Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Pertarungan Sengit

"Jangan macam-macam denganku!!"

"Kau yang jangan macam-macam denganku, Gumshin!!" teriak seseorang yang langsung berlari begitu cepat ke arah Gumshin, dan menerobos masuk ke dalam tubuhnya hingga membuat Asahi, Lee Gon, Bai Lu, bahkan Ling Fei yang setengah sadar pun sangat terkejut melihatnya.

"Dia, terbelah dua!!" seru Lee Gon, Asahi, Ling Fei dan juga Bai Lu bersamaan.

Begitu tubuh Gumshin itu terbelah dua, Bai Lu dan yang lainnya kembali terkejut. Karena tubuh Gumshin itu kembali menyatu dengan utuh.

"Bagaimana bisa dia membelah tubuh Gumshin dengan cepat? Luar biasa sekali kekuatannya itu!" seru Lee Gon tampak takjub.

"Dia bisa melakukannya, Kang Taeshin itu mahluk misterius paling kuat yang aku kenal. Selain cerdik, dia selalu dengan mudah mengeksekusi lawannya dalam persekian detik," kata Asahi yang membuat Lee Gon dan Bai Lu kembali takjub, begitu mendengar penjelasan Asahi tentang Kang Taeshin.

"Kau kembali lagi seperti semula?" Kang Taeshin cukup terkejut begitu melihat Gumshin itu kembali ke wujud semula, di mana tubuhnya kembali bersatu.

Suara gelak tawa Gumshin terdengar menggema ke seluruh hutan. Mahluk seperti Gumshin memang sangat sukar untuk dikalahkan. Kecepatannya lebih cepat dari seekor singa yang sedang memburu mangsa. Pandangan matanya yang tajam, juga tubuhnya yang begitu kuat bisa menangkis dari serangan apa pun di dunia ini.

"Kau tak akan pernah bisa mengalahkanku sampai kapan pun!"

"Sial!!" Kang Taeshin terlihat begitu kecewa karena ia tak berhasil mengalahkan Gumshin dengan serangan dadakannya.

"Bagaimana kita bisa mengalahkan Gumshin? Apa tidak ada cara lain?" Lee Gon terlihat panik karena tidak ada satu pun serangan dari mereka yang bisa melumpuhkan Gumshin; roh penunggu hutan rimba yang terkenal dan sangat melegenda.

"Ada satu cara untuk mengalahkannya," tutur Asahi sambil menatap ke arah satu titik tubuh Gumshin yang terlihat rentan olehnya.

"Kau tahu caranya?" tanya Bai Lu sambil menatap wajah Asahi yang tengah menatap ke arah Gumshin dengan mata bengisnya.

"Potongan tubuhnya harus dipisahkan sangat jauh agar ia tidak bisa menyatu lagi. Kau harus kembali membelah tubuh bagian tengahnya, dan itu dimulai dari titik pusar. Kau harus bekerja sama dengan Kang Taeshin untuk membuat Gumshin lengah." Asahi menjelaskan bagian tubuh yang paling rentan dari Gumshin agar ia mudah untuk di serang.

"Hey, Kang Taeshin!!" teriak Asahi memanggil sosok pria bernama Taeshin yang berhasil membelah dua tubuh Gumshin hanya dengan sekali terobosannya.

Kang Taeshin yang dipanggil langsung menoleh ke belakang dan menatap wajah Asahi dengan tatapan yang mengejek.

"Kenapa? Kau takut? Tak berani melawan Gumshin?"

Asahi tertawa lebar. Ia mendekati Kang Taeshin dan kembali menatapnya dengan sangat tajam juga menusuk.

"Kau mau mengalahkan Gumshin, kan? Kalau kau mau mengalahkannya, kau harus bekerja sama dengan kami."

Kang Taeshin terlihat sedang berpikir. Apa mungkin ia bisa bekerja sama dengan Asahi; sosok penunggu pohon keramat hutan Yeongdam yang selalu berbuat sesuatu sesuka hatinya, meski sebenarnya Taeshin sangat menyukai sekali kecerdasannya yang luar biasa itu.

"Bekerja sama? Bekerja sama bagaimana?"

Asahi mengambil sebuah akar pohon dari balik pohon yang berada di belakangnya. Kemudian, ia membelahnya menjadi dua bagian di mulai dari bagian tengah, kemudian melempar potongan akar itu ke sisi kanan, juga sisi kiri dengan cukup jauh. Kang Taeshin yang mengerti akan kode dari Asahi langsung menganggukkan kepalanya kemudian kembali menyerang Gumshin.

"Ayo, serang Gumshin sekarang! Buat dia kewalahan dengan serangan kita!" perintah Asahi kepada Ling Fei, Lee Gon, dan juga Bai Lu.

"Apa dia baru saja memerintah kita?" Lee Gon mendengus kesal.

"Sudahlah, sekarang bukan waktunya untuk mengeluh kesal. Kita dengarkan saja dulu apa kata Asahi. Ayo, sekarang kita habisi mahluk sialan itu, dan lenyapkan dia untuk selamanya." Ling Fei terdengar kesal, namun Lee Gon paling suka jika saudaranya sudah berkata kasar seperti itu. Dan, menurutnya itu sangatlah keren.

Ling Fei menyerang Gumshin dari sisi kanan, sementara Lee Gon dari sisi kiri. Asahi sendiri langsung menyerang tubuh Gumshin dari belakang, sementara Bai Lu berusaha untuk mengecoh Gumshin dengan meloncat dari atas pohon, dan menyerang bagian kepalanya.

Semua bekerja sama untuk menyerang Gumshin. Melihat Gumshin yang kewalahan dan tak bisa banyak bergerak, Kang Taeshin langsung mengeksekusinya dengan berlari cepat, dan menerobos masuk ke dalam tubuh Gumshin itu agar terbelah dua kembali.

Saat tubuh Gumshin terbelah dua, potongan tubuh Gumshin bagian sisi kanan langsung ia lempar begitu jauh ke arah depan.

"Hey, kau!" Kang Taeshin menunjuk Bai Lu dengan menggunakan sisa potongan tubuh Gumshin, "lempar sisa potongan ini ke arah Selatan!"

Kang Taeshin langsung melempar sisa potongan tubuh Gumshin ke arah Bai Lu Begitu menerima sisa potongan tubuhnya, Bai Lu langsung melemparnya ke arah Selatan dengan cukup jauh, hingga akhirnya Gumshin pun lenyap dan tak kembali menyatu lagi.

"Kau cerdik juga, Asahi. Kau selalu tahu jawaban apapun yang tak semua orang tahu." Kang Taeshin terlihat takjub dengan pengetahuan yang dimiliki Asahi.

"Hey, Kang Taeshin! Untuk apa kau di sini? Bukankah kau seharusnya ada di perguruan Seokyundong?"

"Aku di sini untuk bertemu denganmu dan mengamati seseorang yang perlu aku amati," tutur Kang Taeshin sambil melirik ke arah Bai Lu, kemudian berjalan menghampiri Ling Fei dan memberikannya sesuatu.

"Apa ini?" tanya Ling Fei bingung.

"Ramuan untuk mengobati lukamu yang terkena serangan Gumshin tadi. Setelah meminum itu, kau akan kembali sehat seperti semula."

"Terima kasih banyak."

"Kalian mau ke mana? Apa kalian sedang dalam perjalanan untuk mencari batu merah suci?" tanya Kang Taeshin sambil menatap Ling Fei, Lee Gon, dan Bai Lu silih berganti.

"Iya. Dan, kami sedang dalam perjalanan untuk bertemu Ogumsha. Kami akan menuju Barat untuk menemuinya." Kali ini Lee Gon yang menjawab.

"Hey, Bung. Urusan kita belum selesai." Asahi datang menghampiri Lee Gon dan menunjuk wajah Lee Gon dengan tongkat sakti bunga teratai alas dewa miliknya.

"Sudahlah, Asahi. Kau jangan menambah musuhmu lagi. Musuhmu sudah terlalu banyak. Apa kau mau celaka?"

Kang Taeshin tertawa lebar hingga membuat Asahi mendengus kesal begitu mendengar celotehannya tentang dirinya. "Kalau begitu, semoga kalian selamat sampai tujuan kalian. Aku pamit, sampai di sini saja pertemuan kita. Mungkin, dilain hari kita pasti akan segera bertemu lagi."

Kang Taeshin kemudian pergi menghilang dengan begitu cepat, hingga membuat angin yang bertiup dengan serpihan tanah yang mengudara, mengenai wajah Bai Lu, Ling Fei, dan juga Lee Gon.

"Mau ke mana dia? Apa dia datang hanya untuk membantu kita mengalahkan Gumshin?" tanya Bai Lu bingung begitu Kang Taeshin pergi.

"Beberapa saat lagi juga dia akan muncul kembali dan bertemu dengan kalian. Dia itu banyak urusan, tapi tenang saja, dia selalu memprioritaskan kalian termasuk dirimu, Han Yuram," kata Asahi sambil menatap wajah Bai Lu.

"Kami dan Yuram? Bagaimana bisa? Apa dia mengenal kami? Rasanya, selama 1000 tahun aku hidup di dunia ini, aku tak mengenalnya dan tak pernah bertemu dengannya," ucap Ling Fei yang memang baru pertama kali ini bertemu dengan sosok seperti Kang Taeshin yang kecepatannya itu mengalahkan kecepatan saudaranya sendiri, Lee Gon.

"Kang Taeshin memang pria yang misterius. Tidak banyak yang tahu soal asal-usul hidupnya. Yang aku tahu, dia hanya pengganggu dalam kehidupanku, mahluk yang kuat, dan sangat cepat. Kalau begitu, aku pun pamit. Untuk pertarungan kita selanjutnya, nanti saja kita lanjutkan lagi. Aku sudah lelah. Sampai jumpa lagi," pamit Asahi kemudian pergi meninggalkan Lee Gon, Ling Fei dan juga Bai Lu.

Hari ini memang cukup melelahkan untuk Ling Fei dan juga saudara-saudaranya. Bagaimana tidak, sejak Bai Lu tak sadarkan diri selama 3 hari dan kembali siuman, mereka tak ada henti-hentinya bertempur dengan mahluk-mahluk baru, juga musuh lama mereka yang selalu saja ingin menyelakakan mereka bertiga.

"Yuram, apa ada hal yang tidak kami ketahui selama ini? Kenapa kau banyak sekali musuh yang tak kami ketahui? Kenapa mereka semua ingin membunuhmu? Apa ini ada keterkaitannya dengan batu merah suci itu?" Ling Fei menatap wajah Bai Lu bingung.

Bai Lu yang ditatap seperti itu pun bingung. Karena ia sendiri tidak tahu jawabannya apa. Untuk kehadirannya yang tiba-tiba saja ada di Dinasti Joseon, itu membuatnya sangat bingung.

Apa maksud kedatangannya ke masa lalu? Dan, kenapa Bai Lu harus terjebak di dalam tubuh Han Yuram yang merupakan seorang pendekar wanita pada jaman Dinasti Joseon? Apa benar ini ada keterkaitannya dengan batu merah suci itu?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel