Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3. Jurusan Hukum

    “Anna, kira-kira Kak Andre jurusan apa ya?” tanya Icha ingin tahu.

    Dari kemarin saat Icha bertemu dengan Andre, pikirannya terus saja membayangin Andre. Melihat foto berbagai macam-macam pose yang berada diponselnya sambil senyum-senyum tidak jelas. 

    Anna yang tadinya sedang memakan bakso, aktivitasnya terhenti. Ia menoleh menatap Icha sambil menaikkan kedua bahunya. “Ntah,” balasnya, dan kembali dengan aktivitasnya yang terhenti.

   

   

***

    “Harap tenang Kakak, Abang, Adik,” ucap Fajar menenangkan seluruh mahasiswa/mahasiswi.

    Andre dan Fajar membagi tugas untuk merapikan mahasiswa/mahasiswi tersebut. Andre menghadap ke jurusan dokter. Sedangkan Fajar menghadap ke jurusan management perkantoran. Dan masih banyak senior-senior lainnya yang menghadap ke jurusan yang mereka pilih.

    Seorang gadis cantik yang tengah mencari ruangannya kini menghampiri Fajar yang sedang duduk memegang ponselnya. “Hm, Kak. Kalau boleh tau jurusan hukum di mana ya ruangannya?” tanya Anna dengan sopan dan lembut.

    Fajar yang mengetahui asal suara itu ada di hadapannya segera mendongakkan kepala, jarinya langsung terhenti membalas chat seseorang. Fajar beranjak dari duduknya dan langsung memberi tahu di mana kelasnya berada. “Dari sini kamu lurus aja, terus belok kiri, terus lurus, habis itu mentok deh belok kanan, paham?”

    Anna menelan ludahnya dengan susah payah sambil berusaha keras untuk menghapal alamat yang diberikan oleh Fajar. Anna dan Icha berbeda jurusan. Icha mengambil jurusan management perkantoran, sedangkan Anna mengambil jurusan hukum. Anna pengin sekali menjadi jaksa, oleh karena itu ia bertekad untuk belajar keras. Tidak ada yang bisa untuk menggoyahkan keinginan Anna saat ini.

    Kesempatan bagi Fajar untuk mendekati gadis yang berparas cantik ini. “Kalau kamu nggak paham, mari Kakak antarkan,” serunya. Bukan hanya kesempatan yang ia pikirkan, hatinya masih berbaik hati untuk menolong gadis ini mencari ruang kelasnya.

    Baru dua hari Anna memasuki Universitas ini, tatapan kaum Adam semakin menyorot untuk berlomba-lomba mendapatkan hati Anna, dengan sikap Anna yang sangat cuek, itulah yang membuat kaum Adam hanya menelan ludah. Mereka sangat takut dengan kegalakan yang dimiliki Anna. “Emang boleh, Kak? Nanti saya merepotkan Kakak lagi.” jawab Anna dengan hati-hati.

    Fajar mencoba melemparkan senyuman, tetapi Anna tidak memperhatikannya. Ia justru memperlihatkan wajah datarnya. “Boleh kok, dan sama sekali nggak merepotkan. Kan udah tugas Kakak di sini untuk membantu kalian mencari kelas.”

    “Baiklah, Kak, kalau begitu,”balas Anna menuruti saja.

    Fajar melebarkan tangan kirinya supaya Anna bisa mengikutinya. “Mari,” Fajar dan Anna berjalan beriringan untuk sampai ke ruangan kelas hukum. Mereka berdua sama-sama hening, cuma ada suara ketukan kaki yang berjalan.

    Fajar terus saja melirik Anna yang berada di sampingnya, sedangkan Anna terus saja fokus dengan pandangan yang ada di depannya. “Nama kamu siapa?” Fajar memberanikan diri untuk memecahkan keheningan yang ada.

    “Anna,” katanya.

    Fajar menganggukan kepala, “Nama yang bagus. Oh iya, Anna kenapa ngambil jurusan hukum? Emang Anna mau jadi apa?”

    “Jaksa.”

    “Kenapa pengin jadi jaksa?” Pandangan Anna menyorot ke arah atas pintu yang berisi tulisan kelas hukum. Mau tak mau langkahnya jadi terhenti. “Kak, ini kelasnya bukan?” tanyanya memastikan.

    Sial, kenapa kelasnya cepat banget ya sampainya, padahal kan gue masih pengin PDKT-an sama Anna, batin Fajar.

    Fajar mengikuti arah jari telunjuk yang diberikan oleh Anna. “Oh iya, ini kelasnya.”Anna menatap Fajar. “Makasih ya, Kak. Udah mau nganterin sampai ke kelas.”Fajar yang diberikan kata-kata seperti itu tingkahnya sudah gelagapan, Fajar menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Iya, sama-sama,” balasnya.

    Anna melangkah kaki masuk ke dalam kelas, tetapi kakinya terhenti saat Fajar memanggilnya, terpaksa ia menoleh ke belakang. “Ada apa, Kak?” tanyanya.

    “Hm, semangat ya belajarnya,” ucap Fajar sambil memberikan sebuah ukiran senyum yang berada di sudut bibirnya. Dan Anna hanya membalas senyuman dengan sepantasnya, “Makasih, Kak.”

   

***

    Fajar terengah-engah saat tiba di koridor kelas Andre. Langkahnya mulai melambat. Ia merasakan kedua pipinya yang mulai kembali kesuhu normalnya. Fajar kembali mengingat kejadian di mana Anna melemparkan sebuah senyuman. “Ndre, Ndre. Gue senang banget tadi bisa jumpa sama adik kelas yang cantik seperti bidadari,” cerocos Fajar nggak jelas dan langsung menarik bangku sedikit jauh dari Andre, lalu mendekatkannya dan duduk tepat di sebelah Andre sambil menanti respon darinya.

    Respon yang diberikan kepada Andre tidak sesuai dengan harapannya. “Terus mau gue apain?” tanya Andre prihatin sambil menyeruput minumannya yang berada di atas meja.

    “Ya, lo gembira sikit kek, atau apalah gitu,” pinta Fajar sambil mengerucutkan bibirnya, kesal dengan respon yang diberikan oleh Andre.

    Andre melepaskan sedotan dari mulutnya, lalu menghelas napas ringan. “Iya deh, emang cewek yang lo dekatin itu siapa namanya?” Andre berusaha mengajukan pertanyaan kepada Fajar.

    “Nama apa dulu nih? Nama panjang atau nama pendek?” Beginilah Fajar yang suka membuat orang emosi. Pertanyaan yang diibaratkan serius kalau sudah bertanya kepadanya pasti jawabannya sedikit meleset. “Nama nenek moyangnya,” sinis Andre.

    Dengan polosnya Fajar menjawab. “Hm, kalau nama nenek moyangnya gue nggak tau, Ndre,” Andre terjebak dengan situasi ini, seharusnya ia tidak menjawab apa yang diinginkan oleh Fajar. Tetapi kini dirinya sudah terlanjur. Andre menggeram menahan kekesalannya dan menatap Fajar jengah. “Lo goblok atau cemana sih? Gue siram pakai air tau rasa lo,” greget Andre tidak karuan sambil meremas botol yang dipegangnya.

    Fajar tersenyum sumringah. “Tapi Ndre, nama cewek yang gue temui itu seperti nama cewek yang lo ceritakan tadi deh, soalnya namanya Anna.”

    Andre yang tadinya sudah malas menatap Fajar kini malah langsung menoleh ke arahnya, Andre didera rasa penasaran dan ingin tahu apa yang dikatakan oleh Fajar, apalagi menyangkut dengan nama yang bernama Anna. “Lo serius?” tanyanya memastikan.“Iya, serius.”

    “Demi apa?” Hal yang paling serius yang dikatakan Andre kini malah dijawab dengan Fajar yang membuat dirinya naik darah.

    “Gue nggak suka mie, Ndre. Gue sukanya soto ayam.”

PLAAKKKK!

    Satu pukulan yang mendarat di kepala Fajar dan membuat Fajar sontak menjauhkan kepalanya karena satu pukulan itu. “Gue lagi nggak bahas makanan goblok!” sinis Andre tajam.

    Fajar mengelus kepalanya yang ditimpal buku dengan Andre, rasanya benar-benar aduhai banget. “Lo nemplok gue seenak jidat lo aja ya, kepala gue udah difitrah sama boss gue!” sinis Fajar tidak terima.

    “Makanya, lo jadi orang bisa nggak sih nggak usah polos-polos kali? Dewasa sedikit kenapa? Lo udah senior di kampus ini,” Andre meluapkan kekesalannya terhadap Fajar. Hal yang seharusnya tidak keluar kini menjadi keluar karena Fajar memancingnya terus menerus.“Ya udah sih mangap.”

   Rasa yang masih penasaran terus saja menghampiri Andre, mencoba untuk megalihkan pembicaraan tanpa membahas soal pukulan lagi. “Btw, lo seriusan yang tentang Anna itu?” tanyanya memastikan dan Fajar menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan Andre.

    “Terus dia ambil jurusan apa?” Andre semakin bertanya-tanya.

    “Hukum.”

    Ntah hal apa yang membuat dirinya bingung dengan kata hukum, padahal tidak ada kata-kata yang aneh dari kata hukum tersebut.

    “Ha? Emang dia mau jadi apa?” Lagi dan lagi Fajar menjawab dengan polosnya. “Tahanan, mungkin.”

    Kalau kalian punya teman seperti Fajar, bakalan ngerasain kesalnya juga nggak sih? Kalau gue kesal sih.

PLAAKKK!

    Kali keduanya Andre mendaratkan sebuah pukulan buku di kepala Fajar. “Gue serius, bangke!”

    Fajar tertawa bahagia saat menjahili sahabatnya itu, ternyata dirinya bersikap polos supaya dirinya bisa membuat sahabatnya marah kepadanya.

    “Hahaha—“

    Fajar tidak terhenti tertawa sedari tadi. “Nggak usah ketawa lo!” Raut wajah Andre berubah menjadi masam setelah dijahili dengan Fajar. Bagaimana Fajar tidak menjahili Andre. Kalau dirinya sudah terobsebsi kepada Anna. Menanyakan Anna mulai dari nama, jurusan, keluarganya, nomor sepatunya, ukuran bajunya, celana, bahkan kesukaan Anna apa. Nyebelin nggak sih ditanya begituan?

    “Haha, biarin—“

    Andre mendesah berat sambil mengelus dadanya berapa kali. “Ya Allah, kenapa gue bisa bertahan sahabatan dengan orang kayak gini dari orok sih?” cibir Andre.Dengan lancarnya Fajar berkata, “Itu berarti kita jodoh.”

    “Ciiihhh—“ Andre memajukan sedikit bibirnya mengartikan bahwa dirinya ingin muntah dihadapan Fajar. “Najis gue jodoh sama lo, dasar homo!” tukas Andre.

    “Gue masih normal kali, Ndre. Buktinya aja gue bisa suka sama Anna, “ Fajar terus saja ngeledek Andre tanpa memiliki maksud yang tertentu.

    Andre yang mendengar nama Anna langsung melotot menatap Fajar dengan tatapan tajam. “Lo boleh suka sama siapapun, asalkan jangan sama Anna, paham?” Andre berusaha memperingati Fajar. Tetapi Fajar, “Emang ada undang-undang yang mengatur kalau gue nggak boleh suka sama Anna?”

    “POKOKNYA JANGAN SAMA ANNA, FAJAR!” Teriak Andre sekuat mungkin sampai membuat Fajar harus menutup kedua telinganya. “Lo lama-lama kok ngeselin banget sih,” gemas Andre.

    Lagi dan lagi Andre hanya tertawa puas saat melihat ekspresi Andre. Ia sudah berhasil membuat sahabatnya itu marah, dan sebentar lagi akan mengeluarkan api dari mulutnya seperti naga.

    “Santuy, santuy, nggak usah ngenggas, gue nggak tungkian soalnya.”

    Tidak selamanya kita harus menjalani kehidupan yang serius, tetapi tidak selamanya juga kita membuat kehidupan ini menjadi sebuah mainan. So, ada saat kita bisa membuat dengan serius, dan ada saatnya juga kita bisa membuat mainan. Itu semua tergantung waktu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel