Bab 3
Dalam perjalanan, Erin terus menatap kertas alamat Panti Asuhan Sedati di genggaman tangannya. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sana daripada ke rumah sakit.
“Pa, kita ke panti asuhan saja,” ujarnya pada Denis di sampingnya.
“Loh, kenapa? Apa nggak jadi ke rumah sakit?” Denis menatap Erin dengan khawatir.
“Sepertinya nggak apa-apa, Pa, perutku juga nggak mules-mules.”
“Memangnya tadi keluhanmu mules, Ma. Aku kok ndak ingat?” tanyanya sambil meremas tongkat dalam genggaman tangannya. Denis melirik Erin dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Sejak dari kediaman Mbah Gondrong, Erin tampak sangat mencurigakan. Cerita Erin tentang hamil dan kloning membuat Denis berpikir keras tentang apa yang sedang direncanakan istrinya.
“Papa pasti lupa lagi, ya to? Heeehee.” Erin pura-pura terkekeh sambil memeluk lengan Denis di sampingnya.
“Ya, sudah ikuti mau kamu saja, Ma.”
Denis memberikan perintah pada sopirnya untuk mengubah arah tujuan mereka. “Ton, ganti.”
“Apanya yang diganti, Pak?”
“Arahnya, to. Kamu kan sopir, masa ganti yang lain.”
“Iya Pak, maaf.”
“Ganti arah ke mana, Pak?”
“Ke alamat Panti Asuhan Sedati.”
“Ini, alamatnya,” Erin mengulurkan kertas di tangannya pada Toni yang kini sedang mengemudikan mobil.
“Baik, Bu.”
Toni menatapnya sekilas, dia sudah tahu alamat tersebut. Rupanya alamat panti asuhan yang mereka tuju tidak jauh dari kampung halaman Toni.
***
Sekitar dua jam perjalanan mereka baru tiba di tempat tujuan.
Denis terlihat sangat kelelahan. Hari sudah sore dan mereka belum mengisi perut sama sekali sejak siang tadi. Denis menyentuh tangan Erin.
“Ma, apa kamu nggak lapar? Sejak siang kita belum makan apa-apa.”
Erin menarik napas panjang lalu menatap ke arah sekitar. Tidak jauh dari panti asuhan ada sebuah warung.
“Kita ke warung dekat situ saja, Pa. Bagaimana?” tawarnya.
Denis menatap warung yang ditunjuk Erin. Warung tersebut tampak sepi sekali. Tidak ada pembeli satu pun yang duduk di sana. Dinding bangunan terbuat dari anyaman batang bambu. Bagian atapnya dilapisi jerami dan daun tebu.
“Iya, ke sana saja, lebih dekat. Dari tadi saat perjalanan ke sini kok sepi sekali, nggak ada warung atau restoran.”
Erin menuntun Denis menuju ke warung. Dia menggandeng tangannya sambil berjalan dengan pelan.
Toni berdiri di samping mobil, dia tidak ikut pergi.
Denis tiba-tiba teringat kalau sopirnya juga belum makan sama sekali setelah mereka berangkat pagi tadi.
“Tunggu sebentar, Ma,” ujarnya sambil menoleh ke belakang.
“Ada apa, Pa? Ada yang ketinggalan di mobil? Papa di sini saja, biar diambilkan Toni barangnya.”
Denis menarik napas berat lalu menggelengkan kepalanya. “Bukan... Ma, bukan.”
“Lalu apa, Pa?”
“Toni belum makan.”
“Oalah, Papa mau ajak Toni makan sekalian?”
“Iya.” Denis menganggukkan kepalanya.
Erin langsung berteriak memanggil sopirnya sambil melambaikan tangan kanannya ke atas. “Ton! Ayo ikut sekalian! Makan bareng!”
Toni mengangguk lalu berlari mendekat.
Denis dan Erin sudah berjalan lebih dulu. Langkah kaki pasangan suami istri ini sangat lambat sekali karena Denis hanya bisa berjalan pelan dengan bantuan tongkat jalan di genggaman tangannya.
Toni di belakangnya terpaksa menahan langkah kakinya karena tidak ingin mendahului mereka.
Toni mendengar Denis berbicara pada Erin.
“Mama itu, kalau ngomong sama orang lain itu datang mendekat ke sana. Jangan teriak-teriak seperti tadi. Apa lagi lambai-lambai tangan ke atas, ck, ck,” keluhnya sambil berdecak kesal. Wajahnya tampak muram dipenuhi perasaan cemburu.
Erin mengerutkan keningnya. Sudah sejak dulu dia terbiasa begitu. Selama ini Denis juga tidak pernah menegurnya, baru kali ini suaminya itu menegur.
“Memangnya kenapa, Pa? Kok Papa kelihatannya kesal begitu? Ada yang salah?”
“Ya, ndak suka aku, Ma.”
“Ndak suka? Alasannya apa? Lawong tadi juga cuma manggil Toni, kan Papa juga yang nyuruh?” Erin cemberut sambil menggoyangkan tubuhnya seperti anak kecil.
Denis menelan ludahnya lalu menunjuk gaun yang membalut tubuh Erin.
“Ini, baju Mama kan seksi sekali to, buah dadanya Mama kalau lagi gerak-gerak itu ikut terlempar ke sana-sini, kalau tumpah di jalan aku yang repot, Ma. Terus ini juga nggak ada lengannya.”
“Iya, Pa, memang modelnya begini. Tadi pas di rumah Mbah Gondrong Papa juga bilang sudah sopan, sudah pas. Kenapa sekarang malah protes?”
“Kamu ini, kalau dibilangin nurut. Sengaja mau bikin aku kesal to, Ma? Terus biar aku cepat-cepat mati lalu Mama bisa nikah lagi?!” sungutnya.
“Iya, Pa.”
“Apaaaa?!”
“Eh nggak, Pa, salah ngomong aku, maaf.” Erin memukul bibirnya sendiri sambil memutar bola matanya lalu melirik ke arah Toni yang sejak tadi cengar-cengir di belakang mereka.
Erin membelalakkan matanya. Dia mengepalkan tinjunya ke arah Toni. “Awas kamu diam kamu!”
Erin membelalakkan matanya. Dia mengepalkan tinjunya ke arah Toni. “Awas kamu, diam kamu!” desisnya.
Denis kesal lalu memukul lengan Erin karena Erin melirik Toni.
“Ma, piye to?! Malah lirik-lirik ke Toni! Aku suamimu masih di sini, hidup makmur begini!”
“I-iya, Pa. Sudah jangan marah-marah lagi. Masalah bajuku ini Pa... Aku jelasin ya ke Papa. Kalau lagi di luar rumah kan ini cuacanya panas banget. Aku nggak betah kalau harus pakai baju panjang, tapi aku cantik kan?” jawabnya sambil menatap ke arah penampilannya sendiri.
“Ya, cantik, Ma, tapi jangan aangkat-angkat tangan kayak tadi, jangan begitu lagi, Ma, pokoknya jangan!” lanjut Denis.
Erin semakin bingung. “Sebenarnya kenapa to, Pa? Cuma angkat tangan saja.”
Denis menyipitkan matanya lalu mengambil satu langkah ke samping mendekati Erin, kemudian membisikkannya di telinga Erin. “Ketiak Mama, rambutnya sudah tumbuh lebat sekali. Panjang semrawut. Aku nggak suka kalau ada yang lihat terus Mama nanti malah dikomentari.”
Erin melotot, ekspresinya wajahnya sulit dijelaskan. Dia buru-buru melepaskan pelukannya dari lengan Denis lalu membekap kedua ketiaknya sendiri menggunakan kedua telapak tangannya, dengan gerakan cepat dia memutar arahnya langsung berlari menuju ke panti.
Toni mendengarnya sejak tadi, dia menahan tawa sambil memegangi perutnya.
“Brrbbbuahaaahahaha!”
“Loh, kok malah kabur, Ma? Mama?! Tungguin aku, to! Mama sayangku, aku kok malah ditinggalin. Maaaaa..... Mamaaa...” teriak Denis histeris dengan suara seraknya. Dia tidak bisa mengejar Erin karena kondisinya tidak memungkinkan.
Denis mendengar Toni tertawa, dia menoleh dan sopirnya itu ternyata sudah menjauh ke belakang sejauh sepuluh meter.
“Ton! Malah lompat to kamu! Kebangetan kamu! Ke sini!” panggilnya seraya melepaskan sandal selop dari kakinya. Untuk berjaga-jaga jika Toni tidak mendekat maka dia akan melemparkan sandalnya.
Toni langsung berlari mendekat. “Iya, Pak?”
“Kamu tadi ketawa, apanya yang lucu? Ngetawain aku sama Erin? Iya? Ngaku kamu?!” tanyanya dengan berkacak pinggang.
“Nggak ada, Pak. Aku saja berdiri di kejauhan sana, ketawain apa memangnya, Pak?” tanyanya dengan ekspresi berpura-pura polos.
“Ya, sudah. Percuma saja aku ngotot kamunya ngeles terus. Eh, kamu bawa uang apa tidak?” tanyanya lagi.
“Ada Pak, tapi cuma lima puluh ribu.” Toni mengeluarkan uang lembaran lima puluh ribuan dari dalam saku bajunya.
“Erin kabur ke panti, gara-gara aku salah ngomong sama dia. Aku itu perhatian sama dia, tapi dia salah paham terus.” Denis mulai ceramah panjang-lebar. “Padahal aku sudah hafal sama sifatnya, Erin nggak pernah bisa dikomentari. Kalau aku ngomong ini nggak cocok, itu juga nggak cocok, terus apa-apa nggak cocok dia pasti ngamuk-ngamuk,” lanjutnya sambil mengerucutkan bibirnya karena gigi depannya sudah tidak ada lagi.
“Ini jadi ke warung apa tidak to, Pak?” tanya Toni sambil menggaruk keningnya sendiri.
“Ya jadi, tapi duitnya dibawa sama istriku, aku pinjam duit kamu dulu, nanti kalau sudah sampai di rumah aku ganti.”
Dua orang itu akhirnya pergi ke warung. Sampai di warung mereka melihat seorang pria muda sedang merebus air.
“Permisi! Selamat sore...” sapa Toni sambil mengetuk pintu kayu yang terbuka.
Pria muda tersebut menoleh, dia mengukir senyum lebar lalu mempersilakan Denis dan Toni masuk ke dalam.
