Asahi
Di sudut hutan Yeongdam, Asahi terlihat sedang melatih kemampuan bertarungnya. Beberapa kali kena sergapan musuh, membuat Asahi berusaha sekuat tenaga untuk membalaskan dendamnya.
Sosok perempuan berkepang dua ini memang sangat kuat, namun jauh di luar sana, masih banyak mahluk-mahluk di semesta ini yang lebih hebat dan kuat darinya.
Asahi berasal dari hutan Yeongdam. Di mana di dalam hutan tersebut banyak sekali para mutan berkeliaran. Mutan artinya mahluk yang memiliki anomali fisik yang dipicu berubahnya urutan DNA. Semacam mahluk super yang kekuatan dan kecepatannya, 5 kali lipat dari manusia.
Hutan Yeongdam dikelilingi oleh banyaknya pohon keramat. Salah satu pohon setinggi 5 meter di Yeongdam adalah tempat tinggal Asahi yang sudah 1000 tahun menghuni di sana.
Sosok Asahi juga sangat tertarik dengan para Jeonsa goljjagi, terutama Han Yuram yang cukup melegenda dari Lembah air terjun suci itu.
Ketertarikannya Asahi terhadap para Jeonsa goljjagi karena mereka terkenal sebagai 3 bersaudara yang kuat dan juga hebat selama 1000 tahun terakhir ini. Namun, di balik itu semua, Asahi memang ingin sekali membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya yang seorang mutan, terbunuh oleh Aeshin karena batu merah suci itu.
Maka dari itu, ia ingin menguji seberapa kuat dan hebatnya para Jeonsa goljjagi dari Lembah Air terjun suci itu. Apa mereka bisa membantu membalaskan dendamnya terhadap Aeshin?
Kekuatan Asahi memang tidak seberapa. Tapi, selagi tongkat sakti bunga teratai alas dewa miliknya masih berada di tangannya, musuh sekali pun tidak akan bisa membunuhnya. Karena tongkat sakti miliknya itu adalah anugrah dari Dewa Matahari kepada orang tuanya, saat melahirkannya ke alam semesta ini.
Aroma tubuh Asahi juga memang sangat unik. Jika dari jarak jauh sudah tercium aroma bunga Jasmine, maka Asahi ada di sana untuk mendatangimu.
"Asahi, kau tidak melanjutkan perjalananmu untuk menemui para Jeonsa goljjagi itu lagi?" tanya Yikyung; salah satu mutan yang berwajah cantik, namun matanya berwarna merah menyala, dengan tanda lahir yang seperti luka bakar yang berada di tangan kanannya.
"Mereka akan bertemu denganku sebentar lagi. Percayalah, setelah pertarungan dengan Gumshin dan pertemuan kita dengan Aeshin, mereka akan tertarik dengan kemampuanku, juga kecerdasanku."
Asahi masih melanjutkan pelatihannya dengan menghunuskan tongkat saktinya yang bisa berubah menjadi pedang, ke arah pohon beringin beberapa kali.
"Tapi, sepertinya bukan hanya kau saja yang tertarik kepada Jeonsa goljjagi itu. Sepertinya, Kang Taeshin juga mengejar mereka."
Asahi menghentikan pelatihannya. Sekujur tubuhnya sudah mengeluarkan keringat yang begitu banyak. Ia pun menatap wajah Yikyung dengan seksama.
"Kang Taeshin, pria misterius yang selalu menggangguku. Tapi, meski dia selalu menggangguku, aku sangat membutuhkannya. Kekuatannya bisa mencapai 10 kali lipat dari para mutan di sini. Dan, aku sangat penasaran sekali tentang asal-usulnya itu. Aku harus mencari tahu banyak soal dirinya."
"Hey, Asahi!! Kau membicarakan diriku?"
Asahi langsung menoleh ke belakang. Begitu menoleh, serangan dadakan Kang Taeshin mengejutkan dirinya. Ia langsung menyergap Asahi dengan tangan kanannya yang begitu kuat.
"Sedang apa kau di hutan Yeongdam? Ini wilayah kekuasaanku, bukan wilayah kekuasaanmu!" teriak Asahi yang langsung membalas serangan Taeshin dengan menggunakan tongkat sakti miliknya.
"Kau mau bekerja sama denganku?" katanya tiba-tiba hingga membuat Asahi menghentikan serangannya, dan menatap wajah Taeshin dengan bengis.
"Kerja sama soal apa?"
"Kau ingin membalaskan dendammu kepada Aeshin bukan?"
"Lantas?" tanya Asahi kembali.
Kang Taeshin berjalan perlahan menghampiri Asahi. Dengan jarak yang begitu dekat, Taeshin membisikkan sesuatu di telinganya.
"Aku akan membantumu untuk membunuh Aeshin, asalkan kau membantuku untuk mendekatkan aku dengan Han Yuram."
"Apa? Ternyata, kau juga sangat tertarik dengan Han Yuram. Ada maksud apa kau mendekati Han Yuram Kau ingin menguasai tubuhnya juga seperti para Gumiho yang lain?"
Kang Taeshin tertawa lebar. Ia melipat kedua tangnnya seraya kembali menatap wajah Asahi dengan tajam.
"Aku sangat penasaran dengan aroma bunga Lily yang ada pada tubuhnya. Apa kau tak penasaran juga? Jarang sekali ada yang bisa mencium aromanya itu. Hanya pernah satu kali aku merasakannya dan mencium aromanya. Itu terjadi saat Yuram menyelamatkan seorang anak kecil dari serangan roh jahat nenek tua 1 bulan yang lalu."
Asahi berpikir sejenak. Sebenarnya, ia juga sangat penasaran sekali dengan aroma bunga Lily yang pernah tercium pekat oleh penciumannya saat ia tak sengaja melihat Yuram yang diserang oleh Dalgyal Gwishin beberapa hari lalu di Lembah Air terjun suci.
"Jawab pertanyaanku dengan jujur, Taeshin. Apa kau mendekatinya hanya karena itu, atau adakah hal lainnya?"
"Maksudmu?" tanya Kang Taeshin tak mengerti.
"Apa ada maksud terselubung lainnya?"
Kang Taeshin terdiam sejenak. Namun, setelah itu melangkahkan kakinya ke depan dan menatap ke arah Barat, di mana Han Yuram dan kedua saudaranya melakukan sebuah perjalanan penting untuk menemui Ogumsha.
"Untuk saat ini hanya itu saja. Jika kau membantuku, aku berjanji akan membantumu juga untuk membalaskan dendam kematian orang tuamu oleh Aeshin."
Mendengar kata bantuan dari mulut Kang Taeshin, Asahi merasa sangat dilema. Kenapa bisa begitu? Itu karena Taeshin adalah musuh besarnya, tapi dia juga membutuhkan kekuatannya Taeshin untuk membunuh Aeshin.
"Aku belum bisa menjawab sekarang."
"Kenapa? Apa karena kejadian 20 tahun yang lalu?" tanya Taeshin hingga membuat Asahi langsung mengalihkan pandangan matanya, dan terlihat mulai emosi jika Taeshin kembali mengungkit kejadian 20 tahun lalu.
Di mana, kejadian saat itu adalah untuk pertama kalinya Asahi memproklamirkan bahwasanya Kang Taeshin adalah musuh besarnya yang harus dilawan bukan untuk dijadikan kawan.
"Tidah usah mengungkit kejadian 20 tahun yang lalu," katanya terdengar kesal.
"Dengarkan aku, Asahi. Jika kau mau bekerja sama denganku, akan ku pastikan padamu dan aku berjanji padamu. Hutan Yeongdam dan keluarga mutanmu yang lain akan aman dari serangan para suku Moguya. Aku berjanji padamu, jika sesuatu terjadi di hutan Yeongdam ini, aku akan menjadi orang pertama yang melindungimu, termasuk melindungi tempat tinggalmu. Kau percaya padaku, kan?"
Asahi menatap wajah Kang Taeshin. Kali ini, ia melihat ada keseriusan dari ekspresi wajahnya itu. Dia terlihat bersungguh-sungguh. Apa kali ini ia harus mempercayai musuhnya itu?
"Apa yang bisa kupercayai dan ku pegang dari kata-katamu itu?"
Kang Taeshin menghela napas pendek. Ia mengeluarkan sesuatu dari lehernya, kemudian ia mengulurkannya dan memberikannya kepada Asahi.
"Apa ini?"
"Salah satu bentuk kekuatanku. Kalung Okugi Sakura milikku yang sudah hampir 1000 tahun melingkar dileherku. Ini sangat berarti untukku. Karena kalung ini salah satu nyawaku, harta yang paling berharga. Jika kalungku ini tak ada, saat aku tergores atau terhantam oleh sebilah pedang sakti seorang pendekar, maka aku akan mengalami sekarat. Karena selama ini, yang selalu melindungiku dari pedang sakti seorang pendekar hanyalah kalung Okugi Sakura ini."
"Kau serius?" tanya Asahi tak percaya.
"Aku berbagi satu rahasiaku denganmu. Apa kau masih belum percaya padaku?"
