Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 6

Lili masih berbaring di tempat tidurnya sambil memeluk boneka kesayangannya malam itu. Kebetulan hari itu adalah malam minggu,sehingga dia tidak perlu cepat-cepat untuk bergegas tidur malam ini.

Kembali terpikir kata-kata Sinta tadi.Untuk dia melawan Devan, supaya cowok itu enggak bisa berbuat semena-mena lagi padanya.

“Tapi bagaimana caranya?”batin Lili dalam hati. “Gue kan jelas nggak mungkin ngelawan dia dengahn fisik, Tapi masak gue harus nurut terus sama dia dan terus ngasih contekan PR gue sama dia?”

Semalaman Lili berpikir keras untuk mencari solusi bagi masalahnya sampai akhirnya dia tertidur karena kecapekan.

**

Keesokan hari...

Seperti biasa Lili dan Devan sama-sama sudah sampai dikelasnya pagi-pagi sekali, dan seperti biasa juga karena hari ini ada PR, begitu sampai Devan langsung menghampiri meja Lili.

“Biasa” katanya sambil tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya. Seperti biasanya,Lili langsungb saja menyerahkan buku PR-nya kepada Devan. Dan dengan cepat,Devan menyalin semuanya kedalam bukunya sendiri.

“Makasih ya” katanya setelah selesai lalu beranjak ke mejanya sendiri sementara Lili hanya terdiam melihat itu semua.

“Rasain lo,gue bohongin”Kata Lili dalam hati.

Beberapa menit kemudian, Tika datang bersama kedua temannya, Amy dan Lisa.

“Van, kok elo kemarin enggak datang sih, Gue kan nungguin elo!” hardik Tika begitu sampai di meja.

“Kemana?” tanya Devan acuh tak acuh.

“Ya ke pesta ultah gue! Lupa ya?”

“Oh Iya. Tapi gue bukannya lupa. Cuma gue nggak mau dituduh ngehamilin elo di hari ultah elo” jawab Devan agak keras.

Kontan seisi kelas yang kebetulan pagi itu sudah agak ramai langsung berhenti dan menatap Devan dan Tika dengan wajah penuh tanda tanya,tak terkecuali dengan Lili, Muka Tika langsung merah pada karena malu, Amy dan Lisa menatap Tika dengan penuh tanda tanya.

“Apa maksud elo?” kata Tika dengan nada marah.

“Gue lagi ngomongin soal tawaran elo ke gue tentang apa yang bakal kita lakukan sehabis pesta ultah elo” kata Devan semakin lantang.

“Brengsek elo!” Tika lalu menampar Devan dan lari keluar kelas dengan menangis.

Selama beberapa saat, tatapan satu kelas masih tertuju pada Devan. Tetapi dia masih cuek dan tetap santai.

**

Ketika pada saat jam pelajaran ketiga dimulai, Bu Indah,Guru Fisika mereka datang memasuki kelas.

“Sekarang,silahkan buka PR kalian yang kemarin, Sudah dikerjakan semua,kan?”

“Sudah,Bu!” jawab anak-anak serempak.

“Baik kalau begitu,yang namanya saya panggil silahkan maju untuk mengerjakan soal-soal itu didepan”

Sejenak suasana menjadi hening, Banyak anak-anak yang langsung menundukkan kepala dan berdoa dalam hati berharap supaya bukan namanya yang di panggil untuk maju ke depan.

“Saya minta yang punya nomor urut empat untuk maju kedepan mengerjakan soal nomor satu, lalu nomor urut enam soal kedua dan nomor tiga, dan nomor urut delapan untuk soal nomor empat dan lima” kata Bu Indah.

Terdengar helaan napas lega dari beberapa anak yang namanya lolos dari maut hari itu, Hanya Lili yang tampak senyum. Ketiga nama yang dipanggil itupun akhirnya maju untuk mengerjakan soal tersebut di papan tulis, Beberapa saat kemudian, kedua orang pertama telah selesai lalu diikuti oleh Devan yang mengerjakan dua nomor terakhir. Setelah selesai dia lalu kembali dengan tenang ke kursinya sementara Bu Indah mulai mengkoreksi tugas-tugas itu, dan beberapa saat kemudian, dia berhenti di soal dua nomor terakhir.

“Siapa yang mengerjakan nomor empat dan lima?” tanya beliau.

“Saya,Bu” jawab Devan

“Kamu kesini”

Devan lalu berdiri dan maju kedepan.

“Kenapa yang kamu kerjakan salah semua? Bukankah kemarin sudah diajarkan rumus dan cara perhitungannya? Tapi ini kenapa salah semua?” tanya Bu Indah dengan galak.

“Salah semua,Bu?” tanya Devan heran dan tak percaya.

“Iya, salah semuanya” kata Bu guru sambil marah

Devan menjadi gelisah menatap ke kawan-kawannya dan tatapan matanya terhenti pada Lili yang sedang menatapnya dengan tersenyum.

“Sekarang kamu cepat kerjakan ulang semuanya,sampai benar” perintah Bu Indah.

Beberapa saat kemudian,Devan hanya diam mematung melihat soal yang ada di hadapannya, dia jelas tidak tahu cara mengerjakannya karena dia tidak pernah mencatat rumus-rumusnya. Didalam pikirannya hanya tertuju pada Lili, sementara dia tidak berniat mengerjakan soal itu, Omelan dari Bu Indah pun tidak dia dengar sama sekali.

“Brengsek si Lili, ngerjain gue, Awas elo enggak bakal gue lepasin elo!” batin Devan

“Kenapa? Tidak bisa?” tanya Bu Indah saat melihat Devan hanya berdiri mematung terdiam.

Devan hanya diam saja, Dia hanya berani mengumpat di dalam hati, “Sialan tuh cewek! Awas aja elo berani ngerjain gue”

Bu Indah pun mulai mengeluarkan kata-kata omelan yang biasa dia berikan untuk siswa yang tidak bisa mengerjakan soal-soal yang di berikan, dan hari ini korban omelannya adalah Devan.

Namun ternyata keberuntungan berpihak kepada Devan,sebelum gendang telinga Devan meledak dan berubah tuli karena mendengarkan omelan Bu Indah, bel lonceng istirahat pertama pun berbunyi.

Bu Indah pun keluar kelas dan diikuti oleh anak-anak yang langsung berhamburan menuju ke kantin, Devan pun dengan segera mendatangi Lili.

“Apa maksud elo?”

“Maap, elo ngomong ama gue ya?” kata Lili acuh tak acuh, Mukanya sengaja dibuat galak, padahal dalam hatinya dia sangat takut.

“Enggak usah pake pura-pura enggak tahu deh. Elo emang sengaja kan ngasih jawaban yang salah ke gue?”

“Oh,contekan elo salah ya? Kasihan deh elo” kata Lili sambil menjulurkan lidah dan berbalik badan untuk cepat-cepat kabur,

“Hei, jangan kabur elo!” kata Devan sambil mencengkram lengan Lili.

“Siapa suruh elo enggak tanya jawabannya bener apa enggak” kata Lili sambil mengibaskan tangannya.

“Eh, elo bakal gue ba....”

“Apa? Elo mau apain sohib gue?” kata Sinta yang langsung berdiri di depan Lili sambil berkacak pinggang menantang Devan.

“Ya Tuhan, tolonglah aku, selamatkan dari orang gila ini” batin Lili.

“Eh, gue nggak ada urusan sama elo, jadi mending elo menyingkir sekarang” kata Devan memperingatkan Sinta.

“Gue bestinya Lili, Jadi kalau elo mau nyakitin dia, elo harus berhadapan dulu dengan gue”

“Gue bilang elo menyingkir sekarang atau elo...”

“Eh, eh elo mau apain yayang gue? Jangan coba-coba nyakitin yayang gue ya” kali ini Will sudah berdiri di depan Sinta dan menghadapi Devan.

“Elo lagi ikut-ikutan! Gue nggak ada urusan sama elo berdua, Urusan gue cuma sama Lili, mending kalian pergi” Devan pun mulai emosi

“Siapa yang bilang? Urusan Lili itu berarti juga urusan yayang gue dan urusan yayang gue itu berarti jelas! Mutlak! Wajibbb! Urusan gue juga! Ngerti elo” kata Will yang ikut terpancing emosinya.

Bagaimanakah keseruan ceritanya? Akankah ada keributan diantara mereka? Bagaimana bentuk perlawanan Lili kepada Devan?

Nantikan di bab selanjutnya….

Tetap dukung yah, dengan memberi saran, komentar dan ulasan mengenai buku ini…terimakasih

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel