Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 3

“Baik, sekarang kita mulai pelajaran kita” kata  Pak Parlan, “Silahkan buka buku diktat kalian pada halaman tujuh puluh tiga”

Ditengah-tengah pelajaran sedang berlangsung, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.

“Masuk” kata pak Parlan,

“Maaf Pak, saya terlambat” kata gadis yang baru masuk itu sambil menyerahkan surat ijinnya.

“Liliana, kenapa kamu terlambat hari ini?”

Devan mengangkat wajahnya begitu mendengar nama yang disebutkan pak guru.

“Hah?” jadi itu yang namanya Lili!?” pekik Devan tak percaya.

“Tadi, ban mobil saya pecah di tengah jalan pak jadi saya harus naik angkot sampai sekolah dan akhirnya saya terlambat” kata Lili menjelaskan lalu menunduk

“Baiklah, karena ini pertama kalinya kamu terlambat, maka saya maafkan” kata Pak Parlan “Silahkan duduk”

“Terima kasih Pak” kata Lili. Dia lalu beranjak menuju kursinya yang berada di deret nomor dua tepat di belakang Will dan Sinta.

Devan membuang napas kasar, “Mama ini gimana sih! Masak cewek model kayak gini dibilang cantik!” batin Devan sambil menggeleng-gelengkan kepala,

**

Bel istirahat pertama bordering, anak-anak banyak yang pada langsung lari menuju kantin untuk jajan, Seperti biasa, Lili tetap duduk di kursinya dan dia sedang mengeluarkan dompet dari tasnya dan akan bersiap pergi ke kantin, Devan sebenarnya diajak oleh Tika, dan teman-teman ceweknya yang lain untuk pergi ke kantin, Namun dia menolak, karena ingin mengamati apa saja yang dilakukan gadis “rekomendasi” mama itu.

“Eh, Lili, kita punya teman baru lho, di kelas ini” kata Sinta sewaktu mereka mengobrol,

“Oh ya? Siapa?”

“Itu thu” katanya menunjuk kemeja Devan lalu memanggilnya “Devan sini dong”

Devan lalu berdiri dan berjalan menuju ke meja Lili.

“Ada apa?”

“Kenalin Van, dia ini namanya Lili, satu-satunya penghuni kelas ini yang belum kamu kenal”

“Iya, Van. Soalnya tadi dia datang terlambat” tambah Sinta

“Hai, kenalin nama gue Devan” kata Devan sambil mengulurkan tangan.

“Lili” kata Lili singkat sambil menyambut uluran tangan cowok yang berdiri di hadapannya

“Lengkapnya?”

“Liliana”

“Oh, gue Devan Aswata”

“Perasaan,gue nggak nanya nama lengkap deh” batin Lili.

“Boleh gabung nggak?” Tanya Devan. Dan dengan tanpa permisi dia langsung duduk di samping Lili dan mengulurkan tangan kanannya ke sandaran kursi Lili, sehingga saking terkejutnya Lili yang saat itu sedang bersandar langsung tegak dan duduknya jadi sedikit lebih maju.

“Idih nih cowok enggak sopan banget sih, Udah bajunya enggak rapi, lehernya pake rante,eh duduknya seenaknya lagi” pikir Lili jengkel.

“Kalian tadi ngomongin gue yah?” Tanya Devan dengan pede

“Aih, pede kali anak ini!” batin Lili.

“Oh ya,soalnya setiap anak baru bakalan rugi kalau enggak kenal sama Lili” kata Will angkat bicara.

“Oh ya? Emang kenapa?” Tanya Devan sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Soalnya Lili thu kebanggaan SMA ini”

“Maksudnya dia tuh langganan juara satu parallel di SMA ini” kata Sinta menjelaskan.

“Oh,gitu”

“Oh iya, kamu udah tahu nama aku belom?” Tanya Will pada Devan.

“Nama lo Will kan? Dan elo Sinta,kan?” Devan lalu menunjuk Sinta yang duduk di samping Will.

“Iya, tapi itu sih kependekannya, Nama lengkap gue William Agung, Tapi lebih beken dan lebih dikenal dengan nama Will. Gue asli orang Jawa,lebih tepatnya asli dari Solo” kata Will bersemangat. Mereka akhirnya tertawa bersama melihat gaya bicara Will yang lucu.

Tiba-tiba HP Lili pun berbunyi.

“Halo, Pak Jamal, gimana mobilnya?”

“Maaf,Non.kayaknya mobilnya harus dibengkel satu hari, jadi tidak bisa menjemput Non Lili pulang sekolah” kata Pak Jamal dari seberang telepon.

“Bukannya tadi cuma bannya yang pecah?”

“Iya Non,tapi setelah dicek, ternyata banyak juga yang harus diperbaiki, Tadi saya sudah hubungi Bapak di kantor, beliau minta supaya mobilnya di servis semuanya”

“Yah..terus saya pulangnya gimana,Pak?”

“Sebaiknya Non Lili pulang naik taksi saja nanti”

“Terus adik-adik gimana?” Lili teringat dengan kedua adiknya.

“Kalau mereka nanti katanya mau dijemput sama Ibu Non” jawab pak Jamal.

“Jadi,saya harus pulang sendiri,ya Pak?” keluh Lili “Ya udah deh, makasi ya Pak”

Lili pun mematikan HP nya,

“Kenapa,Li?” Tanya Sinta

“Itu tu Pak Jamal, katanya nggak bisa jemput gue nanti pulang sekolah”

“Kenapa?”

“Tadi gue terlambat, karena ban mobil gue pecah. Setelah di bawa ke bengkel, ternyata Pak Jamal bilang mobilnya harus nginep di bengkel hari ini, katanya masih ada yang harus di benerin dan di servis”

“Ya udah, ntar elo pulang bareng gue aja” kata Will

“Tapi kan rumah kita dari ujung ke ujung” kata Lili “Belum lagi entar gue jadi obat nyamuk karena liat kalian berdua mesra” kali ini dia bercanda.

“Gimana kalau gue yang antar elo pulang?” kata Devan tiba-tiba.

Lili terkejut mendengar tawaran Devan barusan, Dia langsung cepat-cepat menolak.

“Oh, nggak usah, biar gue nanti naik taksi saja”

**

Siang itu setelah pulang sekolah, Devan tidak langsung pulang ke rumah, melainkan ke kantor ayahnya untuk menyampaikan uneg-uneg dan protesnya.

“Hei,Van, tumben kamu ke kantor papa” kata sang Ayah begitu melihat Devan muncul dibalik pintu. “Gimana hari pertama kamu di sekolah?”

“Biasa saja”

“Udah ketemu dengan Lili? Gimana?”

“Sudah dan hasilnya di luar dugaan!”

“Lho,kenapa?” Tanya pria itu sambil mengerutkan dahinya.

“Papa dan Mama ini gimana sih, apa enggak ada yang lain apa?” kata Devan mulai protes.

“Lho ada apa ini? Kok kamu jadi marah-marah sih?”

“Masak Devan mau dijodohkan sama cewek macam dia sih,Pa?”

“Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan gadis itu?”

“Salah besar! Dia tuh cewek old fashion,udik!” Kata Devan berapi-api, “Kacamata,rambut dikepang dua kayak cewek-cewek jaman dulu, terus nggak gaul banget. Pokoknya nggak ada menariknya sama sekali, dan pokoknya Devan nggak mau di jodohkan sama dia. Titik!” kata Devan protes.

“Van,kamu jangan lihat dia dari luarnya saja dong, dia itu cantik hatinya lho” kata ayahnya.

“Ah Papa, sekarang sudah nggak jaman cewek model kayak gitu”

“Lah,terus wanita idaman kamu yang seperti apa?” Tanya ayahnya mencoba bersabar.

“Devan kasih tahu ya, Bagi Devan cewek itu harus cantik, seksi, feminism, trus dandanannya mengikuti mode yang gaul” kata Devan menjabarkan.

“Jadi menurut kamu, gadis itu bener-benar bukan tipe kamu?”

“Jelas enggak pak, jauh banget, Apalagi kalau dibandigkan dengan Dona, kayak langit dan bumi” kata Devan membandingkan.

“Ya sudah. Sebaiknya kamu bilang pada mamamu dan jelasin supaya Mama mengerti dan mau menerima keputusan kamu” kata ayahnya memberi saran.

Bagaimanakah keseruan ceritanya? Apakah Wina, mamanya Devan akan mengalami kesembuhan? Apakah Devan berhasil mendekati Lili?

Nantikan di bab selanjutnya….

Tetap dukung yah, dengan memberi saran, komentar dan ulasan mengenai buku ini…terimakasih

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel