Bab 6. Awal PDKT
Saat ini Andre sudah memasuki area kampus. Di lapangan parkir, Andre membuka helm dan mengusap rambutnya ke belakang sebelum turun dari motornya. Cowok itu menyimpan helm di spion motor. Tanpa disangka, Andre mengangkat pandangannya ke atas, tepat ke arah kerumunan cewek yang sejak tadi memperhatikannya. Sudut bibir Andre pun terlintas membentuk senyuman. “Ya Allah, gue melting. Dia ngelihatin gue, ya?” celetuk salah satu gadis yang di atas.
“Andai aja dia suka sama gue, bakalan langsung gue nikahin deh dia,” tambah teman gadis itu.
Cepat-cepat Andre membuang mukanya dan segera turun dari motornya, meninggalkan area parkir. Andre menelusuri lorong koridor kampus untuk bisa sampai ke kelas Anna. Dan Andre sekarang sudah berada di depan kelasnya. Sekitar tujuh menit Andre berdiri, tetapi kelas pun tak kunjung selesai.
“Ndre, kenapa kamu berdiri di kelas saya?” tanya Dosen Grey yang tiba-tiba keluar dari kelas Anna.
Andre beranjak dari duduknya, mengubah posisinya sambil cengir tak berdosa. “Nggak apa-apa, Pak, ” jawab Andre salah tingkah.
Dosen Grey hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Hm, baiklah kalau begitu saya permisi dulu,” pamitnya.
Astagfirullahalazim, batin Anna kaget saat Andre ada di hadapannya secara tiba-tiba. Kenapa lagi dan lagi harus dia yang muncul? Emang di dunia ini cucu Nabi Adam cuma dia? Arggghh, sungguh menyebalkan! Anna hanya mampu mengelus dadanya untuk berapa kali. Seperti biasanya ketika Andre jumpa dengan Anna, dia tidak pernah lupa untuk memberikan senyum bahagianya. Anna mencoba melangkah kaki pergi dari hadapan Andre, tetapi langkahnya tertahan saat Andre memegang salah satu tangannya. “Gue mau ngomong sama lo,” katanya. Dengan cepat Anna menepiskan tangan Andre kasar dari tanganya. “Apa?” sinis Anna tajam sambil menatap Andre.
“Annaa— My lope-lope akuuu— kesayangan aku— Sahabatmu ini datang menghampirimu—” teriak Icha dengan nada yang paling kencang, yang membuat Anna dan Andre menutup kedua telinganya.
Icha masih lari terengah-engah menelusuri koridor kampus, lariannya melambat saat napasnya tidak lagi beraturan. Kedua tangannya kini sudah menyentuh lutut.
“Eh ada— Kak— Andre juga di— sini, maaf Kak— kalau teriakan aku bising,” katanya berusaha berbicara dengan nafas yang tidak beraturan.
Setelah teriakan itu tidak ada lagi. Anna dan Andre segera melepaskan kedua tangan dari telinga masing-masing. “Berisik tau, Cha,” ucap Anna penuh penekanan.
“Ya maaf, Na. Gue kelepasan,” Lirih Icha tulus.
Anna hanya bisa menghela berat dengan sifat sahabatnya ini. “Oh iya, Kak. Btw Kakak ngapain di sini?” tanya Icha terus terang.
Andre menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Se— be—nar— nya,” ucap Andre terbata-bata.
Anjir, kenapa gue jadi gugup gini, batin Andre. “Kakak nggak usah gugup, santai aja,” pinta Icha berusaha menenangkan.
Anna hanya berdiam diri menatap Icha yang tidak lepas dari pandangan Andre. Sebenarnya apa gantengnya sih dari pangeran kampus? Sampai sahabatnya sendiri bisa menggemari Andre, yang katanya sang pangeran kampus.
“Hehe, iya-iya,” cengir Andre tak berdosa. “Terus, sebenarnya apa tadi, Kak?” tanya Icha berusaha mengingatkan ucapan Andre yang terbata-bata. Ia sangat bingung dengan kehadiran Andre yang menemui Anna secara diam-diam.
“Anu, gue mau ajak kalian makan siang. Gue yang traktir,” ucap Andre memberikan penawaran.
“Terus, Kak?” Icha semakin bertanya-tanya dengan bodohnya.
“Kalian mau, nggak?” jawabnya penuh dengan penekanan. Hanya ini tawaran yang mampu membuat dirinya dan Anna semakin dekat.
Pipi merah dan senyum yang lebar kini tidak bisa disembunyikan lagi oleh Icha. “Mau banget dong, Kak,” jawab Icha dengan nada semangat empat lima diringi senyum ceria sedunianya.
Pandangan Andre beralih menatap Anna yang sedari tadi hanya diam. “Kalau Anna, gimana?” tanya Andre kepada Anna.
Andre menunggu respon dari Anna, dan Anna cepat untuk merespon perkataan Andre. “Gue nggak mau,” tolaknya.
“Kenapa?” tanya Icha dan Andre serempak bersamaan.
“Capek,” seru Anna singkat.
“Ya, kalau Anna nggak ikut, suasananya jadi nggak seru deh,” ucap Andre sambil memperlihatkan wajah kekecewaan miliknya.
“Iya, Na. Ayo dong. Kan jarang-jarang sih pangeran kampus ngajak kita buat makan siang,” Icha berusaha untuk membujuk Anna supaya sahabatnya ini mau ikut bersamanya. “Malas, ah,” jawab Anna tetap menolak.
“Yaudah kalau lo nggak ikut, gue nggak mau manggil lo Anna, tapi gue akan manggil lo dengan sebutan Libra, lo mau?” ancam Icha. Icha sangat tahu banget bahwa Anna paling tidak suka dipanggil dengan sebutan Libra.
Anna terperangah, melongo mendengar ancaman gila dari Icha. Ingin sekali Anna mengumpati Icha saat ini juga. Ia sangat terkejut mendengarnya saat Icha memberikan kata-kata yang mencengkam. “Yaudah deh gue mau,” pasrah Anna. Mau tidak mau Anna harus menuruti permintaan Icha, karena dirinya paling benci sekali bahwa Icha terus-menerus memanggil dirinya dengan sebutan Libra.
“Yes,” ucap Andre sambil menggerakkan tangan kirinya, menandakan bahwa rencana pertamanya berhasil.
***
Andre mengajak Anna dan Icha ke sebuah restoran. Restoran yang berada di dekat kampus. Sebenarnya ia ingin mengajak Anna saja, tetapi kalian tahu sendiri ya betapa kerasnya Anna. Sahabatnya sendiri yang membujuk saja harus mesti pakai ancaman agar Anna mau menurutinya. Lah, bagaimana dengan dirinya? Ancaman apa yang harus dibuat? Susah kan? Bahkan tidak terpikirkan lagi oleh Andre.
Andre melambaikan tangannya kepada salah satu pegawai yang berada di sana, menandakan bahwa ia ingin memesan sesuatu. Pelayan itu dapat melihat jelas Andre melambaikan tangan, memintanya untuk menghampiri ke sana. Ia segera datang menghampiri meja yang berisi satu cowok dan dua cewek. Pelayan itu memberikan dua buku menu yang dipegangnya agar ketiga orang itu bisa memesannya.
“Saya pesan seperti biasa aja,” ucap Andre tanpa melihat buku menu lagi. Pelayan itu memegang kertas dan bolpoint agar apa yang dipesan oleh Andre, Icha dan Anna bisa dicatatnya. “Kalau Icha mau pesan apa?” lanjut Andre. Icha masih sibuk dengan buku menunya, akhirnya dia mendapatkan daftar makanan kesukaannya.
“Ah, ini dia,” seru Icha penuh penekanan.
“Icha pesan nasi soto sama jus jeruk aja, Kak,” lanjut Icha sambil menutup buku menunya.
“Kalau Anna?” tanya Andre dingin karena Anna tak kunjung membuka suara. Andre menatap Anna kembali. Gadis itu masih diam dengan wajah datarnya. Andre memperhatikan Anna lekat, mulai dari pakaian bermerek dari atas sampai bawah, dengan dilengkapi wajah cantiknya. Andre bisa menyimpulkan bahwa Anna benar-benar manusia seperti bidadari.
“Lemon tea,” jawabnya singkat.
“Makanannya?” bingung Andre.
“Diet,” Seketika Andre langsung diam dan tidak berkutik sama sekali saat mendengar ucapan dari Anna. Andre tahu persis bagaimana seorang wanita menjaga berat badannya supaya kelihatan lebih seksi. Anna yang seperti ini saja sudah banyak yang memikat hati kaum Adam, apalagi kalau dia terus menjaga berat badannya agar lebih terlihat langsing.
“Mohon tunggu sebentar ya, Maz, Mbak,” ucap pelayan itu dengan lembut sembari berlalu meninggalkan Anna, Andre, dan juga Icha.
Seusai pelayan pergi, seperti biasa bahwa kebiasaan Andre adalah selalu bertanya tentang Anna. Ia tidak tahu mengapa dirinya ingin sekali mendekati Anna, mendapati perhatian Anna. Andre sang pangeran kampus selalu mendapatkan perhatian dari kaum Hawa karena ketampanan dan kepintarannya, tetapi tidak untuk Anna. Sepertinya Anna sama sekali tidak tertarik kepada pria, apalagi tentang cinta. Dia sungguh gadis aneh!
Berapa menit kemudian pesanan pun datang, sedari tadi Andre terus saja memperhatikan Anna, dan Icha memperhatikan Andre. Mereka bertiga seperti hubungan tiga cinta segi, eh salah, cinta segitiga maksudnya.
“Anna, gue boleh tanya?” Andre membuka pembicaraan terlebih dulu, memecahkan keheningan yang ada.
“Apa?” Anna hanya menyeruput minumannya dengan sedotan tanpa memperhatikan wajah Andre.
“Lo kenapa ngambil jurusan hukum?” Ntah kenapa Andre selalu menanyakan hal itu. Sebenarnya apa itu yang paling penting dari pertanyaan-pertanyaan yang lain? Sampai dirinya ingin banget mengetahui hal itu.
“Kenapa?” tanya Anna seolah itu pertanyaan yang mudah.
“Ya alasannya gitu?” Andre semakin bertanya-tanya.
“Gue mau jadi jaksa,” jelas Anna. Raut wajahnya masih sangat tenang tanpa ekspresi sedikitpun.
Andre terus saja menatap Anna sambil merengutkan keningnya. “Harus ya jadi jaksa?”
Pertanyaan itu membuat Anna memancing amarahnya. “Harus ya ikut campur urusan orang?” sinis Anna tajam. Pandangannya tiba-tiba saling bertukar pandang walaupun pandangan itu mengartikan kemarahan.
“Ya bukan gitu.”
“Yaudah,” Icha yang tahu suasana mulai panas. Dirinya pun berhenti memakan dan mencari topik agar mencairkan suasana. “Anna sebenarnya mau jadi tahanan, Kak. Hahaha,” bisik Icha sambil tertawa pelan.
“Mau berapa lama jadi tahanan?” bisik balik Andre. Andre mengikuti saja permainan yang diberi oleh Icha,
“Mungkin sampai tua, Kak, “ Candaan-candaan sadis terus saja dipermainkan oleh Andre dan Icha tanpa perduli ada Anna di hadapannya.
“Emang dia nggak mau nikah?”
“Ngapain nikah, kan dia lesbi,” Icha dan Andre sama-sama tertawa mendengar ucapannya sendiri, rasanya benar-benar geli. Sedangkan Anna tidak perduli dengan apa yang sedang dibahas oleh Andre dan Icha. Anna terus saja menyeruput minumannya hingga habis. Anna langsung beranjak dari duduknya. “Gue mau pulang!” sinis Anna.
“Kok cepat kali,” jawab mereka serempak.
“Gue masih banyak urusan.”
“Emang lo ngurusin apa, Na. Anak? Kan lo nggak punya anak. Lakik? Lo juga nggak punya lakik. Terus apa yang lo urusin?” bingung Icha tak paham. Terkadang pertanyaan Icha mampu membuat amarah Anna naik seketika. Anna benci dengan pertanyaan seperti itu. “Emang harus lakik dan anak yang harus diurusin? Gue mau belajar! Bukan seperti kalian yang taunya ngurusin hidup orang,” sinis Anna tajam dan sedikit meninggikan suaranya.
“Lo tau darimana kalau kita ngurusin hidup orang lain?” jawab Andre tidak terima. “Ntah lah, tanya aja sama pipet yang ada di dalam gelas,” asal Anna.
“Gue mau pulang!” lanjutnya.
Tanpa mendengar jawaban dari Andre dan Icha lagi, Anna berjalan pergi meninggalkan Andre dan Icha. Ia keluar dari restoran tersebut.
Mata Andre dan Icha mengikuti kepergian Anna, keduanya masih cukup syok dengan kejadian barusan.
