Bab 2
Dengan perasaan cemas Erin menunggu, dia tidak tahu apa yang akan Mbah Gondrong lakukan. Erin sudah lama tidak melakukan hubungan suami-istri. Mendengar Mbah Gondrong akan membagikan telur untuknya, pikirannya sudah ke mana-mana. Erin mengangkat kepalanya, dia ingin melihat apa yang akan dilakukan Mbah Gondrong selanjutnya.
Erin menggigit bibir bawahnya. Dia mendengar langkah kaki Mbah Gondrong berjalan perlahan mendekat.
“Sudah siap?” tanya Mbah Gondrong sebelum beraksi.
“Sudah, Mbah.” Nada suara Erin terdengar sedikit bergetar.
Mbah Gondrong menyipitkan matanya menatap Erin yang kini sedang membuka pahanya lebar-lebar. Dia mendekat lalu membungkuk dan melihatnya lebih jelas dari dekat.
Erin mulai merasa cemas. Dia sudah menunggu cukup lama tapi masih belum ada tanda—tanda pengobatan dimulai. Karena kesal Erin langsung bangun dan duduk.
Mbah Gondrong spontan melotot. Erin sendiri kaget karena bagian selangkangannya malah menempel tepat di mulut Mbah Gondrong.
“Mbah, okh! Maaf...” Erin memekik.
Mbah Gondrong meraba bibirnya lalu menatap Erin. “Aku sedang membaca mantra kenapa kamu malah bangun?”
Erin segera rebah kembali ke posisi semula.
“Mbah, kapan telurnya dimasukkan?” tanyanya sambil menggeser bokongnya mundur sedikit.
“Ini aku masih berkonsentrasi, sudah diam! Kalau kamu terus bertanya nanti nggak bisa masuk!”
Erin mengangguk lalu berusaha diam.
Lima menit berlalu, Erin kembali mengangkat kepalanya untuk melihat.
“Mbah? Sudah apa belum?”
“Hmh! Kenapa terburu-buru?”
Erin mengusap kedua bukit di dadanya sambil menggeliat memamerkan tubuh telanjangnya.
“Sudah nggak tahan, Mbah...” rintihnya.
Mbah Gondrong mengukir senyum lalu menarik kedua paha Erin ke tepi ranjang.
“Ah, Mbah,” desah Erin penuh gairah.
Mbah Gondrong meraba celah di antara paha Erin. Erin menggigit bibirnya sambil mendesah.
“Mbah, nanti basah...”
“Kalau nggak basah telurnya nggak bisa dimasukkan ke dalam,” ujarnya.
Erin menggoyangkan bokongnya, suara dari bagian inti di antara kedua pahanya semakin lama semakin berisik. Tubuh Erin menggeliat, kedua matanya terpejam.
Saat benar-benar akan dimulai, Erin mengerutkan keningnya. Gerakan bokongnya berhenti. Erin melihat ke bawah. Mbah Gondrong sepertinya sibuk dengan senjatanya sendiri.
“Sudah belum, Mbah?”
“Su-sudah, hah, hah, hah.”
“Tapi kok nggak terasa, Mbah?”
“Masukin telur bibit unggul memangnya harus terasa? Yang penting intinya!” ketusnya dengan wajah bersungut-sungut.
Erin menggaruk keningnya yang tidak gatal lalu beringsut bangun. Dia menatap ke arah Mbah Gondrong.
“Hah, hah, hah, lelah sekali aku,” ujar Mbah Gondrong sambil duduk di tepi ranjang dengan napas terengah-engah.
Erin meliriknya, di atas celana Mbah Gondrong masih terlihat tongkatnya yang sudah tidak bernyawa.
Erin mengedipkan matanya sambil menutup bibirnya sendiri.
Mbah Gondrong rupanya tahu Erin sedang mencuri pandang ke arah tongkatnya.
“Kenapa? Kamu masih belum puas? Kamu mau coba lagi? Kalau dicoba lagi khawatirnya telur yang tadi sudah masuk malah kabur dan balik keluar lagi, mereka takut karena terus diacak-acak!” Nada suaranya sedikit meninggi.
“Em, nggak, Mbah! Bukan itu maksudku.”
“Lalu apa maksudmu? Melihat senjataku sambil melotot begitu?”
“Ya-ya, ya-itu, Mbah,” jawabnya ragu-ragu.
“Sudah, pakai saja bajumu lagi.”
Erin menuruti perintahnya, dia segera mengambil semua bajunya lalu memakainya kembali.
“Mbah?” panggilnya sebelum melangkah keluar dari dalam kamar.
“Kenapa? Celanamu ketinggalan?!” tanyanya dengan sedikit menghardik.
Erin menggelengkan kepalanya lalu buru-buru keluar dari dalam ruangan.
***
Di dalam kamarnya, Mbah Gondrong menatap ke sisi bawah tubuhnya dengan lesu.
“Setiap pada waktu penting-pentingnya, kenapa kamu malah tidur terus, Jo! Paijo!” keluhnya seraya membetulkan letak celananya.
Ternyata sudah dicoba dan hasilnya tidak berhasil. Mbah Gondrong menyerah dengan usahanya yang sudah mati-matian.
Di luar kamar, Erin sudah duduk di samping Denis.
“Mama tadi ke mana? Pas aku bangun kok sepi? Pikirku Mama tinggal pulang. Uhuk, uhuk, uhuk!” ujarnya disusul dengan suara batuk.
Denis menyandarkan kepala di bahu Erin. Erin memeluknya sambil mengusap-usap punggung Denis.
“Ya, nggak mungkin to aku tinggalin. Masa Papa aku tinggal sendirian di sini?”
Tidak lama kemudian, Mbah Gondrong keluar dari dalam kamar. Dia menyerahkan alamat panti yang tadi dia sebutkan sebelumnya.
“Kalian datang ke alamat yang tertera di sini! Kalian akan menemukan apa yang kalian inginkan. Setelah dapat cepat bawa ke rumah. Tahan dia di rumah kalian, tahun depan kalian pasti akan punya anak!”
Ragu-ragu Erin menganggukkan kepalanya. Erin mengeluarkan amplop dari dalam tasnya kemudian menatap alamat Panti Asuhan Sedati di kertas dalam genggaman tangannya.
“Mbah, telurnya tadi, bagaimana?” tanyanya dengan suara berbisik ketika menyerahkan amplop dari tangannya.
“Kenapa?”
“Aku cuma mau tahu saja, Mbah, sepertinya... belum masuk sama sekali.”
“Aku sudah bilang, kamu tidak perlu menggunakan perasaanmu, nanti jadi kopyor bibitnya.”
“Em, Mbah?”
Mbah Gondrong mulai kesal dan melotot.
“Apa lagi?!”
“Kalau nggak ada hasil nanti bagaimana, Mbah?”
“Kalau gagal ya tinggal coba lagi, to? Gitu aja kok repot!”
Denis mendengarnya, dia menatap Erin dan Mbah Gondrong bergantian.
“Ini sudah selesai apa belum, Mbah?” tanyanya.
“Sudah selesai.”
Mbah Gondrong melambaikan tangannya, memberikan isyarat bahwa mereka sudah boleh pulang.
Erin bangun dari posisinya lalu membantu Denis berdiri. Denis agak kesulitan, kedua kakinya gemetar.
“Pegang tongkatnya, Pa. Hati-hati,” ucap Erin seraya memapahnya berdiri.
Denis berpegangan pada Erin, dia menempelkan pipinya di dada Erin yang montok. Keduanya berjalan keluar dari dalam kediaman Mbah Gondrong.
Mbah Gondrong hanya menarik napas berat menyaksikan pasangan di depannya.
Di luar rumah Mbah Gondrong.
Erin dan Denis sedang berjalan menuju ke arah mobil.
Wanita berambut abu-abu yang tadi ditemuinya saat tiba, sekarang sedang menyapu di bawah pohon rambutan tepat di samping mobil.
“Bagaimana? Sudah selesai?” tanyanya.
Sopir yang menunggu segera membukakan pintu untuk majikannya.
“Sudah,” jawab Erin.
“Memangnya apa keluhanmu sampai datang jauh-jauh ke sini?”
Erin mencondongkan tubuhnya ke arah wanita berambut abu-abu.
“Itu, aku pengen punya anak, Mbah. Eh, Dik,” bisiknya.
Wanita berambut abu-abu langsung menggigit ujung tangkai sapunya.
“Kamu nggak salah?”
“Apanya yang salah?”
Wanita berambut abu-abu membisikkan sesuatu di telinga Erin. “Tongkat Mbah Gondrong sudah nggak bisa bekerja lagi.”
Erin melotot. “Kok bisa?”
“Ya, bisa! Lawong dibawa kabur sama istrinya.”
Erin menahan napasnya. “Dibawa kabur?”
“Hem!” angguk wanita berambut abu-abu. “Dipotong lalu dibawa kabur!”
“Ta-tapi tadi dia bahas telur, telur! Ya-telur!”
“Pasti itu...” wanita berambut abu-abu mengedipkan matanya.
“Pasti apa?!” Erin berteriak.
“Pasti telur ayam!”
“Te-telur ayam? Hah?”
Erin mendadak merasa kedua kakinya lemas. Dia berpegangan pada badan mobil di sampingnya. Sopirnya membukakan pintu untuk Erin. Dia menatap Erin dengan tatapan mata tidak mengerti.
“Ibu sakit?” tanyanya.
“Ya, aku sakit. Sakit banget hatiku!”
“Kalau begitu setelah ini kita pergi ke rumah sakit atau pulang?”
Erin tidak menjawabnya dan langsung masuk ke dalam mobil sambil menangis.
“Pa, antar aku ke rumah sakit! Aku mau USG!” teriaknya sambil memeluk Denis.
Denis menatapnya. “Mama sudah hamil? Kok cepet?” tanyanya bingung.
“Paket kilat, Pa! Makanya cepet. Huuhuuu,” jawabnya sambil menangis.
“Pasti benih unggul, Mbah Gondrong hebat bener, ya, Ma?”
“Iya, saking hebatnya, manusia mau dikloning pakai sel telur ayam, Pa. Huuuuhuuu...”
“Pasti waktu mudanya dia ngambil jurusan penyerbukan.”
“Salah, Pa. Penyerbukan itu tanaman,”
“Oiya, lupa aku, Ma.”
“Memang Papa sudah pikun, huuuhuuu...”
“Sudah jangan menangis terus, nanti kering air matanya, Papa yang repot, cup-cup, Mama sayang.”
