Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Part five

“Permisi,” ucap pria mudah ini dengan sangat sopan.

“Ada apa?” tanya Erwin.

Saat ini detektif magang ini memberi tahu Erwin, jika wartawan yang dia perintahkan untuk ditangkap sudah berada di ruang interogasi. Erwin terlihat sangat bahagia mendengar hal tersebut, dia dengan segera langsung saja menemui wartawan tersebut. Ketika dia sampai di ruang interogasi, dia melihat wajah wartawan ini memar seperti habis di pukuli. Erwin yang melihat itu manjadi sangat marah kepada bawahannya, dia merasa sangat kesal. Erwin dia menyuruh untuk melakukan kekerasan kepada wartawan ini, namun beberapa detektif nakal malah menghakimi dirinya yang tidak mempunyai salah.

“Kenapa dengan mukanya?” tanya Erwin dengan nada tinggi.

“Kenapa kalian memukulinya, aku tidak menyuruh kalian untuk memukulinya. Kenapa kalian sangat berani melakukan hal yang tidak pernah aku perintahkan!!!,” teriak Erwin dengan marah.

Saat ini tidak ada yang berani menjawab satu kata pun, mereka hanya diam dan merasa bersalah.

“Saat ini kamu tidak apa-apakan?” tanya Erwin.

“Tolong maafkan mereka yang sudah melakukan ini kepadamu,” ucap Erwin sekali lagi.

Tidak lama akhirnya Erwin memberikan kode kepada detektif lain jika mereka harus pergi meninggalkan dia dan pria berkaca mata ini saja, Erwin terlihat sangat ingin mengali informasi dari pria ini.

“Maksud dan tujuanku membawah kamu ke sini, bukan untuk menghakimi kamu. Tapi aku hanya ingin mengetahui beberapa rahasia saja,” sebut Erwin.

“Apa yang kamu inginkan dariku?” tanya wartawan ini.

“Bagaimana kamu bisa mencurigai anak mentri pertahanan, apakah saat ini kamu mempunyai sebuah bukti. Adakah sebuah bukti yang kamu tangkap?” tanya Erwin kepada Irvan.

“Saat ini aku tidak mempunyai bukti atau pun alibi,” balas pria ini.

“Lalu kenapa pada saat jumpa pers kamu terlihat sangat percaya diri sekali dengan apa yang kamu katakan?” tanya Erwin.

“Jangan takut, aku hanya ingin menegakkan keadilan. Aku tidak akan menghianati kamu,” balas Erwin.

“Sebenarnya aku hanya melihat itu diberikan, aku adalah seorang wartawan. Aku sangat menyukai meliput berita, namun berita yang aku liput bukanlah berita biasa. Terkadang ada beberapa kesalahan yang dilakukan oleh petinggi, namun tidak bisa dibuktikan karena dia mempunyai sebuah kuasa. Aku pernah mendengar sebuah istilah, jika hukum itu sama seperti satu batang pensil. Dia hanya lancip ke bawah namun tampul untuk ke atas,” sebut wartawan ini.

“Sayang sekali,” balas Erwin.

“Saat ini aku tahu jika menyimpan sebuah rahasia, kepala komisaris merupakan orang yang paling korup. Aku sering mengikutinya dan mencari beberapa informasi tentangnya, tidak hanya itu saja. Dia juga pria yang gila wanita,” sebut pria ini.

“Kamu benar,” balas Erwin.

“Aku mengerti posisimu saat ini, kamu sedang serba salah. Kamu hanya bisa melakukan perintah yang diberikan oleh atasanmu yang korup saja, aku memanggilku ke sini untuk mencari informasi. Tapi sayangnya saat ini aku tidak mempunyai informasi yang akan membantumu,” sebut pria ini kepada Erwin.

“Tidak apa, tapi bolehkah aku meminta bantuan kepadamu?” tanya Erwin kepada pria ini.

“Bantuan apa itu?” tanya pria ini kepada Erwin.

“Jika kamu menemukan informasi penting, bisakah kamu langsung beri tahu aku?” tanya Erwin.

“Tentu,” balas pria ini yang terlihat sejutuh bekerja sama dengan Erwin.

“Saat ini kamu tidak boleh keluyuran, kamu harus bersembunyi. Aku akan mengirim orangku untuk melindungi kamu,” sebut Erwin.

“Memangnya ada apa?” tanya pria ini yang terlihat bingung.

“Aku tidak bisa menjelaskannya, namun ada satu hal yang harus kamu ingat terus. Di depan kamera kamu tidak boleh memancing buntang,” balas Erwin.

Saat ini terlihat jika pria ini mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Erwin, tidak lama ada beberapa orang bayaran Erwin yang sangat bisa untuk dipercaya. Orang itu membawah pria ini pergi menujuh ke tempat yang aman, saat ini Erwin mulai kembali bersikap biasa. Dia tidak membiarkan siapa pun menjadi curiga dengan gerak-gerik yang dia lakukan, Erwin dengan segera kembali ke ruangan tempat dia bekerja.

Di rumah suatu rumah yang sangat mewah, ada seorang wanita yang sudah berumur. Dia terlihat sangat tua dan tidak terawat, jika dilihat dari mukanya. Dia jauh lebih tua dari pada umurnya, wanita ini bernama Rina. Dia adalah istri dari kepala komisaris polisi, terlihat sepertinya dia sedang sangat banyak pikiran. Dia melihat ada sebuah bingkai foto dia dan suaminya, suaminya sangat sering berselingkuh. Suaminya selalu saja berkata kasar kepada dirinya, karena selamat dua puluh tahun menika. Dia masih belum bisa memberikan anak kepada suaminya, itulah yang menjadikan alasan kenapa suaminya bisa sampai berselingkuh. Tidak hanya itu saja, dia juga sering mendapatkan sebuah kekerasan dari suaminya.

“Nyonya saat ini makan siang sudah siap,” teriak seorang pembantu di rumahnya.

“Baiklah saya akan segera datang,” balas wanita ini lalu pergi mendekati pembantunya.

Saat ini terlihat jika pembantunya sudah menyiapkan beberapa lauk untuk wanita ini makan, wanita ini mempunyai banyak asisten pribadi. Saat sebelum dia makan, makanan yang akan dia makan harus dipastikan dulu apakah ada racun atau tidak.

“Makanan ini aman,” sebut seorang wanita yang baru saja mencicipi makanan yang sudah disiapkan pembantunya untuk majikannya.

Saat ini terlihat wanita tua ini mulai memakan makanannya dengan sangat elegan, walaupun dari penampilannya sangat lusuh. Namun gaya dan tindakkan wanita ini sangat elegan, sebenarnya wanita ini bukanlah wanita biasa. Dia adalah wanita berkelas, dia merupakah seorang politikus yang cukup disegani.

“Madam, saat ini apakah anda tidak bosan berada di dalam rumah seharian?” tanya seorang wanita yang bekerja sebagai asistennya.

“Memangnya kenapa, lagi pula aku tidak bisa ke mana-mana. Aku sudah sangat tua dan lusuh,” sebut wanita ini.

“Tidak madam, anda masih terlihat sangat cantik. Mari ikutlah denganku, aku akan membuat madam menjadi wanita cantik. Aku akan membuat kepala komisaris polisi kembali mencintai kamu lagi,” ucap wanita ini.

“Kamu tidak akan bisa,” sebut bu Rina.

“Kamu tidak akan mungkin bisa mengembalikan cinta yang sudah hilang,” ucap bu Rina.

“Kamu tidak akan tahu bagaimana rasanya, ketika kamu mencintai seorang pria. Namun pria itu sudah mati rasa kepadamu, kamu tidak tahu betapa sakitnya rasa itu. Rasanya jika bisa aku ingin mencabik-cabik pria itu,” sebut bu Rina saat ini terlihat sangat kesal.

“Maafkan saya, jika apa yang saya katakan ada yang membuat anda tersinggung. Namun saya hanya ingin membantu anda saja,” sebut wanita ini.

“Tidak akan ada yang bisa membantuku, hatinya sudah membeku. Saat ini dia akan melihat kekuasaan apa yang akan aku lakukan kepada dirinya,” sebut bu Rina sambil memotong daging di piringnya dengan sangat kasar.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel