengan tajam.

     "Cuma sebentar kok Bu, karena Wilma mengusirnya, Wilma benci dia!" ujar Wilma dengan nada kesal.

     "Benci? Tapi kenapa kamu makan coklat pemberiannya?" tanya Raisa sambil menunjuk bungkus coklat yang sudah habis isinya. Netra Wilma terbeliak, tanpa sadar dia sudah menghabiskan coklat tersebut tanpa sisa.

    "In-ini bukan dari Jef-Jefri Bu," kilah Wilma, wajahnya mendadak merah karena malu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel