Bab 2. Pangeran Kampus
Seluruh mahasiswa/mahasiswi langsung membentuk ke dalam barisan secara teratur. Seseorang pria yang sudah menaiki mimbar dan mendekatkan mulutnya dimix tersebut. “Perhatian untuk semuanya, di sini saya meminta waktu kalian sebentar saja,” katanya. Para mahasiswa/mahasiswi hanya diam dan mendengarkan ucapan yang dilontarkan kepada pembina itu.
“Di sini saya cuma memberi nasihat buat kalian semua yang baru saja memasuki Universitas ini. Apapun yang kalian pilih dalam sebuah jurusan, saya harap itulah yang terbaik buat kalian. Di sini senior kalian hanya bisa suport dan membantu kalian bila kalian kesusahan dalam sebuah materi. Itulah yang bisa saya sampaikan kepada kalian semua, selebihnya saya mohon maaf apabila perkataan saya telah menyingung hati kalian,” Kata-kata yang terdengar sederhana, mampu membuat seluruh mahasiswa/mahasiswi paham dengan perkataanya.
“Nah, pembina selanjutnya adalah seseorang yang kalian tunggu-tunggu. Oke kita panggilkan saja dia adalah—“ Pria itu menggantungkan kata-katanya.
“Pangeran kampus kita,” lanjutnya.
Pangeran kampus yang berjalan berlawanan dengan temannya menuju mimbar, mampu membuat seluruh mahasiswa/mahasiswi langsung histeris bertepuk tangan. “Semangat, Bro,” bisiknya sambil memukul pelan pundak pangeran kampus. Dia hanya tersenyum tanpa membalas perkataan tersebut.
“OMG, dia ganteng banget, Libra,” Icha yang melihat keberadaan malaikat di depannya, mampu membuat dirinya melayang seketika, tangannya terus saja menarik-narik lengan Anna sekuat mungkin, melepaskan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Lo bisa diam nggak, sih? Pecah gendang telinga gue nih!” sentak Anna tajam dan menepiskan tangan Icha dengan kasar.
Anna melihat sahabatnya yang bertingkah lebay ini, ingin rasanya ia menarik, membuang sahabatnya ke laut. “Makanya lo lihat tuh pangeran kampus kita, ganteng banget tau!” cibirnya. Icha memegangi siku tangannya, meringis kesakitan. Kalau bukan ingat bahwa Anna adalah sahabatnya, ingin sekali ia menjambak-jambak rambutnya.
Mata yang mengartikan kejengkelan, dengan tangan yang bersilah di dadanya.“Lebay lo sumpah!” Dua hari ini Anna benar-benar muak banget dengan tingkah sahabatnya, yang selalu membuat seleranya hilang. Ternyata bukan hanya Icha yang punya tingkah seperti itu, tetapi 90% orang yang ada di sini ikutan histeris saat melihat ketampanan pangeran kampus. Pangeran kampus yang sudah berada di mimbar, kini bibirnya tersenyum, matanya lekat saat menatap junior-juniornya yang sangat berhisteris saat wajah tampannya mampu memikat semua kaum Hawa yang ada di sini.
“Oke, itu saja yang bisa saya sampaikan. Selebihnya kalian boleh istirahat sejenak, terima kasih,” katanya dan segera meninggalkan mimbar tersebut.
Seperti yang diucapkan Andre bahwa istirahat sudah dilaksanakan. Seluruh mahasiswa/mahasiswi pada bubar dari barisan. Mereka ada yang memilih beristirahat di kantin, perpustakaan, taman belakang kampus, bahkan ada juga yang sedang mencari ruangan kelasnya dari jurusan masing-masing. Saat ini Anna dan Icha bingung untuk mancari tempat beristirahat, karena disetiap lorong sudah ada penghuninya.
“Libra, kita dari tadi sebenarnya mau ke mana sih? Keliling-keliling terus nggak jelas, pegel nih kaki gue,” cerocos Icha sambil memegangi kedua lututnya.
Anna memberhentikan langkahnya, membuat Icha yang berada di belakangnya kini menabrak tubuh Anna. Anna berbalik arah menghadap Icha yang sedang memegangi kepalanya karena terbentur. “Lo bisa nggak sih berhenti manggil gue Libra?” sentak Anna tajam.
“Kan nama lo Libra,” seru Icha. Kedua tangan yang sudah mengepal dan menahan amarahnya, kini hampir saja ia mengerauk wajah sahabatnya itu. “Tapi gue nggak suka dipanggil Libra, panggil gue Anna aja kenapa susahnya sih?” Icha menelan ludahnya susah payah, “Iya deh, Anna,” pasrah Icha.
“Yaudah, sekarang kita mau ke mana? Gue nggak sanggup lagi untuk jalan, “ rengek Icha. Wajahnya mulai mengerluarkan kelelahan, sangat lelah!
“Lo jadi cewek lemah banget sih,” Sampai sepanjang hari pun Anna dan Icha tidak bakal berhenti berdebat sampai diantara mereka harus ada yang mengalah, atau ada orang yang berniat untuk meleraikannya.
“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” Nah, benar kan. Suara itu mampu membuat Anna dan Icha memberhentikan perdebatannya. Mereka langsung mencari asal suara tersebut, dan mendapati seseorang itu yang berada di depan Anna dan Icha. Andre! Pangeran kampus kita,
Di sinilah Andre berdiri sambil memegangi kunci mobil. Dengan alis yang menunjukan cowok gagah, rahang yang kokoh, tubuh tinggi tegap dan tatapan tajam milik Andre mampu menghipnotis semua cewek yang berada di kampus ini.
Percayalah, hanya Anna cewek di kampus ini yang tidak tertarik dengan pesona Andre. Bisa dibilang Anna adalah cewek aneh.
Icha melongo tidak percaya saat melihat sosok malaikat yang berada di hadapannya saat ini, betapa tampannya pangeran ini. “Ya ampun, gue tadi malam mimpi apaan ya? Sampai bisa ketemu langsung sama malaikat ganteng,” ucap Icha sambil memukul kedua pipinya pelan berapa kali. Wajah yang menggemaskan, itulah yang diperlihatkan Icha saat ini.
Andre tertawa pelan mendengar ucapan seorang gadis ini, betapa bersyukurnya ia memiliki wajah yang sempurna, yang mampu memikat dan melelehkan hati kaum Hawa. Anna yang mengetahui Andre tertawa, langsung menyenggol lengan Icha, menyadarkan dirinya dari lamunan gila itu. “Lo nggak usah buat malu gue, Cha,” bisik Anna.
Icha memberhentikan aksinya lalu menoleh ke arah Anna. “Gue nggak ada buat malu lo kok, buktinya aja gue pakai baju, pakai celana juga,” jawab Icha dengan lugunya. “Astagfirullah, gue gigit juga baru tau rasa lo!” Deretan gigi Anna menggertak, kekesalannya mulai memuncak. Anna berusaha untuk sabar, mengontrol emosinya yang ingin meledak karena Icha.
Andre mendehem pelan, menyadarkan dua gadis itu dari perdebatannya. Anna dan Icha segera menoleh ke arah Andre. Tangan Anna masih bersila di dadanya dan pandangannya mengartikan bahwa ia tidak suka berada disituasi ini. Sedangkan Icha masih meladeni Andre. “Hehehe, maaf, Kak,” cengir Icha tak berdosa.
“Hm, iya nggak apa-apa. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Andre teringat akan hal pertamanya. .
“Nggak ada kok, Kak,” ujar Anna cepat, tetapi Icha langsung memotongnya. “Ada, Kak.” Anna melirik Icha di sebelahnya, memutar bola mata dengan malas. Harus berapa lama lagi ia berdiri di sini? Memperhatikan hal yang sama sekali tidak penting baginya. Huft! “Apa itu?” bingung Andre. Ia tetap berusaha menjawab apa keinginan dari junior-juniornya.
“Hm, Icha boleh nggak minta foto sama Kakak?” tanya Icha polosnya dengan wajah memelas.
Anna dibuat melongo, tak bisa berkata apa pun. Ia bingung dengan permintaan sahabatnya. Emang dia pikir dia artis apa? Pakai dimintai foto segala. Anna sangat jengah dengan permintaan sahabatnya itu yang meminta foto dengan Andre. Sedangkan Andre dia mengerutkan kening mendengar permintaan gadis itu. Andre hanya menganggukkan kepala mengiyakan saja permintaannya.
Icha cepat-cepat memasang wajah memelas, lalu mengarahkannya ke arah Anna. “Anna, gue boleh minta tolong fotokan kami berdua, nggak?”
Anna menghela nafas panjang. Dia bisa menebak bahwa dirinya bakalan dimintain bantuan. Dengan malas Anna meraih handphone Icha dan menfotokan dirinya dengan Andre. Anna sedikit bergaya di sebelah Andre dengan dua jari berbentuk V yang membuatnya semakin lucu, sedangkan Andre hanya berdiam diri dengan memberikan senyuman tipisnya.
CKLEEKK!
Satu bunyian yang Anna lakukan, lalu segera mengembalikan ponsel tersebut kepada Icha. Dia menerima ponsel itu, dan melihat hasilnya. Sangat Cantik fotonya! “Oke, makasih ya, Kak,” Bukannya berterima kasih kepada Anna karena sudah mengambil fotonya, Icha justru berterima kasih kepada Andre. Menyebalkan sekalih sih, Icha. batin Anna.
Andre hanya membalas dengan senyuman, pandangannya beralih ke arah sebelah gadis itu, Anna! Ya, saat pertama bertemu, Andre selalu memperhatikan wajahnya, sepertinya ia tertarik kepada gadis ini. “Kamu nggak mau sekalian foto juga?” tanyanya dengan percaya diri.
“Nggak penting,” ketus Anna dengan memperlihatkan wajah datarnya.
Seperti yang dibilang tadi, sebenarnya Andre tidak asing melihat gadis ini, ia seperti pernah bertemu, tetapi di mana? Dan kapan?
Andre terus saja berfikir. “Hm, btw kita pernah bertemu ya sebelumnya?” tanya Andre memastikan.
Andre berusaha keras untuk berfikir, mengingat kejadian sebelumnya. Anna hanya bergedik heran dan dicampur dengan kejenuhan. Anna sedikit merapikan bajunya, dan itu yang membuat Andre mengingat semuanya. Oh good! Akhirnya Andre menyadari bahwa ia benar-benar pernah bertemu dengan gadis ini, di toilet bioskop! Ya, Andre sangat yakin itu. Andre menyempurnakan kedua bola matanya. “Lo yang ada di toilet itu, kan? Ingat, nggak?” Andre semakin bertanya-tanya, dengan jari telunjuk yang diarahkan kepada Anna.
Anna masih diam dengan posisinya, tetapi Icha didera rasa penasaran dan ingin tahu apakah yang dibilang Andre benar, kalau benar kenapa Anna tidak pernah menceritakannya? “Lo seriusan pernah ketemu dia, Na?” bisiknya.
“Nggak,” balasnya singkat. Icha sama sekali tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Anna. “Terus, kenapa dia bisa bilang begitu?”
“Ya mana gue tau—”
“Kenapa lo nggak tau?” Pertanyaan Icha mulai menjengkelkan yang membuat dirinya tidak mau berlama-lama di sini. “Tau ah gelap,” Tiga kata itu mampu membuat Anna langsung berlalu meninggalkan sahabatnya dan pangeran kampus yang masih didera rasa penasaran.
“Anna, lo mau ke mana? Tunggu gue!” ucap Icha sedikit meninggikan suaranya. Anna tetap saja berjalan tanpa menoleh ke belakang, menjawab pertanyaan Icha.
“Hm, maaf ya, Kak. Icha permisi dulu,” Icha langsung berlari kecil menelusuri koridor untuk mensejajarkan langkahnya dengan langkah Anna yang sudah tertinggal lima belas langkah.
Andre yang ditinggal sendirian hanya menatap punggung kedua gadis itu dari kejahuan. Otak dan hatinya terus saja bertanya. “Dia beneran yang gue tabrak, kan?” Wajah polos dengan penasaran, itulah yang sedang diperlihatkan oleh Andre saat ini. Kaum Hawa yang berlalu lalang hanya bisa mengucapkan. “Kenapa dia bisa ganteng gitu, ya?”
“Kira-kira dulu mama dan papanya, buatnya gimana?”
“Hm, rahasianya apa ya? Kok bisa ganteng gitu?”
“Sumpah, gue pengin kali jadi biniknya.”
