Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Penilaian

"Setiap bertemu saling menyapa lalu Pak Hans tanya tentang pekerjaan Kak Loly dan ketika Kak Loly tidak membawa bekal maka makan di kantin bertemu Pak Hans akhirnya makan bersama"

"Pekerjaan...Pak Hans ingin evaluasi sejauh mana aku sudah bisa. Ketika bertemu yang menyapa lebih dulu aku. Di kantin hanya kebetulan saja"

"Ada lagi"

"Apa?"

"Pak Hans mengatakan wajah Kak Loly familiar"

"Tentang itu aku juga tidak mengerti"

"Padahal aku belum selesai bicara"

Loly tersenyum heran.

"Kamu seperti mengintimidasi aku"

"Aku memang sangat ingin tahu hubungan antara Pak Hans dan Kak Loly. Penasaran saja. Kenapa Kak Loly sering berhubungan dengan Pak Hans?"

"Berhubungan?"

"Maksud aku...ada saja yang membuat Kak Loly bertemu dengan Pak Hans"

"Satu kantor. Wajar, bukan? Kamu dengan Pak Linus juga selalu bertemu"

"Beda. Aku memang sekretaris Pak Linus jadi apapun pekerjaan aku berhubungan dengan Pak Linus"

"Baiklah. Baiklah. Apa jadi maksud kamu? Aku dan Pak Hans berjodoh. Aku saja tidak berpikir sejauh begitu" kata Loly dengan tertawa pelan hanya sebentar.

"..."

"Konyol" kata Loly tersenyum heran.

"Kenapa lalu Pak Hans sering mencuri pandang kepada Kak Loly?"

"Apa Pak Hans kurang pekerjaan sehingga mencuri pandang kepada aku? Stella, aku cerita Pak Hans meneliti cara aku bekerja. Jangan mengatakan dengan bahasa beda" kata Loly dengan tertawa pelan hanya sebentar.

"Apa yang dibicarakan di kantin?"

"Pekerjaan. Kami saling bicara memang karena pekerjaan bukan hal lain"

"Apa yakin? Bukan hal pribadi?" goda Stella dengan tersenyum.

"Stella" tegur Loly.

Stella tersenyum dengan tatapan menggoda Loly.

"Kamu mulai menggoda aku"

"Tidak. Aku mengerti hubungan kalian hanya sebagai Direktur dan karyawan"

"..."

"Ada lagi yang belum diceritakan aku"

"Apa lagi?"

"Pak Hans sering datang ke Star Spagethi"

"Mengambil pekerjaan yang sudah dikerjakan Nina"

Stella tersenyum dengan pandangan beda dan Loly merasa heran.

"Bagaimana bisa Kak Loly tahu?"

"Pak Hans yang cerita ketika di kantin"

Stella menggelengkan sebentar kepala dengan sikap yang Loly paham yaitu menggoda dirinya.

"Apa ada Direktur yang mendadak cerita sendiri kepada karyawan tentang urusannya?"

Loly berpikir sebentar dan mengangkat bahu.

"Berarti sudah tahu nomor Pak Hans"

Loly menggeleng.

"Tidak" lanjut Loly santai.

"Kenapa?"

"Apanya?" tanya Loly dengan merasa tidak mengerti.

"Siapa tahu bicara...Loly, simpan nomor handphone saya"

"Stella" tegur Loly.

Seketika Loly tertawa konyol.

"Astaga. Mana mungkin Direktur bersikap begitu? Kecuali aku sekretaris Direktur"

Stella mengangkat bahu dengan tersenyum.

"Siapa tahu suatu hari nanti? Kak Loly dipindah ke bagian kepala admin karena Pak Hans. Suatu hari menjadi sekretaris Pak Hans karena keinginan Pak Hans" goda Stella.

Loly berhenti tertawa.

"Sembaranga. Kenapa juga Pak Hans harus begitu? Di grup kantor ada nomor Pak Hans. Kamu sungguh sembarangan. Pak Hans tidak membutuhkan sekretaris"

"Dari mana tahu? Bisa saja suatu hari nanti Pak Hans seperti Pak Venus yang membutuhkan sekretaris"

"Tidak mungkin"

Stella merasa tidak mengerti dan Loly melihat Stella.

"Pak Hans cerita bahwa dirinya tidak bisa dengan sekretaris. Jika membutuhkan bantuan langsung kepada Pak Venus atau Manajer"

"Nah...cerita lagi. Kak Loly, hubungan kalian..."

"Stella. Itu hanya antara atasan dan karyawan" potong Loly.

Stella mencibir dan masih coba menggoda Loly.

"Kak Loly, bicara jujur kepada aku"

"Apa?"

"Apa berani atau tidak?"

"Apa dulu? Coba. Apa?" tanya Loly dengan merasa ingin tahu.

"Apa Kak Loly tidak ingin memiliki pacar seperti Pak Hans?"

Loly tersentak kaget.

"Kenapa kamu berpikir jauh?"

"Jawab saja. Aku melihat Pak Hans tidak sombong. Bayangkan. Ketika Pak Hans datang ke Star Spagethi bertemu aku dan menyapa aku dengan senyuman. Apa kami kenal? Tidak. Baiklah jika memang berpikir aku adalah sekretaris Pak Linus tetapi jika dipikir kembali. Apa hubungan antara menyapa aku karena aku sekretaris Pak Linus? Biasanya Direktur dengan Direktur, bukan?"

"..."

"Selanjutnya ketika pertemuan antara Pak Linus dan Pak Hans terjadi. Ketika itu aku mau memberikan berkas kepada Pak Linus. Aku tidak sengaja melihat"

***

"Hans. Hans. Sini"

Hans berdiri di hadapan Linus dan tersenyum.

"Hey Linus"

Linus memegang dan menarik pelan tangan kiri Hans dengan semangat.

***

"Apa yang terjadi di antara mereka?"

"Apa?" tanya Loly dengan merasa ingin tahu.

"Linus, loe seperti tidak melihat gue setahun. Begitu kata Pak Hans dengan tertawa pelan lalu Pak Linus merangkul Pak Hans dan Pak Hans membalas dengan sikap hangatnya. Mereka masuk ke dalam ruang Pak Linus"

Loly berpikir.

"Jadi benar hubungan mereka sudah seperti saudara"

"Pokoknya aku melihat sikap Pak Hans tidak sok menganggap dirinya Direktur"

"Memang sepertinya keluarga Pak Venus sangat terbuka. Pak Venus lebih mengayomi lagi terhadap karyawan"

"Bagaimana jadi?"

"Apa?"

"Pak Hans juga tampan" kata Stella dengan mengangkat bahu dan tersenyum.

"Astaga, Stella. Tidak seperti biasanya kamu banyak bicara" kata Loly dengan mencibir.

"Kak Loly, ayo jawab pertanyaan aku"

"Tidak penting. Biasa saja dengan Pak Hans. Pak Hans tidak tampan, Pak Hans tidak..."

"Serius? Kak Loly, serius? Apa tidak salah? Pak Hans tidak tampan?" potong Stella dengan tertegun.

Loly merasa heran.

"Apa yakin tidak gagal fokus ketika bicara dengan Pak Hans?"

Loly tersenyum heran.

"Biasa saja. Keseharian Pak Hans di kantor memang begitu"

"Kak Loly. Kak Loly..."

Stella tidak berhenti menggoda Loly sehingga Loly menghindar dan sesekali menutup kedua telinga.

"Pak Hans tampan, terbuka, rendah hati, peduli, berwibawa..."

"Stellaaaaa" teriak Loly.

Pukul 22.30.

"Baiklah. Aku menyerah" kata Stella pelan.

"Apa yang menyerah? Kamu yang terus menggoda aku. Biasa saja" kata Loly.

Loly menghela napas pelan dan berbaring.

"Ada apa?" tanya Stella dengan melihat Loly.

"Lelah. Jujur pekerjaan aku semakin banyak"

"Tiga departemen, bukan?"

Loly mengangguk.

"Semangat" kata Stella dengan tangannya.

Loly tersenyum.

"Apalagi ada Pak Hans"

"Hmmm...mulai lagi. Nanti aku cubit pipi kamu. Kamu jadi pintar menggoda orang. Pasti tertular Pak Linus. Seharusnya aku yang menggoda kamu dengan Pak Linus"

"Kenapa begitu?"

"Apa kabar dengan Pak Linus dan kamu? Kata kamu Pak Linus sangat baik dan menghargai setiap pendapat kamu. Ke manapun sering pergi bersama. Pak Linus rendah hati"

"Tentu saja kami sering bersama. Aku sekretaris Pak Linus"

Loly tertawa pelan hanya sebentar.

"Baiklah. Baiklah"

Hari terus berlanjut. Pukul 17.30. Linus keluar dari ruang kerjanya dan melihat ruang manajer menyala lalu dari luar terlihat Stella yang masih belum pulang dan Linus berjalan masuk.

"Ternyata kamu belum pulang"

Stella berhenti melihat handphone dan melihat Linus dengan tersenyum.

"Kamu pulang saja jika sudah tidak ada pekerjaan"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel