BAB 2
“Kamu sering sekali bolak balik Jakarta-Bali dan di sana kamu punya banyak teman yang kurang baik kata mamamu, di Jakarta, Mama pernah melihat kamu jalan dengan perempuan yang nggak bener, dan kalian ciuman di depan umum”
“Maksud mama, Dona?”
“Papa tidak tahu” kata ayahnya sambil mengangkat bahu.
“Dona itu pacar Devan pa, jadi apa salah kalau kami terlihat mesra di depan umum?”
“Tapi mamamu berpikir kalau gadis itu bukan gadis baik-baik. Karena itu mamamu sangat khawatir dengan pergaulanmu, belum lagi teman-temanmu yang sering kamu ajak ke rumah, kata Mama, mereka pada kurang ajar, Nah waktu mama kamu datang ke kantor,dia tertarik dengan foto putri pak Rendra yang ada di atas meja kerjanya, Lalu saat pulang, dia menceritakan keinginannya untuk menjodohkan kamu dengan gadis di foto itu” cerita ayahnya panjang lebar.
**
Malam itu, Devan sama sekali tidak bisa tidur karena kata-kata dari ayahnya terus terngiang-ngiang di benaknya, Dia tahu betuk kalau sebenarnya pergaulannya akhir-akhir ini memang mulai berubah agak liar, Terutama sejak dia berkenalan dengan teman-teman Dona, pacar barunya.
Dia memang belum lama mengenal Dona, kira-kira tiga bulan yang lalu, Saat itu, Devan baru saja selesai tanding basket antar sekolah, Dona yang melihat pertandingan itu datang menghampiri Devan seusai pertandingan untuk meminta tanda tangan, sejak saat itulah mereka menjadi dekat dan akhirnya mereka berpacaran setelah 4 hari jalan. Dona memang sangat cantik dan sangat seksi, jadi apa salah kalau Devan suka jalan dengannya? Lagi pula cowok kan tidak akan rugi!
Selain pacaran dengan Dona, Devan juga berteman dengan teman-teman Dona yang tingkah lakunya jauh dari kata terpuji, sehingga secara langsung membuat Devan menjadi banyak berubah. Dona memperkenalkan banyak hal baru yang belum pernah Devan ketahui sebelumnya, Karena Dona, Devan menjadi seorang peminum dan perokok, padahal sebelumnya dia adalah seorang atlet basket kebanggaan sekolahnya, Selain itu, dia juga suka bolos sekolah hanya untuk pergi dengan Dona, Alhasil, nilainya banyakyang anjlok dan terancam di keluarkan dari sekolah karena ketiga hal itu.
Setelah berpikir panjang, akhirnya dia dapat menemukan jalan keluar yang dia rasa dapat menyelesaikan masalah.
**
Keesokan hari setelah pulang sekolah, Devan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya dan sekaligus untuk ngobrol mengenai perjodohan.
“Gimana,Ma. Keadaan mama?” Tanya Devan begitu sampai di samping ranjang ibunya.
“Baikan”
“Ma, Devan mau ngomong”
“Ngomong aja, Van” kata ibunya dengan nada suara lemah.
“Soal yang kemarin..Devan setuju, tapi ada satu syarat” katanya
Mamanya tersenyum lega “Syaratnya apa?”
“Devan bosen sama sekolah Devan yang sekarang, Devan mau pindah”
“Tapi kenapa,Van?”
“Devan mau pindah ke sekolah tempat anak rekan bisnis papa itu, supaya bisa lebih kenal, Siapa tahu Devan tertarik” katanya tanpa ekspresi.
Mendengar hal itu, wajah sang ibu langsung berseri-seri
Devan pun mencegah perasaan ibunya untuk lebih berbunga-bunga lagi “Tapi ada lagi syaratnya yang lain,Ma”
“Syarat apalagi,Van?”
“Kalau nanti setelah ketemu dengan gadis itu dan ternyata Devan nggak suka, Mama nggak boleh maksa-maksa Devan lagi”
“Mama yakin, kamu pasti menyukai gadis ini”
“Gimana kalau dia yang nggak suka sama Devan,Ma?”
Sang mama terdiam mendapat pertanyaan seperti itu.
“Kan nggak mungkin Devan maksa dia,Ma” kata Devan memberi alasan.
“Baiklah, Kalau memang dia yang tidak suka sama kamu, maka perjodohan ini akan dibatalkan” kata ibunya dengan nada suara mengalah.
“YESS!!” pekik Devan dalam hati, Sekarang tinggal, melaksanakan rencana berikutnya.
Jujur saja, sebenarnya Mamanya sendiri tidak yakin pada gadis pilihannya itu akan menyukai anak tunggalnya, Liliana itu gadis baik-baik dan polos, Mamanya Devan sudah bisa menebak sejak pertama kali melihat fotonya, Jadi apa mungkin gadis seperti itu akan menyukai pria seperti putranya? Tapi mamanya melakukan hal ini untuk kebaikan anaknya, dan wanita itu berharap kalau nanti mereka bisa bertunangan, Devan dapat berubah menjadi seperti dulu lagi,
**
“Selamat pagi,anak-anak”sapa pak Parlan pagi ini, “Pagi ini, sebelum kita memulai pelajaran, bapak mau memperkenalkan teman baru kalian”
“Silahkan langsung memperkenalkan diri”
“Selamat pagi, teman-teman, Perkenalkan nama saya Devan Aswata. Biasa di panggil Devan”
Seluruh siswa di kelas itu langsung pada rebut, terutama siswi cewek langsung heboh karena dapat teman cowok baru untuk di goda, sementara siswa cowok pada berisik untuk mendiamkan teman sebangku, perlu diketahui bahwa di sekolah ini, diwajibkan dalam satu meja, yang menghuni harus siswa laki-laki dan perempuan.
Para siswi perempuan yang melihat Devan di depan sontak saja menjadi heboh karena penampilan Devan yang seperti artis Korea, sehingga dalam waktu singkat Devan menjadi idola.
“Wah, Gi, thu anak baru cakep banget ya”kata Saskia pada Yogi,teman sebangkunya.
“Biasa aja, cakepan gue lagi”jawab Yogi cuek
“Huuu,,..ngaca dong, gigi belah tengah, gitu” kata Saskia mengejek.
“Justru karena itu gue jadi cakep,habis paling langka sih, satu kelas ini kan Cuma gue yang giginya belah tengah gini” jawab Yogi pede.
Saskia Cuma melengos, temannya yang satu ini kadang-kadang kalau lagi gila, memang sok kelewat pede.
“Hai, Devan aja, Semoga elo senang and betah di kelas ini,ya” kata Will yang duduk di kursi paling depan bersama Sinta.
Kata-kata Will tadi langsung di sembur dengan sorakan dari siswa yang lain.
“Hei, guys, peringatan keras buat yang merasa cowok, hati-hati kayaknya si Will sudah ganti selera thu” seru Rido yang duduk paling belakang.
Kontan langsung meledak tawa seisi kelas yang langsung menimbulkan kegaduhan.
“Waduh, kalau gitu, berarti selama ini si Sinta di tipu dengan Will dong!”sambung Doni.
Muka Sinta langsung berubah keruh.
“Sok tahu lu pada!”
“Udah,Sin, Kalau mau bunuh Will, bunuh aja, nih gue pinjemin kater buat ngegorok leher ayang lo” tambah Ari.
Maka tambah meledaklah tawa seisi kelas, kali ini lebih keras dari pada yang tadi, sampai Pak Parlan harus menghentikan mereka karena takut akan menganggu kelas yang lain,
“Sudah,sudah! Jangan ribut!” katanya sambil memukul-mukulkan penggaris ke papan tulis “silahkan duduk” katanya pada Devan.
Devan pun langsung menghampiri meja Tika yang sedang duduk sendiri.
“Hai! Gue boleh duduk di sini, nggak?”
“Wah boleh banget!” jawab Tika segera sambil senyum-senyum memandang sekelilingnya, Banyak mata yang memandang iri padanya karena dia bisa duduk bersebelahan dengan cowok cakep ini, Devan pun segera duduk lalu mengeluarkan bukunya.
Bagaimanakah keseruan ceritanya? Apakah Wina, mamanya Devan akan mengalami kesembuhan? Apakah Devan berhasil mendekati Lili?
Nantikan di bab selanjutnya….
Tetap dukung yah, dengan memberi saran, komentar dan ulasan mengenai buku ini…terimakasih
