Bab 1. Secara Kebetulan
Pagi ini tepat pukul sepuluh pas, di mana kedua sahabat ini sedang pergi ke bioskop untuk menoton film comedian.
Di mana salah satunya adalah sang pemeran utama, Anna Asyfa Libra. Panggil saja dia Anna. “Kamu mau ke mana, Libra?” tanya Icha sahabat Anna.
“Toilet,” seru Anna, dan langsung berlalu meninggalkan Icha sendirian. Icha hanya mendongakan kepalanya, melihat kepergian Anna.
Anna berjalan menelusuri koridor menuju toilet, disepanjang kakinya melangkah, mulut dan hatinya terus saja beradu, ia menahan amarahnya dengan Icha. Bibir yang seharusnya tersenyum, kini malah cemberut. Mukanya benar-benar ditekuk.
“Emang dia nggak bisa manggil gue Anna, gitu?” Itulah salah satu kata yang ia tahan dari tadi di dalam dirinya. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, bahkan setiap harinya Anna selalu mengingatkan Icha supaya dia tidak memanggilnya Libra, tetapi sahabatnya itu tidak pernah mendengarkannya, dia selalu saja memanggil Anna dengan sebutan Libra.
Apa yang sebenarnya ada di dalam benak Icha, sampai dirinya suka sekali memanggil libra. Apakah ada rahasia yang disembunyiin Anna dan Icha sampai para pembaca tidak boleh mengetahuinya? Kira-kira apa ya? Ada yang tahu?
***
“Ke mana aja lo? Toilet kok lama bener,” tanya Icha.
Sejak tadi ia menunggu Anna yang pergi ke toilet, jemarinya yang terus sibuk mengotak-atik handphonya, yang pada akhirnya saat Icha mendongakkan kepala, matanya tertuju pada seorang gadis yang memakai baju putih dan celana jeans bewarna coklat susu, Anna!
Anna yang tahu keberadaan Icha, langsung duduk di sebelahnya. Sedangkan Icha, ia menoleh ke arah Anna, melihat ekspresinya seperti tidak terjadi apa-apa. “Ngantri,” serunya singkat.
Icha mendesah berat sembari beranjak dari duduknya, tangannya memegang dua tiket yang sudah dipesan tadi. “Yaudah yuk buruan masuk!” pintanya. Icha melangkah kaki menuju ruangan, dan Anna hanya mengikutinya, mensejajarkan kakinya dengan kaki Icha. Sebenarnya kaki ini sangat berat untuk melangkah, tetapi mau tidak mau ia harus menuruti permintaan sahabatnya itu.
Anna dan Icha mememberikan tiket kepada petugas ruangan, lalu mereka masuk dengan memandangi tiket yang tertera nomor kursinya. 24 dan 25, itulah tempat duduk yang Anna dan Icha tempati. Tempat duduk dikursi nomor lima dari bawah. Setelah ruangan terisi penuh, lampu mulai diredupkan dan film segera ditayangkan. Mulai terdengar suara riuh penonton yang tertawa, terlebih lagi Icha yang duduk di sebelah Anna.
Tersentak Anna menjauhkan telinganya dari wajah Icha, yang tiba-tiba tertawa sangat melengking. “Apa yang lucu dari film ini sih?” umpat Anna langsung menatap layar film yang baginya sama sekali tidak menarik.
Akhirnya Anna membuat keputusan sendiri dengan membuka handphone dan mengotak-atik handphone tersebut, membuka instagram, menarik ulur beranda. Begitulah kegiatan Anna sampai satu jam setelah film ditayangkan.
Lima menit setelah itu, layar film memberi penutupan. Anna mendongak melihat jelas layar film itu selesai ditayangkan. Dengan cepat Anna menutup handphonenya dan meletakan kembali ke dalam tasnya.
Alhamdulillah akhirnya selesai juga, batin Anna penuh dengan hembusan napas yang kasar.
Anna dan Icha beranjak dari duduknya, segera ke luar dari ruangan seperti penonton-penonton lain. “Kita mampir ke restoran dulu, ya! Gue lapar,” pinta Icha saat berada di luar ruangan. Icha terus saja memegangi perutnya yang sudah keroncongan akibat cacing-cacing yang ada di dalam perutnya. Anna menghembuskan napas terberatnya, mengelus dada berapa kali, mengikuti saja apa yang diinginkan sahabatnya ini.
Anna dan Icha terus berjalan sampai mereka menemukan makanan yang lezat dengan lokasi yang ada di sekitarnya.
“Hm, lo tunggu sebentar, ya. Gue mau ke toilet,” seru Anna.
Anna dan Icha sekarang sudah berada di depan restoran. Mall yang sama yang mereka kunjungi saat nonton bioskop tadi.
“Kayaknya hobi lo toilet mulu deh—“ cibir Icha.
“Emangnya masalah buat lo?” tanya Anna menantang.
Icha memberikan tatapan malas. “Masalah lah,” sinis Icha.
“Bodoh,” Icha meggeram menahan kekesalannya, ia mulai sebal dengan tingkah sahabatnya ini. Sementara Anna, dia masih bersikap tenang seakan tidak terjadi apa-apa pada dirinya setelah bersikap seperti tadi. Wajahnya terus saja datar, tidak menunjukan ekspresi sedikitpun.
Setelah mengucapkan itu, Anna berjalan pergi meninggalkan Icha yang masih terdiam dengan posisinya. Mata Icha mengikuti kepergian Anna. Icha yang selalu bersikap sabar melihat sahabatnya hanya menghela napas dan mengelus dadanya berapa kali. Lagi dan lagi ia harus mengurus semuanya sendiri seperti mencari tempat, memesan makanan, dan memesan minuman untuk dirinya dan Anna.
***
BRUUKKKH!
Suara benturan tubuh membuat Anna tersentak, “Lo jalan pakai mata dong!” sentak Anna tajam. Anna baru saja keluar dari toilet untuk merapikan bajunya, kini malah rusak karena seseorang yang sudah menabraknya.
Pria yang berjalan tunduk sambil memegangi handphone dan earphone yang berada di telinganya, kini mendongakkan kepalanya karena sudah menabrak seseorang. “Sorry-sorry, gue nggak sengaja,” balasnya dan langsung membuka earphone tersebut.
Anna meremas-remas tangannya yang mulai gatal, ingin mencakar-cakar wajah pria yang ada di hadapannya saat ini. Tetapi amarah yang dimilikinya masih bisa dipendam sampai pria itu tidak berbuat macam-macam. Kedua tangan yang tadinya diremas-remas, kini kembali merapikan tatanan baju yang sudah rusak. “Lain kali jalan pakai mata!” tukas Anna sebal tanpa menatap pria itu.
“Jalan pakai kaki, bukan pakai mata—” Pria itu membenarkan perkataan Anna yang salah menyebutkan.
“Nggak usah dijawab! Udah tau,” Bukannya malu, Anna justru malah menjawab dengan sesukanya. Ekspresinya kini menandakan bahwa ia sangat membenci pria yang ada di hadapannya saat ini.
“Gue cuma bilangin.”
“Mulut-mulut siapa? Gue kan? Kok lo yang sewot sih?” sinis Anna lebih tajam.
Anna adalah tipe orang yang tidak suka kalau perkataannya disalahkan, karena menurutnya perempuan itu selalu benar. Sedangkan pria yang ada di hadapannya saat ini, dia terus saja memperhatikan Anna, melihatnya dari ujung kaki hingga ujung kepala tanpa kedip sedikit pun. “Cantik,” ucapnya tiba-tiba melintas dari mulutnya.
Anna langsung menatap tajam ke arah pria itu. “Lo gila?” balas Anna dengan kedua alis yang dinaikkan.
“Udah lah,” Tanpa berfikir panjang, dan tanpa menunggu jawaban dari pria itu. Anna segera melangkah kaki, meninggalkan pria itu sendirian, ia tidak mau berlama-lama dengan pria gila itu, yang ada dirinya nanti akan ikutan gila. Akhirnya Anna memutuskan untuk kembali ke tempat sahabatnya Icha.
Anna menatap Icha tanpa bicara, ia berhenti di depan meja sambil memperhatikan dua piring dan dua minuman di atas meja. Tanpa basa-basi Anna langsung duduk di hadapan Icha yang sedari tadi mencibir tak henti-hentinya. “Lo sebenarnya ke toilet atau bangun candi? Lama benar.”
Icha terus saja melotot, lalu memandangi Anna dengan pandangan kesal. “Gue udah lapar gegara nunggu lo, lo tau itu nggak?” Sekali lagi Icha berbicara dengan Anna. “Dari masih panas makanan ini, sampai udah dingin.” Tetapi hasilnya nihil. Anna terus saja mengunyah makanannya tanpa menjawab perkataan Icha dan melihat ekspresinya ntah sudah seperti apa.
Perlahan Icha mulai menarik napasnya dalam-dalam, lalu ia keluarkan suara lima oktafnya. “Annaaaa—“ teriak Icha.
Anna mendongakan kepala, melihat ke sekeliling. Anna sangat malu karena suara kencang Icha yang terdengar dengan keras di seluruh penjuru restoran. Saat ini, semua pengunjung restoran beserta pegawai restoran menatap ke arah meja mereka yang menghancurkan keheningan tersebut.
Icha yang menyadari bahwa dirinya telah disorot banyak orang pun akhirnya menyembunyikan wajahnya, ia benar-benar malu. “Apa?” tanya Anna.
Icha mengelus dadanya, mencoba menenangkan dirinya agar ia tidak terlihat memendam amarah. Icha perlahan mendongakan kepala, menatap Anna dengan sorot mata tajam. Ia menyapu pandangannya, lega karena semua orang sudah kembali sibuk dengan urusan masing-masing. “Lo dengar gue nggak sih?” Hanya itulah kata terakhir yang diucapkan oleh Icha, selebihnya ia harus menahannya.
“Gue dengar,” balasnya singkat dan cepat.
“Terus kenapa lo nggak jawab pertanyaan gue?” Icha semakin bertanya-tanya.
Anna mendongakkan kepalanya menatap lekat sahabatnya yang masih memendam amarah. “Gimana gue mau jawab, lo aja nyerecos mulu,” Setelah mengucapkan itu, Anna kembali fokus dengan makananya. Dahaganya mulai terasa kering, ia langsung mengambil minuman miliknya lalu menyeruputnya sedikit.
“Astagfirullah, kenapa Icha harus punya sahabat seperti ini, ya? Sabarkan Icha ya Allah untuk ngehadapi sifatnya Anna,” Icha menghela napasnya sangat panjang. Ia juga menyudahi perdebatan antara dirinya dan juga sahabatnya.
Perut keroncongan yang semakin menghampirinya, Icha sudah tidak tahan lagi dengan ke kelaparan yang ada di dalam dirinya, Icha pun mulai menyuapkan sendok yang berisi makanan ke dalam perutnya.
Anna dan Icha sama-sama fokus kepada makanannya, tatapan mereka sama sekali tidak bertemu sampai makanan yang mereka makan selesai. Icha Varencia, berusia 19 tahun, memiliki paras wajah yang cantik, dilengkapi dengan pipi cubbynya, gigi berginsul, dan berambut pendek, sangat cantik!
***
Setelah menyelesaikan makanan mereka, Icha masih pengin untuk keliling-keliling lagi, tetapi Anna menolak keras permintaan Icha.
“Kita pulang!” Dua kata yang dilontarkan Anna mampu membuat Icha tidak bisa berkata sedikitpun. Icha mengantar Anna sampai di rumahnya, lalu ia bergegas untuk kembali ke rumahnya sendiri. Tadinya Icha ingin singgah ke rumah Anna, tetapi Anna melarangnya. Waktu yang ia punya sedikit lagi, dan itu tidak akan membuat Icha merusaknya lagi.
ARRGGHHSS!
