Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

Nama Lilis Kurniati diambil dari nama bunga yang melambangkan harapan.

‘Lilis’ dari bunga lili yang putih dan anggun, ‘Kurniati’ dari kata ‘kurnia’ yang berarti anugerah. Nama itu diberikan oleh ayahnya, Suharto, saat dia masih berupa janin yang dikandung Siti Zubaedah dengan penuh cinta dan janji. Sayangnya, baik nama, maupun harapan ayahnya, tak pernah menjadi anugerah sejati dalam hidupnya.

Lebih dari tiga puluh tahun silam, pekerjaan Suharto adalah seorang pedagang emas keliling. Saat itu, dia tiba di Sukadamai dengan niat ingin membeli emas emas simpanan para warga yang nantinya akan dia jual kembali ke kota dengan harga tinggi.

Cara bicaranya yang memikat penuh tipu daya membuat Siti Zubaedah, kembang desa Sukadamai yang cantik jelita dengan sorot mata teduh dan senyum manis, mulai tertarik dengan tipu daya Harto.

Mereka bertemu setiap hari, karena kebetulan Harto tinggal di rumah orang tua Baedah.

Kecantikan zubaedah saat itu juga menarik hati Suharto, dan dengan kemahirannya berdagang sekaligus merayu, dia pun mengungkapkan perasaannya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Zubaedah menerima cinta Harto.

Pernikahan siri dilakukan di sebuah musala kecil, disaksikan oleh seorang modin yang dibayar Suharto. Zubaedah, yang polos dan terpikat, percaya bahwa cinta dan komitmen lelaki itu cukup.

Pekerjaan Suharto sebagai pedagang emas keliling membuatnya harus bepergian jauh ke desa desa terpencil lalu menjual hasil kulakan emasnya ke kota dan harus meninggalkan Zubaedah yang dengan setia menunggunya.

Untuk beberapa bulan, Suharto rutin pulang, membawa oleh-oleh dan cerita tentang perjalanannya. Zubaedah hamil. Dia bahagia. Suharto berjanji akan membawanya ke kota dan  hidup layak.

Tapi saat kehamilan Zubaedah makin besar, frekuensi kepulangannya mulai berkurang.

Uang untuk hidup pun mulai tersendat. Lalu, datanglah kabar buruk dari seorang kenalan yang pernah melihat Suharto di kota kabupaten. Lelaki itu ternyata sudah beristri sah, punya dua anak, dan istrinya dikenal sebagai wanita yang tegas dan pencemburu.

Konon, saat sang istri pertama mengetahui perselingkuhan dan pernikahan sirinya ini, amukannya meledak. Suharto dihadapkan pada pilihan: keluarga sah yang memberinya mata pencaharian dan status, atau Zubaedah si gadis desa yang hanya memberinya beban?

Pilihannya jelas keluarga sah.

Lalu Suharto menghilang bagai ditelan bumi, tanpa pesan, tanpa penjelasan. Hanya menyisakan Zubaedah yang hamil tua, sendirian, dengan aib yang mulai membayangi.

Stres, sedih, dan malu yang mendera Zubaedah selama sisa kehamilannya yang begitu hebat.

Baedah jadi jarang makan, sering menangis semalaman, dan menutup diri dari dunia. Orang-orang mulai berbisik. Saat Lilis lahir, bisikan itu berubah menjadi teriakan hinaan yang nyaris tak terbendung.

Bayi itu lahir dengan kondisi cacat yang membuat bidan desa menggeleng pilu.

Kulitnya tidak mulus, terdapat bercak-bercak putih (panu) yang sejak dini sudah menandai tubuhnya. Kepalanya dipenuhi kerak tebal dan bernanah. Struktur wajahnya tidak proporsional–hidungnya agak pesek, mulutnya sedikit monyong. Dan dia dijuluki bayi kera oleh tetangga tetangga julid.

Para tetangga, alih-alih berbelas kasih, justru menghujat dan menyalahkan Zubaedah karena menjadi pelakor.

“Eh, Bu Nining, Udha lihat kan, bayinya si Baedah! Serem kayak monyet! Itu pasti kutukan!" bisik Bu Sumi pada ibu ibu jilbab kuning setelah mereka menjenguk bayi Zubaedah.

"Iya! Itu pasti karena dia melahirkan bayi  hasil zina! Jadi dia kena tulah!” sahut Nining dengan seringai sinis.

“Dosa ibunya dibawa lahir ke anak! Iya kan, kak Sumi?" bisik Bu Bejo ikutan nimbrung.

“Ih, jijik! Mana bayinya perempuan lagi? Gimana nanti kalau dia gede? Ih, mana anakku dua duanya laki laki pulak? Jangan sampe deh nanti anakku ketularan sama penyakit aneh anaknya si Baedah itu!" Timpal ibu ibu berpostur gemuk yang tak lain Bu Tejo.

Kutukan dan hinaan para tetangganya,  hanya bisa membuat Baedah mengelus dada menyimpan perih. Terlebih saat kedua orang tua Baedah meninggal dunia karena tertekan memikirkan perkataan orang orang.

Baedah harus berjuang sendirian. Bekerja serabutan Demi memenuhi kebutuhan hidup ia dan putrinya.

Apapun Baedah lakukan asal halal. Menjadi buruh tani, pedagang sayuran milik tetangga, yang terakhir dia mengurus kebun kelapa pisang yang luasnya tak seberapa peninggalan kedua orangtuanya.

Seiring berjalannya waktu, Lilis tumbuh menjadi anak yang rendah diri dan pemalu. Hihaan dan cacian dari anak anak tetangga sebayanya hampir setiap hari diterimanya.

Julukan “anak haram” dan “bunga bangkai” seolah  sudah melekat.

Anak-anak sebayanya, terutama anak laki-laki yang diajari kebencian oleh orang tua mereka, menjadikan Lilis sasaran empuk perundungan. Mereka melempari Lilis dengan batu kerikil, mengejarnya sambil berteriak, “Lilis haram, baunya bau busuk, seperti sampah, Lilis si bunga bangkai” Mereka mencuri sandalnya, menyumpal lubang asap dapurnya dengan sampah, dan meneriakkan nama ayahnya yang “tak jelas” itu setiap kali Lilis lewat.

Akibatnya, Lilis tidak pernah merasakan duduk di  bangku sekolah. Rasa takut dan trauma membuatnya menjerit histeris setiap kali ibunya mencoba mengantarnya ke gerbang SD. Gurunya pun, yang mendengar desas-desus masyarakat, tidak terlalu bersemangat menerimanya.

Akhirnya, Zubaedah menyerah. Pendidikan Lilis hanyalah keterampilan hidup seadanya dari ibunya: mencuci, memasak sederhana, bercocok tanam di kebun pisang kecil dibelakang rumah.

Rumah mereka adalah gubuk kayu reyot di ujung kampung, terpisah dari kerumunan rumah warga.

Tak ada sumur.

Untuk segala kebutuhan air, mereka harus menempuh jarak 200 meter ke sungai. Jarak yang pendek secara fisik, tapi terasa seperti perjalanan lintas neraka bagi Lilis. Dia memilih waktu-waktu sepi untuk pergi ke sungai.

Pagi hari sebelum sungai ramai dengan ibu ibu lainnya atau sore hari tepat saat kumandang azan Maghrib, ketika orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing di rumah.

***

Seperti sore itu, langit berwarna jingga keemasan, perlahan-lahan memudar menjadi kelabu.

Lilis, seperti biasa, sudah bersiap dengan ember kecil  berisi sabun batang dan handuk lusuh juga baju ganti di tangannya. Dia bersiap untuk mandi di sungai.

Saat suasana sudah sepi, Lilis segera berlari menuju sungai.

Dia membasuh tubuhnya dengan gegas. Air sungai yang dingin membuat kulitnya yang sensitif merinding. Gadis itu menggosok kulitnya yang gatal dengan sabun, berusaha membersihkan jamur di kulit kepalanya dengan lembut.

Dalam kesendiriannya, di bawah langit senja yang mulai gelap, dia merasa sedikit aman. Di sini, tidak ada yang meledek, tidak ada yang menatapnya dengan jijik.

Namun, dia tidak tahu bahwa sore ini, kesendiriannya akan berubah menjadi mimpi buruk.

Dari balik rumpun bambu yang rimbun di seberang sungai, tiga pasang mata mengintip dengan niat jahat. Mereka adalah Edo, Rohman dan Agus.   Pemuda-pemuda nakal berusia 18 tahun yang sering menghabiskan waktu dengan nongkrong, merokok, dan mencari-cari kesenangan dengan mengganggu orang lain.

Edo, si pemimpin, adalah putra Bu Tejo. Rohman, pengikutnya yang kurus, selalu tertawa mengikuti. Agus, yang bertubuh besar tapi polos, hanya ikut-ikutan.

“Lihat tuh, si bunga bangke lagi mandi, hehe” bisik Edo dengan senyum sinis. “Ayo kita isengin.”

“Jijik lho, Ed. Lihat tubuhnya banyak panu,” protes Rohman sambil meringis.

“Gapapa. Seru seruan aja Kita kerjain. Kita ambil bajunya,  dia pasti panik,” sahut Edo dengan senyum licik.

Dengan mengendap endap pelan seperti pemburu, mereka menyebrangi sungai di tempat dangkal, merayap mendekati batu tempat Lilis meletakkan pakaian bersihnya—sebuah kain batik lusuh dan handuk.

Lilis, yang tenggelam dalam usahanya membersihkan diri, sama sekali tidak menyadari kehadiran mereka. Saat dia membuka mata setelah membilas rambut, tiga sosok itu sudah berdiri di tepian, dengan Edo memegang pakaian dan handuknya di tangan.

“Mencari ini, Lis?” tanya Edo, mengibas-ngibaskan kain batik Lilis...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel