Bab 5
Toni melirik ke arah Erin, wanita itu masih sibuk mengunyah nasi dalam mulutnya. Kedua pipinya terlihat menggembung dan sepertinya dia tidak akan bisa menjawab pertanyaannya. Padahal Toni ingin meminta izin untuk rebahan sebentar di atas dipan seperti yang dikatakan Irwan barusan.
“Bu, Ibu?” Panggilnya sambil menatap Erin.
Erin mengalihkan perhatiannya ke arah lain, sengaja berpura-pura tuli.
“Pasti sengaja, mau nyiksa aku lagi,” gerutunya.
Erin segera mengambil gelas air dari atas meja lalu meneguk isinya sampai habis. Dia menatap Toni dengan tatapan mata tidak berkedip. Kemudian menarik napas sebelum bicara.
“Kamu mau rebahan? Ini aku lagi pusing mikir masalah panti yang tutup! Padahal aku mau adopsi anak dari sana. Kalau gedungnya kosong melompong, aku mau adopsi apa? Tuyul?!” tanyanya dengan wajah kesal.
“Masa iya mau adopsi tuyul? Ibu nggak butuh tuyul lagi, Bapak sudah kaya.”
“Terus aku harus gimana?”
“Ya, kita tanya-tanya dulu saja Bu, sama penduduk sekitar. Mungkin saja ada yang tahu?” balas Toni.
“Sepi Ton, sepi kayak kuburan. Desa mana? Memangnya kamu pas perjalanan menuju ke sini lihat ada desa di sekitar sini? Aku saja heran kok masih ada warung di sini. Bagaimana ceritanya bisa sepi sekali,” gumam Erin. Dia mengerutkan lehernya lagi, tubuhnya terasa bergidik.
Irwan mendengarnya, dia teringat dengan pesan dari ayahnya. “Pantinya memang sudah tutup lama, Mbak. Sudah ada sepuluh tahun lalu. Cuma tinggal aku sendiri di sini.”
Erin menelan ludahnya, menatap ke arah Irwan.
Toni menatap ke arah Irwan karena penasaran dengan percakapan mereka selanjutnya. “Mas sendiri di sini, apa maksudnya?”
“Dulu sebelum buka warung aku tinggal di panti.”
“Yatim-piatu?!” tanya Erin dengan kedua mata berbinar.
Irwan hanya mengukir senyum, dia tidak berani menjawab karena takut kalau bapak dan ibunya mati betulan.
“Wah, ketemu, Bu. Ini pasti orangnya!” seru Toni dengan ekspresi penuh drama. Berpura-pura memberikan dukungan padahal aslinya menolak seratus persen.
Erin mengerutkan keningnya. “Reaksimu, Ton! Berlebihan sekali, kamu nyindir aku?”
“Aku mana berani nyindir-nyindir. Bukannya Ibu yang suka nyindir-nyindir?”
Denis menguap, dia mengangkat kepalanya dari sisi dinding lalu menoleh ke arah Erin. Melihat istrinya asyik ngobrol dengan pria muda Denis langsung cemberut.
“Ma?” panggilnya.
“Eh, Papa sudah bangun?” Erin menggeser posisi duduknya mendekat lalu memeluk lengannya dengan manja.
“Iya, kamu ini kalau ngobrol sama laki-laki jangan terlalu blak-blakan, aku cemburu, tahu?”
“Iya, Pa, aku tahu.” Erin mengukir senyum malu-malu lalu melirik ke arah Irwan.
“Kalian ngomongin apa tadi?”
“Pancingan, Pa.”
Toni memalingkan wajahnya, sambil bergumam. “Pancing-pancing, pancingan, hanya alasan pancing-pancing, ini namanya memancing di air keruh. Bapak... jangan mau... Ini namanya memancing malapetaka,” bisiknya pada dirinya sendiri.
“Pancingan? Anak panti?” tanya Denis.
“Iya, sudah ketemu,” jawab Erin dengan senyum di bibirnya.
“Ketemu? Mana? Kok aku nggak lihat, Ma? Apa mau bawa tuyul?”
Denis menatap ke kiri dan ke kanan, tidak ada siapa pun di sana selain mereka berempat.
“Itu orangnya,” tunjuknya ke arah Irwan.
Denis mengerutkan keningnya lalu menarik napas berat. “Mas-mas pemilik warung?” tanyanya dengan wajah terkejut.
“He’eh, Pa, dia juga dari panti. Boleh ya, Pa? Pa? Ayolah. Boleh, ya? Ya? Hum?” Bujuknya dengan manja seraya menggesekkan dadanya di lengan Denis.
Bukan hanya itu, Erin berbisik di telinga Denis. “Kalau beneran manjur pancingannya, bukannya kita yang untung, Pa? Titit Papa juga bisa berdiri dan perkasa lagi! Ya, nggak? Ayolah Pa, aku sudah lama nggak Papa kasih. Ya?”
Denis menatap ke arah Toni, sopirnya tersebut malah mengalihkan matanya ke arah lain.
“Lebih baik jangan ikut campur, bencana akan datang di rumah besar Pak Denis. Katanya mau adopsi tapi yang dibawa malah perjaka tua. Mau bikin anak sama anak angkat sendiri, apa? Hiiii, ngeri, Sri!” Gumam Toni pada dirinya sendiri.
“Ton?” Denis memukul punggung Toni.
Toni langsung menoleh. “Ada apa, Pak?”
“Kamu ini, mau diajak rembukan malah buang muka ke sana! Bagaimana kamu itu!?”
“Rembukan masalah apa to, Pak?”
“Ini, usia anak yatim-piatu kan kalau bisa yang masih sekolah TK atau SD, bukan seusiamu,” ujarnya.
Toni menganggukkan kepalanya. “Iya, bener, Pak.”
“Lalu menurutmu, aku harus bagaimana?” tanyanya.
Erin langsung cemberut. “Papaaa, jadi apa tidak to? Kok malah tanya pendapat Toni? Orangnya di sini lo, tanya sama Masnya,” sela Erin.
Denis langsung melotot.
“Masnya? Kamu manggil calon anak kita, dengan panggilan, Mas? Erin!”
“Em, maksudku dia kan sekarang belum resmi jadi anak kita, Pa. Masa aku panggil Nak? Sayang? Atau, panggilan Inggris, Baby?” Erin mengerutkan keningnya, napasnya mulai terengah-engah karena sudah kehilangan kesabarannya..
Toni tertawa terpingkal-pingkal melihat majikannya adu mulut.
Denis menarik napas berat. “Mama, babi-babi apa? Aku nggak ngerti, sudahlah! Pokoknya nggak boleh panggil-panggil begitu.”
Irwan merasa tidak nyaman karena dia pikir penyebab masalahnya adalah dirinya.
“Mohon tenang semuanya, Pak, Mbak,” serunya menengahi.
“Panggil istriku Nyonya, jangan Mbak! Kapan dia jadi embakmu?” ketus Denis.
“Mama saja, Nak... Mama, panggil aku Mama,” potong Erin karena tidak setuju dengan permintaan Denis pada Irwan.
“I-iya, Ma...” ucapnya ragu-ragu.
“Ma-ma, kita belum resmi jadi keluarga!” potong Denis.
Irwan tidak berani bicara lagi.
Erin langsung memutar badan, duduk memunggungi Denis.
Denis mulai kebingungan. Dia menyentuh lengan Erin, mencoba mengajaknya bicara.
“Ma? Mama sayang? Jangan marah begini, to.. aku juga belum selesai ngomong. Masa kamu duduk memunggungiku, apa sopan?”
“Orang lagi ngambek, mana ada sopan-sopannya? Aku itu apa-apa salah di mata Papa, ya kan? Padahal aku sudah berusaha membantu Papa, aku itu mau Papa punya keturunan. Apa salah aku berusaha?”
Denis menghela napas panjang lalu memeluknya dari belakang. Bukan hanya memeluknya tapi dia juga mencium pipinya. Erin langsung menoleh sambil tersenyum.
“Aku bicara dulu sama dia, Mama jangan ngambek lagi, ya?”
“Iya, Pa. Papa memang paling cakep paling baik, paling Mama cintai!” puji Erin sambil memeluk Denis dengan ekspresi gembira riang.
Irwan sampai malu sendiri melihatnya. Apalagi Toni, dia sudah seperti kambing sekarat karena setiap saat dia harus melihat drama yang sama di kediaman Denis.
Denis menoleh ke arah Irwan. Dia bertanya padanya, “Nama kamu siapa?”
“Namaku Irwan, Pak.”
“Karena istriku berkeras ingin mengadopsimu, bagaimana menurutmu? Apa kamu mau tinggal bersama kami, pindah ke rumah kami?”
Irwan memikirkannya sejenak. Dia terlihat ragu dan bimbang.
Toni menatap Irwan, dia sangat penasaran menunggu jawaban Irwan.
Irwan menatap Toni karena tidak tahu apa yang harus dia katakan.
“Bagaimana, Mas? Sebaiknya aku ikut apa enggak?” tanyanya pada Toni.
“Lah, kok tanya sama aku? Tanya sama dirimu sendiri, bagaimana isi hatimu? Apa kamu siap dengan semua risikonya jika memutuskan tetap tinggal di gubuk reyot ini? Kalau angin kencang kayaknya juga nggak bisa bertahan lama.”
Irwan mengusap tengkuknya sendiri, jawaban Toni terdengar meyakinkan tapi bagian belakangnya sama sekali tidak enak didengar.
“Malah bahas gubuk, aku kan tanya masalah adopsi. Piye to, Mas?”
“Tanya hatimu, tanya saja pada orang lain apa isinya hatimu...” Toni malah mulai bernyanyi. Dia berdiri dari kursinya lalu melenggang santai keluar dari dalam warung.
Erin mengepalkan tangannya menatap Toni. “Awas saja, dia pasti sengaja nggak mau dukung, dasar Toni, Tini, Lucinta Luna!”
Satu jam berlalu...
Toni belum kembali karena sudah terkapar di atas dipan bambu depan warung. Dengkurannya terdengar sangat berisik dari dalam warung.
Denis juga sudah tertidur dengan kepala bersandar di bahu Erin.
Tinggal Erin yang sejak tadi cemberut menatap ke arah Irwan yang tak kunjung memberikan jawabannya.
Hening.
Tidak lama kemudian, Irwan mulai angkat bicara.
“Aku mau...” jawabnya setelah sekian lama memikirkannya.
“Mau ikut sama kami? Jadi putra kami?” tanya Erin dengan wajah gembira.
“Aku mau tutup warung, Bu, sudah lewat tengah malam.”
Seketika Erin langsung jatuh pingsan. Sementara Denis, dia ikut jatuh terjungkal karena sejak tadi bersandar nyaman di bahu Erin.
