Part seven
“Tentu saja, aku akan segera pergi menemui kamu. Tetaplah di sana aku akan segera sampai!”
Lalu panggilan telepon pun mulai dimatikan, saat ini Erwin langsung saja merai jasnya serta kuncil mobil yang ada di atas mejanya. Lalu mulai pergi meninggalkan kantor polisi, sebelum Erwin pergi dia meninggalkan pesan untuk para polisi yang masih beada di kantor.
“Hari ini aku ada urusan penting di luar, jika ada masalah. Kalian selesaikanlah dulu, ah untuk masalah kasus narkotika yang sedang buming saat ini. Ingatlah, jangan terlalu dihiraukan. Masih banyak kasus lain yang lebih penting dari itu, pecahkanlah kasus lain dulu. Sebagai seorang polisi kita mempunyai tanggung jawab untuk menjaga keamaan masyarahat!”
“Baiklah detektif!”.
Lalu saat ini, Erwin pun mulai benar-benar pergi meninggalkan kantor polisi.
Sedangkan masih di dalam rumahnya madam Rina, saat ini Afifah. Asisten pribadinya, mulai diam-diam mengirimkan vidio rekaman kemarahannya kepada kepala komisaris. Ketika melihat, suasana yang mulai agak aman Afifa mulai datang kembali dan menemui atasannya.
“Madam saat ini saya membawahkan anda sebuah teh,”
“Tidak perlu repot-repot!”
“Tidak apa madam!”
Sekarang di sini sudah ada Dea yang datang untuk menenangkan tantenya, Dea terlihat khawatir dengan kesehatan dari tantenya ini.
“Tante, apa yang membuatmu menjadi sangat kesal. Seluruh rumah menjadi seperti kapal pecah!”
“Ini semua karena ulah dari pamanmu!”
“Paman lagi masalah utamanya? Memangnya apa yang paman lakukan? Mengapa tante menghancurkan semua barang berharga seperti ini?”
“Kamu tahu, saat ini dia sedang bersama dengan seorang wanita di sebuah hotel. Sangat berani sekali dia, bersenang-senang dengan seorang wanita. Namun menggunakan uangku!”
“Aku sangat tidak percaya, bagaimana bisa tante. Kamu mendapatkan seorang suami yang tidak berguna,”
“Dahulunya dia tidak seperti itu,”
“Jadi itulah alasan mengapa tante menikahi pria itu?”
“Sebenarnya pernikahan kami adalah sebuah perjodohan, namun perasaan yang pernah aku miliki kepadanya. Bahkan perasaan yang saat ini masih tersimpan, itu adalah perasaan yang benar adanya. Meski pun pernikahan kami adalah sebuah perjodohan, namun kami pernah saling mencintai. Sayangnya seiring berjalannya waktu, pria itu pun berbubah menjadi pria yang berengsek. Alasannya karena aku tidak bisa memuaskan dirinya, aku juga tidak bisa memberikan dia seorang keturunan. Namun apakah itu semua layak untuk dijadikan kritikan?”
“Ternyata paman jauh lebih berengseng dari pada dugaanku,”
“Tante saat ini tidak tahu lagi, bagaimana cara untuk menghadapi pamanmu. Saat ini aku sudah sangat lelah, namun aku masih mencintai pria berengsek itu. Aku tidak bisa meninggalkan dia!”
“Tante, saat ini kamu dan paman. Bukan lagi seorang remaja, hubungan kalian ini. Sebenarnya kalian hanya terikat status saja, jika kamu ingin mengakhirinya. Maka itu belum terlambat, untuk apa kamu bertahan. Hanya untuk satu kata yang dinamakan cinta? Itu bukanlah alasan. Karena di dunia ini tidak ada yang namanya cinta!”
Dea, dia adalah seorang wanita yang sangat membenci seorang pria. Dari kecil hingga sekarang, dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Namun sebaliknya, ayahnya adalah patah hati pertama untuk seorang putri. Dea dibesarkan oleh ibunya, namun pada umurnya yang menginjak lima belas tahun. Ibu menutup usia saat itu, semenjak kepergian dari ibunya. Tante Rinanya inilah, yang melanjutkan tugas ibunya. Untuk membesarkan serta menyekolahkan dirinya, dia juga mendapatkan kasih sayang yang tidak kalah dari kasih sayang ibunya. Rina karena dia tidak memiliki seorang anak, saat ini dia telah menganggap Dea seperti putri kandungnya sendiri. Meski pun Dea tidak terlahir langsung dari rahimnya, namun kasih sayang yang dia punya untuk keponakkannya ini lebih dari sekedar kasih sayang biasa.
“Dea...”
“Tante, saat ini sebenarnya aku masih punya urusan. Di kantor sedang ada masalah, namun aku datang karena khawatir dengan keadaanmu. Saat ini jika memang sudah tidak ada lagi masalah, aku akan pergi kembali ke kantor untuk menyelesaikan masalah di sana. Saat ini kamu juga terlihat sedikit lebih tenang, jika semisalkan kamu berubah pikiran. Dan ingin berpisah dari laki-laki bajingan itu, maka kamu bisa menghubungi aku. Akan aku pastikan, kamu akan dapatkan pengajara terbaik. Pria berengsek itu, akan pergi angkat kaki dari rumah ini. Tanpa membawah satu persen pun harta!”
Lalu saat ini Dea mulai meninggalkan tantenya sendiri, namun saat Dea telah berada di depan pintu. Tiba-tiba saja langkah kakinya berhenti, saat tante mengatakan hal yang sangat tidak masuk akal untuknya.
“Yang kamu katakan saat ini, semuanya tidak semudah dengan apa yang kamu banyangkan. Pria itu juga bekerja, dia mempunyai uangnya sendiri. Terlebih lagi, dia bukanlah pria yang bodoh. Tidak mudah untuk menyingkirkan dia, saat ini. Tidak perlu melakukan apa-apa, karena tidak akan ada gunakanya. Tidak akan ada hasilnya!”
“Apa?” Dea saat ini menoleh kembali ke arah tantenya.
“Dea, saat ini kamu akan mendukung tantekan?”
“Tentu saja!”
Lalu Rina pun mulai mendekati keponakannya, sembari berbisik agar asistennya tidak mendengar apa yang dia katakan kepada keponakkannya ini.
“Jika memang kamu mendukungku, maka bersihkan saja. Sebuah kotoran yang akan aku timbulkan!” bisik Rina.
Dea saat ini hanya menatap mata tantenya, sedangkan Afifa saat ini berusaha ingin mencari tahu apa yang dua orang itu bicarakan.
“Tante?”
“Saat ini jangan bersuara, dinding pun bisa berbicara. Dunia ini tidaklah aman!”
“Tante kegilaan apa yang akan kamu perbuat?”
“Saat ini perhatikan saja, masalah yang akan terlihat. Sigaplah untuk membersihkan kotorannya!” bisik Rina sekali lagi.
Lalu setelah itu Rina mulai pergi meninggalkan keponakkanya, saat ini Rina segera mengambil tes mahalnya.
“Afifa saat ini mari ikut denganku!”
Lalu ibu Rina dan Afifa pun, mulai pergi meninggalkan Dea sendirian yang saat ini masih berdiri di depan pintu rumah. Rina dan Afifa saat ini segera memasuki mobil mereka, namun saat ini. Mereka tidak menggunakan seorang supir, ibu Rina saat ini yang mengembudi. Dea akhirnya mulai mengerti, apa yang akan dia lakukan. Saat ini, tantenya telah memberi tahu. Kotoran apa yang akan dia buat, saat ini Dea bersiap untuk membersihkan kotoran yang dihasilkan dari tantenya.
“Madam, saat ini apakah tidak memerlukan seorang supir?” tanya Afifa.
“Tidak perlu, lagi pula aku bisa mengembudi sendiri. Tidak ada waktu juga aku akan pergi sekarang!”
Lalu mobil mereka pun akhirnya meninggalkan rumah, sedangkan di tempat lain saat ini. Kepala komisaris yang masih saja berbaring di atas tempat tidur hotel bersama dengan seorang wanita, saat ini mulai melihat ponselnya. Ternyata sudah ada sebuah pesan, kepala komisaris langsung saja memeriksa pesan apa yang dia terima itu.
