Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 4

Hari ini Devan kembali masuk ke kelasnya dengan wajah yang lesu, Kemarin malam saat dia mengutarakan pada mama tentang keberatannya mengenai perjodohannya dengan Lili, ternyata mama bukannya menerima keputusan Devan begitu saja, tetapi malah balik menasehati anak tunggalnya itu.

“Van, kamu kan baru ketemu sama dia, jadi baru luarnya saja yang kamu kenal” kata Mama, “Coba kalau kamu kenal dia lebih lama lagi, Mama  yakin kamu pasti akan suka sama dia”

“Ma, tolong jangan paksa Devan dong. Lagipula Devan kan sudah punya pacar” Devan jadi putus asa.

“Kamu sudah punya pacar? Siapa?” mamanya nampak terkejut.

“Dona”

“Apa!? Perempuan kurang ajar itu?! Enggak! Mama nggak setuju kamu pacaran sama dia”

“Tapi…”

“Dia itu gadis yang sudah merusak kamu, Gadis itu yang membuat kamu berubah jadi seperti ini”

“Ma…”

“Van,  mama mohon jauhi gadis itu, Mama menjodohkan kamu dengan Lili supaya kamu jauh dari gadis itu, Supaya kamu jadi baik  seperti dulu”

Devan tidak dapat membantah lagi, Dia takut kalau dia sampai membantah lagi sakit jantung ibunya akan kumat lagi.

Karena itu Devan memutuskan bahwa dia harus sesegera mungkin melaksanakan rencana cadangannya yang telah di susunnya sejak semalam. Dia harus menjadi cowok  super galak,jahat dan sadis di depan Lili supaya gadis itu membencinya.

“Dan gue akan tunjukkan sama Mama dan Papa kalau gadis itu tidak sebaik yang mereka pikir” kata Devan bermonolog,

Kebetulan saat itu masih pagi dan kelas masih sepi, Hanya ada Lili yang duduk di kursinya sedang membaca buku, Sejenak Devan memandangi gadis yang sedang menunduk menekuni buku yang ada di depannya tanpa menyadari kedatangan Devan.

Devan pun menghampiri Lili, dan ….

“Hai elo!” panggil Devan keras sambil menggebrak meja Lili.

Sontak Lili langsung mengangkat wajahnya sambil mengelus dadanya karena kaget.

“A..apa?” katanya sambil membenarkan letak kacamatanya.

“Gue pinjem tugas bahasa Inggris lo!” Kali ini Devan sudah duduk di samping Lili.

“U…untuk apa?”

“Gue males ngerjain, Jadi gue pinjem punya elo!” kata Devan sambil mengambil buku yang sedangg dibaca Lili, “Baca apaan elo?”

Lili tidak menjawab pertanyaan Devan barusan .Dia masih terbengong-bengong menatap cowok yang sekarang ada di sampingnya.

Saat melihat Lili belum juga menyerahkan tugasnya, Devan lalu membentaknya lagi.

“Hei!!! Elo nggak dengar ya apa yang barusan gue bilang?” bentak Devan

Lili kembali terkejut dan takut, dia cepat-cepat mengeluarkan tugasnya dan segera menyerahkan pada Devan.

“I..i..iya,” kata LIli sambil menyerahkan tugasnya “I…ini”

Devan dengan segera menyalin tugas Lili ke dalam bukuya, Setelah selesai dia lalu kembali menatap gadis itu.

“Makasih ya, besok-besok gue pinjem tugas elo lagi ya”

“Untuk apa?”

“Elo ternyata rada bego ya, Ya buat gue contek! Apalagi” kata Devan sambil tersenyum sini “Teman-teman bilang kalo elo tu cewek yang paling pinter, jadi apa salahnya gue nyontek tugas elo, biar gue juga bisa dapat nilai bagus”

Lili kaget mendengar omongan Devan barusan, “Enak aja nih cowok, seenaknya aja mau meras gue” batin Lili.

Saat melihat Lili menatapnya dengan wajah tidak senang, Devan langsung menantangnya, Bagi Devan ini adalah kesempatan untuk menyulut permusuhan dengan Lili.

“Kenapa? Elo nggak setuju?” Tanya Devan datar.

“Elo kok gitu sih, itu namanya elo meras gue” protes Lili.

“So what gitu loh?” Devan menaikkan sebelah alisnya

“Elo kan anak baru di sekolah ini”

“Memangnya kenapa kalau gue anak baru?”

“Elo nggak boleh seenaknya gitu, Gue enggak mau”

“Oh, punya nyali juga nih cewek” pikir Devan

“Eh, nyali lo gede juga ya sampe berani nantangin gue” Devan mendekatkan wajahnya pada wajah Lili.

“Gue nggak bermaksud nantangin elo kok, tapi kan elo emang nggak punya hak untuk memperalat gue” kata Lili, Sebenarnya di dalam hatinya Lili takut banget menghadapi Devan, tapi dia tidak boleh menunjukkan ketakutan itu,bisa-bisa makin di tindas dia dan makin besar kepala cowok itu, “Ayo lawan Lili, go Lili go”

“Elo nantangin gue ta?” Tanya Devan berang.

Lili mendadak terdiam, tidak berani menjawab dan dia menjadi menyesal tadi karena sudah ngomong.

Devan lalu meraih bahu Lili lebih dekat padanya, “Coba aja kalau elo berani” ancamnya lalu melepaskannya dan beranjak menuju ke tempat duduknya sendiri. Saat itu barulah teman-teman yang lain berdatangan dan kelas pun mulai ramai, Tetapi tidak ada satu orang pun yang menyangka apa yang baru terjadi antara Lili dan Devan.

**

“Hai,Van, apa kabar?” sapa Tika pagi berikutnya.

“Fine, like you see”

“Van, lusa besok gue ngadain pesta ultah. Nih undangannya,gue harap elo datang ya” kata Tika sambil menyerahkan undangan ultahnya pada Devan.

“Gue usahain deh” jawab Devan acuh tak acuh, Dia tahu betul,sejak masuk ke sekolah ini, Tika selalu berusaha menarik perhatiannya, Tika memang cantik tapi entah mengapa Devan sama sekali tidak menaruh minat padanya, Mungkin karena Tika memiliki sifat yang buruk dan bermulut culas, atau mungkin juga karena dia sendiri ingin lebih focus untuk membereskan masalah pertunangannya yang tidak masuk akal ini.

“Harus pasti dong, Soalnya enggak semua orang bisa masuk ke pesta gue loh” kata Tika bangga.

“Oh ya?”

“Iya, Cuma orang-orang yang gue anggap oke aja”

“Elo ngundang Lili nggak?”

“Apa?Siapa?Lili?Please dong deh! Ya enggaklah” jawab Tika dengan wajah kaget.

“Lho kenapa?”

“Dia itu kan jauh dari oke, bahkan jauh dari normal, trio Lili,will dan Sinta itu enggak bakal bisa datang ke pest ague, bisa-bisa hancur pest ague nanti”

“Selain gue, siapa lagi yang dateng?”

“Banyak, tapi yang jelas pesta ini spesial buat elo, karena gue bakal….” Tika mendekatkan bibirnya pada telinga Devan sambil membisikkan sesuatu. Sontak wajah Devan langsung berubah mendengarnya.

“Oh ya, Ehmm….”

Tika mengangguk pelas, “Elo pasti nggak akan kecewa sama gue”

**

Malam itu, Lili sedang berada di kamarnya membaca buku untuk bahan ulangan untuk minggu depan, Tiba-tiba Sinta masuk ke kamarnya.

“Hai”

“Hai Sin, masuk”

“Ini juga sudah masuk” kata Sinta sambil langsung berbaring di ranjang Lili.

“Ada apa elo kemari?”

“Lagi bête gue” kata Sinta sambil cemberut

“Kenapa? Berantem lagi sama Will?”

“Kok elo tahu sih? Padahal gue belum cerita apa-apa” kata Sinta heran.

“Apa sih yang bikin elo bête malam minggu begini kalau enggak berantem abis kencan sama yayang elo itu”

“Iya nih, sebel deh”

“Kenapa?” Lili menutup bukunya dan mulai mendengarkan ocehan Sinta tentang kekesalannya pada Will.

Bagaimanakah keseruan ceritanya? Apakah Devan berhasil mendekati Lili?

Nantikan di bab selanjutnya….

Tetap dukung yah, dengan memberi saran, komentar dan ulasan mengenai buku ini…terimakasih

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel