Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1

Di dalam kamar, Denis – seorang pria mendekati usia tujuh puluh lima tahun. Dia sedang duduk di kursi sambil memegangi tongkat alat bantu jalan di tangannya. Kertas hasil tes kesehatan tergeletak di meja samping ranjang. Wajah Denis tampak lesu.

Erin – seorang wanita berusia dua puluh delapan tahun duduk di tepi ranjang dengan bibir cemberut.

“Pa, bagaimana dong?” tanya Erin pada Denis.

“Kita sudah pergi ke dokter, hasilnya aku mandul. Mau bagaimana lagi?”

“Pa, apa kita harus menyerah begini saja? Dokter nggak ada solusi, kita pergi ke dukun saja, bagaimana?” ajak Erin.

Denis menyipitkan matanya, dia menatap istri cantiknya dengan serius.

“Dukun? Tukang urut? Mau diurut bagaimana lagi, Ma. Barangku juga sudah keriput, susah bangun di usia ini,” jawabnya dengan kening mengerut.

“Tapi, Pa, namanya juga usaha, kan bisa dicoba dulu. Ayolah!” bujuknya sambil cemberut. Erin berdiri lalu mendekati Denis, dia menyentuh pahanya lalu sisi lain di antara kedua kakinya. “Siapa tahu kalau kita ke dukun, yang ini bisa jadi perkasa lagi? Papa nggak mau aku kasih yang enak-enak? Pas kita awal nikah beberapa tahun lalu Papa masih bisa kok,” lanjutnya.

Erin sengaja menggoda dan menggesekkan dadanya di lengan Denis. Denis meraih tubuh Erin dan memangkunya lalu menciumi belahan dadanya. Erin sengaja menarik lingkar dada gaunnya ke bawah lalu menyodorkannya. Denis menyusu seperti bayi yang kehausan.

“Pa, aku nggak tahan, emh.” Erin merintih sambil memeluk tengkuk Denis.

“Punyaku nggak bisa bangun, Ma, susah sekali ini.” Denis membuka celana dan menunjukkan daging lembeknya yang keriput.

“Makanya kita pergi saja ke orang pintar, mau, ya, Pa?”

Akhirnya Denis mengangguk setuju, dia berangkat ke rumah orang pintar ditemani Erin sang istri. Erin masih muda, dan usianya juga belum ada setengah dari usia Denis. Sudah lima tahun mereka menikah dan masih belum dikaruniai anak.

***

Setibanya di kediaman orang pintar. Mereka melihat papan nama di atas pintu masuk.

“RUMAH HARAPAN MBAH GONDRONG, HARAP ANTRE! TIDAK BOLEH BERDESAKAN! TIDAK BOLEH SALING TINDIH-MENINDIH! HARUS BERBARIS SESUAI URUTAN, DAN HARUS MEMAKAI BAJU RAPI”

“Pa, bajuku ini rapi, kan?” tanya Erin sambil memutar badan satu putaran di depan Denis.

Denis menatap penampilan Erin sejenak, buah dada Erin sebagian menyembul keluar dari atas gaun, lalu roknya yang pendek hampir memperlihatkan celana dalamnya. Kain bajunya juga transparan.

Tangan Denis gemetar memegangi tongkat jalan dalam genggamannya.

“Sopan...” jawab Denis ragu-ragu.

Erin mengamit lengan Denis menuju ke pintu utama. Dia menatap ke sekitar, sepi sekali. Tidak ada seorang pun yang mengantre di sana. Denis ikut mengedarkan pandangan matanya.

“Kamu yakin Ma, ini tempatnya?”

“Yakin, Pa. Di kertas selebaran ditulis jelas kok alamatnya ya di sini.”

Seorang wanita berambut abu-abu pendek melihat kedatangan mereka berdua, dia segera pergi menghampiri.

“Kalian nyari siapa?”

“Kami datang untuk bertemu Mbah Gondrong, Mbah,” jawab Erin.

“Panggil aku, Dik. Aku ini adiknya Mbah Gondrong, masih muda, bukan mbah-mbah.”

“Iya, Dik..” ralat Erin dengan senyum dipaksakan.

“Nyari Mbah Gondrong, ayo masuk silakan!”

Mereka berdua dipersilakan duduk di atas tikar. Pria berambut gondrong dengan kumis awut-awutan menatap dua orang di depannya dengan cermat. Tangan kanannya menggenggam wadah baskom berisi air kembang.

“Kalian berdua datang ke sini, memiliki tujuan apa?”

“Kami ingin punya anak, Mbah!” jawab Erin. Dia menatap dukun tersebut dengan tatapan mata sedikit takut.

“Oh, ingin punya anak, to?”

Mbah Gondrong menyunggingkan senyum seraya menatap belahan dada Erin yang montok. Paha Erin juga terlihat mulus, posisi duduknya membuat roknya naik ke atas dan membuat Erin terlihat hampir tidak mengenakan bawahan apa pun. Mbah Gondrong menatap Erin dengan serius.

“Lain kali, kalau kamu datang ke sini, pakai baju kurung saja. Jangan pakai baju renang!”

“Iya, Mbah,” jawab Erin dengan patuh.

“Kami ingin punya anak, Mbah. Kira-kira apa ada solusinya? Berapa pun biayanya akan kami bayar, tunai!”

“Tujuan kalian ingin punya anak, apa?” tanya Mbah Gondrong sambil memelintir ujung kumisnya.

Denis menjawab, “Keluarga kami belum memiliki penerus, Mbah. Perusahaan yang dikelola berkembang dengan sangat pesat. Sangat disayangkan kalau tidak ada penerusnya.”

“Kalau begitu celupkan tangan kalian berdua ke dalam air kembang ini.” Perintahnya sambil menyodorkan baskom air kembang di depan mereka berdua.

“Tangan yang mana, Mbah, kanan atau kiri?” tanya Erin bingung.

“Kanan.”

Denis lebih dulu mencelupkan tangan kanannya. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa sangat mengantuk. Hanya satu menit pria itu sudah tertidur pulas di atas tikar.

Erin terkejut melihat Denis pingsan. Pikirnya Denis sakit atau kenapa-kenapa. Erin mulai panik dan mencoba membangunkan suaminya.

"Pa? Papa? Bangun, Pa!"

Erin menatap ke arah Mbah Gondrong. “Mbah, ini kenapa suamiku? Kok dia pingsan?”

Mbah Gondrong berjalan mendekat, lalu duduk di samping Erin. Dia mengambil tangan kanan Erin dan menyelupkannya ke dalam air.

“Dia tidur, sepertinya kecapekan,” jawab Mbah Gondrong. Nada suara Mbah Gondrong terdengar cuek dan biasa-biasa saja.

Erin mengangguk sambil terus menatap ke arah Denis yang kini tidur meringkuk di sampingnya.

Mbah Gondrong memejamkan matanya sambil menyentuh telapak tangan Erin di dalam baskom.

“Ssssstttt.. dengarkan aku.”

“I-iya, Mbah.”

“Ada seorang anak, di Barat Kota, di panti asuhan Sedati kamu tinggal pilih saja lalu bawa dia pulang ke rumah.”

Erin tampak tidak setuju dengan ide tersebut, dia menggeleng pelan. “Tapi kan, kalau ambil dari panti namanya bukan anak kandung, Mbah?”

Tangan Erin diremas-remas di dalam air.

“Buat pancingan supaya kamu bisa hamil, kamu tahu kan pancingan?” tanyanya seraya menelan ludah. Sejak tadi tatapan Mbah Gondrong terus tertuju ke arah belahan dada Erin.

“Emh, Mbah, jangan diremas-remas,” rintihnya sambil menggeliat menggigit bibir.

“Apa kamu mau benih anak kandung? Sekarang?”

Erin menatap ke kiri dan ke kanan lalu ke arah Denis, suaminya. Dia takut jika nanti Denis terbangun. “Memang bisa, Mbah?”

“Bisa, tapi jadinya lain. Nggak sama dengan gen aslinya, agak lain pokoknya.”

Erin mengerutkan keningnya lalu beringsut mendekat. Ekspresinya tampak ragu dan bimbang. “Lain bagaimana, Mbah?”

“Ya lain, kan pakai telurku,” desisnya di depan wajah Erin.

Tubuh Erin terasa memanas, remasan tangan Mbah Gondrong di dalam air juga semakin menjadi-jadi.

Dari ruangan utama, Erin dan Mbah Gondrong sudah pindah ke dalam kamar. Sampai di dalam kamar, Erin melihat ranjang kayu dilapisi dengan kasur tipis.

“Lepaskan semua bajumu, setelah selesai aku mantrai kamu nanti segera rebah di kasur.” Perintahnya sambil mengedikkan dagunya ke arah ranjang.

Erin mengangguk, dia melepaskan semua baju di tubuhnya sampai tidak bersisa.

Mbah Gondrong menutup pintu, saat berbalik dia tidak bisa berhenti menelan ludahnya sendiri ketika menyaksikan tubuh telanjang Erin.

Mbah Gondrong berjalan mendekat lalu mengendus wajah Erin , leher, lalu turun ke bagian dadanya lalu berhenti di bagian perutnya. Pria itu seperti sedang merapalkan mantra-mantra lalu ditiupkan ke perut Erin.

"Sekarang bagian bawahmu, aku bisa melakukannya setelah kamu rebah di kasur."

Erin menelan ludahnya dia berjalan pelan menuju ke ranjang. Ragu-ragu dia rebah di atas kasur dengan kedua kaki menghadap ke arah Mbah Gondrong.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel