Part six
“Madam, jika tidak keberatan. Sehabis makan siang hari ini, maukan anda pergi ke sebuah salon?”
“Tidak perlu, aku tidak punya waktu. Lagi pula sehabis makan ini, aku mempunyai urusan yang lebih penting. Ada sebuah pertemuan dengan pejabat daerah!”
“Baiklah bagaimana dengan besok?” tanya asistenya masih dengan nada sopan.
“Aturkan saja jadwalku untuk besok hari!”
Lalu setelah itu, ibu Rina saat ini mulai melanjutkan malam siangnya. Sedangkan di sebuah hotel mewah, saat ini terlihat. Di dalam kamar yang sudah dipenuhi oleh kamera kecil, seorang laki-laki dan seorang wanita. Saat ini telah melepas busananya, mereka saat ini masih belum tahu. Jika mereka sedang diawasi, sedangkan dari tempat lain. Sang sopir saat ini, hanya menontoni mereka. Seperti menonton sebuah sinetron televisi saja, tidak lama. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk mobilnya, sang supir saat ini mulai mematikan ponselnya. Dia mulai menyapa orang yang tiba-tiba datang menemuinya, dengan menampilkan muka yang sangat ramah.
“Iya ada apa?” tanya Sule saat ini yang hanya membuka setengah kaca mobil saja.
“Maafkan saya, namun saya adalah orang baru di sini. Saya hanya ingin mencari alamat saja, saat ini apakah anda mengetahui di mana alamat ini?”
Ternyata orang ini, hanya ingin bertanya alamat saja.
“Ah, alamat ini ya?”
“Iya apakah anda tahu di mana?” sebut wanita ini lagi yang masih terus menanyakan alamat yang dia bawah.
“Sebenarnya saya juga bukanlah orang sini, saya tidak tahu di mana alamat itu. Di sana ada sebuah warung kecil, kamu bisa tanya kepada penjualnya. Mungkin dia tahu,”
“Baiklah terima kasih,”
Lalu wanita itu pun mulai pergi meninggalkan Sule sendirian di dalam mobilnya, saat ini sule hanya melihat jam jangannya. Saat ini sudah menunjukkan pukul dua siang, ternyata jam jangan yang sule punya. Pada pinggirannya, terdapat sebuah alat perekam. Sule saat ini mulai mendengarkan kembali rekaman pembicaraannya bersama dengan, kepala komisaris tadinya yang telah berhasil dia rekam.
“Saat ini kamu pulanglah saja, nanti jika selesai aku akan menghubungi kamu kembali. Ingat jika ada yang mencariku, bilang saja jika saat ini aku sedang ada sebuah rapat. Jangan beri tahu jika saat ini aku akan bermain dengan seorang gadis cantik,”
Sule saat ini terlihat mulai menampilkan senyum gilanya, tidak lama. Sule pun mulai mengirim rekaman suara ini kepada ibu Rina, sule mengirimnya melalui via whatapp.
(Ini adalah rekaman suara yang berhasil saya rekam, selagi saya berbincang dengan tuan. Madam saat ini saya akan terus mengawasi pergerakan tuan, madam cukup percaya saja kepada ya)
Tidak lama, pesan itu pun sampai kepada orang yang dia tujuh. Dengan seketika, madam Rina pun mulai membuka pesan yang baru saja dia terima. Saat ini dia mendengar pesan suara itu, madam Rina saat ini merasa sangat emosi mendengar kata-kata yang tidak pantas diucapakan oleh suaminya. Saat ini mata madam Rino terlihat memerah, menahan air matanya yang akan turun. Sambil tertawa begis, lalu melempas ponsel dengan keras ke arah dinding. Tidak lama ponsel yang dia banting pun mulai rusak dan hancur, asistenya yang saat ini sedang bersama dengannya hanya bisa diam dan tidak berani berkata-kata.
“Bajingan itu! Aku ingin membunuhnya sekarang!” teriak Rina saat ini sangat kesal dengan suaminya.
“Jika bukan karena aku, bajingan itu tidak mungkin bisa berada pada posisinya saat ini. Akulah yang menaikan derajatnya, namun dia tidak berterima kasih kepadaku? Dia pikir dia itu siapa. Dia lupa, dahulunya dia hanyalah orang biasa. Ayahku yang telah menangkat derajatnya sampai setinggi ini, namun sekarang dia menjadi lupa diri?” madam Rina saat ini terlihat tidak bisa mengendalikan emosinya yang sedang membara.
Perlahan, asisetenya mulai pelan-pelan menenangkan dirinya.
“Madam!” panggil asistennya.
“Saat ini katakan apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku lakukan agar pria ini bisa langsung mati. Namun aku pun tidak perlu mengotori tanganku atau pun menghabiskan uangku untuk membayar orang?” sebut madam Rina saat ini.
“Madam saat ini tolong tenangkanlah dirimu!” balas asistennya.
“Bagaimana aku bisa tenang, pria bajingan itu. Dia selalu saja membuat masalah, lagi pula. Dia bermain wanita, uang yang dia gunakan itu. Uang itu adalah uangku!!!”
Lalu Rina saa ini mulai menghancurkan barang-barang yang ada di dalam rumahnya, terlihat jika emosinya yang sedang membara tidak bisa ditenangkan dengan mudah. Karena takut, saat ini asistenya mulai menghubungi keluarga dekat dari Rina. Saat ini Afifah asisten pribadinya madam Rina, mulai mencoba menghubungi Dea keponakan yang sangat dekat dengan madam Rina. Sembari Rina menghancurkan barang-barang di rumahnya, asistennya mulai menelepon Dea.
“Ada apa?” terdengar suara dari wanita yang baru saja merespon panggilan telepon dari Afifa.
“Nona muda, saat ini bisakah anda datang kemari? Madam saat ini sedang menghancurkan barang-barang yang ada di rumah, saya sudah berusaha mencoba menenangkannya. Namun tidak berhasil!” jelas Afifah kepada Dea.
“Memangnya ada apa? Kenapa tanteku bisa seperti itu?” tanya Dea saat ini penasaran.
“Saya juga tidak tahu pasti nona Dea, namun ketika madam habis menerima pesan suara. Entah dari siapa orang itu, madam langsung bersikap seperti orang yang sedang kesurupan!”
“Baiklah tunggu di sana aku akan segera ke sana!”
Lalu panggilan telepon pun mulai dimatikan, saat ini asistenya mulai diam-diam merekam sebuah vidio singkat. Dari pantulan cermin, Rina melihat gerak-gerik dari asistennya yang tidak hati-hati ini. Rina yang melihat itu, masih melanjutkan apa yang dia lakukan. Dia masih saja marah-marah dan menghancurkan barang di rumahnya, namun dia bersikap seolah tidak menyadari jika saat ini asistennya sedang melakukan penghianatan.
****
Di kantor polisi saat ini, Erwin terlihat sedang duduk dengan cemas di atas kursi kerjanya. Saat ini, dia merasa ragu dengan tindakkan apa yang akan dia ambil. Dia tidak mungkin melibatkan orang lain lagi, untuk meminta bantuan. Lagi pula terlalu banyak orang yang terlibat, maka itu hanya akan membuat suatu masalah saja. Tidak lama, ponsel Erwin pun mulai berdering. Ternyata dia baru saja mendapatkan panggilan telepon dari kekasihnya, saat ini wanita itu bertanya apakah Erwin sedang sibuk. Dia ingin bertemu dengan Erwin, saat ini wanita ini sedang berada pada sebuah pusat perbelanjaan.
“Iya ada apa sayang?” tanya Erwin yang saat ini langsung bergegas merepon panggilan suara dari wanita yang dia cintai.
“Saat ini apakah kamu sedang sibuk?” tanya wanita ini.
“Ada apa?”
“Bisakah kamu keluar dari kantormu?”
“Memangnya ada apa?”
“Saat ini aku sedang berada di tempat perbelanjaan bersama dengan adik sepupuh, saat ini. Apakah kamu bisa menemui kami?”
