Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4. Ziana Hilang

      "Ada apa lagi sih Mbak, dari tadi bikin orang jantungan terus!" sahut Raisa dengan sedikit emosi.

    "Non Ziana...non Ziana hilang Bu!" ucap Nur dengan bibir dan tubuh gemetar karena ketakutan.

      Raisa tersentak, bergegas wanita itu beranjak dan berlari keluar, ditinggalkannya Wilma yang masih terbaring di atas ranjangnya, Nur yang berdiri di depan pintu kamar Wilma hampir jatuh tersungkur karena tertabrak oleh Raisa.

      "Siapa yang masuk ke sini tadi Mbak? Bukankah saya bilang pintunya di kunci!" suara Raisa keras dan lantang karena murka, matanya merah menatap Nur yang semakin ketakutan.

     "Su-sudah sayyya kunci tadi Bu," sahut Nur pelan, dalam hatinya merasa heran, dia yakin tadi sebelum ke dapur untuk bikin susu, dia mengunci pintu terlebih dahulu, dan kuncinya pun di gantungkan di tempat biasanya.

       "Mana dikunci, buktinya itu terbuka lebar-lebar!" bentak Raisa keras, wanita itu benar-benar marah.

      "Terus kenapa kamu nggak bawa bayi itu ke kamar Mbaaak?" tanya Raisa lagi, masih dengan amarahnya.

       "Sa-saya ke dapur sebentar bikin susu, dan waktu mau saya bawa ke kamar sudah nggak ada Bu," dengan perasaan takut Nur menjelaskan kejadian yang sebenarnya.

      "Saya nggak mau tahu Mbak, pokoknya cari bayi itu sampai ketemu!" titah Raisa tegas dan keras.

       "Ma-maafkan saya Bu, saya nggak tahu harus nyari ke mana, hu hu hu," karena takut dan bingung Nur menangis tergugu.

       Melihat itu Raisa justru semakin marah dan kesal.

      "Nggak usah nangis Mbak, pokoknya dicari sampai ...,"

       "Ada apa sih dari tadi ribut?"

      Raisa dan Nur terkejut saat melihat bu Lasmini tiba-tiba muncul dari belakang.

       "Ibu? Sejak kapan ibu datang?" tanya Raisa heran, dia menatap ibu mertuanya itu dengan benak penuh tanda tanya.

       Sementara Nur yang sudah reda tangisnya menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.

       "Suka-suka ibu mau datang kapan, kamu nggak usah sok perhatian, toh ini juga rumah anak lelakiku!" jawab bu Lasmini dengan ketus, matanya melirik ke arah Nur yang masih tampak ketakutan.

        "Muka kamu kenapa seperti orang bingung?" tanya bu Lasmini yang ditujukan kepada Nur.

       "Sa-saya, saya...,"

       "Bingung nyari bayi sial itu? Iya kan?" pertanyaan bu Lasmini sontak membuat Raisa dan Nur membeliakkan kedua matanya.

      "Ibu tahu di mana bayi itu? Ibu yang mengambilnya kan?" Raisa bertanya tanpa basa-basi. Dia merasa yakin ibu mertuanya yang membawa Ziana, karena hanya ibu mertuanya itu yang mempunyai duplikat kunci rumahnya.

       "Heh! Menantu nggak becus, jangan menuduh sembarangan, kamu pikir aku ambil bayi sial itu untuk apa?" sergah bu Lasmini, wanita paruh baya itu mendekati Nur dan merebut botol susu yang dipegang Nur dari tadi.

       "Jadi benar kan ibu yang ambil bayi itu, sekarang di mana Bu?" tanya Raisa dengan suara yang semakin lunak, dia menatap wajah ibu mertuanya dengan tatapan heran.

       "Biar aku yang urus bayi sial itu, kamu nggak usah ikut campur!" hardik bu Lasmini ketika menantunya mengikuti langkahnya.

       "Apa yang akan ibu lakukan?" tanya Raisa dengan perasaan khawatir dan waswas. Dia merasa tak yakin bu Lasmini mau merawat Ziana, karena ibu mertuanya itu selalu menyebutnya bayi sial.

        "Sudah ku bilang bukan urusanmu!" bentak bu Lasmini keras sambil menoleh ke arah Raisa.

       Raisa terus mengikuti langkah bu Lasmini dengan tergesa-gesa. Nur yang merasa bersalah atas hilangnya Ziana juga mengikuti kedua majikannya itu dengan perasaan berdebar-debar, dalam hatinya tak berhenti berdoa agar Ziana bisa ditemukan kembali.

      "Ibu mau ke mana sih?" tanya Raisa heran saat mereka sudah berjalan agak jauh dari rumahnya.

        Langkah bu Lasmini berhenti, wanita paruh baya itu membalikkan badannya, tatapan matanya sengit ke arah Raisa dan Nur secara bergantian.

       "Heh! Ternyata kalian nggak punya telinga, dari tadi aku bilang jangan ikut campur!" bentaknya.

       "Saya nggak ikut campur urusan ibu, tetapi saya dan mbak Nur mau mencari Ziana, anak mas Azizur!" sahut Raisa tak kalah sengit.

       "Bu Raisa, jangan begitu sama orang tua," ucap Nur lirih mengingatkan majikannya.

       Raisa melirik sekilas ke arah asistennya, dalam hati sebenarnya menyesal telah bicara kasar dengan ibu mertuanya, tapi menurutnya ibu mertuanya sudah keterlaluan.

       "Nah itu dengar apa kata Nur, dia yang pembantu saja lebih tahu sopan santun!" cecar bu Lasmini yang ternyata mendengar ucapan lirih Nur tadi.

        "Sudahlah Mbak, nggak usah perdulikan ibu, lebih baik kita lanjutkan mencari Ziana!" Raisa mengajak Nur sambil menarik tangannya.

        "Kalian mau ke mana?" tanya bu Lasmini keras saat Raisa dan Nur beranjak pergi meninggalkannya.

       "Kami mau mencari Ziana, dan ibu nggak perlu ikut campur!" balas Raisa datar.

       "Bu, bu Lasmini!"

        Raisa dan Nur menoleh ke arah suara yang memanggil bu Lasmini. Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun muncul dari balik sebuah pohon besar yang ada di pinggir jalan. Wanita itu mendekap sebuah buntalan kain.

       Bu Lasmini terkejut dan salah tingkah, dia menatap wanita yang tadi memanggilnya dengan wajah panik dan gusar.

       "Eh, ka-kamu siapa?" tanya bu Lasmini gugup, dia mengedipkan sudut mata kanannya untuk memberi isyarat.

      "Loh, ibu ini gimana to, masa ndak kenal saya, saya ini Resti, wong baru tadi ketemu kok sudah lupa!" sahut wanita yang bernama Resti itu dengan polos, ternyata dia tak paham isyarat mata bu Lasmini.

       "Maaf mbak Resti, boleh saya tahu apa yang dalam kain itu?" tanya Raisa menyela pembicaraan mereka.

      "Raisa, nggak sopan kamu, berani-beraninya mengganggu orang lain!" bu Lasmini berusaha menghalangi niat Raisa.

        "Saya hanya ingin tahu Bu, nggak ada salahnya kan?" Raisa membela diri, lalu mendekati Resti yang masih bingung melihat sikap bu Lasmini.

       "Eh kamu! Lebih baik kamu pergi dari sini, cepat!" sergah bu Lasmini sambil mendelikkan mata ke arah Resti yang masih bingung.

      "Tapi Bu?" Resti bertanya sambil menatap ke arah Raisa yang semakin dekat dengannya.

       "Saya bilang pergi ya pergi, jangan membantah!" hardik bu Lasmini dengan suara lantang.

      Wanita bernama Resti itu kebingungan, dia menatap bu Lasmini dan Raisa secara bergantian.

      "Mbak Resti, jangan takut, saya nggak berniat jahat, saya hanya ingin tahu apa yang ada dalam kain itu," ucap Raisa dengan nada lembut dan hati-hati.

      "Maaf Bu, bilang aja terus terang kalau kita sedang nyari bayi yang hilang," Nur yang dari tadi hanya menyimak dengan cemas, akhirnya memberanikan diri bersuara.

      Raisa mengerutkan dahinya, dia menatap Nur sekejap lalu membalas ucapan asistennya tadi dengan sebuah anggukan.

       Melihat gelagat Raisa dan Nur, bu Lasmini bergegas mendekati Resti yang masih diam tak bergeming dan mendekap buntalan kain tadi.

       "Heh, kamu sudah bikin gagal rencana ku!" bisikan bu Lasmini sengit tepat di telinga kanan Resti.

        Mendengarnya, hati Resti menciut, badannya gemetar karena ketakutan. Bayangan lembaran-lembaran uang yang dijanjikan oleh bu Lasmini sirna.

       "Ta-tapi Bu, saya ndak ngerti maksud ibu gimana?" sahut Resti lirih, dengan bibir gemetar.

      "Sudah nggak usah banyak tanya!" bentak bu Lasmini sambil merampas buntalan kain dalam dekapan Resti.

      Raisa tersentak melihatnya, sontak wanita itu bergerak cepat merampas buntalan kain yang belum sempat berpindah ke tangan bu Lasmini.

       "Menantu sial, menantu kurang ajar!" pekik bu Lasmini murka, karena gagal merampas buntalan kain tersebut.

       Raisa bernafas lega, dia berhasil merampas buntalan kain yang dia yakin isinya adalah Ziana, dengan erat dia mendekapnya dan tanpa membuang waktu membawanya pergi, tanpa menghiraukan mertuanya yang berteriak sambil memaki dirinya.

        "Alhamdulilah, akhirnya kita berhasil Bu," ucap Nur sambil berjalan terengah-engah mengikuti langkah Raisa.

       Mendadak Raisa menghentikan langkahnya, jantungnya berdesir hebat, dengan perlahan wanita itu membuka buntalan kain yang dari tadi didekapnya.

       Bugh!

       Raisa membanting buntalan itu dengan sekuat tenaga.

        "Jangan Buuu!" Nur menjerit histeris, dia tak menyangka majikannya begitu tega.

      "Raisa! Sudah gila kamu!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel