BAB 9
Satu jam kemudian dia sudah sampai di tempat dia dan Dona janjian, Ternyata Dona sudah ada di sana duluan.
“Hai,sayang” sapa Devan sambil memeluk Dona dari belakang dan mencium pipinya “Udah lama nunggunya?”
Dona hanya diam tidak menjawab.
“Masih marah,ya?”
Dona tetap diam dan membungkam.
“Oke deh, Tapi gue yakin marah elo bakal reda kalau elo lihat apa yang gue bawa buat elo” kata Devan memancing.
“Emang elo bawa apa buat gue?” Dona akhirnya berbicara.
“Coba tebak!”
Dona menggeleng “Enggak tahu”
“Gue bawa sesuatu yang pasti elo bakal suka banget. Kejutan” Devan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam sakunya.
“Wah!Apa ini?”
“Dibuka dong”
Dona pun lalu membukanya.
“Wah,anting!” mata Dona tampak berbinar-binar. Dia mencoba sepasang anting emas itu “Makasih sayang” lalu dipeluknya Devan.
“Kamu suka?”
“Suka banget! Jadi ini kejutan kamu?” kata Dona senang. Wajahnya nampak sumringah.
“Iya, Gue pesen ini udah lama tapi jadinya baru kemarin” Devan berhasil mengarang cerita.
“Dasar cewek matre! Katanya ngambek, eh tahunya di kasih anting doang sudah baik lagi” umpat Devan dalam hati.
Devan sendiri kadang-kadang juga heran pada dirinya sendiri. Dia sebenarnya sudah bosan menghadapi tingkah Dona yang menyebalkan,tapi dia masih enggan untuk memutuskan hubungan dengan wanita itu,
**
Setelah pulang sekolah, Devan menuju lapangan basket untuk latihan. Setelah hampir dua bulan dia sekolah di sini akhirnya dia bisa juga untuk masuk menjadi anggota tim basket.
Pada awalnya dulu, dia pernah di tolak untuk bergabung dengan tim basket sekolah karena pernah ketahuan merokok sehingga anggota tim basket tidak percaya dengan Devan,
“Kalau kamu suka olahraga tentu kamu tahu kalau pemain basket itu enggak boleh merokok, sebab rokok itu merugikan kesehatan” kata Pak Budi, Guru olahraga. Namun hal itu tidak berlangsung lama ketika Devan menunjukkan kemampuannya yang sangat mengagumkan ,maka mau tidak mau Pak Budi tidak dapat menolak Devan untuk bergabung.
Dan di saat yang sama, terlihat Lili bersama Asti dan Sinta sedang melewati lapangan basket untuk menuju ruang pengurus mading,
“As,kok si Devan ikut basket sih” tanya Lili pada Asti.
“Iya, dia baru jadi anggota, baru tiga minggu ini kok”
“Tapi dia kan perokok, apa bisa dia main basket?”
“Gue sih kurang tahu, tapi kata Andi, kemampuan basketnya bagus banget, Malah Andi bilang Devan itu pernah jadi kapten di sekolahnya yang dulu” kata Asti menjelaskan.
“Oh ya?” kata Lili manggut-manggut. “Keren mana sama pacar lo?” goda Lili.
“Wah kalau itu sih tetap di mata gue pasti Andi paling keren” kata Asti dengan bangga.
Lili tersenyum. Dia memandang sekilas ke lapangan basket sebelum masuk ke ruang mading. Terlihat di sana Devan sedang asyik bermain basket dengan anggota tim.
Selama dua jam Devan asyik latihan dan Lili asyik memberi pengarahan dan mengawasi adik tingkat menempelkan artikel-artikel mading yang telah mereka buat kemarin.
“Lili, gue mau ngomong sama elo” kata Sinta di sela-sela mereka mengawasi.
“Soal apa?”
“Elo gimana setelah duduk semeja bareng Devan?”
“Maksud elo?” tanya Lili bingung.
“Elo sejahtera nggak? Soalnya gue lihat setelah satu setengah bulan ini duduk bareng Devan, elo nggak pernah ngeluh lagi pingin pindah dari tempat elo”
“Kenapa gue yang harus pindah, kan harusnya dia”
“Elo enggak ditindas lagi sama dia?”
“Kalau itu sih udah enggak soalnya hampir tiap hari gue perang terus sama dia mengenai tugas”
“Elo berani lawan dia?” tanya Sinta tercengang.
“Secara fisik enggak, Gila apa. Coba kalau iya, sudah dari dulu-dulu gue babak belur”
“Terus cara elo lawan gimana?”
“Gue nggak anggep dia ada, Kalau dia ngomong ama gue, gue diemin, Gue pura-pura buta,pura-pura tuli”
“Apa dia nggak pernah marah tuh elo gituin?”
“Marah”
“Terus?”
“Biasanya kalau dia marah-marah sama gue, gue diemin saja, Paling gue cuma ngomong, ‘elo ngomong sama gue?’, kalau sudah gitu dia pasti langsung pergi”
“Wah Lili,elo emang hebat!” puji Sinta terkagum-kagum “Gue sama Will sempat khawatir waktu lihat elo duduk sama dia. Takut elo di aniaya sama dia”
“Tenang saja, gue baik-baik kok”
Sore itu setelah selesai memasang mading,Lili pun duduk di koridor sekolah, Teman-temannya yang lain sudah pulang, dan tinggallah dia sendiri di sana. Sebenarnya tadi Sinta menawarkan diri untuk mengantarnya pulang,tapi Lili menolak. Dia tidak mau kalau Sinta nanti jadi pulang telat hanya karena mengantar dirinya.
Lili pun melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 tapi belum ada yang menjemputnya, Tadi supirnya sudah meneleponnya, dia bilang bahwa mungkin terlambat menjemputnya karena jalanan macet.
Sementara menunggu, Lili mengeluarkan buku catatannya dan dia mulai menulis.
Kalau masa dapat berhenti.
Aku ingin itu terjadi saat aku bersamamu.
Ketika tepian telaga hatiku kering.
Kau datang membawa segenggam harapan.
Menghijaukan kembali ranting-ranting hatiku yang telah gersang.
Seketika itu juga hatiku basah.
Tersiram oleh sapaan dan senyum manismu.
Perasaan ini tetap diam dalam tenang.
Terus membisu dalam harap
Menanti masa itu tiba.
Dimana sepasang merpati dapat terbang bersama.
“Elo lagi ngapain?”
Lili dengan segera mengangkat wajahnya, Dia kaget melihat Devan yang sudah berdiri tegak di hadapannya.
“Elo lagi ngapain?” ulang Devan.
“Gue rasa gue nggak harus bilang ke elo,kan?” Lili sudah memasang posisi untuk perang.
“Ini kan sudah sore, kok elo belum pulang?” Devan masih bertanya.
Kali ini Lili hanya diam saja tidak menjawab.
“Hee! Gue ngomong sama elo” kata Devan jengkel.
Lili tetap diam dan dia malah berdiri dan berjalan meninggalkan Devan sendirian, namun Devan tidak tinggal diam, dengan emosi dia menarik tangan Lili sampai gadis itu berhadapan dengannya dan merapatkan tubuh Lili pada dinding.
“Elo dengar ya. Gue udah capek ladenin ulah elo, jadi....”
“Oh, maaf banget kalau gitu. Tapi perasaan gue enggak minta elo ladenin ulah gue ini,kan?” Lili memotong omongan Devan dengan sinis.
“Elo nyolot banget sih sama gue! Elo bakal terima akibatnya ....”
Lili pun memotong ucapan Devan “Kali ini apa ancaman lo! Cepet! Gue sudah nggak sabar nunggunya!” tantang Lili.
“Elo, benar-benar pingin tahu akibatnya” tanya Devan.
“Iya!”
“Akibatnya ini” Devan lalu meraih Lili ke dalam pelukannya dan langsung mencium bibir gadis mungil yang ada di dalam pelukannya.
Dengan susah payah Lili melepaskan diri dari cengkraman kuat Devan lalu menampar cowok itu.
“Elo memang brengsek!” pekik Lili, lalu lari meninggalkan Devan sambil menangis, Sementara Devan hanya tersenyum puas melihat dampak kebencian Lili terhadap sikapnya.
Bagaimanakah keseruan ceritanya? Apakah ancaman Devan masih ada setiap hari untuk Lili?
Nantikan di bab selanjutnya….
Tetap dukung yah, dengan memberi saran, komentar dan ulasan mengenai buku ini…terimakasih
