Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6. Hesti Datang Lagi

" Ha ha ha, kena jebakan batman semua jadi panik," seru Jefri sambil tertawa terpingkal-pingkal.

" Kak Jefri jahat," kata Ziana dengan ketus dan wajahnya cemberut.

"Habisnya orang datang dari jauh bukannya disambut, malah pada diam dan cuek," sahut Jefri membela diri.

" Kalau memang nggak ada keperluan, silakan keluar," ujar Wilma pelan tanpa memandang Jefri. Ziana yang mendengar ucapan kakaknya diam-diam mencuri pandang ke arah Jefri, ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh pria yang telah mengusik hatinya itu.

Sejak pertama kali melihat Jefri, diam-diam Ziana tertarik dan menaruh hati padanya, tapi Ziana menyimpan dan memendam perasaannya dalam hati, karena dia tahu Jefri pacar kakaknya.

"Tega ya kamu Wil, jauh-jauh aku datang hanya untuk menemuimu, tapi kamu malah mengusirku," sahut Jefri dengan wajah serius, berbeda dengan waktu pertama datang tadi penuh canda dan ceria.

" Oh ya? Datang dari jauh hanya untuk menemuiku, nggak salah dengar kan telingaku?" tanya Wilma dengan ketus. "Satu tahun lebih, anda ke mana?" sambungnya lagi. Wilma menyebut Jefri dengan kata 'anda' berbeda dengan waktu hubungannya sedang mesra-mesranya Wilma memanggilnya 'mas'.

" Setidaknya dengarkan penjelasanku dulu Wil, jangan memutuskan sepihak!" ujar Jefri masih berusaha membela diri. "Dan sedikitpun kamu nggak bertanya apa dan kenapa aku sampai pergi tanpa mengabarimu."

"Kenapa harus saya yang bertanya? Anda tak tahu bagaimana keadaan saya waktu anda menghilang satu tahun yang lalu, saya bagaikan orang gila, mencari keberadaan anda dan anda sedikitpun tak memberi kabar, bahkan nomer saya anda blokir, akhirnya saya pasrah. Dan sekarang hidup saya sudah tenang, anda tiba-tiba datang dan justru menyalahkan saya, apa maksud anda?" tutur Wilma sambil menahan emosi, dia berusaha untuk tegar dan tak menangis di hadapan Jefri.

"Aku nggak menyalahkanmu Wil, tapi tolong dengar dulu penjelasanku,"kata Jefri.

" Kenapa baru mau menjelaskan sekarang, kenapa nggak dari dulu ketika masih ada rasa di hati saya? Sekarang percuma saja anda menjelaskan, walau seribu alasan, rasa saya sudah mati untuk anda," tukas Wilma, mendengar perkataan Wilma, Jefri terdiam.

Jefri berpikir usahanya akan sia-sia kalau sekarang diteruskan untuk membujuk Wilma. Akhirnya dia berdiri dari duduknya dan pamit, dalam hatinya dia berjanji akan datang untuk membujuk Wilma lagi.

"Kak Jefri!" sebuah suara menghentikan langkah Jefri yang sedang berjalan di antara etalase-etalase yang ada dalam minimarket. Jefri mengernyitkan dahinya ketika melihat Ziana datang menghampirinya.

"Ada apa Zi, tadi waktu di dalam diam saja, sekarang kakak pergi dicari," ujar Jefri menggoda Ziana.

"Idih, siapa juga yang nyari kakak, jangan gede rasa deh," tukas Ziana ketus.

" Terus kenapa manggil kakak?"tanya Jefri sambil mengedip-kedipkan netranya, masih menggoda Ziana.

" Kenapa kakak jadi laki-laki lembek banget?" tanya Ziana sambil mencibir, netra Jefri terbeliak mendengar pertanyaan Ziana yang menurutnya aneh.

"Lho, lho kok kamu bilang kakak lembek pakai banget, atas alasan apa?" tanya Jefri, dia pura-pura marah dengan memasang wajah masam dan membeliakkan netranya.

Melihat itu sedikitpun Ziana tak merasa takut.

" Ya memang kakak lembek, nggak bisa membujuk mbak Wilma," kata Ziana , lagi-lagi gadis itu mencibirkan bibirnya ke arah Jefri. Melihat tingkah Ziana Jefri tergelak, dia merasa sangat terhibur dengan tingkah Ziana yang lucu.

" Kakak bukan lembek, tapi mbak Wilmamu itu yang keras kepala Zi," kata Jefri sambil mengambil gawainya yang berada di saku celana, dan pria itu bergegas pergi setelah membaca sebuah pesan dari seseorang.

" Kakak pergi dulu, kapan-kapan kakak ke sini lagi," pamitnya pada Ziana yang masih berdiri di tempatnya. Ziana menanggapi dengan cibiran bibirnya.

"Ziana!"

Deg!

Ziana menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Wanita itu datang lagi dan sedang berjalan pelan menghampirinya. Ziana ingin pergi menghindari wanita itu, tapi dalam hatinya melarang.

"Ibu tolong jangan peluk-peluk saya lagi ya, saya geli dan sesak nafas," pinta Ziana dengan jujur dan polos. Wanita itu tertawa mendengar permintaan Ziana

" Nggak, Ibu nggak akan peluk- peluk lagi, Ibu cuma mau ngobrol sebentar sama Ziana, oh ya nama saya Hesti" ujar wanita itu.

Dia menatap Ziana dari atas ke bawah, lalu pandangannya beralih ke bagian leher Ziana, dia ingin memastikan Ziana ini anaknya atau bukan. Dia masih ingat, kalung yang dulu dia tinggalkan kepada anaknya. Ziana yang merasa diperhatikan menjadi risih dan salah tingkah. Timbul bermacam-macam di benaknya.

" Jangan-jangan Ibu Hesti ini sukanya sama yang sejenis, dan dia sudah jatuh cinta sama diriku yang cantik ini, hiii geli," kata Ziana dalam hati, mendadak bulu kuduknya merinding.

"Ibu kenapa lihat saya terus, jangan jatuh cinta ya, saya ini perempuan, sama jenis dengan Ibu," ucap Ziana polos. Hesti yang mendengarnya terkesiap, lalu mundur selangkah, kemudian tertawa terbahak-bahak sambil menutup mulutnya.

"Kamu ada-ada saja Ziana, kamu sangat lucu," kata Hesti di sela-sela tawanya.

" Kalau begitu saya pergi dulu , silakan lanjutkan berbelanja," ujar Ziana sopan, dalam hatinya merasa takut melihat keanehan Hesti yang dari tadi terus saja menatapnya, ditambah peluk-peluk dan sekarang tertawa sendiri.

"Eh, ada apa yang menempel di kerah bajumu itu Ziana?" lagi-lagi Hesti membuat Ziana terperanjat. Langkah Ziana terhenti ketika tangan Hesti memegang pundaknya.

"Aw-aw, ada apa Bu?" jerit Ziana sambil meloncat-loncat ketakutan. Wajahnya mendadak pucat. Dia memang sangat geli dan takut dengan berbagai macam serangga. Beberapa pengunjung minimarket yang sedang berbelanja terheran-heran melihat Ziana, bahkan ada yang datang menghampiri dan bertanya.

"Ada apa Mbak?" tanya seseibu yang baru saja datang.

"Nggak ada apa-apa Bu, tadi seperti ada sesuatu yang menempel di bajunya, ternyata saya salah lihat," jawab Hesti menjelaskan kepada seseibu itu setelah berhasil menenangkan Ziana.

"Maafkan Ibu sudah membuatmu kaget dan takut," kata Hesti, Ziana hanya menganggukkan kepalanya. Hesti menahan gejolak hatinya, rasanya ingin memeluk gadis di depannya erat-erat, tapi dia takut Ziana berpikiran negatif terhadapnya seperti yang dikatakannya tadi, bahwa dirinya dan dia sama-sama perempuan, jadi dilarang jatuh cinta.

"Ziana pulang kerja jam berapa?" tanya Hesti mengalihkan pembicaraan. Dia mengira bahwa Ziana salah seorang karyawati di minimarket tersebut.

"Kerja?" Ziana tak menjawab pertanyaan Hesti, tapi justru balik bertanya. Hesti pun bingung mendengar pertanyaan Ziana.

"Iya, bukankah kamu kerja di sini, nggak mungkin kan kamu seharian di sini hanya untuk jalan-jalan atau berbelanja?"ujar Hesti. Ziana terperangah mendengar perkataan Hesti. Tiba-tiba muncul ide di kepala Ziana untuk mencari alasan agar bisa pergi dari Hesti tanpa harus menyinggung perasaan wanita itu.

     "Iy- iya Bu, hampir lupa ini sudah hampir waktunya pulang, saya mau ke dalam ambil tas saya," kata Ziana sambil berdoa dalam hati semoga Hesti tak curiga. Ziana merasa lega melihat Hesti menganggukkan kepalanya. Dengan langkah pelan tapi pasti Ziana meninggalkan Hesti yang masih saja menatapnya dengan tatapan sendu.

     "Ziana!" lagi-lagi sebuah suara menghentikan langkah Ziana, dan itu bukan suara Hesti. Ziana dan Hesti menoleh serentak, mencari sumber suara tadi.

     "Nenek!" seru Ziana .

     "Ib-Ibu?" seru Hesti.

      Tiga wanita berbeda generasi itu bertukar pandangan.

    

    

     

   

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel