Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7. Hesti Pingsan

     Hesti menatap bu Lasmini dengan perasaan yang bercampur aduk, antara senang, takut dan khawatir, dan Hesti juga semakin yakin seratus persen bahwa Ziana adalah anak kandungnya. Tadi ketika dia berpura-pura membersihkan sesuatu yang menempel di baju Ziana, Hesti sempat melihat sedikit tanda lahir yang berada di leher Ziana. Dan sekarang ditambah lagi Ziana memanggil nenek kepada bu Lasmini.

     "Kalian?" tanya bu Lasmini sambil menunjuk dan menatap Ziana dan Hesti bergantian.

     "Ib-Ibu apa kabar?" Hesti mengabaikan pertanyaan bu Lasmini, dia mengulurkan tangannya mengajak bu Lasmini bersalaman. Bu Lasmini tak menyambut uluran tangan Hesti, dan wanita yang pernah menjadi ibu mertuanya itu justru menepis tangan Hesti dan membuang mukanya ke arah lain.

     "Nenek apa kabar?" tanya Ziana, banyak pertanyaan yang muncul di benak gadis itu atas apa yang baru saja dilihatnya. Dia meraih tangan kanan bu Lasmini,tapi dengan kasar bu Lasmini menyentak tangan Ziana. Melihat perlakuan bu Lasmini terhadap Ziana hati Hesti merasa sakit.

     "Ibu, maafkan saya," ujar Hesti lirih, rasa ketakutan semakin menyelimuti diri Hesti mengingat perbuatannya dulu meninggalkan Ziana di rumah sakit.

     "Untuk apa kamu minta maaf, takdir ndak bisa merubah keadaan," sahut bu Lasmini ketus. Netranya berputar ke seluruh penjuru ruangan minimarket, seperti sedang mencari sesuatu.

     " Sa-saya ingin ...,"

     " Ingin apa,ingin membawa anakmu pergi, silakan saja ndak ada yang melarang," masih dengan nada ketus bu Lasmini memotong kalimat Hesti. Mendengar ucapan bu Lasmini netra Hesti berbinar, tampak kebahagiaan terpancar di wajahnya yang selalu terlihat murung.

     "Jadi-jadi benar Ziana ini anak kandung saya?" tanya Hesti dengan raut wajah yang tampak bahagia.

Ziana yang dari tadi diam tak bergeming melihat dan mendengar Hesti dan bu Lasmini terperanjat ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Hesti. Dengan serta merta gadis itu menangis terisak-isak. Hesti dan bu Lasmini heran dan bingung melihat Ziana yang tiba- tiba menangis.

     " Ziana,kamu kenapa Nak?" tanya Hesti menghampiri Ziana dan ingin memeluknya.

     "Kenapa Ibu nggak bilang dari tadi kalau Ibu adalah ibuku?" tanya Ziana sambil menghindar dari pelukan Hesti.

     " Jadi kamu belum tahu kalau perempuan ini ibu kandungmu?" tanya bu Lasmini kepada Ziana sambil menunjuk ke arah Hesti.

     " Be-belum Nek," jawab Ziana menggelengkan kepalanya.

     Hesti masih terus menatap Ziana, dia tak menyangka bayi mungil yang ditelantarkan dulu sekarang sudah tumbuh dewasa menjadi gadis cantik dan lucu. Ziana yang sadar diperhatikan oleh Hesti hanya diam. Dalam hatinya ingin sekali memeluk ibunya, ingin menumpahkan segala keluh kesah, ingin menceritakan segala kepedihan hidup yang dialaminya. Tapi disisi lain hatinya melarang Ziana untuk melakukan itu semua. Dia tak ingin ibunya tahu tentang apa yang dirasakannya.

     "Perempuan inilah yang meninggalkanmu di rumah sakit," ujar bu Lasmini ketus,sambil menunjuk-nunjuk ke arah Hesti dengan raut muka merah padam karena marah. Bu Lasmini sangat membenci Hesti, menurutnya karena Hesti anak lelaki satu-satunya meninggal dunia.

    "Ma-maafkan saya Bu, bukan maksud saya meninggalkan anak saya, ta-tapi saya bingung dan merasa bersalah karena tak bisa memberikan cucu laki-laki," ujar Hesti berusaha menjelaskan alasannya kenapa waktu itu pergi dari rumah sakit dan meninggalkan anaknya begitu saja.

     "Memang kamu salah, sangat salah! Kamu terlalu manja, karena kamu aku kehilangan Azizur, anak lelakiku satu-satunya!" kata bu Lasmini dengan keras, dan setelah itu bu Lasmini menangis terisak-isak.

     "Mak-maksud Ibu, bang Aziz?" tanya Hesti merasa kurang paham atas apa yang dikatakan bu Lasmini.

     "Ya, kamulah penyebab meninggalnya anakku, karena kamulah Azizur kecelakaan dan meregang nyawa, karena kamu!" teriak bu Lasmini lantang, tanpa disadari sudah banyak pengunjung yang berkerumun melihat mereka. Ada beberapa orang yang sibuk mengambil gambar dan video atas kejadian tersebut.

     "Ja-jadi_jadi bang Aziz sudah meninggal?" tanya Hesti, dia menatap Ziana dan bu Lasmini secara bergantian. Ziana diam tak bergeming, buliran jernih yang mengalir di kedua pipinya diabaikannya. Dari percakapan bu Lasmini dan Hesti, Ziana bisa tahu hal yang sebenarnya. Karena selama ini tak ada satu pun mereka yang memberi tahu. Baik itu Raisa, Wilma atau tantenya, Salina. Yang dia tahu dia bukan anak Raisa, itu saja.

     "Jadi selama ini kamu ndak tahu kalau anakku sudah meninggal? Dasar perempuan ndak tahu terima kasih. Azizur meninggal kecelakaan karena terburu-buru mau ke rumah sakit, bukankah kamu yang menyuruhnya untuk segera datang waktu itu? Kalau saja kamu bisa sabar, pasti anakku masih hidup sekarang," ujar bu Lasmini, dia sengaja menceritakan itu semua agar Hesti terus merasa bersalah.

     "Jadi ... jadi...,"

     "Jadi Azizur meninggal karena kamu, dan lihat ini, bayi yang dulu kamu telantarkan, di mana hati nurani dan perasaanmu?" cecar bu Lasmini, sambil mendorong pelan tubuh Ziana ke arah Hesti.

     " Bang Aziz...," gumam Hesti, mengabaikan cercaan bu Lasmini,dia sama sekali tak menyangka kalau suaminya sudah meninggal dunia. Kepala Hesti mendadak pusing, pandangannya gelap dan berkunang-kunang, lantai minimarket yang dipijaknya terasa berputar-putar, dia ingin pergi meninggalkan Ziana dan bu Lasmini, baru saja selangkah berjalan, tubuhnya oleng lalu jatuh tersungkur di lantai.

     " Bang Aziz, bang Aziz," suara lemah Hesti membangunkan tidur Ziana. Lebih dari dua jam Hesti tak sadarkan diri, dan Ziana yang menunggunya tertidur di sisi tempat tidur di mana Hesti terbaring lemah.

     Hesti tadi pingsan setelah mendengar kabar bahwa Azizur sudah meninggal, dan Wilma segera membawanya ke rumah sakit. Wilma hanya mengantarkan Hesti dan mengurus administrasinya, lalu pulang setelah menyuruh Ziana untuk menjaga Hesti, awalnya Ziana menolak karena takut kalau Raisa tahu pasti akan marah, tapi Wilma terus membujuknya dan memberi jaminan bahwa Raisa tak akan memarahinya.

     Ziana melihat tangan Hesti bergerak-gerak,lalu dilihatnya juga netra Hesti yang sedikit terbuka, karena tak tahu apa yang harus dilakukan, Ziana menekan tombol lonceng untuk memanggil suster .

     "Tadi Ibu ini bersuara dan tangannya bergerak Sus," ucap Ziana ketika suster datang dan bertanya apa masalahnya. Suster yang bernama Susi itu mengangguk dan tersenyum lalu memeriksa kondisi Hesti.

     Ziana memperhatikan suster yang sedang memeriksa Hesti, dalam hatinya merasa sakit mengingat semua perkataan neneknya tadi. Dia tak menyangka wanita selembut Hesti begitu tega menelantarkan dirinya di rumah sakit.

     "Bang Aziz, bang Aziz," lagi-lagi Hesti memanggil nama suaminya.

     "Maaf Dek, kalau boleh tahu, bang Aziz itu siapa? Kalau bisa bawalah beliau ke sini, untuk membantu pemulihan bu Hesti," tanya suster Susi yang membuat Ziana bingung.

     "Maaf Sus, saya nggak bisa," kata Ziana pelan. Suster Susi heran mendengar ucapan Ziana.

      " Ini untuk membantu kesembuhan bu Hesti Dek, dari tadi bu Hesti memanggil nama itu, tolong ya Dek," ujar suster Susi lembut.

     "Suster Susi yang cantik, bagaimana bisa saya memanggil pak Aziz di dalam kuburnya? Pak Aziz itu suami Bu Hesti, juga ayah saya dan beliau sudah meninggal pas saya lahir, tujuh belas tahun yang lalu," tutur Ziana dengan raut muka dibuat-buat sedih. Mendengar penuturan Ziana, netra suster Susi membulat, dan suster itu menakupkan telapak tangannya ke mulutnya yang ternganga karena terkejut.

     "Ma-maafkan saya Dek, saya nggak tahu," kata suster Susi lirih.

     "Nggak apa-apa Sus, santai saja, semua sudah takdir," ujar Ziana santai.

     Karena Hesti belum juga sadar, suster Susi pergi dan sebelumnya berpesan kepada Ziana untuk menghubunginya jika butuh pertolongan.

     " Kamu siapa," suara serak dan berat terdengar tepat di telinga kanannya membuat Ziana terkejut, gawai yang dipegangnya hampir saja jatuh. Ziana mendongakkan kepalanya, seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun berdiri tepat di sebelah kursi di mana dia duduk.

     "Sa-saya yang menjaga Bu Hesti," jawab Ziana asal-asalan.

     " Kenapa istri saya bisa seperti ini,apa yang kamu lakukan?" tanya lelaki itu, dia menatap Ziana dengan tajam, roman wajahnya tampak marah.

     "Saya nggak apa-apakan, dia pingsan sendiri waktu belanja di minimarket, saya hanya bantu menjaganya," ujar Ziana dengan berani. Dalam hati merasa kasihan kalau ibu kandungnya mempunyai suami yang galak dan kasar.

     "Awas ya kalau kamu mau ambil kesempatan," lelaki itu berkata sambil menunjuk wajah Ziana. Melihat sikap lelaki yang tak tahu terima kasih membuat Ziana marah.

     " Bapak yang terhormat, saya nggak kenal istri dan keluarga anda, tapi karena istri anda pingsan di minimarket milik keluarga saya, jadi saya bertanggung jawab dengan mengantarkan dan menjaga istri anda, dan asal anda tahu, semua biaya administrasi sudah kami bayar, jadi atas dasar apa anda bilang saya mengambil kesempatan?" kata-kata Ziana yang lantang membuat lelaki itu terkejut. Dalam hatinya merasa lega dan tenang setelah mendengar biaya administrasinya sudah dibayar.

     "Orang sudah ditolong bukan berterima kasih malah menuduh," bisik seseibu, beliau sedang duduk menunggu keluarganya yang sedang sakit.

     "Nggak usah ngurusin hidup orang Bu, urus tu keluarganya yang sakit," kata lelaki itu dengan tatapan sinis ke arah seseibu itu.

     Mendengar perkataan lelaki itu Ziana mencibirkan bibirnya ke arah lelaki itu,melihat tingkah Ziana, seseibu tadi tak dapat menahan tawanya. Lelaki itu menyadari kalau Ziana sedang mengejek dirinya, dia  menatap bengis ke arah Ziana dan seseibu itu secara bergantian, suasana menjadi tegang.

     "Ziana, pulang!" terdengar suara memanggil Ziana memecah keheningan dan ketegangan dalam ruangan tersebut. Ziana terkejut melihat kedatangan Raisa dan Wilma secara tiba-tiba. Raisa menatap sekilas ke arah Hesti yang masih terbaring dengan mata terpejam.

    " Ziana!" untuk yang ke sekian kalinya Ziana terkejut. Gegas dia bangun dari duduknya dan melangkah menghampiri kakaknya.

     "Tunggu apa lagi, ayo pulang!" titah Raisa tegas. Ziana dan Wilma beriringan melangkah keluar.

     Lelaki yang dari tadi diam terlihat mengernyitkan dahinya, seperti sedang mengingat sesuatu.

     "Tunggu!" teriak lelaki itu sambil mengejar Ziana.

     " Ada apa Pak?" tanya Raisa datar.

     " Itu, itu Ziana anaknya Hesti dan Azizur?" tanya lelaki itu sambil menunjuk Ziana. Wilma dan Ziana menghentikan langkahnya ketika mendengar lelaki itu menyebut nama Ziana.

     "Hesti yang mana maksud bapak?" tanya Raisa, melihat dari sikapnya Raisa tahu lelaki itu punya tujuan buruk terhadap keluarganya.

     " Nggak usah pura-pura, saya yakin pasti itu Ziana anaknya Hesti," kata lelaki itu dengan suaranya yang keras.

     " Kalau memang benar itu anaknya Hesti, kenapa dia ada bersama saya?" tanya Raisa tak kalah keras.

     "Mas Agus!"

     Lelaki itu, Raisa, Wilma dan Ziana serentak menoleh ke arah suara yang terdengar lemah, di depan pintu ruangan Hesti berdiri menyandarkan tubuhnya di tembok.

     "Mbak Raisa benar, Ziana itu bukan anakku!" kata Hesti, dia terpaksa mengatakan itu karena tahu suaminya yang bernama Agus itu mempunyai rencana jahat terhadap Raisa dan keluarganya.

     "Jangan bohong Hesti!" hardik Agus dengan muka merah padam, dia menghampiri Hesti dengan tangan kanan mengepal.

     Plak!

     Satu tamparan mendarat di pipi kanan Hesti. Belum puas satu tamparan, Agus mengangkat tangannya lagi.

     Hup!

     Sebuah tangan kekar menangkap dan menahan gerakan tangan Agus.

     "Jangan kasar terhadap wanita,Bung!"

    

    

    

    

    

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel