Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

“Mencari ini, Lis?” tanya Edo, mengibas-ngibaskan kain batik Lilis...

.

Lilis terkejut setengah mati. Instingnya langsung menyuruhnya merendam tubuh lebih dalam, hanya kepala dan bahunya yang terlihat. Rasa malu, panik, dan ketakutan yang luar biasa menyergapnya. “Edo… tolong… kembalikan… itu pakaian saya,” pintanya dengan suara gemetar dan menghiba.

“Pakaian? Ini mah lebih mirip  kain lap, Lis. Bau lagi. Hoekkk!!" ejek Rohman sambil menutup hidung.

“Tolong… jangan begitu. Hari sudah gelap. Ibuku pasti khawatir di rumah. Aku mau pulang,” Lilis mencoba memohon, air matanya sudah mulai berkaca-kaca.

“Wah, kalau mau ya ambil aja. Sini,” goda Agus tiba-tiba, dengan polosnya mengulurkan tangan memegang handuk. Tapi sebelum Lilis bisa bereaksi, Edo menyambar handuk itu.

“Bodoh! Gitu doang dibalikin?” hardik Edo pada Agus. Lalu, dengan tatapan jahat pada Lilis yang sudah menangis, dia berkata, “Kita main tebak-tebakan, Lis. Kalau kamu bisa tebak, mana tangan aku yang pegang handuk, nanti dikembalikan.”

“Edo,  jangan begitu… aku udah kedinginan!” isak Lilis.

Tapi Edo dan Rohman justru tertawa terbahak-bahak. Mereka melihat Lilis yang terguncang, wajah buruk rupanya yang contong dipenuhi air mata dan air sungai, membuatnya tampak semakin “menggelikan” di mata ketiga pemuda tanggung itu. Rasa jijik mereka bercampur dengan kekejaman yang datang dari rasa superioritas semu.

Lilis meratap. “Aku mau pulang… tolong…”

“Pulang? Gini aja yuk, kita mandiin pakaianmu biar bersih!” seru Edo tiba-tiba. Dengan gerakan cepat, dia melemparkan kain kebatik dan handuk Lilis ke tengah sungai. Arus yang cukup deras di bagian itu langsung menghanyutkan kedua benda itu.

“Tidak!!” teriak Lilis histeris. Itu adalah satu-satunya kain kebatik yang layak pakai miliknya! Handuk itu pun pemberian ibunya dari bertahun-tahun lalu. Dia ingin berenang menjangkaunya, tapi rasa malu karena tak berpakaian membuatnya membeku.

Dia hanya bisa terduduk di air, menatap kosong ke arah pakaiannya yang hanyut semakin menjauh, tenggelam dalam keputusasaan yang lebih dalam dari sungai itu sendiri.

Ketiga pemuda itu tertawa terpingkal-pingkal.

“ Hahaha... Kenapa enggak di kejar Lis? Malu ya?? Takut itu kamu keliatan?” teriak Rohman.

“Eh Lis! Di kasih gratis pun kamu enggak akan pernah Sudi sama barang kamu yang busuk itu! Jadi gan usah kepedean!” sahut Edo, puas dengan ulahnya.

Kegelapan semakin pekat. Jangkrik mulai bernyanyi, dan hawa dingin malam mulai turun. Lilis menggigil hebat, bukan hanya karena dinginnya air, tetapi karena rasa hancur di hatinya. Dia terjebak. Tidak bisa keluar dari sungai tanpa busana. Tidak ada yang menolong. Dia merasa dirinya betul-betul tak berharga, sampah masyarakat yang bahkan tak pantas memiliki kain untuk menutupi tubuhnya yang “jelek” ini. Tangisnya pecah menjadi isakan yang keras, menyayat kegelapan.

“Aduh, nangis pulak si bunga bangkai ini? Dengerin tuh, suaranya kayak kuntilanak nyari anaknya! Hahhaha,” goda Edo lagi, terbahak bahak.

Kebetulan, dari arah jalan setapak sungai dekat rumpun bambu,  seorang laki laki berbaju Koko  yang baru pulang dari musholla melihat kejadian itu. Dia adalah Sadewa, pemuda berusia 28 tahun, putra sulung Pak Lurah Sukadamai.

Dewa baru saja selesai menunaikan shalat Maghrib berjamaah, dia memilih jalan pinggir sungai untuk pulang ke rumahnya yang agak besar di tengah kampung. Sadewa dikenal sebagai pemuda yang tampan—wajahnya bersih dengan mata besar yang bijak, tubuhnya tegap dari rutin membantu orang tua di kebun  dan belajar di pesantren saat SMA. Dia juga dikenal alim, rendah hati, dan baik hati. Kebaikannya bukan pamer, tapi tulus.

Mendengar suara tangisan wanita dan gelak tawa pemuda di tepi sungai, Sadewa menghentikan langkahnya.

Matanya menatap ke arah sumber suara. Dalam cahaya senja yang remang-remang, dia melihat tiga pemuda berdiri di tepi sungai, dan di dalam air, seseorang yang jelas-jelas sedang terjepit dalam situasi memalukan.

Hatinya tersentak. Dia mengenali Edo dan kawan-kawannya. Dan meski hanya silhouette, dia bisa menduga siapa yang ada di dalam air.

Kabar tentang Lilis Kurniati dan perundungan yang dialaminya sudah sering didengarnya meski dia tidak pernah terlibat atau menyaksikan langsung, karena dewa lebih sering berada di desa sebelah untuk mengajar pesantren.

“Edo! Rohman! Agus! Kalian sedang apa di sana?!” teriak Sadewa dengan suara lantang dan berwibawa, menghampiri mereka.

Tertangkap basah, ketiga pemuda itu kaget. Wibawa Sadewa sebagai anak lurah dan reputasinya yang baik membuat ketiga pemuda kampung itu sedikit gentar.

“Eh, Mas Dewa… lagi… lagi lihat pemandangan aja,” jawab Edo mencoba santai.

“Pemandangan? Itu Lilis yang di dalam air menangis, kalian apakan dia!?” suara Sadewa meninggi, penuh kemarahan yang tertahan. “Apa yang kalian lakukan padanya?”

Sadewa melihat ke arah Lilis yang kini berusaha menyembunyikan wajahnya dengan tangan, tubuhnya menggigil tak terkendali. Dia juga melihat tidak ada sehelai benang pun di tepian tempat Lilis biasa meletakkan pakaian. Segalanya menjadi jelas.

“Kalian ambil pakaiannya?” tanya Sadewa, nadanya seperti baja dingin.

Agus, yang paling pengecut, langsung menjawab, “Bukan kami, Mas! Itu… bahu dia hanyut!” sambil menunjuk ke sungai.

Sadewa memandang mereka dengan tatapan tajam, membuat ketiganya merinding. “Kalau kalian punya adik perempuan, dan diperlakukan seperti ini, bagaimana perasaan kalian? Apa kalian tidak punya hati nurani?”

Edo mencoba membela diri. “Ah, Mas Dewa lebay. Kami tuh cuma becanda aja sama si bunga bangkai. Lagian dia juga…”

“Dia juga manusia, Edo!” potong Sadewa keras. “Lebih manusia daripada kalian yang bertiga yang tak berguna! Sekarang, minggat dari sini! Kalau lain kali masih kulihat mengganggunya, tidak hanya ayahku yang akan mendengar, tapi juga Pak Modin dan seluruh tetua kampung. Kalian mau dicap sebagai preman tak berguna?”

Dia tidak perlu mengancam lebih jauh. Wajah ketiganya langsung pucat. Mereka pun melarikan diri, masuk ke dalam kegelapan, meninggalkan Sadewa dan Lilis.

Begitu mereka pergi, suasana menjadi hening, hanya terdengar isakan Lilis yang tersedu-sedu dan gemeretuk giginya karena kedinginan.

Sadewa segera melepas sarung kotak-kotak berwarna coklat muda yang dililitkannya di atas celana training pendeknya. Dia menghampiri tepi sungai, membelakangi Lilis untuk menjaga auratnya.

“Lilis,” panggilnya dengan suara lembut, jauh berbeda dari nada kerasnya tadi. “Tenang dulu. Mereka sudah pergi. Ini… ambil sarungku. Tutupi badanmu. Aku tidak melihat.”

Lilis, melalui air matanya, melihat punggung lebar pemuda itu yang berdiri membelakanginya, dan selembar sarung yang diulurkannya ke belakang.

Suaranya… begitu lembut. Begitu hangat. Tidak ada nada jijik, tidak ada ejekan. Hanya keprihatinan tulus. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seorang yang bukan ibunya memperlakukan Lilis layaknya seperti manusia.

Dengan gemetar, dia berjalan pelan ke tepian, mengambil sarung itu. Kainnya masih hangat dari tubuh Sadewa, dan membawa aroma sabun mandi yang bersih, sederhana, dan sangat menenangkan.

Lilis  segera menyelimuti tubuhnya dari leher hingga ke kaki. Kainnya besar, cukup untuk membungkusnya dengan layak.

“S… Sudah, Mas,” bisik Lilis, suaranya serak.

Sadewa menoleh perlahan. Dalam cahaya bulan sabit yang baru muncul, dia melihat Lilis terbungkus sarungnya, wajahnya basah oleh air sungai dan air mata, rambutnya masih menetes. Di matanya, Sadewa tidak melihat “keburukan” yang selalu orang-orang gosipkan. Dia hanya melihat seorang gadis rapuh  yang sangat ketakutan, terluka, dan kedinginan.

“Ayo, aku antar kamu pulang. Kamu pasti kedinginan,” ujar Sadewa, masih dengan suara lembut. “Jalan di belakangku saja, aku yang pegang senter ponsel.”

Dia mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senter, menerangi jalan setapak. Lilis, dengan sarung yang sedikit terseret, mengikuti dari belakang.

Sepanjang perjalanan, tidak banyak kata yang diucapkan. Tapi kehadiran Sadewa di depannya, langkahnya yang pasti, dan sikapnya yang sangat menghormati dengan tidak menoleh-noleh atau bertanya yang tidak perlu, memberikan rasa aman yang belum pernah Lilis rasakan.

Sesekali Sadewa berkata, “Hati-hati, ada akar.” atau “Ini licin, Lilis.”

Setiap kali namanya dipanggil dengan sopan olehnya, hati Lilis berdebar aneh. Bukan debar ketakutan, tapi sesuatu yang asing, hangat, dan… menyakitkan. Karena dia tahu, jarak antara dirinya dan pemuda tampan anak lurah ini bagai bumi dan langit.

Sampai di depan gubuk kayu Lilis, lampu minyak terlihat menyala dari dalam. Siti Zubaedah sudah berdiri di depan pintu, wajahnya penuh kecemasan.

“Lilis? Kamu mana saja? Aku khawatir… Oh, Mas Sadewa?” Bu Zubaedah terkejut melihat mereka berdua.

“Bu Zubaedah, sore tadi Lilis mengalami kesulitan di sungai. Pakaiannya hanyut. Ini, pakai sarung saya dulu,” jelas Sadewa dengan hormat.

Bu Zubaedah melihat wajah putrinya yang bengkak karena menangis dan tubuhnya yang masih menggigil. Dia segera memahami.

Air mata langsung menetes di pipinya yang keriput. Bukan hanya karena ulah bejat para pemuda, tapi juga karena kebaikan tak terduga ini.

“Ya ampun… Terima kasih, Mas Sadewa. Terima kasih banyak. Sudah menolong putri saya yang malang ini. Mau masuk, Mas? Minum air putih hangat…” tawar Bu Zubaedah.

“Tidak usah repot-repot, Bu. Saya harus pulang. Yang penting Lilis sudah aman. Lilis, besok sarungnya boleh lewat ibumu kembalikan ke rumah saya. Tidak usah buru-buru,” katanya, lalu menoleh ke Lilis dan memberikan senyum kecil yang tulus. “istirahatlah. Jangan dipikirin lagi kejadian tadi.”

Lilis hanya bisa mengangguk, lumpuh oleh rasa haru yang begitu besar. Dia tidak mampu berkata-kata. Dia hanya menatap Sadewa, mencatat setiap detail wajahnya yang tampan dan baik dalam cahaya senter ponsel dan lampu minyak. Sebuah cahaya dalam kegelapan hidupnya.

Sadewa mengangguk hormat pada Bu Zubaedah, lalu berbalik dan melangkah pergi, menyatu dengan kegelapan malam.

Begitu dia pergi, Lilis akhirnya roboh. Dia memeluk ibunya erat-erat dan menangis sejadi-jadinya. Semua rasa sakit, malu, dan kepahitan tadi meluap. Tapi di tengah tangisnya, ada satu gambar yang tak mau hilang: senyum lembut Sadewa dan kehangatan sarungnya.

Malam itu, di atas dipan bambunya, terbungkus sarung Sadewa yang masih menyisakan aromanya, Lilis merenung. Kebencian pada Edo, Rohman, dan Agus membara seperti api. Tapi di sisi lain hatinya, tumbuh perasaan baru yang samar dan mustahil. Perasaan yang membuatnya sadar betapa hinanya dirinya, sekaligus membuatnya merindukan secercah cahaya kebaikan yang baru saja disentuhnya.

Sadewa, tanpa disadari, telah menjadi bukti pertama dalam hidup Lilis bahwa tidak semua manusia di Sukadamai itu jahat. Tapi, apakah satu kebaikan cukup untuk menebus lautan kekejaman yang dia alami? Di dalam kegelapan, sambil mencium lembut kain sarung itu, hati Lilis terbelah antara benih harap yang baru tumbuh dan akar dendam yang semakin dalam menyirami kebencian lama.

(Bersambung)

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel