Bab 5. Jefri Datang
"Raisa! Sudah gila kamu!" pekik Bu Lasmini sambil berlari dan mengambil buntalan kain bedong tersebut, dan alangkah terkejutnya dia setelah tahu apa isi buntalan kain tersebut.
Perempuan gila sialan, ke mana bayi itu dibawa?" umpat Bu Lasmini sambil mencaci maki yang entah ditujukan kepada siapa.
"Mbak Nur, ayo kita pulang saja, nggak ada gunanya kita mencari di sini, setelah ini kita lapor ke pihak berwajib," kata Raisa sambil beranjak pergi meninggalkan Bu Lasmini yang masih bingung mencari Ziana.
Atas izin Raisa, Nur berjalan cepat mendahului Raisa, karena terlihat awan gelap, Nur khawatir hujan turun tiba-tiba, sementara banyak jemuran di halaman rumahnya.
Sesampai di rumah, Nur terkejut melihat kereta dorong Ziana berada di depan pintu, dan di dalam kereta itu bayi mungil yang dicari-cari tadi sedang tidur nyenyak.
"Bu Raisa ... Bu, Ziana ada di sini!" teriak Nur memanggil Raisa dan Bu Lasmini yang masih berada di jalan tak jauh dari rumahnya.
Kedua wanita beda generasi tersebut terkejut, dan mereka serentak mempercepat langkahnya.
Raisa bernafas lega setelah melihat keadaan Ziana tak kurang suatu apa, dan dia tak mau mempermasalahkan bagaimana ceritanya Ziana berada lagi di rumahnya.
Tanpa diketahui oleh mereka, tanpa sengaja Hesti memergoki Bu Lasmini menyerahkan Ziana kepada Resti. Dan Hesti membujuk Resti untuk menyerahkan Ziana kepadanya, dengan imbalan yang lebih daripada yang dijanjikan Bu Lasmini.
Hesti sengaja menyerahkan bayi tersebut kepada Raisa, dan dia tak tahu bahwa Azizur sudah meninggal, jadi menurutnya Ziana akan lebih aman kalau bersama Raisa dan Azizur.
Tujuh belas tahun berlalu, dengan susah payah Raisa membesarkan Ziana, bukan karena masalah biaya atau materi, tapi Raisa masih belum bisa melupakan rasa sakit hatinya mengingat pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya.
Melihat wajah Ziana, menambah sakit dan luka hati Raisa. Berbagai cara untuk melupakan apa yang telah dilakukan oleh suaminya, tapi dengan adanya Ziana hidup bersamanya, luka di hati Raisa selalu berdarah dan bernanah.
Ziana tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan lincah, dan periang, berbeda dengan Wilma yang pendiam dan serius dalam segala hal.
Wilma sangat menyayangi Ziana, walaupun seringkali Raisa mengingatkan bahwa Ziana bukanlah adiknya.
Bagi Raisa, rasanya sangat sulit untuk menyayangi Ziana secara ikhlas, seperti menyayangi anak kandungnya sendiri.
Seperti pagi ini, Raisa murka saat melihat Ziana berpakaian rapi, tak seperti biasanya.
"Makin lama makin lancang kamu ini!" hardik Raisa tanpa basa basi.
"Mak-maksud ibu apa, saya salah apa?" tanya Ziana dengan suara terbata-bata, kepalanya tertunduk tak berani menatap wajah Raisa.
"Aku bukan ibumu!"
"Berani-beraninya kamu ambil barang-barang Wilma, sudah berani maling kamu ya?" cecar Raisa keras.
"Ada apa sih Bu, pagi-pagi kok marah-marah?" tanya Wilma yang baru keluar dari kamarnya.
Raisa terbeliak melihat pakaian yang dikenakan Wilma hampir sama coraknya dengan pakaian Ziana. Celana kulot model payung dengan motif bunga kecil.
"Itu buksnkah baju kamu?" tanya Raisa sambil menunjuk ke arah Ziana.
"Oh, itu ... aku memang sengaja beli dua Bu, buat aku satu, buat Dek Zi satu, biar seperti anak kembar Bu, he he," tutur Wilma sambil berseloroh untuk mencairkan suasana.
Mendengar penuturan Wilma, Raisa mendengus kesal, kemudian beranjak pergi meninggalkan Wilma dan Ziana.
"Ayo Dek!" Wilma menggandeng tangan Ziana.
"Siapa yang nyuruh kamu naik?" bentak Raisa saat Ziana naik ke mobilnya.
"Bu, aku yang ajak Dek Zi ikut ke toko, kasihan dia bosan di rumah. Sementara belum mulai kuliah, biar saja dia bantu aku!" ucap Wilma sambil menahan Ziana yang hendak keluar dari mobil.
"Awas kalau nanti menyusahkan!" cetus Raisa kasar.
"Nggak Bu, aku yang jamin!" ucap Wilma pasti.
"Dek, kamu mau ikut kakak ke dalam atau mau lihat-lihat dulu?" tanya Wilma setelah mereka sampai dan masuk ke dalam mini market yang dikelola oleh Wilma.
"Aku mau bantu-bantu Mbaknya itu boleh?" tanya Ziana sambil menunjuk ke arah salah satu pekerja yang sedang menyusun minyak goreng.
"Boleh, asal jangan ganggu Mbaknya kerja!" sahut Wilma sambil mengenalkan Ziana kepada Murni, pekerja tersebut.
"Tapi nanti Ibu nggak marah kan Mbak?" tanya Ziana dengan rasa waswas dan takut.
"Ibu nggak ada di sini Dek, bukankah kamu tahu tadi Ibu nggak turun dan masuk sini?"
"Mbak Mur, tolong ajari adik saya, biar saja dia bantu-bantu," ucap Wilma sebelum pergi masuk ke ruangannya.
"Baik Bu!" sahut Murni, lalu memanggil Ziana untuk mendekatinya.
"Wah, Mbak Ziana biarpun anak bos nggak malu bantu-bantu kita," ucap Yani, teman Murni memuji Ziana yang memang gesit dalam mengerjakan apa saja.
Mendengar nama Ziana, seorang wanita berwajah cantik yang sedang sibuk memilih mie instant itu terkesiap, sontak dia menatap ke arah Ziana, dan menelisik wajahnya diam-diam.
"Mbak Ziana!"
Ziana menoleh ke arah wanita yang memanggilnya, kedua alis Ziana tertaut, dia merasa heran dari mana wanita itu tahu namanya.
"Ibu memanggil saya?" tanya Ziana kurang yakin.
Wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum.
"Ibu dari mana tahu nama saya?" tanya Ziana dengan wajah polosnya.
"Tadi dengar Mbak itu manggil nama Mbak," jawab Raisa sambil menunjuk ke arah Yani.
"Mbak kerja di sini?" tanya wanita itu lagi.
"Eh, iy-iya," jawab Ziana berbohong.
"Mbak, boleh nggak saya lihat telinga Mbak," tanya wanita itu tanpa basa basi, yang tentu saja membuat Ziana heran dan bingung.
"Nggak boleh Bu, maaf ... Ibu kok mintanya aneh!" tolak Ziana dengan tegas.
"Maaf Mbak, mungkin ini permintaan anak saya yang di dalam perut, sejak saya lihat Mbak tadi, rasanya pingiiin banget lihat telinga kiri Mbak!" ucap wanita itu yang semakin membuat Ziana bingung.
"Jadi Ibu ini sedang hamil? Terus ngidam pingin lihat telinga saya, gitu?" tanya Zians sambil menatap wanita itu dengan tatapan tajam.
Wanita itu hanya mengangguk, matanya berkaca-kaca, yang tentu saja membuat Ziana merasa kasihan.
"Ya sudah Bu, ini telinga saya, dilihat saja ya Bu, jangan digigit," ucap Ziana dengan gaya lucunya, sontak wanita itu tertawa geli dan gemas.
Dengan pelan wanita itu menyibak rambut yang menutupi telinga Ziana.
"Anakkuuuu, kamu anakkuu!" tiba-tiba wanita itu menjerit histeris setelah melihat telinga kiri Ziana.
"Aduh ... duh... duh, saya sesak nafas Bu, tolong lepaskan!" ucap Ziana sambil meronta berusaha melepaskan diri saat wanita itu memeluknya dengan erat.
"Ibu ... ibu gembira sekali Nak, kamu sangat cantik!" ucap wanita itu sambil menangis, dia baru saja mau memeluk Ziana lagi ketika ada seorang lelaki datang dan menarik tangannya dengan kasar.
Wanita itu mengikuti langkah lelaki itu dengan terpaksa, matanya tak lepas dari menatap Ziana yang dari tadi terpana dan bingung.
"Permisi Mbak!"
Belum habis rasa heran dan bingung Ziana, datang seorang lelaki berwajah tampan menghampirinya.
"Perkenalkan, nama saya Jefri, saya sedang mencari Bu Wilma, karena dia punya hutang kepada saya yang sampai sekarang belum dibayar"
