Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5. Dia lagi?

“Huft! Akhirnya selesai juga,” ucap Anna dengan nada lelah.

    Anna mendesis kesal. Jujur ia sedari tadi masi dibuat gundah. Anna sama sekali tidak konsentrasi ketika ia masuk ke dalam kelas, karena otak dan telinganya masih merekam kejadian Andre. Dengan cepat, Anna merapikan semua buku-bukunya. Rasanya ia benar-benar ingin sampai di rumah dan segera beristirahat. Sungguh Melelahkan!

    “Anna Asyifa Libra, sayang akuu—” teriak seseorang dari luar dan langsung memeluk leher Anna dengan erat. Kalian pasti tau lah ya siapa orang yang berteriak sambil memeluk Anna. Kalau bukan Icha sahabat Anna.

    Teriakan itu membuat Anna menjauhkan telinganya, tetapi gimana mau menjauh? Kalau dirinya sudah dipeluk erat dengan Icha. Anna hanya bisa menghembus napas terlelahnya. “Cha, lepas, Cha,” ucap Anna dengan nada lemah.

    Anna terus saja menggoyangkan lengan Icha agar dirinya melepaskan pelukan ini. “Sakit leher gue, Cha!” sinis Anna.

    Goyangan pelan yang diberikan Anna tak mampu membuat Icha melepaskan pelukannya, dengan satu cara yang bisa dilakukan olehnya yaitu memukul Icha sedikit keras. Dan benar saja, Icha melepaskan pelukannya dari leher Anna. “Lo mau buat gue mati?” sentak Anna tajam.

    Icha tidak bisa berkutik apapun setelah Anna memarahinya, dirinya hanya bisa meminta maaf. “Sorry, Na. Gue nggak sengaja,” lirih Icha tulus. Icha menundukan wajahnya, ia tidak bisa menatap kemarahan yang ada dimata Anna. Sangat menakutkan!

    “Soalnya kan gue kangen banget sama lo,” jujur Icha lagi.

    Anna jadi tidak tega karena sudah memarahi sahabatnya ini. Dirinya benar-benar merasa bersalah. Perlahan bibir Anna mulai tersenyum. “Uluh-uluh, sahabat gue kangen ya sama gue?” ucap Anna langsung melebarkan tangannya, berusaha menerima pelukan Icha.

    Perlahan Icha mendongakan kepalanya, memberanikan diri menatap Anna. Saat Anna melebarkan tangannya, dengan cepat Icha segera masuk ke dalam pelukannya.

     Anna dan Icha memang suka bertengkar, tetapi kalau mereka tidak jumpa sedetik saja, rasanya dunia ini bukan milik mereka berdua lagi. Sungguh persahabatan yang hakikih! Anna melepaskan pelukannya, beralih merangkul Icha. Mereka berjalan beriringan keluar kelas. “Kita pulang atau mau makan cireng Mbak Ina,” tanya Anna memecahkan keheningan.

    “Malas ah, kalau makan cireng Bik Ina. Ntar gue lagi yang bayar, mana makanannya mahal semua,” sinis Icha dengan wajah cemberutnya.

    Anna tertawa pelan mendengar ucapan Icha. “Kali ini gue yang traktir kok, santuy aja,” jawab Anna.

    “Nanti kalau lo kabur lagi, gimana?” tanya Icha sedikit takut dengan kejadian kemarin.

    “N-nggak, Cha.”

    Icha menuruti saja keinginan Anna, lagian dirinya juga lapar. Kan enak kalau makan gratis, haahha. Anna dan Icha sudah sampai di warung Bik Ina. Seperti biasanya bahwa Anna memesan bakso kesukaannya dengan jus lemon tea, dan Icha memesan satu makok cireng berukuran sedang dan jus jeruk kesukaannya. Berapa menit mereka menunggu, akhirnya pesanannya datang. Kali ini bukan Bik Ina yang mengantar pesanan milik Anna dan Icha, melainkan pangeran kampus.

What the fuck!! Bik Inah pacaran dengan pangeran kampus?!!?

    Anna dan Icha melongo menatap kehadiran Andre yang membawa napan berisi cireng, bakso, dan jus kehadapan mereka. “Kak Andre?” bingung Icha tak paham.

     Andre meletakan makanan dan minuman milik Anna dan Icha. “Kalian berdua jangan salah paham sama gue, ya. Apalagi lo, Na. Gue bisa jelasin semuanya kok. Tadi pas gue pesan cireng sama Bik Ina, tiba-tiba Bik Ina muntah-muntah. Ya, alhasil Bik Ina nyuruh gue untuk ngantarin pesanan ini. Karena gue manusia yang memiliki akhlak yang baik, dan kemanusian yang adil dan beradab, gue akhirnya mau deh, apalagi pesananya yang gue antar milik cewek cantik. Jadi begitu ceritanya,” jawab Andre menjelaskan selengkap-lengkapnya agar gadis yang disukainya tidak salah paham dengan dirinya.

    “Oh, Icha kira tadi Kakak kerja di warung Bik Ina,” ucap Icha dicengiri tawanya yang tak berdosa.

    Andre menggaruk tengkuknya yang tak gatal, rasa malunya kini datang menghampiri dirinya. “Hm, gue boleh nggak ikut gabung sama kalian?” tanya Andre penuh penekanan dan mengalihkan pembicaraan.

    “Boleh, Kak. Boleh banget,” jawab Icha cepat.

    Di dalam hatinya Anna terus saja mengeluh, kenapa harus dia lagi yang datang? Apakah dirinya benar-benar berjodoh dengan pria ini? Oh, ini tidak mungkin, dan ini tidak akan pernah terjadi. Dengan cepat Anna segera menepispikiran kotor itu. Hal itu tidak akan pernah terjadi terhadap dirinya sampai kapan pun. Anna hanya duduk diam, dirinya masih fokus terhadap makanannya tanpa memperhatikan orang yang ada disekelilingnya.

    Andre menatap Anna yang sedari tadi hanya diam sambil memakan makannya. “Na, gimana sama belajarnya tadi? Lancar?” ucap Andre mengajukan pertanyaan.

    Anna masih diam, dia sama sekali tidak ingin menjawab apapun dari semua pertanyaan Andre.  “Cha. Anna lagi sariawan, ya?” tanya Andre beralih ke Icha.

    Icha mendongakan kepala menatap Andre, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, pertanda bahwa Anna tidaklah sariawan.

    “Terus, dia kenapa?” bingung Andre tidak mengerti.

    Icha terdiam, bingung harus menjawab apa. Otaknya bekerja cepat, mencari jawaban yang pantas untuk pertanyaan tersebut. “Entahlah,” jawab Icha asal, tak bisa memberi jawaban yang jelas dan pantas.

    Andre memperhatikan wajah Anna dan berkali-kali harus ia akui bahwa Anna memiliki paras cantik dibalik wajah datarnya. Ia tetap memperdalam tatapannya kepada Anna, mencari sesuatu di kedua mata Anna. Tetapi Andre sama sekali tidak dapat apa yang telah dipikirkan Anna.

    Icha melihat Andre yang sedari tadi terus saja menatap Anna tanpa kedip sedikit pun. “Kak Andre, nggak makan?” tanya Icha mengalihkan pembicaraan.

    Andre langsung menoleh ke arah Icha, “Nggak,” jawabnya singkat.

    “Bukannya Kakak bilang bahwa kedatangan Kakak kemari karena Kakak lapar, ya?” tanya Icha mengingatkan sedikit kejadian tadi.

    Andre mengangguk-nganggukkan kepala. “Udah kenyang.”

    Icha menatap Andre dengan bingung, keningnya berkerut membentuk lapisan-lapisan kerutan. Otaknya dipenuhi rasa penasaran. “Kok bisa kenyang, Kak? Kan Kakak daritadi nggak makan apa-apa.”

    “Kecantikan sahabat kamu buat gue jadi kenyang,” jawab Andre sedikit cengiran yang tak berdosa.

    Anna langsung mendongakkan kepala, menatap Andre dengan tatapan tajam, sedangkan Icha masih didera dengan rasa kebingungan. Emang kalau liat cowok ganteng atau lihat cewek cantik rasa lapar kita akan hilang, ya? batin Icha bertanya-tanya.

    “Lo bisa nggak berhenti ngoceh daritadi? Dan lo bisa nggak pergi dari hadapan gue? Mau muntah gue lihat muka lo mulu,” sinis Anna tajam.

    “Sial,” umpat Andre.

    Anna menghela napas pelan, kemudian ia berdiri. Tanpa berkata apapun lagi Anna berjalan pergi meninggalkan Andre dan Icha. Ia keluar dari kantin tersebut.

    Mata Andre dan Icha mengikuti kepergian Anna, keduanya masih bingung dengan yang dilakukan Anna. Icha baru teringat akan hal kejadian kemarin yang sama dibuat sama Anna saat ini juga.

    “Anna, makanannya siapa yang—” Icha mengantungkan kata-katanya, percuma saja ia berteriak-teriak kalau Anna juga tidak mendengarnya.

    “Sial,” umpat Icha.

    “Apanya yang sial, Cha?” bingung Andre tidak mengerti.

    “N-nggak kok, Kak. Nggak apa-apa,” ucap Icha berusaha menyembunyikan semuanya.

    “Yaudah, makanan ini semua gue yang bayar aja, ya,” jawab Andre penuh penekanan. “Nggak usah, Kak, Icha bisa bayar sendiri kok pakai uang saku Icha.”

    “Nggak usah sunkan sama gue, pasti lo berat kan untuk bayar ini semua?” Icha hanya cengir tak berdosa, bagaimana pria ini bisa tahu tentang isi hatinya? Padahal ia tidak bilang apa-apa. Apakah pria ini belajar psikolog? Maka dari itu dia bisa baca isi pikiran orang? Oh, ini sungguh membingungkan.

    “Makasih banyak ya, Kak. Kakak itu, udah baik, tampan, pintar, mapan, orangnya nggak pelit lagi. Pokoknya Kakak itu perfect deh dimata kaum Hawa,” jawab Icha berterima kasih kepada Andre, dan memuji-muji sedikit. Dan itu yang membuat Andre senyum sumringah dengan apa yang dimilikinya saat ini.

     “Pasti telinganya naik lima meter, tuh,” sinis Icha dalam hati.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel