Bab 4. Kenapa harus dia?
Malam hari yang sunyi dan sejuk ini, Anna duduk di balkon kamarnya sambil membaca buku. Ya, kalian pasti tau lah ya kalau Anna membaca buku apa, kalau nggak buku tentang hukum.
Suara ketukan di pintu membuat perhatian Anna beralih ke pintu kamar. Kevin berdiri di sana sambil membawa segelas teh hangat. “Ya ampun, Adiknya Abang kok rajin banget sih?” ucap Kevin sok perduli.
Kevin melangkah masuk meghampiri Anna, belum lagi dirinya duduk, Anna langsung menyambar ucapan yang tidak enak. “Lo mau nanyak apa?” jawab Anna dengan pandangannya yang masih fokus terhadap buku yang dipegangnya.
Kevin duduk bersila di sebelah Anna dan menyodorkan segelas teh hangat yang dipegangnya. “Gue cuma mau ngasih teh buat lo,” katanya sambil menyodorkan. Anna mengambil alih gelas itu dari tangan Kevin, lalu meletakannya di bawah lantai tepat di sebelah kirinya.
“Lo ke sini pasti ada maunya kan, Bang? Yaudah buruan tanya! Gue masih mau belajar lagi,” jelas Anna terus terang.
Sifat dirinya benar-benar mudah ditebak oleh adiknya ini. “Yaelah, santai kali,” jawab Kevin berusaha membuat Anna tenang.
Anna langsung merespon dengan cepat. “Yaudah buruan!” ucap Anna sudah tidak sabar lagi, dan penuh penekanan.
“Lo tadi kan kuliah tuh, ada cewek cantiknya, nggak?” tanya Kevin. Kan benar yang diduga oleh Anna bahwa abangnya ini pasti menanyakan hal ini. Dengan cepat Anna menjawab. “Nggak ada.”
“Lo yakin beneran nggak ada?” tanya Kevin memastikan. Posisi yang masih sama Anna menjawab. “Iya.”
Kevin menaik turunkan alisnya, mungkin saja pertanyaan selanjutnya ini bisa dijawab dengan Anna sesuai apa yang diinginkannya. “Terus kalau senior cogan, pasti ada lah, ya?” Kevin menanti respon dari Anna, tetapi hasilnya tetap sama. “Nggak ada,” jawab Anna seadanya.
Kevin melongo mendengar ucapan yang dilontarkan Anna dengan mata yang sedikit melotot. “Seriusan lo nggak ada?” tanya Kevin memastikan.
“Iya.”
Kevin menggumam pelan, memperhatikan Anna lebih dekat. Kevin menyentuh dahi Anna, kemudian pipinya, lalu terakhir menyentuh kepala gadis itu. Anna yang tahu Kevin berbuat gila, ia segera menepiskan tangan Kevin dengan kasar. “Lo sakit? Masa di kuliah lo orangnya jelek semua sih, kan nggak mungkin,” ucap Kevin tidak percaya sama sekali dengan apa yang diucapkan oleh Anna.
Universitas Indonesia adalah tempat kuliah yang terfavorit di Indonesia dan mana mungkin orang yang di dalamnya jelek semua. Ya, mungkin sih kalau mereka mendapatkan beasiswa, tetapi yang lainnya? Apakah sama? Kan tidak.
Kevin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa berkata sedikit pun. “Kalau lo tanya soal itu, mending lo pergi aja, Bang. Lo tau kan kalau gue lagi belajar,” usir Anna, ia sudah muak melihat kedatangan Kevin yang super kepo. Sungguh menyebalkan!
“Kalau gue nggak mau, gimana?” goda Kevin.
“Ihh, Bang Kevin—Pergiii—” balas Anna dengan suara sedikit tinggi.
Anna terus saja mendorong tubuh Kevin agar dia pergi dari hadapannya. Tetapi Kevin sama sekali tidak menggerakkan tubuhnya. Dirinya masih duduk di posisi yang sama dan itu membuat Anna semakin kesal dengan sifat Kevin.
“Serah lo dah,” ucapnya terakhir kalinya. Anna sudah tidak memperdulikan Kevin yang berada di sebelahnya, wajahnya selalu saja cemberut yang membuat Kevin mencubit pipi kanannya. Menggemaskan!
“Gue bukan boneka, yang pipinya bisa dicubit semau lo,” sinis Anna tajam.
Kevin tersenyum sumringah saat mendapat cibiran dari Anna.
“Gue udah tau kalau muka lo jelek, jadi jangan ditambah jelek lagi. Mending lo minum dulu teh yang gue buat."
***
Saat ini Anna sedang berjalan sendirian menelusuri koridor kampus. Hari ini kelas Anna dimulai pada pukul 11:00 WIB, dan sekarang masih pukul 09:00 WIB. Berarti masih ada dua jam lagi aktivitas Anna kosong. Anna berniat pergi ke perpustakaan untuk mengisi waktu luang dengan membaca buku. Anna adalah orang yang gemar membaca. Kakinya terus saja melangkah menelusuri lorong demi lorong untuk bisa sampai ke perpustakaan.
Sekarang Anna sudah berada di perpustakaan, ia menggedarkan pandangannya, mencoba mencari jelas rak buku yang berisi buku hukum kejaksaan. Setiap rak yang ia hampiri untuk mendapatkan buku itu. Ada satu rak yang berisi buku tentang kejaksaan. Tangan Anna meraih salah satu buku itu, tetapi tubuhnya terkejut saat pandangannya bertemu dengan sosok yang paling dibenci. “Astagfirullah,” ucap Anna kaget.
Sudut bibir orang itu mulai membentuk senyum saat pandangannya berpas-pasan dengan Anna tanpa diduga sedikitpun. “Kalau jodoh emang nggak ke mana,” katanya dengan percaya diri. seseorang itu adalah Andre!
Anna memutar bola matanya malas dan juga segera memutar langkahnya untuk berlalu meninggalkan rak itu dan Andre yang masih menatap dirinya. Dengan cepat kakinya melangkah menuju kursi dan meja yang sudah disediakan di perpustakaan. Andre yang tahu dirinya ditinggal pergi oleh Anna, dia pun mengikuti ke mana Anna pergi sampai langkahnya juga terhenti dikursi sebelah Anna yang kosong. Andre duduk tepat di sebelah Anna.
“Kalau nggak salah, nama kamu Anna, kan?” tanya Andre basa-basi.
Anna yang sudah duduk dikursinya, pandangannya tidak lepas dari buku yang diambil. “Iya.” katanya singkat.
Semakin Anna menjawab pertanyaan Andre, semakin lancar untuk Andre mengajukan semua pertanyaan yang ada dibenaknya. “Dan lo adalah orang yang gue tabrak di toilet itu, kan?” Andre semakin bertanya-tanya.
Anna menaikkan kedua bahunya pertanda tidak tahu. “Ntah,” jawab Anna asal, tak bisa memberi jawaban yang jelas dan pasti, dirinya juga tidak ingin mengingat kejadian itu lagi.
“Kok ntah?”
“Terus?”
“Terus apa?” Andre bertanya ulang dengan nada pelan dan penuh penekanan. Anna menghela berat, hatinya sudah mulai curiga dengan pria gila ini. Kenapa saat-saat seperti ini harus dia sih yang datang? Dengan kasar Anna menutup bukunya, lalu menatap tajam ke arah Andre. “Mau berapa lama lagi lo di sini?” tanya Anna mencoba serius. Dengan tajam dan kasarnya Anna berani berkata seperti itu. Dirinya benar-benar sudah capek selalu diganggu dengan Andre. Tidak bisakah sehari tidak diganggu?
“Kenapa? Nggak boleh?” jawabnya.
“Iya, nggak boleh.”
“Emang ada peraturannya kalau di perpustakaan, bahwa seorang pangeran kampus nggak boleh masuk?”
Andre menunggu respon dari Anna, tetapi berapa menit ia menunggu, pertanyaan pun tak kunjung dijawab.
Anna sama sekali tidak bisa menjawab. Pertanyaan itu berhasil menyudutkan. Akhirnya Anna memutuskan untuk kembali membaca buku dan menghiraukan Andre yang berada di sebelahnya.
Setelah pertanyaan Andre tidak direspon dengan Anna, dirinya pun memberanikan lagi untuk mengajukan pertanyaan. “Anna, gue boleh tanya, nggak?”
“Na,” panggil Andre, tetapi Anna masih bungkam.
“Annaaa—“ gemas Andre.
Andre memperbaiki posisinya, menarik napas pelan-pelan dan menghembuskannya, lalu melanjutkan perkataannya lagi. ”Ya Allah, kenapa pangeran kampus dicuekin gini, ya?”
Lagi dan lagi Andre menarik nafas dalam-dalam, kali ini ia menghembuskannya dengan kasar. “Emang pangeran kampus di sini kurang tampan? Sampai-sampai kaum Hawa hanya ngediamin gue gini?”
Andre terus saja mengoceh sendiri tanpa ada satu katapun yang dijawab oleh Anna. Lama kelamaan Anna mulai jenuh dengan kehadiran Andre yang selalu mengganggu dirinya. Karena apa? Karena kedatangan Andre, Anna sampai tidak fokus untuk membaca buku. Waktunya habis terbuang begitu saja. “Anna, lo dengar gue nggak sih?” sinis Andre, ia semakin kesal dengan pertanyaan dirinya yang sama sekali tidak dijawab oleh Anna.
Dengan sontak Anna menjawab dengan keras sambil menoleh ke arah Andre dengan tatapan tajam. “LO BISA DIAM NGGAK SIH?” sentaknya. Amarah yang sedari tadi dipendam sekarang keluar begitu saja dengan kecepatan di atas rata-rata. Peraturan perpustakaan membuat dirinya jadi melanggar peraturan itu. Anna sudah tidak perduli lagi, rasanya telinganya panas kalau tidak menjawab pertanyaan Andre. Padahal pertanyaan yang diucapkannya bukanlah penting bagi Anna.
“Tuh kan dijawab,” katanya sambil memperlihatkan senyum sumringahnya. Padahal Andre sudah melihat mata Anna penuh dengan kemarahan, tetapi dirinya tetap saja tidak memperdulikannya. Dirinya terus bertanya sampai keinginannya benar-benar terselesaikan.
“Sebenarnya mau lo apa sih?” tanya Anna langsung ke intinya saja.
“Gue cuma mau nanya satu hal aja sama lo.”
“Apa?”
“Lo tau kan kalau gue pangeran kampus?”
“Terus?”
“Lo juga tau kan kalau pangeran kampus banyak diminati kaum Hawa?”
“Terus?”
“Kenapa lo nggak minat sama gue? Misalnya suka sama gue gitu?”
“Terus?” Lima menit waktu yang diberikan Anna untuk menjawab pertanyaan Andre, tetapi satu pertanyaan pun tidak ada yang membuat dirinya tertarik sedikit pun.
Andre menghela napas terberatnya. Ada dua hal yang ia rasakan saat ini. Yang pertama, Andre senang karena pertanyaannya dijawab oleh Anna. Tetapi, yang kedua, Andre kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Anna.
“Terus belok kanan, belok kiri, lurus, belok kanan lagi, lurus aja, baru belok kiri, nah ada jurang, nyemplung aja di situ.” gemas Andre. Andre berfikiran emang si terus kenapa? Masuk rumah sakit? Meninggal? Atau ke surupan? Oke, lupakan masalah si terus.
“Oh,” jawab Anna singkat. Anna meruntuki mulutnya sendiri, kenapa dia mau saja menjawab pertanyaan tidak penting dari orang itu?
“Oh doang?” bingung Andre tidak mengerti. Andre makin tidak percaya dengan jalan pikiran Anna, kenapa Anna sama sekali tidak tertarik kepadanya? Apakah ia kurang tampan? Rasanya sudah cukup tampan, ditambah pintar, dan ia juga titisan sultan. Tetapi apa yang kurang dari mata Anna? Sampai dirinya sama sekali tidak memikat hati Anna.
Anna melirik jam yang ada ditangannya, yang sudah menunjukkan pukul 10:45 WIB, yang di mana lima belas menit lagi kelas dimulai. Anna buru-buru merapikan bukunya. “Gue balik ke kelas,” katanya. Anna segera berlalu meninggalkan Andre tanpa mendengar jawabannya lagi.
“SEMANGAT YA, ANNA!” teriak Andre. Andre terus saja memandangi punggung Anna dari kejauhan sampai Anna benar-benar tidak terlihat lagi. Kalau Andre tidak bisa mendapatkan hati wanita, bukan Andre namanya. Andre juga bukan pangeran kampus.
Pergi lah yang sejauh kau mau, tapi aku akan selalu mengejarmu seperti menangkap kupu-kupu yang harus selalu berjuang agar bisa mendapatkannya.
