Bab 03. Kembali Ke Dunia Luar
Dan saat ini, dia telah memiliki kekuatan dan teknik bertarung.
Pemuda ini baru berusia 17 tahun.
Namun, dia telah memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari usianya.
Biasanya, bahkan seorang Jenius pun baru mencoba ranah Bumi bintang 5 di usia ini.
Namun, Zhao Feng justru menerobos hingga bintang 10 tahap sempurna.
"Tidak semudah itu, Feng'er."
Mendengar pertanyaan Murid mereka, ketiga Guru mendesah dan menggeleng kepala.
"Sejak kamu berlatih di sini, Guru ketiga telah menyelidiki Klan Yao,"
Ucap Dewa Angin dengan serius.
"Klan Yao adalah Klan Kuno yang memiliki pondasi puluhan ribu tahun,"
"Mereka memiliki banyak ahli Langit dan Raja. Bahkan mereka memiliki puluhan ahli Kaisar."
"Para Tetua Utama adalah ahli Surga. Dengan kekuatan mu saat ini, Kamu tidak bisa berbuat apa-apa."
Ucap lanjut Dewa Angin dengan gelengan kepala.
"Ahli Kaisar dan Surga?"
Zhao Feng mengepalkan tangan dengan erat.
Ternyata musuhnya sekuat itu.
"Selain itu, Kamu tidak memiliki pengalaman apapun,"
"Kamu tidak pernah bertarung dengan siapapun kecuali berlatih tanding dengan kami."
Tambah Dewa Es.
"Kalau kamu ingin berkembang dan memiliki kemampuan itu, Kamu harus keluar dari sini dan menambah pengalaman mu."
"Hanya dengan begitu, Peluang kamu semakin terbuka lebar."
Dewa Pedang juga mengangguk dan menasihati Murid mereka.
Zhao Feng kembali terdiam lama setelah mendengar penjelasan ketiga gurunya.
"Aku mengerti, Guru."
Akhirnya Zhao Feng berbicara dengan suara tenang.
"Aku tidak akan gegabah. Tapi aku juga tidak akan melupakan dendam itu."
Ucapnya lagi.
Ketiga sosok transparan itu saling menatap dan mengangguk.
Mereka melihat Api dendam di mata Zhao Feng.
Namun, bukan lagi Api kebencian yang membabi buta seperti 9 tahun yang lalu.
Melainkan Api tekad untuk menjadi kuat yang terkontrol.
"Itu baru Murid kami,"
Ujar Dewa Pedang tersenyum tipis.
"Dunia luar telah berubah selama bertahun-tahun ini. Kamu harus melihatnya dengan mata kepala mu sendiri."
Tambah Dewa Es.
Dewa Angin lalu melambaikan tangan dan Angin menyelimuti Zhao Feng.
Beberapa saat kemudian, Zhao Feng berada di Hutan yang tidak dia kenali.
"Kenapa aku dibawa ke tempat ini?"
Gumam Zhao Feng membatin.
Whush...
Kemudian melompat ke pohon tinggi dan menyapu pandangannya.
"Klan Yao, Aku kembali. Aku akan membuat kalian membayarnya dengan mahal."
Gumam Zhao Feng menutup mata.
Dia tidak akan melupakan dendam ini hingga Klan Yao rata dengan tanah.
Setelah memenangkan diri, Zhao Feng menekan auranya hingga ke titik terendah.
Walaupun Energi Qi di Dunia Luar tidak setebal di tempat dia berlatih, tapi cukup untuk membuat orang menerobos.
Dhuaarrr Dhuaarrr!
Saat terus bergerak, Zhao Feng mendengar suara ledakan yang keras.
Pemuda itu pun berhenti di atas pohon dan mencari asal ledakan.
"Siapa yang bertarung di tengah hutan seperti ini?"
Gumam Zhao Feng membatin.
Whush...
Tanpa berpikir panjang, Zhao Feng melompat ke pohon lain dan melesat dengan Langkah Angin.
Beberapa saat kemudian, Zhao Feng melihat sekelompok Murid berpakaian seragam Sekte sedang terdesak.
Mereka bertarung dengan Serigala Api tingkat 1 kelas menengah.
Lebih tepatnya Serigala Api ingin menjadikan mereka sebagai cemilannya.
"Senior Luo, Kita tidak bisa menahannya lebih lama!"
Seru seorang pemuda dengan panik.
Sedangkan pemuda di depan kelompok itu menggertakkan gigi.
"Kita tidak boleh mundur! Kalau kita lari, Kita semua mati!"
Ucapnya dengan menghindari cakar Serigala Api.
"Aaauuuuuuu!"
Serigala Api melolong dan menerjang sekali.
Bomm!
Seorang pemuda terpental dan menabrak pohon.
Pffttt...
Darah pun menyembur dari mulut pemuda itu.
Saat Cakar panas hampir mencabik pemuda itu...
Whush!
Sebuah siluet melintas di antara mereka.
Slash!
Kilatan cahaya tipis melintas di leher Serigala Api.
Dan di detik berikutnya, kepala Serigala Api itu terjatuh dan darah menyembur keluar.
Setelah Kepala Serigala Api itu terjatuh ke tanah, tubuh besarnya masih berdiri sepersekian nafas.
Namun, akhirnya roboh dan menghantam tanah dengan keras.
Debu tipis pun beterbangan dan suasana langsung hening.
Para Murid yang tadi hampir mati itu seketika membeku di tempat.
Pemuda yang berdiri paling depan, yang tadi dipanggil Senior Luo, menatap sosok di depannya dengan tegang.
Jubah hitam sederhana.
Rambut panjang terikat rapi.
Dan Pedang tipis di tangan yang sudah kembali bersih.
Seolah-olah tebasan barusan hanyalah ilusi.
"Si-siapa kamu?"
Tanya seorang Murid dengan suara gemetar.
Zhao Feng perlahan menyarungkan kembali pedangnya.
"Aku hanya kebetulan lewat."
Jawabnya tenang.
Namun, senior Luo menelan ludah dengan kasar.
Serigala Api tingkat 1 kelas menengah.
Setara Ranah Bumi bintang 5 tahap menengah.
Tapi Serigala itu mati dalam satu tebasan.
Tanpa teknik mencolok dan tanpa ledakan Energi.
Hanya satu garis tipis.
"Terima kasih atas bantuanmu, Saudara. Kami adalah Murid Sekte Gunung Awan."
"Namaku Luo Jian."
Pemuda itu menangkupkan tangan dan mengenalkan identitas mereka.
"Aku Zhao Feng."
Zhao Feng mengangguk ringan.
Salah satu Murid perempuan memandangnya dengan kagum.
"Tadi itu teknik pedang apa?"
Tanyanya penasaran.
"Hanya tebasan biasa."
Jawab Zhao Feng singkat.
Jawaban itu membuat beberapa Murid saling menatap.
Tebasan biasa?
"Saudara Zhao terlalu merendah."
Luo Jian tersenyum kecut.
"Kami sedang dalam misi berburu. Jika Saudara Zhao tidak keberatan, Mungkin kita bisa kembali bersama ke kota."
Ucap Luo Jian lagi.
Namun, Zhao Feng menggeleng kepala.
Whush...
Tanpa sepata kata, pemuda itu melompat ke pohon dan melesat dengan kecepatan tinggi.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Gumam Zhao Feng yang terus bergerak.
Saat ini dia tidak memiliki tujuan sama sekali.
Bahkan dia tidak tahu di mana rumahnya yang dulu berada.
Guru ketiganya telah memindahkannya jauh dari rumahnya.
Terus bergerak dan memikirkan rencana masa depan, Zhao Feng sekali lagi mendengar suara pertempuran di depan.
Dhuaarrr Dhuaarrr...
Saat semakin dekat, suara ledakan yang di dengar juga semakin keras.
Hal ini menandakan ada 2 kelompok besar yang sedang bertempur.
Dan benar saja.
Setibanya di sana, Zhao Feng melihat Pasukan Kerajaan sedang menggempur sekelompok orang.
Dhuaarrr! Dhuaarrr!
Ledakan demi ledakan mengguncang Lembah sempit itu.
Tanah retak.
Pepohonan tumbang.
Bau darah dan asap memenuhi udara.
Di satu sisi, berdiri lebih dari 500 Murid Sekte Gunung Hitam.
Di sisi lain, Pasukan Kerajaan Qing membentuk Formasi tempur yang rapi.
Armor perak mereka berkilau di bawah cahaya matahari yang tertutup debu.
Sementara itu di tengah tengah mereka, 2 sosok sedang terlibat pertarungan sengit.
Pedang dan tombak beradu.
Energi Qi meledak tanpa henti, jurus demi jurus dikeluarkan semua.
Di satu sisi, Dia adalah Komandan Jin.
Komandan pasukan Harimau Perak.
Dan di sisi lain, adalah seorang Tetua Sekte Gunung Hitam.
Boom!
Pukulan mereka beradu dan keduanya terpental mundur puluhan meter.
