BAB 8
“Oh, elo ngomong sama gue yah? Sorry soalnya gue nggak pernah nganggep elo ada” kata Lili dengan nada menantang, karena sudah kepalang basah, kemarin sudah berani masak sekarang masih takut?
“Wah,hebat yah” kata Devan sambil membelalakan matanya “Eh, sekarang udah berani nyolot banget sama gue ya?”
“Elo pikir gue takut sama elo?” kata Lili makin berani.
“Dengar!” kata Devan sambil merapatkan kedua tangannya ke dinding di belakang Lili, Kontan Lili langsung merapatkan tubuhnya pada dinding “Yang gue lakuin selama ini sama elo itu belum apa-apa! Mulai hari ini gue akan bikin elo lebih menderita lagi, mengerti!”
“Coba saja! Gue nggak takut” balas Lili enggak kalah galak.
“Kalau gitu elo siap-siap saja, karena elo bakal nyesel!” sambil berbicara Devan mendekatkan wajahnya pada Lili sampai hanya tinggal beberapa senti saja,
Kali ini Lili benar-benar takut dengan ancaman cowok yang ada di depannya itu, Dia sampai benar-benar merapat ke tembok gara-gara dipepet Devan seperti itu.
“Mati gue! Mana dikelas nggak ada orang lain, cuma gue sama dia” pekik Lili dalam hati “ Kalau gue dicekik gimana? Tuhan please bel....”
Kring..kring..kring
Doa Lili terkabul, bel tanda istirahat usai berbunyi, Anak-anak lain segera masuk kembali ke kelasnya masing-masing, Devan lalu melepaskan tangannya dan segera duduk di kursinya, Lili yang duduk disampingnya dengan perasaan was-was.
Ternyata Devan tidak main-main dengan ancamannya, Bahkan dia langsung melaksanakan ancaman ini pada saat pelajaran berikutnya adalah pelajaran Bu Indah, yaitu Fisika. Lili sedang asyik mengerjakan soal yang diberikan oleh Bu Indah, sementara Devan malah asyik membaca-baca buku tentang fotografi yang diletakkannya di dalam laci mejanya.
“Baik,saya rasa cukup waktu yang saya berikan” kata Bu Indah, “Sekarang saya ingin memanggil nama kalian untuk mengerjakan di depan”
Bu Indah lalu kembali duduk di kursinya, dan langsung membuka daftar nama siswa-siswi yang hadir hari ini.
“Hari ini hari apa anak-anak?”
“Hari Kamis,Bu!” jawab Will yang duduk paling depan.
“Berarti hari ke empat ya kalau di urutkan mulai dari Senin, Silahkan maju ke depan merasa yang merasa nomor presensinya empat”
Beny lalu maju dengan muka cemberut,
“Kerjakan soal nomor satu, sekarang tanggal berapa anak-anak?”
“Tanggal enam,Bu” Will menjawab lagi.
“Yak, silahkan maju yang nomor presensinya enam”
Devan seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, Nomor enam, itu berarti dia harus maju.
Dengan ragu-ragu dia mengangkat tangannya.
“Silahkan kerjakan nomor dua.Lalu untuk dua nomor terakhir saya minta untuk dikerjakan oleh dua orang yang nomor presensinya paling belakang”
Saat Bu Indah sedang menunduk dengan cepat Devan menyambar buku Lili, Dia tahu kalau Lili tadi sudah mengerjakan semuanya dan dia yakin kalau hasil kerja Lili pasti benar semua.
Lili sempat terkejut dan mencoba meminta bukunya kembali, Tapi Devan sudah memandangnya dengan wajah mengancam.
“Kenapa? Enggak boleh?” Devan lalu berdiri menuju ke depan,
Dengan cepat, Devan dapat mengerjakan soal bagiannya lalu meninggalkan Beny , Wina dan Zayn yang masih tetap berdiri mematung karena tidak bisa mengerjakan soal bagian mereka.
Bu Indah lalu berdiri lagi untuk memeriksa hasil pekerjaan Devan, Beberapa saat kemudian dia lalu mengangguk, “Yang nomor dua sudah benar” kata Bu Indah “Bagaimana dengan kalian bertiga?”
Beny, Wina dan Zayn tampak mulai berkeringat dingin. “Tidak bisa,Bu” Wina yang berani buka mulut.
“Kenapa sampai tidak bisa?”
Mereka bertiga sontak terdiam dan langsung menunduk.
“Kalian bertiga memang malas, Tidak seperti teman kalian yang satu tadi” omel Bu Indah, “Siapa yang mengerjakan nomor dua tadi?” Bu Indah berpaling menghadap murid-muridnya.
“Saya,Bu” Devan mengangkat tangannya.
“Nah itu dia, Nilaimu saya tambah satu” katanya pada Devan, Bu Indah memberi tanda pada nama Devan yang ada di buku presensi yang dipegangnya.
“Terima kasih,Bu”
“Kalian bertiga harus seperti dia, belajar lebih giat lagi seperti dia” Bu Indah menasehati.
Beni, Wina dan Zayn hanya bisa melongo mendengar nasehat dari Bu Indah, “Meniru Devan? Apa nggak salah? Meniru Devan itu berarti harus jadi playboy, doyang rokok dan minum-minum plus tawuran, Apa nggak salah? Kalau ada sepuluh orang saja yang seperti Devan yang sekolah di sini, bisa-bisa sekolah ini sudah dari dulu habis di bakar massa” batin mereka bertiga.
Tidak terasa, bel pergantian jam pelajaran telah berbunyi.
“Ya sudah, kalian boleh duduk” kata Bu Indah lalu keluar kelas.
“Makasi ya” kata Devan pada Lili setelah Bu Indah keluar dari kelas, dan dia lalu mengembalikan buku itu pada Lili.
Lili menerima bukunya, “Menyebalkan, itu kan pekerjaanku, kenapa jadi dia yang mendapat nilai tambahan” pikir Lili.
“Satu meja sama elo memang banyak manfaatnya ya” kata Devan tersenyum puas. “Besok-besok bantuin gue lagi” Devan lalu keluar kelas dengan tawa mengejek.
Will dan Sinta langsung berbalik ke belakang ke arah meja Lili.
“Elo tadi diapain sama dia?” kata Sinta menyelidik
“Gue kok sial banget bisa duduk bareng dia” keluh Lili sedih.
“Tenang,Li, kalau dia macem-macem bilang kita” kata Sinta meyakinkan.
**
Siang hari setelah pulang sekolah...
Devan sedang berada dikamarnya membaca-baca buku saat HP nya berbunyi, ketika Devan melihatnya, ternyata nama Dona yang sedang menelepon, dan cepat-cepat Devan pun langsung mengangkatnya.
“Halo,sayang”
“Elo,kemana aja sih, kok udah lama enggak hubungin gue?” tanya Dona dari seberang.
“Sorry,sayang, lagi banyak kerjaan”
“Oh jadi maksud kamu, kerjaan kamu lebih penting dari gue?” terdengar suara Dona agak meninggi.
“Oh, bukan gitu say, Elo tetap dong jadi nomer satu, cuma gue lagi nyiapin kejutan aja buat elo” kata Devan merayu. Padahal boro-boro kejutan, ingat saja enggak sama pacarnya yang satu itu, Hampir satu bulan ini dia memang jarang menelepon Dona apalagi ketemuan, Seluruh perhatiannya tercurah untuk menangani masalah perjodohan itu, hampir setiap hari dia selalu memikirkan bagaimana cara membuat Lili semakin membencinya
“Gombal! Bohong!”
“Enggak, gue nggak bohong kok”
“Kalau begitu buktiin dong, Gue kangen sama elo, Kita ketemuan yuk”
“Wah, jangan sekarang dong, Besok-besok saja”
“Kalau gitu, enggak usah saja sekalian! Soalnya gue tahu elo cuma mau rayu gue, dan kalau elo nggak mau ketemuan sama gue, mending kita bubaran!” Dona memberi ancaman.
“Eh,sabar.sabar dong. Oke,oke kita ketemuan sekarang, Elo mau kita ketemuan dimana?” Devan akhirnya mengalah.
“Ditempat biasa”
“Oke, ditempat biasa, satu jam lagi”
“Oke,gue tunggu, bye”
“Bye”
Devan meletakkan HP nya
“Dasar cewek pemarah” umpat Devan.” Elo pikir cuma elo satu-satunya cewek di dunia ini? Tunggu sampai lo tau kalau gue sekarang mau dijodohkan sama orang lain, baru tahu rasa”
Devan lalu bangkit dari kursinya dan bersiap untuk pergi.
Bagaimanakah keseruan ceritanya? Apakah Dona akan bertemu dengan Devan?
Nantikan di bab selanjutnya….
Tetap dukung yah, dengan memberi saran, komentar dan ulasan mengenai buku ini…terimakasih
