Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7. Rumor Anna Lesbi

“Na, lo benaran nggak suka cowok?” celetuk salah satu pria yang ada di koridor kampus.

“Kalau lo nggak suka cowok, jadi lo-nya suka siapa?” sahutnya.

“Yang pasti cewek juga lah,” tambah salah satu teman pria itu.

“Hahaha, ternyata di kampus kita ada yang lesbi juga,” Keempat pria itu terus saja melempar cemohan pedas kepada Anna.

Anna berjalan sendirian menelusuri koridor. Saat mendengar perkataan mereka membuat Anna mempercepat langkahnya karena merasa dirinya lah yang terburuk saat ini. Sebenarnya tidak terlalu penting bagi Anna, tetapi rasanya telinganya begitu panas saat mendengar perkataan itu, ntah rumor darimana yang mereka dapat tentang dirinya.

***

Saat ini Anna sedang duduk dikursinya dengan pandangan kosong ke arah depan, otaknya berfikir keras dengan rumor yang terjadi saat ini. Sebenarnya siapa sih yang mengedarkan rumor seperti itu? Apa maksudnya coba? Anna melengos, kembali menelungkupkan wajahnya di atas lengan, namun beberapa saat kemudian dia kembali duduk tegak, merasa tidak nyaman dengan situasi yang terjadi.

“Anna—” teriak Icha dari luar kelas. Suara nyaring milik Icha seketika ke luar yang membuat Anna lagi dan lagi harus menutup telinganya.

“Berisik, Cha,” ucap Anna dengan nada tidak semangat. Tidak biasanya Anna seperti ini, mungkin karena rumor itu dia jadi seperti ini.

“Na, lo udah tau nggak rumor yang viral hari ini apaan?” Icha berusaha memberi tahu kejadian apa hari ini yang sedang terjadi, tetapi Anna sudah tahu terlebih dahulu sebelum Icha memberi tahunya.

“Udah,” balas Anna seadanya.

Icha menatap Anna dengan tatapan heran,

“Lo tau nggak siapa pelakunya?” tanya Icha berusaha menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh sahabatnya ini.

Anna menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Nggak.”

“Kok bisa?” Icha semakin bertanya-tanya.

“Mana gue tempe.”

Icha mendesah berat. Ia mulai gemas, menahan untuk tidak emosi. “Tahu, Na—”

Anna langsung merespon dengan cepat sebelum Icha selesai berbicara. “Gue nggak suka tahu,” Anna berusaha membawa situasi ini santai, ia hanya pengin dirinya lah yang menghadapinya tanpa ada seorangpun yang ikut campur. Anna juga berfikir agar Icha tidak mengetahui kesedihannya, ia hanya pengin tegar di hadapan Icha, ataupun orang lain.

“Lo bisa serius sedikit nggak sih, Na?”

greget Icha.

“Bisa,” jelas Anna. Seperti biasa, raut wajahnya masih tenang dan tanpa sedikit ekspresipun.

“Yaudah.”

“Tapi gue benaran heran deh, Na. Siapa gitu yang berani melakukan itu sama lo,” Icha mengalihkan pembicaraan, tetap fokus dengan pertanyaan pertamanya yang penasaran dengan siapa pelaku yang sudah membuat rumor aneh itu.

Anna terdiam, bingung harus menjawab apa. Otaknya bekerja cepat, mencari jawaban yang pantas untuk pertanyaan tersebut. “Ya mungkin sama orang yang nggak suka sama gue,” Anna berfikir positif saja dengan apa yang terjadi.

Kini malah Icha yang berusaha untuk berfikir cepat. “Ya tapi siapa, Na?”

“Pangeran kampus kali,” ucap Anna. Pandangannya menerawang ke depan, hampa.

“Ya nggak mungkin lah, secara dia kan suka sama lo, masa dia mau sih memperlakukan lo seperti itu,” jawab Icha serius sembari menatap Anna dengan prihatin. Icha sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan Anna.

“Rambut sama hitam, kalau hati siapa yang tau?” ucap Anna sok bijak.

Icha hanya mengangguk-ngangguk, mengiyakan saja perkataan Anna. “Kalau benaran Kak Andre yang melakukan itu, lo nggak mau ngelabrak dia gitu?” Icha berusaha yakin kepada Anna, dan mencoba memikirkan sesuatu untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Anna terus saja terlihat tenang mendengarkan pertanyaan Icha, seolah itu pertanyaan yang mudah. “Nggak guna.”

“Buang-buang waktu aja tau nggak,” lanjut Anna.

“Ya, tapi kan—”

“Udahlah, Cha. Gue malas bahas itu,” potong Anna cepat.

Lima menit kemudian kelas akan dimulai, dan itu yang membuat Icha harus keluar dari kelas Anna. Selama kelas dimulai Anna sama sekali tidak mood untuk belajar. Jujur ia sedari tadi masih dibuat gundah. Otaknya tak berhenti memikirkan cemohan itu. Dia benar-benar tidak pengin memikirkannya, tetapi keadaan yang menyatakan harus memikirkannya. Telinganya masih terus terngiang-ngiang dengan lelaki yang mengatakan bahwa dirinya lesbi. Anna mengubah posisi duduknya, mencari tempat yang nyaman, tetapi ia tidak menemukannya.

Saat ini yang ada dipikiran Anna adalah pulang, pulang, dan pulang. Ia hanya butuh ketenangan dari semua masalah yang ada pada hari ini. Berkali-kali Anna harus jujur, bahwa ia tidak pernah merasakan masalah yang begitu dalam. Baginya semua masalah adalah cobaan dan Anna selalu menganggap kalau masalah itu tidak pernah ada. Tetapi kenapa dengannya hari ini? Ia ingin menganggap masalah itu tidak ada dan tidak ada. Tetapi Anna tidak bisa, ia selalu memikirkannya.

“Sial,” umpat Anna dalam hati. Anna sangat benci kepada hati dan pikirannya hari ini, karena mereka sama sekali tidak mengikuti perintah Anna. Mereka terus saja membantah, membantah, dan membantah.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 15:20 WIB, yang di mana Anna masih berada di kelas, ia benar-benar malas banget untuk pulang ke rumah, pikirannya bercampur aduk karena masalah rumor itu. Padahal saat jam pelajaran dimulai ia pengin banget pulang, dan setelah jam pelajaran selesai, ia jadi tidak ke pengin pulang. Ini karena hati dan pikirannya, sepertinya mereka berusaha keras untuk menyelesaikan masalah tersebut, walaupun Anna sama sekali tidak mendukung perbuatan itu.

Ada tangan yang terulur untuk memberikan minuman coklat. Anna yang bingung, dengan cepat mendonggakan kepalanya, melihat jelas siapa orang itu. Andre! Anna yang tahu keberadaan Andre, ia beranjak dari duduknya, berusaha melangkah kaki menuju luar kelas. Kali ini ia benar-benar tidak pengin diganggu oleh siapapun.

“Apakah yang orang-orang bilang tentang rumor itu, benar?” ucap Andre terus terang. Anna memberhentikan langkahnya, ia juga membalikan badan. Anna perlahan berjalan mendekat dan lebih dekat. Tatapan Anna begitu lekat dengan wajah datar, hingga mampu membuat Andre gugup sendiri. Apa yang akan dilakukan gadis itu? Anna berdiri tepat dihadapannya dengan jarak kurang dari sepuluh senti.

Andre dibuat melongo, tak bisa berkata sedikitpun. Ia tetap memperhatikan wajah Anna, memperdalam tatapannya, mencari sesuatu di kedua mata Anna. Andre dapat merasakan kemarahan, kecewaan, kesedihan, bercampur aduk di dalam sana.

“Apa urusan lo?” sinis Anna tajam. Hembusan napas Anna kini bisa dirasakan oleh Andre.

“Gue cuma pengin tau,” ucap Andre sedikit gugup.

“Nggak guna juga lo harus tau.”

“Tinggal jawab aja apa susahnya sih?” decak Andre mulai sebal. Kini bukan Anna yang menjauhkan pandangannya dari Andre, justru ia yang menjauhkannya. Keadaan sudah seperti ini saja masih tidak rispek dengan perhatian yang ia berikan. Huft!

Anna melipatkan kedua tangannya, bersila di depan dada. “Kalau benar kenapa?”

“Ya nggak apa-apa.”

“Yaudah,” seru Anna dan kembali melangkah kaki ke luar dari kelas tanpa mendengar ocehan Andre lagi. Karena bukan dirinya semakin tenang mendengar ocehan itu, tetapi malah semakin rumit

dengan kehadiran Andre.

“GUE HARAP RUMOR ITU TIDAK BENAR-BENAR TERJADI,” teriak Andre. Andre masih menatap punggung Anna dari kejauhan sambil menghela napas terpanjangnya.

“Kira-kira siapa ya yang menyebarkan rumor itu?” batin Andre. Saat ini Andre masih berada di kelas Anna sendirian. “Gue akan cari tau, Na, semua kebenarannya. Gue janji.”

Sebaiknya Andre pulang saja ke rumah, memikirkan kejadian ini dan meminta bantuan kepada sahabatnya. Andre terus saja berjalan menelusuri lorong demi lorong. Tetapi sebelum pulang, ia pengin merasakan angin sejuk di atas ketinggian. Tempat itu tidak terdengar asing bagi kalian karena tempat itu bernama rooftop. Andre menaiki anak tangga dengan pelan dan pasti. Kini pintu rooftop berada tepat di hadapannya. Sebelum Andre membuka pintu itu, ia seperti mendengar suara beberapa orang. Andre didera rasa penasaran dan ingin tahu, ia langsung memegang knop pintu kuat, dan memutarnya dengan cepat.

Andre menatap punggung gadis itu dari belakang dan beberapa pria yang berada di hadapannya.

“Kerja kalian bagus, dan seperti janji yang gue bilang. Ini buat kalian, dan di dalamnya ada tambahan bonus,” jawab gadis itu kepada beberapa pria itu sambil menyodorkan satu buah amplop berwarna coklat.

“Makasih Luna. Kalau lo butuh bantuan kita lagi untuk buat rumor tentang Anna, kita bakalan bantu kok, iya kan, Gas?” kata salah satu pria itu.

“Iya, bener tuh, asalkan ada bayarannya,” tambah pria lain.

“Sial!” umpat Andre pelan.

Kedua tangan Andre kini sudah mengepal sangat kuat. Ia berjalan ke arah kedua pria itu dan langsung melayangkan pukulannya. Dan itu membuat Luna spontan terkejut dengan kehadiran Andre.

BUGHHTT!

“Dasar Brengsek! Bajingan lo sampah!”

BUGHHTT!

“Ndre, udah cukup!” ucap Luna mencoba melerai Andre dan kedua pria itu.

Andre memberhentikan aksinya. “Lo berdua jangan coba-coba kabur dari gue, kalau nggak gue bakal laporkan tindakan kalian kepada rektor,” ancam Andre tajam. Kedua pria itu hanya diam, tidak bisa berkata sedikitpun.

Andre berjalan ke arah Luna, dekat dan semakin dekat, membuat langkah Luna mundur perlahan-lahan, sampai dia benar-benar mentok ke dinding. “Maksud lo apaan buat rumor bahwa Anna itu lesbi, ha?” sinis Andre.

“Kenapa? Kan kenyataannya kalau Anna beneran lesbi,” jujur Luna.

BUGHHTT!

Salah satu tangan Andre melayang ke dinding, yang membuat Luna memejamkan matanya. Andre semakin emosi melihat tingkah Luna.

Perlahan Luna membuka matanya, kembali menatap Andre lekat. “Seperduli itu lo terhadap Anna? Sampai lo berusaha cari kebenarannya?”

“Lo pura-pura bego atau cemana sih, ha?” tanya Andre tidak habis pikir lagi dengan tingkah Luna.

“Lo buat rumor seperti ini supaya gue nggak suka sama Anna, dan lo bisa gitu deketin gue? Dan lo pikir semua keinginan lo terkabulkan gitu? Gue akan suka sama lo gitu? Ngarep lo! Sampai kapanpun gue nggak akan suka sama lo. Apalagi gue tau keburukan lo hari ini, cihhh. Lo itu hanya perempuan sampah yang beredar di mana-mana, membuat sekelilingnya kotor,” jelas Andre tegas dan tajam sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Luna.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel