Asal usul Batu Merah Suci
Semenjak pertarungan yang cukup sengit dengan Gumshin, Bai Lu, Ling Fei, dan juga Lee Gon melanjutkan perjalanan mereka menuju arah Barat. Rencana mereka untuk bertemu Ogumsha harus segera dilaksanakan. Karena mereka harus secepatnya mendapatkan batu merah suci yang hilang 1000 tahun yang lalu.
“Kenapa gumiho itu menginginkan sekali batu merah suci? Apa batu merah suci itu sangat istimewa?” tanya Bai Lu saat mereka tengah beristirahat di tepi sungai, sambil meminum beberapa tetes air di sungai yang airnya tampak jernih.
“Iya, Yuram. Batu merah suci itu sangat istimewa. Awalnya, Yeonseok yang menjaga batu merah suci itu, namun Aeshin sangat menginginkan batu itu juga, hingga pada akhirnya hilanglah batu merah suci itu di saat pengejaran Yeonseok terhadap Aeshin.”
Ling Fei mencoba menjelaskan tentang asal usul batu merah suci itu kepada Bai Lu. Begitu mendengarnya, Bai Lu merasa kesal sekali kepada Aeshin yang dengan sengaja menghilangkan batu merah suci itu.
“Seberapa istimewanya batu merah suci itu?” tanya Bai Lu kembali.
“Sangat istimewa. Kekuatan batu merah suci itu sangat dahsyat. Jika sampai seseorang yang tidak tepat mendapatkannya, ia akan mempergunakannya untuk hal yang tak diinginkan. Jika sampai Aeshin mendapatkan batu merah suci itu, dunia akan hancur lebur dan akan terjadi kiamat.”
Ling Fei memberi tahukan tentang batu merah suci itu kepada Bai Lu dengan apa yang ia ketahui. Sambil beristirahat sejenak, Ling Fei membuka kitab Han Ling Gon kembali dan memperlihatkan sesuatu kepada Bai Lu dari dalam kitab tersebut.
“Seperti ini bentuknya.”
Ling Fei memperlihatkan sebuah gambar bentuk dari batu merah itu kepada Bai Lu. Bentuknya kecil seperti batu biasa, namun bercahaya begitu terang. Adapun bentuk kristal yang terlihat kecil itu berada di atas batu tersebut, dengan warna merah menyala seperti warna merah darah segar. Di dalam kristal tersebut itu juga ada sebuah garis yang membentuk sebuah segitiga.
“Kau lihat, Yuram? Di dalam kristal tersebut ada sebuah tarikan garis yang membentuk sebuah segitiga. Itu artinya, ada 3 elemen dasar penting di dunia ini. Air, udara, dan tanah. Dan, warna dari merah itu artinya warna kobaran api.” Lee Gon melanjutkan dan menunjuk beberapa bagian penting dalam batu itu, sambil menjelaskannya kepada Bai Lu.
“Air. Dalam jiwa, air adalah darah yang mengalir di dalam tubuh dan pemberi warna merah dalam kehidupan. Keping-keping darah itu mengalir seperti air. Mengisi setiap ruang kosong demi menjaga hidup sebuah jiwa. Berkat air, rasa dingin menjalar dikalbu, membuat jiwa tetap dalam ketenangan.
“Api. Tanpa api, elemen air yang dingin dan tenang, tak akan mungkin menjadi seimbang. Dalam jiwa, kita membutuhkan rasa hangat yang membakar, seperti cinta yang selalu membakar jiwa dan memberikan nuansa panas merata. Memerahkan pipi, mendebarkan jantung, dan membuat hati berbunga-bunga. Betapa pentingnya elemen api dalam diri kita. Meski panas matahari menyengat kulit, tetap saja api sangat dibutuhkan untuk mendidihkan air. Membuat gejolak jiwa menjadi lebih bermakna.
“Tanah. Dalam jiwa, tanah adalah tempat menyemai dan menuai. Jiwa menyemai bibit kebaikan dan menuai kebahagiaan. Tanah berwarna coklat kehitaman seperti jiwa yang subur dalam serbuan hijau pepohonan.Pepohonan jiwa manusia untuk keteduhan.
“Sedangkan udara. Udara tak kasat mata, namun bagian terpentingnya adalah bagian paru-paru. Udara adalah elemen pesan tak tertulis. Elemen kata yang mendiami rasa dijiwa. Udara yang melayang membuat jiwa terbang menjarah ke tempat yang tak bisa dijangkau oleh raga. Dengan sifat udara, jiwa mampu menyelusup ke dalamnya. Merasakan desiran nestapa atau letupan bahagia. Kehalusan udara dan menyamai halusnya jiwa.”
Begitu mendengar penjelasan Lee Gon yang begitu panjang, sedikitnya Han Yuram mulai mengerti kenapa batu merah suci itu begitu penting dan sangat diinginkan para gumiho, termasuk Aeshin; salah satu gumiho yang terkenal kuat dan menjadi musuh para penjaga Lembah Air terjun suci beribu–ribu tahun lamanya.
“Adakalanya manusia itu memiliki elemen dalam jiwa tak sempurna, Yuram~ah. Terlampau banyak api yang membakar jiwa. Hingga hasrat yang timbul hanyalah hitam. Jiwanya hangus mendatangkan bencana bagi sesama. Kebencian, dendam, dan kedengkian adalah pertanda bahwa jiwa manusia telah habis terbakar.
“Maka dari itu, kita harus menjaga batu merah suci itu yang tersirat akan banyak makna. Kita harus mengembalikannya ke tempat semula, agar dunia kembali tenang dan juga damai. Jika sampai Aeshin mendapatkannya, dia akan menggunakannya untuk menguasai Lembah air terjun suci, bahkan menguasai alam semesta ini menjadi sebuah kehitaman yang membakar jiwa para manusia.”
Bai Lu menganggukkan kepalanya dan mulai mengerti dengan apa yang telah dijelaskan oleh Lee Gon tentang batu merah suci itu kepadanya.
“Manusia itu selalu penuh kedengkian, dendam, dan akan saling menyerang. Pertumpahan darah akan selalu terjadi di mana-mana. Dan, hal itulah yang diinginkan Aeshin. Sebelum itu terjadi, kita harus menyelamatkan dunia ini dari ancaman nestapa seperti itu.” Ling Fei menambahi hingga membuat Bai Lu semakin mengerti kenapa mereka harus melindungi Lembah Air terjun suci ini, dan juga mendapatkan kembali batu merah suci tersebut.
“Perjalanan kita masih panjang, Yuram~ah
Sebagai Jeonsa goljjagi, tugas kita memanglah berat. Kita terlahir ke dunia ini pun sudah memiliki tugas yang begitu memberatkan. Kita bertiga adalah penjaga Lembah Air terjun suci yang di titipkan Yeonseok kepada kita. Terlepas dari itu, kita mempunyai tugas penting lainnya. Dan, kita harus tetap menjaga alam semesta ini sebaik mungkin dari Aeshin, untuk melindungi jiwa para manusia.” Lee Gon menyambung apa yang dikatakan Ling Fei kepada Bai Lu.
Kini, Lee Gon dan juga Ling Fei berharap begitu banyak kepada Choi Bai Lu. Asalkan mereka selalu bersatu, mereka pasti bisa menjaga Lembah Air terjun suci itu sebaik mungkin, dan sama-sama bisa menemukan batu merah suci yang selama ini mereka cari.
“Jadi, musuh terbesar kita selama ini adalah Aeshin?” tanya Bai Lu sambil menatap wajah ke dua saudaranya silih berganti.
Lee Gon dan Ling Fei menganggukkan kepala mereka.
“Berhati-hatilah, Aeshin mempunyai pasukan khusus yang kapan saja bisa membahayakan nyawa kita.”
Ling Fei menyetujui apa yang dikatakan Lee Gon kepada Bai Lu barusan.
“Apa Asahi dan Kang Taeshin itu berbahaya juga?”
Ling Fei beranjak dari tempat duduknya, kemudian membersihkan pakaiannya seraya menatap lurus ke depan, sambil memikirkan sesuatu hal.
“Aku tidak tahu soal Kang Taeshin, karena aku sendiri baru bertemu dengannya. Namun, Asahi tidak terlalu berbahaya. Dia hanya salah satu dari pendekar wanita, pemilik tongkat sakti bunga teratai alas dewa. Kalau kita bisa mendekatinya, bisa saja kita membuat Asahi menjadi sekutu kita dan membantu kita untuk melawan Aeshin. Karena sedikitnya, aku tertarik dengan kemampuannya itu. Dia juga sangat cerdas. Dan, kita juga membutuhkan kecerdasannya itu.”
Bai Lu mengangguk tanda mengerti. Ia berjalan menghampiri Ling Fei dan menatapnya dengan penuh arti, dan lebih bersahabat dari pada sebelumnya.
“Apa sosok Yuram yang berada dalam jiwaku ini benar-benar mempunyai banyak musuh?”
Pertanyaan ini sejak dulu selalu membuat Bai Lu penasaran. Karena seringnya bertemu dengan para musuh, dan setiap kali itu juga mereka selalu mengatakan untuk membunuh sosok Yuram.
“Mereka menginginkan tubuhmu, Yuram.” Kali ini Ling Fei menatap wajah Bai Lu selaku saudaranya dengan tajam. Tatapannya kali ini terlihat begitu khawatir, karena bisa saja mereka semua tewas terbunuh oleh musuh yang menginginkan batu merah suci itu.
“Kau sangat spesial, Yuram. Banyak sekali musuh yang menginginkan tubuhmu untuk mereka kuasai. Karena pada dasarnya, sosok Yuram itu begitu hebat. Hanya saja, Yuram di masa lalu masih belum tahu semua kehebatan apa saja yang ia miliki selama ini. Karena Yuram sendiri, masih mencari tahu sosok dirinya itu seperti apa.”
“Jadi apa perlu kita menemui Ogumsha?”
“Sangat perlu. Karena kita membutuhkan permata hijau yang ia miliki untuk menambah energi dalam pedang kita,” jawab Lee Gon kemudian.
