BAB 7
“Elo berdua..”Devan tak dapat menyelesaikan kata-katanya, “Awas elo Lili, gue pasti bakal balas elo nanti” kata Devan lalu keluar meninggalkan mereka bertiga.
Setelah Devan keluar dari kelas, mereka pun bernapas lega dan tak lama mereka tertawa terbahak-bahak.
“Wah,tadi itu gue tegang banget lho, Saking takutnya gue sampai pengen nangis” kata Lili.
“Emang dia, elo apain sih?” tanya Sinta
“Sesuai instruksi elo malam minggu kemarin, gue kerjain dia dengan kasih jawaban yang salah di PR Fisika gue supaya dia kena marah ama guru waktu mengerjakan di depan”
“Wah, hebat elo, pantesan tadi si Devan kena omel habis-habisan sama Bu Indah” kata Sinta.
“Iya” Will pun ikut tertawa. Sinta sudah menceritakan padanya tentang kekejaman Devan pada Lili, Karena itu walaupun sebenarnya Devan tidak ada masalah dengannya, tapi melihat Lili dalam kesulitan, dia langsung datang menolong, Will memang setia kawan. “Tapi,Li, elo tahu dari mana kalau Bu Indah bakal nunjuk dia buat ngerjain soal kedepan?” tanyanya heran.
“Kalau itu gue cuma hitung nomor urutnya dia doang kok, dan ternyata nomor urutnya termasuk salah satu kelipatan tanggal hari ini”
“Maksudnya?”
“Bu Indah itu kan paling suka menunjuk siswa dengan cara melihat tanggal per hari dan memulainya dengan nomer urut yang sama dengan tanggal lalu kelipatannya terus sampai dua kali, Kebetulan hari ini tanggal dua, jadi kelipatannya kan empat, enam dan seterusnya” kata Lili menjelaskan.
“Wah, hebat elo, elo emang jenius, Li” puji Sinta
“iya dong, Lili gitu loh” kata Lili sambil menepuk dadanya “Tapi dia pasti bakal balas gue deh” kata Lili tiba-tiba “Gimana dong, gue takut nih” katanya panik.
“Jangan takut, elo nggak sendirian. Kita sama elo kok” kata Sinta meyakinkan.
**
Keesokan paginya, Lili bangun kesiangan karena kemarin malam harus mengerjakan tugas mading yang harus ditempelkan hari ini sepulang sekolah. Sebagai pengurus majalah dinding sekolah, sudah menjadi kebiasaan rutin Lili untuk mengganti berita-berita majalah dinding setiap seminggu sekali.
“Hah! Udah jam enam seperempat!” pekik Lili melihat jam dinding yang ada di kamarnya, “Aduh,gawat! Gawat!”. Dia langsung bangkit dari tempat tidur,menyambar baju mandi yang tergantung di pintu dan langsung kabur menuju ke kamar mandi. Ritual mandi yang biasanya dilakukan dalam waktu lama, mau enggak mau harus di selesaikan dengan secepat-cepatnya, Tak lama kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi,lalu ganti baju,berdandan dan langsung berlari keluar.
“Eh, tunggu ada yang kurang” katanya tiba-tiba pada dirinya sendiri “Tapi apa ya? Oh iya, kacamata!” Dia lalu masuk lagi ke kamarnya untuk mengambil kacamata yang tergeletak di atas meja belajar, Setelah itu dia langsung berlari turun menuju rak sepatu.
Alhasil, pagi itu Lili sukses menimbulkan kegaduhan yang memekakkan telinga seluruh penghuni di rumahnya yang biasanya selalu tenang di pagi hari.
“Lili! Kamu ngapain kok gedubrakan pagi-pagi begini? Bikin ribut” kata Mama yang saat itu sedang makan pagi bersama Papa dan kedua adiknya.
“Buru-buru nih,Ma. Udah telat”
“Sekarang kan masih jam setengah tujuh lebih, belum terlambat kok”
“Tapi kan pagi ini Pak Jamal sudah ijin enggak nganter Lili ke sekolah Ma, Jadi Lili mesti naik angkot”
“Kan kamu bisa berangkat bareng Papa”
“Lho bukannya Papa masih diluar kota?”
“Iya, tapi tadi malam Papa kan sudah pulang”
“Makanya kalau lewat lihat-lihat dulu dong, Masak kamu lewat meja makan, bisa-bisanya enggak lihat Papa sih” kata Papa yang sudah ada di samping Mama.
“Papa? Maaf,Pa. Habis tadi buru-buru sih” kata Lili agak malu.
“Ya sudah, kalau begitu kamu cepat siap-siap,kita berangkat!”
“Siap,bos” Lili memakan sarapan dan berlari menuju ke mobil ayahnya “Ma, berangkat ya!” teriaknya dari garasi.
**
Sesampainya di sekolah, bel pelajaran pertama baru saja berbunyi, Lili bergegas menuju kelasnya, Begitu sampai di kelas, dia langsung duduk di kursinya, Betapa terkejutnya dia saat melihat seorang cowok yang duduk di sampingnya.
“Elo? Ngapain elo di sini?” tanya Lili heran memandang Devan.
“Duduk, kenapa?” Devan balik tanya.
“Ta...tapi kan ini kursinya Ari”
“Yes,It was. Tapi barusan gue tukeran tempat sama dia, Kenapa? Keberatan?”
Lili sudah membuka mulutnya untuk menjawab, Tapi dia segera mengurungkan niatnya begitu melihat Guru Bahasa Indonesia mereka masuk ke kelas, dan dengan kesal,akhirnya Lili meletakkan pantatnya ke kursi.
“Ngapain sih nih orang duduk di samping gue” batin Lili “Jangan-jangan dia mau makin nindas gue di sini, ngapain juga si Ari au diajak tukeran tempat duduk sama dia?lagian Ari semena-mena banget. Udah tahu gue paling sebal sama cowok ini, eh...tanpa bilang-bilang sama gue dia malah tukeran tempat sama orang ini. Ih,nyebelin banget sihhh!!!” Lili menggerutu sendiri dalam hati.
**
Saat waktu istirahat pertama tiba Lili segera bangkit dan menghampiri meja Ari yang sudah pindah ke belakang bersama Tika sebelum cowok itu kabur ke kantin.
“Ari, gue mau ngomong sama elo” Lili menghentikan langkah Ari.
“Soal apa?”
“Elo pindah enggak bilang-bilang”
“Wah, elo ngerasa kehilangan gue ya, jangan terlalu kangen gitu dong. Biasa aja lagi” kata Ari bercanda.
“Elo ini! Gue lagi serius” Lili mulai cemberut
“Iya deh, sori, Sekarang gue serius”
“Kok elo tukeran tempatnya sama Devan sih”
“Lho,memangnya kenapa?”
“Elo itu gimana sih! Elo tahu kan gue nggak suka sama cowok itu, Kok malah bisa-bisanya elo tukeran tempat sama dia tanpa bilang-bilang sama gue dulu” kata Lili jengkel.
“Habis gue bosen duduk disana terus.pengin ganti suasana gitu” kata Ari memberi alasan.
“Tapi kan elo bisa tukeran tempat sama yang lain, enggak harus sama dia!”
“Habis yang mau diajak tukeran tempat duduk cuma dia sih, Lagian udah deh, masalah gitu aja elo bikin pusing, Mending elo sekarang baik-baik sama dia, Siapa tahu kalian bisa akrab. Enggak musuhan lagi” kata Ari, “Sekarang gue mau ke kantin, Elo mau ikut enggak?”
Lili menggeleng, Ari pun langsung cepat-cepat kabur ke kantin.
Lili pun berjalan dengan lemas menuju ke mejanya, dan ternyata di sana masih ada Devan, dia masih duduk di kursinya dengan manis! Lili membuka tasnya untuk mengambil dompet saat tiba-tiba Devan berdiri.
“Elo kayaknya keberatan banget ya gue duduk di sini?” katanya.
Lili hanya diam berpura-pura tidak mendengar perkataan Devan barusan, Dia bergegas melangkah keluar, namun baru selangkah Lili mengayun langkah, tangan kanan Devan sudah memegang tangan kirinya.
“Gue lagi ngomong sama elo!” kata Devan geram.
Bagaimanakah keseruan ceritanya? Akankah ada keributan diantara mereka? Apakah Lili akan memulai permusuhan dengan Devan?
Nantikan di bab selanjutnya….
Tetap dukung yah, dengan memberi saran, komentar dan ulasan mengenai buku ini…terimakasih
