Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

Irwan buru-buru mengelap meja dan kursi. Sudah lama sekali dia sepi pembeli. Kadang sehari semalam cuma ada dua orang datang. Kadang malah tidak ada, hanya suara-suara binatang malam yang terdengar di sekitar warung kecilnya.

“Eh, mari silakan masuk, Pak, Mas!”

Denis dan Toni berjalan masuk lalu duduk di kursi. Dua orang itu menatap ke kiri dan ke kanan. Tidak ada apa-apa di sana selain jam dinding yang sudah usang dan jarumnya berhenti karena sekak mat. Jangkrik kecil yang melompat-lompat di meja. Dan sisa-sisa debu dari lap yang digunakan untuk membersihkan meja.

Denis beberapa kali menghela napas panjang karena seperti yang dia lihat tidak ada makanan apa-apa di sana. Mungkin saja mereka salah tempat dan mengira rumah orang sebagai warung.

Di meja tidak ada air mineral, tidak ada minuman kaleng, tidak ada apa pun sama sekali. Camilan seperti pisang goreng, telur rebus, beras goreng manis juga tidak ada.

“Ada perlu apa, Pak?” tanya si pemilik warung.

“Adanya apa?” tanya Denis.

Pria itu tampak tidak mengerti, dia menoleh ke arah Toni.

“Kami mau pesan, Mas. Mas ini jualan apa di sini?” tanya Toni, jika menunggu Denis yang bicara menurutnya besok pagi percakapan soal memesan makanan mungkin baru selesai.

“Oh, jualan? Yang aku jual?”

“Iya, Mas nggak jualan?” tanya Toni.

“Ada, cuma nasi sama penyetan, Mas.”

“Ya, itu saja. Kami pesan dua, Mas.”

“Minumnya apa, Pak? Mas?”

“Air putih saja, Mas.”

Denis menoleh ke arah Toni sambil menelan ludahnya.

“Bapak mau pesan yang lain?”

“Aku kan nggak bisa makan sambel, Ton. Apa nggak ada selain penyetan?”

“Aku tanyakan dulu, Pak. Sebentar,” jawabnya. Toni bergegas bangun dari kursinya untuk mencari pemilik warung di belakang. Tampaknya dia sedang menyiapkan pesanan.

“Mas?” panggil Toni.

Pemilik warung menoleh. “Ada apa, Mas?”

“Selain penyetan apa ada menu lain?” tanyanya.

“Wah, nggak ada, Mas. Apa nggak jadi pesan? Ini tempenya terlanjur aku goreng, Mas.”

“Ya sudah, itu saja, Mas. Maaf, ya Mas sudah mengganggu. Kalau begitu aku ke depan dulu,” pamitnya.

“Iya, Mas. Silakan.”

Toni kembali duduk di kursinya.

“Ada tidak?” tanya Denis.

“Nggak ada, Pak. Gini saja nanti sambelnya jangan dimakan. Makan nasi sama lauknya saja.” Saran Toni.

Denis mengerutkan keningnya lalu tersenyum. “Bener-bener, pinter kamu Ton! Kenapa nggak bilang dari tadi, to? Harusnya kamu bilang begitu tadi kenapa malah repot-repot ke belakang? Apa kamu juga mau ninggalin aku sendiri di sini?” tanya Denis sambil menepuk-nepuk punggung Toni di sampingnya.

Toni menarik napas panjang.

Sabaaar... Sabar, sabar Toni, sabar! Kata Emak orang sabar itu muka dan pantatnya lebar.

Tidak lama kemudian, Erin datang. Wajahnya ditekuk murung. Dia membungkuk di samping Denis memeluknya erat.

Toni menggeser kursinya ke samping, sedikit menjauh khawatir kena semprot lagi.

“Papaaa! Huuuuuhuuu..”

“Ma, kenapa? Kok nangis lagi?”

“Tadi aku ke panti. Tapi tempatnya kosong melompong, nggak ada penghuninya sama sekali! Mbah Gondrong itu bagaimana to, Pa? Kita terlanjur jauh-jauh datang ke sini. Mana hari sudah gelap lagi,” keluhnya seraya menatap ke sekitar. Wajah Erin terlihat ketakutan, dia mengusap lengannya sambil mengerutkan lehernya takut ada yang nempel.

Toni menoleh ke arah luar. Di kejauhan sana, panti asuhan tersebut memang terlihat tidak berpenghuni.

“Pantesan lampunya nggak ada yang dinyalakan, jadi kosong to gedungnya?” Toni ikut menimpali.

“He’eh, kosong, takut sekali aku!” sahut Erin.

Pesanan mereka datang, pemilik warung membawa nampan lebar lalu meletakkan pesanan di meja.

“Silakan Pak, Mas,” ujarnya dengan senyum ramah,

Erin terkesima menatap pria muda dengan paras tampan sedunia. Tubuh Irwan tinggi, dan sepertinya juga berotot. Satu-dua dengan Toni si sopir, lebih tinggi dan lebih tampan Irwan. Hidung Irwan sangat mancung, rambutnya lurus, alisnya tebal, tatapan matanya lembut dan teduh. Seteduh pohon trembesi di samping warung. Itu menurut pendapat Erin pribadi.

“Mas, aku juga pesan, satu,” ujarnya sambil tersenyum malu-malu.

“Oh, iya, silakan duduk,” jawabnya ramah kemudian bergegas menyiapkan pesanan.

Saat menggoreng tempe, ponsel di sakunya berdering.

“Halo?”

“Kamu di mana, Wan?”

“Aku di warung, Pak. Ada apa?”

“Kalau ada orang yang datang bilang saja kamu satu-satunya yatim-piatu yang masih tinggal di panti.” Pesan ayah Irwan dari seberang sana.

“La, tapi Bapak kan masih hidup sampai sekarang? Lagian ibu dulu nggak ditinggal mati sama Bapak kandungku, Ibu dulu kan kawin lari sama Bapak? Yatim dari mana orang bapak kandungku juga masih hidup?” tanyanya bingung.

“Kita sudah putus hubungan sejak ibu kamu minggat dari rumah, jadi kamu bukan anakku lagi!” ketusnya dari seberang sana. Dia memutuskan teleponnya tanpa menunggu Irwan bicara.

Mbah Gondrong bersandar di dinding ranjang sambil menatap ke langit-langit kamarnya. “Semoga jalan hidupmu di masa depan lebih baik dari sekarang Le. Sebagai bapak sambungmu, aku cuma bisa bantu sampai di sini,” gumamnya seraya menarik napas panjang.

Irwan menarik napas panjang lalu menatap wajannya mulai berasap.

“Loh, gosong tempeku, waduh! Piye iki?” Irwan buru-buru mengangkatnya dari wajan.

Di ruang depan, Toni dan Denis sudah selesai makan.

Irwan baru datang mengantarkan pesanan Erin.

“Ini pesanannya, silakan,” Irwan meletakkannya di meja depan Erin.

“Kok lama sekali, Mas?” tanya Erin. Erin langsung menikmatinya.

“Ya, tempe yang sebelumnya aku goreng gosong jadi harus bikin yang baru,” jawabnya.

Toni menggeser bokongnya, sudah lama dia duduk sejak tadi bokongnya terasa panas seperti dibakar.

Irwan sedang menuang air minum ke dalam gelas lalu meletakkannya di meja Erin. Dia melirik ke arah Denis, pria tua tersebut sudah tidur sambil bersandar di dinding belakang punggungnya.

Sementara Toni, pria itu terus bergerak-gerak sejak tadi.

“Mas, kenapa? Ambeien?” Tanyanya langsung.

Toni mengerutkan keningnya, wajahnya muram. Dia berhenti bergerak lalu mencondongkan tubuhnya ke depan sambil bertanya. “Kok kamu tahu?”

“Tahu, kelihatan jelas, Mas...” jawabnya.

Erin berhenti mengunyah, dia ikut menoleh dengan ekspresi penasaran.

“Kelihatan? Dari mana?” tanya Toni dengan ekspresi ketar-ketir. Dia bahkan berdiri untuk memeriksa pantatnya karena pikir Toni mungkin saja celana yang dia pakai hari ini bolong di bagian belakang. “Masa celanaku bolong, to?” tanyanya pada diri sendiri. Perlahan tatapan matanya beralih, dari Irwan tertuju ke arah Erin. “Ibu bocorin rahasia perusahaanku?” tanyanya lirih.

Dua detik kemudian Toni memasang ekspresi sedih seperti orang yang sudah dianiaya sampai hampir meregang nyawa. Toni memegangi kemeja di dadanya sendiri sambil menatap ke arah Erin. “Salahku sama Ibu apa, to? Kok tega banget to ibu? Kebangetan Ibu sama aku! Bu, oh, hooohooh, ho,” ujarnya seraya menyeka pipinya. Bukan basah karena air mata tapi karena kepedasan makan sambel kebanyakan.

Erin menggeleng cepat lalu buru-buru memasukkan nasi ke dalam mulutnya sendiri sampai penuh. Dengan mulut penuh, Erin menggerutu, “Dasar! Kumat lagi dia, akting lagi. Sekarang Toni jadi si Tini, besok-besok jadi Nyi Blorong, kemarin jadi Lucintaluna. Aku suruh saja dia ikut lomba panjat pinang, sebentar lagi ada acara Agustusan! Kalau kecapekan pasti nggak kumat sandiwaranya.”

Irwan menatap Erin sambil mengulum senyum, lalu segera menengahi.

“Aku tahu bukan dari Mbaknya kok Mas, juga bukan dari belakang celananya,” lanjut Irwan dengan serba salah.

“Lalu dari mana?”

“Dari wajahmu Mas, kelihatan banget lagi tersiksa.”

Toni menarik napas berat.

Sabar Toon, sabaaarrr biar makin kepalamu makin lebar. Di luar rumah memang banyak ujian, di dalam rumah lebih banyak lagi.

“Di sini ada ranjang kecil, kalau mau rebahan sebentar, silakan,” tawar Irwan pada Toni.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel