BAB 5
“Habis dia sih” muka Sinta kembali cemberut “Masak tadi waktu aku ajakin nonton dia malah tidur”
“Ha! Tidur?” kata Lili sambil tergelak.
“iya”
“Kok bisa gitu? Emang kalian nonton film apa sih?”
“Itu tuh Prince and Me”
“Kali dia kurang tidur Sin, atau sebelum pergi ama kamu,dia nelen obat tidur jadi pas nonton jadi ngantuk” kata Lili becanda.
“Yee....enggak lagi. Dia bilang dia bosen sama filmnya jadi dia ngantuk, Ih...sebel! Padahal kan itu film romantis banget”
“Ya udah kalau gitu elo berdua nonton aja film yang dia suka dong” Lili memberi solusi.
“Wah kalo itu sih yang ada juga entar gue yang budek”
“Lho kenapa?”
“Si Will itu sukanya nonton film perang, yang banyak adegan tembak menembak gitu”
“Lho, emang kenapa? Cowok biasanya emang suka film begitu. Elo harus toleransi dong”
“Gue tuh pernah coba buat toleransi dan ikutan nonton film kesukaan dia, Lili sayang. Tapi hasilnya keluar dari bioskop kepala gue pusing plus telinga jadi rada budek” Sinta menjelaskan.
“Ya itu resiko” kata Lili sambil mengangkat bahunya “Masak elo rela kehilangan predikat pasangan termesra satu sekolah cuma karena berantem masalah beda selera tontonan aja sih ,Sin”
Sinta hanya diam saja, Tapi wajahnya tetap manyun.
“Atau elo udah bosen sama Will?”
“Maksud elo?”
“Ya dengar-dengar ni, katanya banyak lho adik-adik kelas kita yang naksir Will, tapi karena tahu dia udah punya pacar , mereka pun mundur” kata Lili menggoda.
“Sumpeh,lo” Sinta langsung duduk, rupanya Sinta mulai terpancing dengan godaan Lili.
“Gue nggak bohong, Gue yakin entar elo berantem sama Will, terus bubar bakalan banyak deh yang ngejer dia, jadi elo nanti jangan nyesal ya”
“Boong banget lo, tampang kayak dia sih mana ada yang minat selain gue” Sinta melengos.
“Yah...sekarang sih tampang udah nggak mutlak lagi, Mereka naksir Will karena ngeliat gimana dia memperlakukan cewek, terutama sama elo”
“Emang dia memperlakukan gue, gimana?”
“Masak elo enggak sadar kalau dia mesra banget. Dia tuh sayang banget sama elo, dan banyak orang sirik ngeliat elo diperlakukan mesra gitu sama dia, Mereka pada pengen diperlakukan gitu sama pacarnya”
“Iya juga sih” gumam Sinta.
“Nah kalau gitu sebelum dia direbut orang lain elo mendingan baikan aja sama dia”
“Apa? Gue ngajak baikan duluan? Sori ya nggak mau!”
“Lho kenapa?”
“Gengsi dong, masa sih gue yang minta maaf duluan, yang salah kan dia” kata Sinta sambil membuang muka.
“Kenapa mesti gengsi, dia kan cowok elo”
“Pokoknya gue nggak mau duluan harusnya dia dulu yang mulai baikan” Sinta tetap kekeh.
Tiba-tiba HP Sinta berdering, dan dilayar ponsel tertera nama Will yang memanggil,
“Halo?”
“Halo,Sin, masih ngambek ya?” tanya Will “Jangan marah lagi dong Sin, aku minta maaf deh”
Sinta diam saja mendengar omongan Will, dia pura-pura masih marah padahal dalam hatinya dia bahagia sekali karena Will meneleponnya untuk minta maaf, itu berarti Will masih sayang padanya.
“Habis kamu nyebelin sih” kata Sinta manja
Sekedar pemberitahuan saja, Sinta sama Will kalau sudah ngomong berdua sudah nggak pakai elo-gue tapi pake aku-kamu. Konon kata orang, kalau sepasang kekasih sudah pake aku-kamu,itu tandanya mereka itu saling sayang satu sama lain.
“Iya deh, aku minta maap,oke? Besok-besok aku janji deh nggak bakal begitu lagi” Will mulai merayu pacarnya.
“Janji?”
“Suer! Berani digigit semut deh”
“Ih..tuh kan kamu becanda terus” kata Sinta gemas.
“Enggak-enggak aku serius kok” ralat Will cepat-cepat, takut Sinta ngambek lagi.
“Iya deh, aku maafin”
“Asik! Yes!Yes!Yes!” sorak Will.
Sinta hanya tergelak mendengar ucapan yayangnya merasa lega “Kamu lagi ngapain?”
“Lagi nelepon kamu”
“Thu kan mulai lagi”
“Eh nggak kok”jawabnya cepat “Lagi tidur-tiduran aja sambil meluk foto kamu”
“Kalau gitu met bobok ya, mimpiin aku”
“Pasti,dong ah. Eh btw, kamu sekarang ada dimana?”
“Dirumah Lili, biasa...lagi curhat”
“Kalau gitu salam buat Lili ya? Bye”
“Bye”
Sinta lalu mematikan HP nya
“Ahh...akhirnya selesai juga ngomong nya” kata Lili lega.
“Kenapa? Lama ya?” kata Sinta sambil tersenyum malu “ Sori deh”
Lili mengangguk “Udah baikan?”
“Udah dong” kata Sinta dengan riang.
“Kadang-kadang gue jadi iri sama elo,Sin”
“Kenapa harus iri?”
“Will itu sayang dan care banget sama elo, sementara gue” Lili mengangkat kedua tangannya.
“Itu sih karena elo enggak mau cari cowok”
“Tapi kan gue suka sama Leon”
“Elo itu jangan terpaku pada Leon doang, masak udah tiga tahun elo naksir dia tapi tetap diam aja”
“Jadi gue mesti gimana?”
“Ngomong dong, Lili sayang”
“Bilang kalau gue suka dia, gitu?”
“Iya lah, Kan sekarang bukan jamannya cewek naksir cowok terus diam aja nunggu ‘ditembak’. Elo harus bilang perasaan elo ke dia”
“Tapi gue udah cukup bahagia dengan menikmati perasaan gue sekarang kok, Sin”
“Apa elo akan tetap senang kalau orang yang elo sayang nanti jadi pacar orang lain?”
Kali ini Lili yang terdiam, Dia tentu tidak rela Leon menjadi milik orang lain,
“Elo tuh harus buka mata, Lili sayang, Masih banyak cowok-cowok lain yang lebih oke dari pada dia, Di kelas kita contohnya ada Danu, Yudis, Heri atau Devan si anak baru itu...”
“Apa?Devan!” kata Lili memotong omongan Sinta “ Aduh please deh, jangan sebut nama tuh anak di depan gue. Gue benci banget sama tuh anak”
“Lho kenapa?” tanya Sinta heran
“Dia itu orangnya nyebelin banget, tau enggak sih lo”
“Maksud elo?” tanya Sinta tidak mengerti.
“Elo tau nggak kenapa tuh anak bisa kurang ajar banget sama gue?”
“Kurang ajar gimana maksud elo?”
“Dia thu berani meras gue”
“Ha! Dia berani meras elo? Udah berapa banyak duit elo yang diambil dia?” tanya Sinta kaget.
“Bukan ngompas duit, sayaanggg. Tapi dia meras gue supaya gue selalu ngasih contekan PR sama tugas ke dia terus”
“Tapi kan dia anak baru”
“Justru itu makanya gue heran.Kok berani-beraninya gitu lho” Lili berhenti sejenak “Hampir dua minggu ini dia selalu nyontek semua tugas-tugas gue”
“Dan elo selama ini enggak pernah coba cerita ke gue?”
“Gue takut,Sin, soalnya dia ngancem kalau gue bilang-bilang ke orang lain, Tuh orang nggak bakal selamat”
“Kalau gitu namanya, elo mestinya lawan dong, Elo nggak boleh tinggal diam aja” sergah Sinta panik.
“Tapi bagaimana cara melawannya?”
“Elo hajar kek, elo tendang kek, dicekik kek atau apalah!”Jawab Sinta bingung.
“Gila lo, Ngehajar dia sama aja cari mati, Apa lo nggak sadar kalau badannya Devan itu gede banget, Tingginya aja hampir 190 senti, mana dengar-dengar katanya dia juga bela diri lagi, Dijotos sekali aja sama dia dijamin gue bakal mesti dilarikan langsung ke UGD detik itu juga!”
“Tapi yang jelas elo kan enggak bisa diem aja, Li”
Bagaimanakah keseruan ceritanya? Apakah Devan berhasil mendekati Lili? Bagaimana bentuk perlawanan Lili kepada Devan?
Nantikan di bab selanjutnya….
Tetap dukung yah, dengan memberi saran, komentar dan ulasan mengenai buku ini…terimakasih
