Yeongnam
“Apa Ogumsha itu mahluk yang kuat juga?” tanya Bai Lu saat mereka tengah berjalan bersama dan menyebrangi sungai Okue, dengan air yang mengalir begitu deras.
“Ogumsha itu seorang cenayang.” Lee Gon menjawab seraya membantu Ling Fei dan juga Bai Lu, dengan memegangi tangannya agar tak terjatuh saat mereka menyebrangi sungai Okue.
“Di jaman ini, cenayang sudah ada ternyata. Aku kira, hanya ada di jaman modern saja.”
“Ribuan tahun yang lalu juga cenayang memang sudah ada, Yuram. Ogumsha ini salah satu cenayang yang sudah melegenda sejak lama. Ia memiliki banyak sekali barang langka yang sebenarnya banyak memiliki maknanya tersendiri.”
Ling Fei menarik napasnya secara perlahan. Mencoba untuk menikmati perjalanannya kali ini, dengan menghirup udara yang begitu segar dan menenangkan hatinya.
Suara gemericik air di sungai Okue juga cukup menjernihkan pikiran mereka yang berantakan dan kacau-balau akhir-akhir ini.
“Apa permata hijau itu juga begitu penting, Fei~ah?” tanya Bai Lu kembali.
“Sangat penting, Yuram~ah. Itu membantu kita untuk mengeluarkan sebuah energi besar yang ada pada setiap senjata sakti milik seorang pendekar. Mereka akan terasa lebih kuat 3 kali lipat dari sebelumnya. Itu juga dapat membantu kita untuk mengalahkan musuh-musuh kita nantinya.”
Mendengar permata hijau itu sangat diperlukan, kini Bai Lu sadar, bahwa senjata sakti miliknya itu belum seberapa hebatnya jika tidak ditambahi oleh permata hijau, yang katanya bisa menambah energi kuat.
“Oh ya, mengapa Yeongwan tidak ikut bersama kita? Bukankah, kalian bilang kalau Yeongwan selalu mengikuti kita selama 1 bulan terakhiri ini?” Bai Lu terlihat bingung.
“Yeongwan selalu hadir di saat waktu yang terdesak saja. Dia mempunyai kehidupannya sendiri, Yuram~ah.” Lee Gon menjawab hingga membuat Ling Fei yang mendengarnya tersenyum lebar.
“Maksudmu?”
“Dia hanya akan muncul jika nyawamu terancam saja. Itu perjanjian yang kau buat sendiri dengannya 2 minggu yang lalu.”
“Yang dikatakan Lee Gon benar. Karena saat itu, kau sangat kesal kepada Yeongwan yang terus saja mengikutimu ke mana pun kau pergi. Yeonghwan itu anak yang lugu. Dia akan menuruti apa pun perintah seseorang yang sudah menolongnya.”
“Memangnya, perjanjian apa yang aku buat dengan Yeonghwan?”
2 minggu yang lalu . . .
“Wan~ah, hentikan!! Jangan ikuti aku lagi!”
“Tapi, aku akan mengikuti ke mana pun noona pergi.”
Han Yuram mendengus kesal. Ia membalikan badan dan menatap wajah Yeongwan yang terlihat sedang memandanginya dengan lirih.
“Aku juga butuh waktu privasiku sendiri. Jangan mengikuti terus, pergilah bermain.”
“Kau jangan begitu kepada Yeongwan, Yuram. Kasian dia,” tutur Lee Gon yang kembali datang bersama Ling Fei, dengan membawa beberapa kayu bakar di atas punggungnya.
“Aku tidak punya tempat tinggal dan keluarga lagi. Rumahku dan keluargaku sekarang hanyalah kalian.” Yeongwan terlihat sedih dan wajahnya pun juga terlihat muram.
Melihat ekspresi manusia setengah serigala itu sedih, Yuram mendekatinya kemudian sedikit membungkukkan tubuhnya, agar ia bisa menyamai tinggi badannya dengan Yeongwan.
“Dengar, bagaimana kalau kita membuat suatu perjanjian.”
“Perjanjian apa maksudmu, Noona?”
“Kau hanya akan muncul jika aku dalam keadaan terdesak atau nyawaku terancam oleh musuh saja. Jika aku tidak terancam, kau jangan muncul. Jadi, pergilah bermain dan nikmati hidupmu dengan indah.”
“Lalu, selama aku tak terpanggil olehmu, aku harus pergi bermain ke mana?” tanya Yeongwan terlihat bingung.
Yuram melipat ke dua tangannya dan terlihat sedang berpikir. Begitu pun dengan Lee Gon dan juga Ling Fei yang ikut berpikir juga, untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi diantara Yuram dan juga Yeongwan.
“Kau akan bermain di alam Ruixilin,” tutur Ling Fei yang kali ini diberi anggukan setuju oleh Lee Gon dan juga Han Yuram.
“Alam Ruixilin?” Yeongwan terlihat bingung.
“Alam Ruixilin adalah alam buatan yang di mana jika kau berada di sana, kau akan merasa tenang dan juga damai. Kau bisa melakukan apa pun yang kau suka. Kau juga tak akan merasa kesepian, karena di alam Ruixilin ada beberapa teman kami dan juga teman Yuram. Bagaimana? Kau Mau? Jika kau mau, akan aku beri tahukan mantranya, dan kau bisa masuk ke alam Ruixilin dan juga keluar dari sana sesuka hatimu.”
Yeongwan menatap wajah Yuram seperti hendak meminta persetujuannya dan juga sarannya. Melihat wajah polos Yeongwan, Yuram yang ditatap oleh anak kecil itu hanya bisa tersenyum lebar padanya, seraya menganggukkan kepalanya.
“Di sana kau akan aman, Wan~ah. Tenang saja, alam Ruixilin akan selalu dekat dengan keberadaan kami semua. Jadi, kau tidak akan merasa jauh dariku. Hanya saja, kita akan hidup di alam yang berbeda.”
Han Yuram menggenggam kedua tangan Yeongwan yang mungil, kemudian menatapnya dengan lembut seraya tersenyum tipis kepadanya.
“Lalu, bagaimana caranya aku tahu kalau kau dalam bahaya, Noona?”
Han Yuram mengambil gelang berbentuk bunga Lily dari dalam kantong pakaiannya. Setelah itu, ia memberikannya kepada Yeongwan, dan memakaikan gelang tersebut ke arah pergelangan tangannya.
“Jika gelang bunga Lily berguguran, itu artinya aku dalam keadaan bahaya. Dan, kau bisa menemuiku. Jadi, apa kau mengerti?”
“Iya, aku mengerti. Terima kasih banyak, Noona. Tolong berikan aku mantra agar aku bisa pergi ke alam Ruixilin.”
Yuram tersenyum lebar dan membelai-belai rambut Yeongwan dengan lembut. Dengan diberikannya mantra oleh Ling Fei, Yeongwan pun pergi ke alam Ruixilin.
“Waw, ternyata ada juga alam buatan seperti itu!!” seru Bai Lu yang begitu takjub begitu mendengar cerita Ling Fei.
“Jadi, kau tenang saja. Kau itu punya mahluk pelindung yang akan selau melindungmu. Walau Yeongwan terlihat seperti anak kecil yang tak berdaya, tapi dia memiliki kekuatan di luar nalar. Dia sangat hebat, hanya saja dia harus selalu mengasah kemampuannya itu. Karena dia belum terbiasa menggunakan kekuatannya dengan baik dan benar, Yeongwan juga terbilang masih kecil.”
“Kau beruntung, Yuram. Banyak sekali orang-orang yang ingin melindungimu dengan tulus,” ucap Lee Gon sambil merangkul Ling Fei dan menatap wajah Bai Lu dengan tatapan lembut.
“Dan, tugasku di sini juga untuk melindungi saudara-saudaraku.”
Lee Gon, Ling Fei dan Bai Lu saling melempar senyum. Saat suasana terlihat tenang dan damai, tiba-tiba saja Ling Fei mendengar suara kuda yang begitu banyak melintasi wilayah yang dilalui mereka.
“Ada apa, Ling Fei? Kau mendengar sesuatu?” tanya Bai Lu yang mulai mengetahui sesuatu dari ekspresi wajah Ling Fei, jika ia melihat sesuatu yang tak biasa.
“Aku mendengar banyak kuda melewati wilayah ini. Ayo, sembunyi!”
Lee Gon, Ling Fei dan Bai Lu langsung bersembunyi di balik semak-semak belukar. Begitu kuda-kuda itu melewati wilayah mereka, banyak sekali pria-pria yang berpakaian hitam dengan wajah yang tertutupi oleh kain hitam itu, melewati wilayah mereka.
Sekumpulan pria berpakaian hitam itu terlihat membawa beberapa senjata tajam. Bahkan, ada beberapa kotak yang berisi emas yang sengaja mereka bawa, dan mereka simpan di atas sebuah gerobak.
“Apa mereka itu perampok?” tanya Lee Gon begitu mendapati beberapa kotak berisi emas di atas gerobak.
“Mereka perampok utusan Wonam. Perampok berjubah hitam,” jawab Ling Fei hingga membuat Lee Gon dan juga Bai Lu menatap ke arahnya.
